
Belakangan pengunjung bengkel agak sepi. Henry bingung melihatnya. Henry membicarakannya dengan Sony. Sony terdiam dannmenceritakan pertemuan dan telpon Paul padanya. Henry tersentak. "Jangan jangan bengkel jadi sepi kerjaan si Paul." "Kayanya gitu Hen. Sorry yah Hen lu jadi ikut susah." "Apaan sih Son, lu ma Erin kan temen gw."
Sony dan Henry menghubungi teman temannya dan memberi promo untuk modifikasi. Tapi hal ini tidak berlangsung lama. Saat ini adalah saat tersepi selama bengkel ini buka. Sony dan Henry bingung gimana cari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Erin menghela nafas dan menghampiri mereka. "mmm... boleh ga gw jualan nasi kuning buat sarapan disini? Di depan bengkel. Semoga sih laku. Kalian kan selama ini selalu support gw. Semoga naskun nya bisa bantu keuangan kita." "Boleh juga tuh Rin. Biar ada tambahan ya. Bingung nih gw. Tar gw bantuin lu jualan ya." "Ok besok subuh gw belanja buat lusa ya." "Perlu beli apa ga Rin?" "Ga usah lah seadanya aja. Gw pake meja dan kursi di depan aja." "Sip sip." Henry dan Erin sepakat. Sony diam saja. Dia teringat kata kata Paul.
Esoknya Erin berangkat ke pasar subuh subuh. Dia ditemani Henry. Sony tampak menutup diri belakangan, mungkin masih pusing urusan bengkel, pikir Erin. Malamnya Erin mulai prepare dagangannya. Jam 3 pagi Erin sudah bangun mempersiapkan naskun dan teman temannya. Setengah enam semuanya siap.
Jam 7 baru ada pembeli pertama. Akhirnya satu demi satu mulai berdatangan. Wah laris, syukurlah, pikir Erin. Dia mengusap peluh tapi tetap bersemangat. Vicky dateng jam 8. "Apaan ini Rin?" "Gw jualan naskun hehe. Mau abisin ga tinggal seporsi lagi." "Mau mau?" Vicky si pembeli terakhir duduk menunggu Erin mempersiapkan sarapannya. "Kaya dulu deket kost lu ya Rin. Kangen juga saat saat itu." "Iya Vic. Ini juga menunya niru si ibu itu. Hehehe."
Henry keluar. "Rin gw seporsi lah." "Abis Hen, tu si Vicky yang makan." Henry merengut. Vicky ngakak. Henry akhirnya cuma ngemilin kerupuknya. "Kenapa jadi dagang naskun gini Rin,Hen? Laku sih tapi ya." "Omset turun Vic, jadi Erin usulin dagang eh laku nih harii pertama. Besok bikinnya coba lebihin dikit Rin." "Siyap!" Erin tersenyum semangat.
Erin bingung. "Yah padahal lumayan laku. Sayang kalo ga dagang lagi. Tapi bawaannya banyak susah gw kalo sendiri. Ya udah gw pake ojol aja dah. Gimana ntar." "Yeee... mana bisa kaya gitu. Kemaren aja bawaannya berat." kata Henry. "Udah udah, gw besok jam 4 subuh jemput elu ya Rin." kata Vicky. "Beneran gapapa Vic?" "Gapapa, gw ga mau lu bawa bawaan berat segambreng gitu." Erin memeluk Vicky. "Makasiiihhh." "Besok gw bungkusin 5 porsi ya buat yang kerja. Buat gw satu." kata Vicky. "Asiiikk." pekik Erin.
Sony tambah pendiam. Bengkel tetap sepi. Yang ramai malah nasi kuning Erin sekarang. Ada sih yang beli nasi kuning ikutan benerin motornya disana. Tapi ga banyak. Omset mereka beneran turun. Lama lama pemasok spare part juga menghentikan pengirimannya. Sony tambah stress. Hari pernikahan Sony semakin dekat tapi Sony tambah bingung karena uangnya menipis. Dia tidak lagi menemui vendor vendor. Ga pernah juga anter Erin ke pasar. Selalu Vicky yang antar. Sony banyak diam di kamar.
"Vic, Sony tambah stress kayanya. Diem aja di kamar, ga urusin merid lagi. Gw tau dia bingung sama duitnya. Mau nanya juga jadi sungkan gw." Erin curhat sama Vicky. " Iya sih gw ngertiin Rin. Dia pasti lagi bingung. Lu sabar ya." Tiba tiba Vicky terbatuk batuk. Erin menepuk nepuk pundaknya dan mengambilkan minum. "Rin... gw kayanya ga enak badan ini. Gw balik dulu ya." "Gw anter lu ke dokter ya Vic." kata Erin cemas. Vicky tersenyum dan mengelus pipi Erin. "Ga usah Rin ga apa. Dah tidur juga baikan." Erin mengangguk. Vicky berlalu pulang.
Erin berjalan di tepi pantai. Angin semilirnya enak sekali. Tiba tiba ada suara yang cukup familiar memanggil namanya. " Erin..." Erin berbalik ke arah suara. Dia kaget setengah mati. Pria yang memanggilnya memeluk Erin dengan erat. Erin membeku. " Akhirnya gw nemuin lu Rin. Gw kangen banget sama lu. Gw sayang elu Rin. Please Rin, terima gw lagi Rin. Gw nungguin elu selama ini." Erin masih membeku. Air matanya mengalir. Sony ternyata melihat peristiwa itu. Hatinya sangat sakit. Sony tetap menatap mereka dari kejauhan. Pria itu terus memeluk Erin seolah tidak mau melepaskanya lagi. Erin bergumam. "Paul..."