My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
27.



Vicky menggendong Erin ke kamarnya dan menemaninya disana. Sony dan Henry sibuk mencari kabar tentang Han. Semua panik. Vicky mengusap lembut pipi Erin. Ada apalagi ini ya Tuhan. Baru sebentar Erin bisa tersenyum. Sekarang apa lagi...


Erin tiba tiba bangun... "Han mana Han... kenapa Han..." Erin histeris lagi. Vicky memeluk Erin. Dia ikut meneteskan air mata. Hatinya sangat sedih melihat Erin seperti ini.


Vicky langsung memesan tiket pesawat ke Macau untuk mereka berempat berangkat keesokan harinya.


***


Macao


Mereka berempat bergegas ke rumah sakit tempat Han dirawat. Sepanjang perjalanan Erin menangis. "Han ga akan bisa balapan lagi." kata Sony. "Kemaren dibilang gitu. Kalaupun sembuh ga kan bisa balapan lagi, kakinya harus diamputasi, biar ga tambah kritis." "Gw ga peduli!!! Mo dia lumpuh mo kakinya diamputasi yang penting dia hidup!!! Gw ga bakal ninggalin dia. Gw sayang banget sama Han. Han... Han... kenapa kaya gini..." Erin menjerit jerit lagi. Tangan kanan Vicky merangkul Erin. Tangan kirinya nampol Sony. Sony dipelototin Vicky.


Di depan ruang ICU ada temannya Han, dia langsung menyalami Sony dan Henry. Mereka berbincang sebentar, kemudian memanggil Erin. "Kamu Erin? Saya Jason. Saya berharap kamu tabah. Ketika Han dan Ken akan dikeluarkan dari mobil dan memanggil manggil nama Erin. Ini buat kamu Erin. Han membelinya bersamaku. Dia membawanya saat balapan, aku menemukannya." dia memberikan sebuah kotak kecil warna biru. Erin membukanya. Ternyata sebuah cincin emas putih dengan berlian mungil, sangat cantik. Di dalamnya ada ukiran nama "Han♥️Erin". Erin menangis meraung raung.


Erin ingin menemui Han, tetapi ditahan oleh suster dan Jason karena belum saatnya besuk. Jason mengajak Erin duduk. "Erin, maafkan aku. Tapi tidak baik kalau kamu kedalam dengan keadaan histeris seperti ini. Kamu harus bisa menguatkan. Dan satu hal lagi..." Jason tersendat... "Apa Jas apa?" "Wajah Han dan Ken sulit kami kenali. Wajah mereka rusak karena kecelakaan itu." Jason tertunduk. Erin pingsan. Vicky berlari memeluk Erin.


Hari itu hari terkelam bagi mereka. Erin hanya melamun. Siapapun tidak bisa membujuknya untuk makan. "Vic..." kata Erin. "Kenapa Rin?" "Lu sama yang lain makan gih. Gw beneran ga ada selera." "Kita maunya makan bareng kamu Rin. Nanti juga gapapa. Ini gw beliin jus melon. Isi dulu perut lu Rin. Kalo lu sakit gimana nengokin Han." Erin menurut dan minum jus nya sedikit.


"Vic, Jason bilang gw harus kuat karena Han diamputasi dan mukanya rusak. Apa lu tau? Buat gw ga masalah. Yang penting dia ada di sebelah gw. Gw selalu sama Han. Gw ga bisa ga ada Han..." Erin menangis lagi. Vicky merangkul dan mengecup kepala Erin. Sebegitu dalamnya Rin, lu sayang sama Han. Gw iri sama Han...


***


Jenazah Han sudah dipindahkan ke rumah duka sementara. Menunggu waktu pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Bali. Erin memeluk jenazah Han. Vicky, Sony, dan Henry pun ikut menangis. Sangat sulit bagi Erin untuk makan. Vicky menyuapinya meski Erin hanya mau makan 2 suap. Erin seperti zombie. Tidak seperti Erin lagi.


Di pesawat akhirnya Erin tertidur. Vicky mengusap kepala Erin dengan penuh kasih.


Proses penguburan Han berlangsung sangat menyayat hati. Erin bahkan tidak mampu menyambut tamu yang melayat. Dia hanya melamun dan meneteskan air mata.


Begitu sampai di rumah Erin memeluk Vicky, Sony, dan Henry. "Terima kasih ya smuanya. Kalian memang yang terbaik. Han pasti bangga punya temen kaya kalian." "Han juga pasti bangga punya kamu Rin." "Kita berjuang bersama ya Rin wujudin bengkel impian Han." Erin mengangguk dan tersenyum. "Rin, kalo butuh apa apa bilang aja. Gw tidur disini koq." kata Vicky. "Ga usah Vic. Kamu juga perlu istirahat. Lagian toko kamu dah lama ga dikontrol. Gw ada Sony ma Henry koq." "Beneran gapapa Rin? Kalo perlu apa telp gw aja atuh ya." Erin mengangguk. Vic pun pulang. Mereka smua masuk kamar masing masing dan beristirahat.


Erin menangis. Biasanya Han tidur di sebelahnya. Seharusnya sebentar lagi mereka menikah. Erin sangat sedih melihat cincin yang dibeli Han di Macau. Akhirnya Erin pun terlelap kecapekan.


Tengah malam Erin terbangun karena mual. Dia berlari ke kamar mandi dan muntah muntah. Sony mengetuk pintu kamar mandi. "Rin... lu kenapa Rin?" Erin membuka pintu kamar mandi. "Gapapa Son cuma mual aja. Hueeekkk..." Erin muntah lagi. Sony mengurut ngurut leher Erin. Setelah Erin duduk di sofa, Sony membuatkan teh hangat dan memberinya kepada Erin. Erin tersenyum. "Makasih Son, maaf ya gw repotin mulu." "Ngomong apa sih elu Rin repotin apaan. Ga boleh gitu kita semua kan keluarga. Masih mual ga sekarang?" "Ngga Son thanks ya tehnya." "Sama sama Rin. Tapi besok kita ke dokter ya. Gw cemas lu sampe gini." "Ga usah Son, palingan masuk angin." "Jadi besok ga mau ke dokter?" "Ngga." "Yawda sekarang kita ke UGD." Erin melongo ditarik sama Sony.


"Nih pake jaket. Nih helm." Erin manut aja. Besok aja ga mau malah dibawa sekarang, dasar orang aneh, pikir Erin.


Sony meminta supaya Erin dicek lengkap. Tampaknya Erin yang menjadi kurus memang menakutkan bagi Sony. Sony berpikir, ini Erin lagi sedih sih ya. Tapi beneran ga mau makan, pingsan, sekarang muntah. Apa dia hamil???