
Vicky dan Erin menjalani hari hari pernikahan mereka dengan bahagia. Suatu saat, mama Paulina memanggil Vicky dan Erin.
"Hai ma. Gimana kabarnya? Sehat?" "Mama sehat sayang. Kalian gimana? Kayanya sehat sama hepi trus ya."Paulina tersenyum. "Ada apa mama manggil kami? Paul gimana sekarang?" "Paul perlahan membaik, dia masih mencoba menerima kenyataan. Sekarang dia di Inggris. Urusin perusahaan mama disana lagi repot. Mama panggil kalian karena mama pengen kalian ketemu sama mama kandung kamu Vicky. Dia harus tau kamu sekarang disini dan sudah menikah."
Vicky menatap mama Paulina ga percaya. "Ngapain ma? Kaya ga tau aja. Vic pengen hidup tenang ma. Ribet kalo urusan sama mama aq sih." Erin mengusap tangan Vicky. Tiba tiba mamanya Vicky sudah menghampiri meja mereka. Langkahnya sempat berhenti. Namun kemudian dia bergabung dan duduk bersama Paulina.
"Sandra, sampai juga kamu. Macet ya?"tanya Paulina. "Iya Pau. Ngapain ada Vicky dan siapa ini?" tanya mama Vicky. "Mama Paulina mengajak kami kesini. Ini istriku, Erin." Erin mengangguk sopan. "Istri??? Kamu menikah dan tidak memberitahuku??? Anak macam apa kamu??? Perusahaan ditinggalkan membuatku pusing!! Sekarang kamu menikah diam diam???!?! Dan kamu jadi cewe mau merid sama cowo yang ga bawa kamu ke ibunya?"
Paulina menenangkan Sandra. "Sudah sudah Sandra, dengar dulu dong jangan marah marah gitu." Sandra mendengus. "Dan kamu Paulina! Sudah tau dari kapan dan kamu tidak memberitahuku? Kamu pikir aku buta dan pikun? Dia ini harusnya dulu menikah dengan Paul kan? Gagal dapatkan Paul trus deketin Vicky gitu? Emang ngincer cowo kaya ya kamu???"
Erin menunduk menahan kesal dan tangis. Vicky merangkul Erin dan berkata kepada Paulina : "Sudah kubilang kan ma percuma ketemu wanita ini. Malah menghina istriku. Kalau Erin matre dia pasti ga setuju aku lepasin perusahaan! Enak aja bilang dia matre! Enak aja ngatain orang macam nyonya Sandra udah benar hidupnya? Nyonya jadi mama gimana selama ini? Sudah betul? Mikir ga kenapa anaknya sampe males ngasih tau udah merid? Dan dimana nyonya saat anak nyonya sakit parah hah??!!!" Vicky benar benar marah.
Erin dan Paulina berusaha menenangkan Vicky. "Sakit? Siapa sakit? Kamu? Sakit apa?" "Hahaha... hebat nyonya... hebat. Udah sembuh baru ditanya. Ga sekalian nanya siapa yang ngurus? Siapa yang bersihin muntah saya nyonya? Waktu diare siapa yang bersihin nyonya? Nyonya bukan? Ah saya lupa. Nyonya ga ada disana. Tau aja ngga." Vicky semakin sinis.
"Sakit apa sih kamu? Manja banget harus sampe diurusin?! Bangga ya diurusin sama yang mau morotin uang kamu?? Kamu tuh udah besar bukan bayi. Kamu bener bener nyusahin kaya papa kamu." Plaaaakkkk. Paulina menampar Sandra. Vicky dan Erin terhenyak.
"Yang nungguin anak kamu operasi Erin! Yang bersiin muntahan dan diare anak kamu Erin! Yang jagain makanan anak kamu Erin! Kamu bener bener durhaka jadi orang tua. Ga heran Vicky ga mau kasih tau kamu kalau sakit atau merid. Kamu tau Vicky sakit apa? Dia KANKER!!! Dan kamu bilang dia manja? Jaga mulut kamu!!"
Sandra terhenyak. "Kamu... kamu ... kanker?" Vicky mendengus. "Maafin mama ya Vicky, Erin. Harusnya mama ikutin omongan kamu Vic. Ga usah bawa dia kesini. Sekarang ayo kita pergi. Percuma ngomong sama manusia bebal!" Paulina mengajak Vicky dan Erin pergi.
Tiba tiba Sandra berkata : " Yah pergilah! Ga nyangka juga kamu kena kanker semuda ini. Baguslah ada yang ngurus. Jadi aku ga usah repot kan? Oh lupa. Aku ga pernah mau repot ngurus kamu. Karena aku benci papa kamu dan kamu selalu ngingetin aku sama dia! Aku bahkan menyesal melahirkan kamu!" Plaaaakkkk!!! "Tutup mulut kamu atau akan kubuat kau menyesal! Memalukan mempunyai saudara seperti kamu!!!" Paulina menarik Erin dan Vicky masuk ke ruangan Paulina. Sebelumnya dia berteriak kepada security : "Tarik wanita itu keluar!!! Jangan sampai dia menginjakkan kakinya disini atau kalian akan kupecat!" Terdengar Sandra berteriak teriak namun tidak ada yang peduli.
Paulina memeluk Vicky. "Maafkan mama Vic, maafkan mama. Mama tidak tau kalau dia akan sejauh ini." "Ga apa ma. Bukan salah mama. Maksud mama baik." "Kalau dia macam macam kamu harus beritahu mama ya!" "Iya Ma." "Kalian disini saja. Kalau perlu sesuatu telp sekretaris mama ya. Mama harus pergi dulu." Paulina bergegas keluar. Dia mau memberi ruang untuk Vicky dan Erin.
Vicky mematung. Erin memeluknya dari belakang. "Maafin gw sayang, kata kata wanita itu pasti sangat menyakitkan buat lu." "Biarin aja sayang, aku ga peduli, toh kenal pun ngga." Erin memutar bahu Vicky supaya berhadapan dengannya. "Kata katanya pasti sangat menyakitkan buat kamu sayang."
Vicky diam. Dia duduk di sofa. "Gw tau dia ga sayang gw Rin. Cuma gw baru tau dia bahkan menyesal lahirin gw. Gw cuma beban buat dia." "Sebenernya meskipun kata katanya jahat gw tetap berterima kasih sama dia Vic." "Apa??? Kenapa???" "Vic... kalau dia ga lahirin elu ... gw ga kan ketemu elu... Gw ga tau harus gimana kalau ga ada elu..." Erin menangis, Vicky memeluk Erin. "Gw sangat sakit hati denger kata katanya ke elu Vic. Elu yang sangat gw sayang, gw cinta, dikata katain kaya gitu. Seolah dia merendahkan apa yang paling berharga buat gw."
Vicky memeluk Erin dengan sangat erat. "Makasih sayang, makasih. Elu juga paling berharga buat gw. Kata katanya memang sangat nyakitin gw Rin. Tapi gw sekarang udah punya lu. Dia ga penting buat gw. Cuma elu satu satunya yang penting buat gw. Makanya janji sama gw Rin. Jangan tinggalin gw..." Erin mengangguk dan mencium bibir Vicky. Vicky terkesiap. "Ini pertama kali lu nyium gw duluan Rin. Ayok pulang. Lanjutin lagi cium gw di rumah." "Vic apa sih ganjen amat." Vicky tertawa sambil merangkul Erin mengajaknya pulang.