
Malam tlah tiba. Kost Erin ricuh karene rebutan make up seperti biasa. Akhirnya Erin dan teman teman sampai juga ke Xxx. Begitu masuk Paul dan teman temannya sudah disana. Memanggil Erin dan teman temannya untuk bergabung. Paul terus mendekati Erin. Tidak memberi kesempatan Vicky untuk mendekat. Sampai dance floor pun Paul nempel terus ke Erin. Teman teman Erin langsung ngeledekin. "Ciee... yang lagi pedekate ni... cieee..." Muka Erin memerah. "Apa sih lu pada." Vicky hanya duduk dan menyesap minumannya. Sesekali mencuri pandang pada Erin.
Ketika malam semakin larut dan mereka hendak pulang, Paul berkata : "Minggu depan di X gw ngerayain birthday party. Kalian dateng ya. Jam 7 malem." "Okai siap." " Dress codenya apa nih." "Asiiikkk, ntar ada after party lagi dooonk." ribut semua deh teman Erin. Paul tersenyum dan menghampiri Erin. "Nanti lu dijemput yah Rin." "Ga usah, pasti dateng koq ma anak anak. Liat aja pada semangat gitu." jawab Erin. "Iya deh. Tapi lu kudu dateng ya. " kata Paul. "Iyeee" kata Erin.
Hari demi hari berlalu. Erin jarang pake ojol sekarang. Paul dan Vicky suka gantian jemput. Sering bentrokan pengen jemput juga. Erin pusing sih cuma kapok dibarengin lagi. Takut kaya waktu sarapan waktu itu jadi canggung.
Hari ulang tahun Paul tiba. Erin dan teman temannya sudah berdandan cantik. Erin memakai dress simple hitam dengan heels hitam. Make upnya juga tipis aja. Erin ga suka menor emang. Mereka pun berangkat dengan riang.
Sampai di tempat birthday party Paul, mereka dicegat. "Undangan atas nama siapa?" kata petugas disana. Buset, ketat amat inih pikir Erin. Para tamu yang datang kebanyakan turun dari mobil mewah, pakaiannya pun bermerk. Ni mah kaum jetset kayanya. Pikir Erin. "Atas nama Erin." kata Ray. "Oh, nona Erin dan teman temannya. Silahkan masuk nona." kata petugas tadi. Erin dan teman temannya mengucapkan terima kasih dan beranjak masuk.
Mereka ternganga. Ballroomnya besar sekali. Teman teman Erin mulai berbisik. "Rin, si Paul kaya ya?" "Rin, usaha apa keluarga si Paul?" "Banyak makanan minuman enak inih." Erin tidak menghiraukan mereka. Mata Erin mencari Paul dan teman temannya. Tiba tiba Vicky menghmpiri Erin, dia memakai jas. Cakep amad ya ampun, batin Erin dan teman temannya. Vicky tersenyum. "Baru datang ya. Cantik banget Rin." Erin tersipu. "Terima kasih Vic, lu juga keren pake jas gitu." kata Erin. "Paul mana?" tanya Erin. "Oh yang birthday keluar pas acara mulai. Kesana yuk bentar lagi acaranya dimulai." kata Vicky. Mereka mengikuti Vicky. Bergabung dengan Roger dan Marcel yang juga keren dengan jasnya.
MC memanggil Paul. Lalu dilakukan doa bersama dan potong kue. Kaya kue yang kawinan aja batin Erin, guede bener sampe 7 tingkat pula. Paul memberikan kuenya untuk mamanya. Ketika ditanya MC apa ada seorang special yang Paul mau kasi kue lagi, Paul menjawab: "Sebentar lagi orang spesialnya ada. Belum sekarang. Doakan secepatnya." Mama Paul melirik Paul sambil tersenyum. Wanita yang muali berumur tapi tetap cantik dan elegan.
Paul menghampiri Erin. "Makasih ya Rin udah dateng." "Iya Paul. Selamat ulang taun ya." Erin tersenyum manis. "Udah gitu doank? Ga dapet inih?" kata Paul menunjuk pipinya. Erin tertawa, "Iyaaa met ultaaah." sambil cupika cupiki. " Rin, kesana yuk, kenalan sama mama gw." kata Paul. Erin bingung kenapa dia doang yang mo dikenalin, tapi Erin manut ajah. Para tamu yang melihat Paul menarik tangan Erin kasak kusuk. Erin agak risih tapi mencoba cuek.
"Ma, ini Erin. Erin, ini mama gw."kata Paul. "Selamat malem tante. Saya Erin temen Paul." ujar Erin sopan. "Temen?" kata mama Paul. "Iya tante." kata Erin bingung. "Tante kira udah pacaran."tiba tiba mama Paul tergelak sambil melirik Paul yang lagi mengusap ngusap kepalanya yang tidak gatal. Erin tambah bingung. Mama Paul ketawa lagi. "Rin, jangan panggil tante. Panggil mama Paulina." "Iya tante, eeehhh mama Paulina." Erin beneran canggung. "Rin, ayuk makan dulu. Makanannya mama dah pilihin yang enak enak. Kamu pasti suka." kata mama Paulina. ,"Iya mam makasih." kata Erin. "Mama nemenin tamu yang lain dulu ya Rin. Mama seneng kamu dateng malem ini. Kamu cantik ya, pantesan Paul suka." mama Paulina ngeloyor. Erin bengong. Paul salting. "Ayuk Rin makan dulu " "Iya Paul, gw ke anak anak dulu deh ya." kata Erin. Paul menggangguk. Erin dan Paul tidak menyadari Vicky melihat semua kejadian itu.
Ketika Erin sampai di meja teman temannya dan juga Vicky, Roger, dan Marcel, smua heboh. Kecuali Vicky of course. "Dikenalin ma mamanya Rin?" "Dah mo dijadiin mantu ya?" "Kayanya calon mertua lu baek ya Rin." berondong mereka. "Apa siiihhh... cuma kenalan doaaang." kata Erin. Roger dan Marcel tersenyum. "Welcome to our club Erin." kata mereka. Erin bengong. Tapi ga lama langsung makan. Dah selesai makan, Erin gerah terus dia ke balkon.
"Rin." Erin menoleh. "Vic, kamu kesini juga." kata Erin. "Iya sumpek di dalem bosen. Tar lagi ada after party sih." Erin cuma oooh. "Vic, kalian tuh ternyata keluarga Jayatama n partnernya ya? Baru tau sih gw." tanya Erin. "Iya gw sama Paul sepupu. Kalo Roger sama Marcel sih emang keluarganya partner keluarga Jayatama." kata Vicky. "Wow, keluarga jetset."kata Erin. "Ngga lah, biasa aja Rin, keluarga koq yang punya. Kita mah cuma ikut nikmatin n ikut nerusin ajah."kata Vicky. "Ah, kamu mah suka merendah Vic."kata Erin. "Emang gitu adanya Rin." Vicky tersenyum.
"Rin..." kata Vicky. "Ya?" Jawab Erin. "Lu suka ma Paul?" Vicky menatap lekat Erin. Erin bengong. "Kenapa smua nanya gitu ya hari ini? Saat ini mah ngga ya. baru juga kenal berapa minggu. Kenapa emang Vic?" tanya Erin. "Ngga... kayanya Paul suka sama lu Rin." kata Vicky. "Ya itu kan masalah dia Vic. Kalau dia ngomong ma gw, baru jadi masalah gw, baru gw pikirin kudu gimana. Kalo ngga mah ya tetep aja gw anggep temen." Jelas Erin. "Ga ngerasa gitu Rin dia beda sama lu?" tanya Vicky lagi. "Gw mah ga mikirin sih Vic kan tadi gw dah bilang. Kalau dia ngomong suka baru gw pikirin. Ntar dibilang gw ge eran pula kalo dah riweh dari sekarang. Hehehe." Vicky hanya diam.
Tiba tiba Paul datang. "Rin, gw nyariin lu. Disini ternyata." Paul melirik Vicky, tapi mengalihkan pandangannya ke Erin lagi. "Ikut gw sebentar yuk." Erin mengangguk dan pamit sama Vicky. Vicky tersenyum dan mengangguk. Menyalakan rokoknya sambil menatap langit kelam.