
Vicky banyak melamun hari ini meski Erin mengatakan tidak apa. Dia melihat Paul datang. Kalau dulu dia jadi merid sama Paul pasti mereka sudah punya anak pikirnya. Hatinya semakin sakit, setelah akhirnya bisa bersama Erin, Vicky tidak mau kehilangan Erin lagi.
"Kenapa lu Vic. Asem banget muka lu." Vicky pun menceritakan pertemuan mereka dengan dokter dan hasilnya bahwa yang bermasalah Vicky. Paul membelalak. "Trus Erin gimana? Katanya dia kepikir pengen punya anak kan?" dalam pikiran Paul, Paul tidak bisa menyingkirkan kemungkinan Erin meninggalkan Vicky karena ingin punya anak. Paul bisa mendapatkan Erin lagi dan memberinya anak.
"Erin bilang buat dia ga masalah, yang penting gw selalu sayang sama dia dan ada di sebelah dia. Ya itu sih ga usah diminta juga gw lakuin. Tapi kayanya baru kali ini dia punya kepengen dan gw ga bisa penuhin. Sedih gw jadinya pengen bahagiain Erin. Gw juga beneran takut dia ninggalin gw meski dia bilang ngga akan." "Kalian ga adopsi anak? Atau bayi tabung?" "Erin ga mau adopsi. Bayi tabung juga tingkat keberhasilannya rendah kalau buat gw katanya."
"Erin bilang ga usah mikirin, jalanin aja kaya biasa. Toh dia juga ga gimana gimana. Tapi gw beneran kepikiran." "Udahlah Vic, yang penting dia bisa nerima. Lu beneran beruntung Vic." "Iya Paul, gw tau." Tiba tiba karyawan toko menghampiri Vicky. Vicky pun meninggalkan Paul.
Gantian Erin nemenin Paul. "Hai... udah ke dokter kandungan ya?" "Iya. Vicky cerita ya." "Iya Rin. Tau hasilnya kaya gitu lu gimana Rin? Lu katanya kepikir pengen punya anak." "Iya sih tapi ga bisa ya mau gimana. Ya udahlah hidup gw udah bahagia koq sama Vicky?"
"Elu ga mau adopsi atau bayi tabung?" "Adopsi ngga lah. Bayi tabung juga kemungkinan berhasilnya kecil. Ya udahlah gapapa." "Lu ga kepikiran bayi tabungnya sama cowo laen? Bukan Vicky?" Erin menatap Paul. "Maksud lu?" "Bisa aja kan ada donor ******? Gw juga ga keberatan. Gw bahkan seneng banget kalo bisa punya anak dari lu. Gw bakal bahagia banget Rin."
"Sarap lu. Ntar tu anak gimana. Lu pasti pengen bareng dia. Gw nya kan sama Vicky mo gimana itu? Lagian gw ga tega kalau Vicky ngeliat anak itu dia pasti ngerasa sedih karena itu bukan anak dia, tapi anak dari mantan gw. Gila lu." Paul menggaruk kepalanya sambil tersenyum. "Iya sih. Gw kepikiran aja kalau gw ga bisa merid sama elu, tapi bisa punya anak dari lu, gw bakal sayang banget sama anak kita Rin." "Gw ga mau nyakitin Vicky lagi Paul." Paul tersenyum segan. Erin sangat memikirkan kebahagiaan Vicky, Vicky sangat beruntung. Seketika Paul pun menjadi sedih...
Sepulangnya dari resto, Paul menelpon Paulina. Dia menceritakan kejadian yang menimpa Vicky dan Erin. Paulina menghela nafas. "Kasihan Paul dan Erin. Susah banget mau bahagia. Akhirnya bisa bareng tapi kaya gini." "Tadinya aku usulin bayi tabung ma. Tapi kemungkinan berhasilnya juga tipis." "Aduh tambah sedih mama dengernya."
"Paul, trus ngapain si Erin pengen punya anak dan ngelahirin kalo anaknya diambil kamu. Meski kalo khayalan kamu jadi kenyataan ya mama seneng juga sih punya cucu dari kamu. Tapi udahlah, kita harus nerima kenyataan Paul. Erin ga bisa lagi jadi bagian dari keluarga inti kita." Paul terdiam. "Iya sih ma cuma tadi rasanya ide ini bagus. Ya udah ma tar kita ngobrol lagi ya."
Paul menutup telponnya. Dia memandang fotonya dan Erin yang digantung di kamarnya. Foto itu besar sekali. Sebelum tidur Paul selalu menatap foto itu dan membayangkan masa indahnya bersama Erin.
***
Di rumah Vicky dan Erin.
Vicky menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Aduh edan ini hari kerjaan numpuk. Pegeeel banget." "Lu mau berendem sayang? Gw siapin airnya." Vicky menoleh ke arah Erin dan menarik Erin supaya duduk di pangkuannya. "Lu itu emang paling pengertian. Gimana bisa gw ga cinta mati sama lu Rin." Erin berbalik berhadap hadapan di pangkuan Vicky. Erin mencium lembut bibir Vicky. "I love you so much my husband." Lalu Erin memeluk Vicky erat.
"Sayang... lu tau gw kepikiran pengen punya anak. Lu ga pernah minta apapun sekalinya lu pengen gw ga bisa menuhin. Gw..." Erin mencium bibir Vicky lagi. "Ga mau denger. Gw ga peduli. Yang gw mau cuma lu beneran sayang sama gw. That's it! Dan sekarang gw mau elu Vic... gw ga mau apapun lagi. Erin mencium Vicky lagi. Vicky membalas ciuman Erin. Baju mereka berterbangan. Vicky dan Erin menikmati cinta mereka.
Tak lama mereka pun terduduk di sofa terengah engah. Vicky memeluk dan mencium Erin. "Sayang, gw suka banget lu kaya tadi." Erin hanya tersenyum. "Jadi pliiis ga usah bahas anak lagi ya. Gw dah ga mau sama sekali. Yang gw mau cuma hepi sama lu." Vicky mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di punggung Erin. Dia menyembunyikan air matanya. Terima kasih sayang. Elu benar benar menerima gw apa adanya. Disaat sakit, bangkrut, dan sekarang seperti ini. Gw ga bakal ngecewain lu Rin...