My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
31.



Belakangan Sony sangat ceria. Akhirnya setelah 3 taun lebih memendam rasa, wanita yang dia cintai mau menerima lamarannya. Sony dan Erin mempersiapkan pernikahan mereka. Sony menginginkan sebuah resepsi yang sederhana. Dia ingin memamerkan istrinya kepada teman temannya. Erin hanya menurut saja. Hampir semua urusan pernikahan Sony yang memutuskan. Sampai gaun yang digunakan Erin sekalipun.


Sony sebetulnya agak tidak enak hati. Belakangan dia mendapati ada orang yang sama berdiri di sekitar bengkelnya. Terkesan mengamati. Kalau Sony menyadari kehadirannya, dia segera pergi.


Hari itu si pria misterius menghampiri Sony. "Anda Sony? Pacar Erin?" " Kamu siapa? Apa urusanmu?" "Kukira kamu tidak mau kehilangan Erin bukan?" "Apa maksudmu?? Siapa kamu dan kenapa mengancamku??" "Kalau kamu tidak mau kehilangan Erin, kamu harus ikut denganku. Sekarang!" Sony mengikuti pria itu segera. Dia masuk ke dalam mobil dan tiba di sebuah hotel.


Dia dibawa masuk ke sebuah cafe, di depannya ada tulisan closed? Sepertinya sengaja ditutup. Seorang pria muda berjas duduk disana sendirian. Tersenyum miring menatap Sony.


"Silahkan duduk Sony. Ga usah panggil bapak kan meski kamu lebih tua dari saya." "Siapa kamu? Kenapa kamu tau tentang aku dan Erin?" Dia tertawa sinis. "Apapun tentang Erin aku mengetahuinya. Meski kamu menyembunyikannya sekian lama."


"Mau kamu apa?" Sony marah sekali. "Aku mau Erin." pria itu tersenyum tenang menatap Sony. "Enak saja kau bilang! Erin itu tunanganku!" Mata pria itu membelalak. "Kamu tunangan sama Erin? Erin mau sama cowo kaya kamu? Kamu maksa Erin ya? Masa iya dia sebodoh itu mau sama kamu?" Pria itu ngomel ga habis pikir.


"Maksud kamu apa? Aku berusaha memberi yang terbaik buat Erin. Aku menyanyangi dia." Sony sungguh berang dan merasa terhina. "Kamu itu miskin kan? Rasanya rumah yang kalian pakai juga punya teman kamu yang meninggal itu. Penghasilan bengkel kamu berapa sih? Bisa buat bahagiain Erin?"


"Memangnya bahagiain cuma dari uang? Erin bukan cewe matre yang pengen semua barang bermerk. Sok tau banget lu tentang Erin. Dia cewe yang baik dan gw sangat beruntung punya calon istri kaya dia."


"Seengganya ada satu hal yang kita sepakat. Yang jadi pasangan Erin sangat beruntung. Sekarang kamu yang harus mikir! Cewe sebaik Erin apa pantes hidup susah sama kamu? Harusnya dia bahagia. Sekarang coba kamu pikir. Kapan dia terakhir shopping? Jalan jalan? Liburan?"


"Beberapa bulan lalu kami baru wisata. Jangan pikir aku tidak memperhatikan Erin!"


"Sialan kamu! Mau kamu apa hah!!?" Sony sudah menggebrak meja sekarang. "Aku mau kamu ninggalin Erin. Kamu ga bisa bahagian dia! Kamu cuma bisa nyusahin dia! Cuma bisa bikin dia menderita!"


"Bikin menderita apanya! Gw sayang banget sama dia tau!" "Apanya? Kamu jadiin dia kasir dan stok barang kamu gaji dia ga? Dia benahin rumah dan cuciin baju kamu? Trus dia punya duit berapa?"


"Kamu tau darimana hah? Kamu mata matain kita?" "Hahaha... ga penting tau darimana. Tapi yang gw omongin bener kan?" "Asal lu tau ya Erin tuh ga pernah minta dan ga mau dikasih buat kaya gitu gitu!"


"Betuuulll... saking baiknya dia ga mau kaya gitu. Bodohnya elu keenakan dibaekin. Bukannya ngasih yang terbaik buat dia. Bukannya pake pembantu buat urusin kaya gitu. Erin malah lu jadiin pembantu!!!"


Sony terdiam. Dia benci mengakuinya, tapi apa yang dibilang pria itu juga ada benernya.


"Kenapa diam kamu? Baru mikir kan apa yang gw omongin itu bener?'


"Elu ga kan bisa bahagiain Erin. Cuma gw yang bisa. Jadi gw saranin, lu tinggalin aja Erin. Atau kamu akan menyesal!" "Kamu daritadi banyak omong doang! Siapa kamu?? Berani beraninya nyuruh ninggalin Erin???"


"Kamu beneran ga tau aku siapa? Ckckck... bener bener ini orang." Pria itu berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sony sambil menatap lekat. "Ingat baik baik. Namaku PAUL JAYATAMA."