My Love, My Adventure

My Love, My Adventure
57.



Pagi itu Erin sudah di resto seperti biasa. Karena kesiangan Erin memasakkan sarapan buat Vicky di resto. Vicky minta buuter rice ala Erin. Sambil terus memeluk Erin dari belakang dan meletakan dagunya di bahu Erin. "Vic, gw kagok masaknya nih." "Gapapa atuh yang, nyaman meluk kamu gini." Erin menolehkan kepalanya dan mengecup Vicky. "I love you Vic." "Love you more dear." Vicky mengecup bibir Erin. Para karyawan resto hanya tersenyum melihat kemesraan bos mereka yang bikin sirik.


"Vic..." "Ya?" Erin menatap Vicky lekat lekat. Di dapur resto hanya mereka berdua. Bagian dapur sudah membereskan bagian mereka dan semua karyawan sedang sarapan bersama. "Gw sayang elu." Erin meletakan kepalanya di dada Vicky dan memeluk Erin dengan sangat erat. "Gw juga sayang banget sama elu Rin." Vicky membalas pelukan Erin erat sambil menciumi kening Erin.


Erin menata butter rice dan telur setngah matang di piring. Dan mengisi gelas dengan jus jeruk. Vicky dan Erin sarapan bersama sambil bercanda dan bercerita. Paul nongol. "Yaaahhh... gw mau sarapan gituan." "Gw minta dimasakin ya."kata Erin. "Yah mana enak dibandingin lu yang bikin. Ya udah lah biarin. Ntar lagi kalo mau dateng gw telp dulu biar sekalian dimasakin." Erin tersenyum dan memanggil karyawannya untuk membuatkan Paul sarapan.


Tiba tiba ponsel Erin berbunyi. Han yang nelpon. Erin mengerutkan kening. "Rin... maafin gw ya yang maksain biar lu nerima gw lagi. Gw beneran sayang sama lu Rin. Tapi gw ga kan maksa lu lagi. Maafin gw ya. Jangan benci gw." "Iya Han. Gapapa. Gw ga benci elu koq." "Makasih ya Rin. Gw masih boleh ketemu elu kan?" "Iya gapapa. Kesini aja gw kan selalu di resto." "Ok. Makasih ya Rin." Erin menaruh ponselnya.


Vicky dan Paul memandangi Erin. "Kenapa si Han?"tanya Vicky. "Minta maaf. Ga akan maksa gw balikan lagi katanya." "Yah semoga omongannya bener." kata Vicky. Sementara Paul membatin, dulu aja gw yang minta maaf susah bener. Ini langsung gitu. Salah gw gede sih emang. Tapi si Han ini beneran bikin gw jealous.


"Vic" panggil Erin. "Kenapa Rin?" "Lu harus inget ya... gw sayang banget sama elu sampai kapanpun. Gw dah milih elu. Jangan raguin sayang gw. Sakit kalo diraguin sama orang yang gw sayang." Erin meletakkan kepalanya di pundak Vicky. "Gw cuma sayang elu Vic, satu satunya." Tangan Erin melingkar di pinggang Vicky. Vicky memeluk Erin dan menciumi wajah Erin. "Makasih sayang. Gw juga sayang banget sama elu. Cuma elu."


Paul yang melihat pemandangan itu merasakan hatinya terluka. Periiih sekali. Seharusnya Erin mengatakan itu untuknya. Seharusnya dia yang dipeluk dan dicintai Erin. Ya Tuhan, kenapa dulu gw sebodoh itu sampai gw keilangan Erin. Sampe sekarang pun gw ga bisa lupain Erin. Mencoba kencan pun yang selalu kebayang ya Erin. Gw cinta banget sama elu Rin... Paul melayangkan pandangannya keatas, mencegah air matanya jatuh. Lalu dia menghela nafas menenangkan dirinya.


"Woi... ada jomblo disini woi. Jangan bikin gw bete napa sih kalian ini." Erin melepaskan diri dari pelukan Vicky. "Hehehe maaf Paul. Makanya pacaran donk. Biar ada yang bisa disayang sayang juga."kata Erin. Paul hanya mendengus sebal dan memakan makanannya. Vicky masih memandangi wajah Erin dan mengusap wajah Erin. Gw sayang banget ma elu Rin. Gw bahagia banget lu milih gw dan sayang gw, batin Vicky.


Malam menunjukkan jam 9. Resto Erin bersiap tutup. Erin di rumah nonton tv, Vicky lagi pengen nasgor langganan mereka dulu. Jadi Vicky pergi sebentar membeli nasgor. Tiba tiba ponsel Erin berbunyi. "Rin... Han mabok berat ini. Dia ngamuk di kamar. Ga mau keluar. Gimana ini?" Kenapa sih kalo ada yang ngamuk di kamar gitu kudu gw yang ditelpon, gerutu Erin dalam hati. "Trus gw kudu gimana?" "Kesini dulu Rin gw takut dia kenapa kenapa." "Vicky lagi pergi bentar Hen. Nanti kalau dia dah dateng aja ya." "Aduuuh si Vicky kemana sih Rin. Gw cemas nih dari tadi. Dibujukin juga ga mau keluar. Si Sony juga dah coba tapi percuma kayanya."


Tiba tiba terdengar suara Han berteriak sangat kencang. Henry melempar hpnya dan memanggil manggil Han. Tapi tidak ada jawaban. Henry mendobrak pintu kamar Han dan berteriak teriak memanggil Han. Erin pun mendengar suara Sony berteriak memanggil Han. Erin ikutan panik mendengarnya di telpon. Dia langsung memesan ojol dan mengambil jaketnya.


Ojol pun datang dan Erin minta cepat. Hujan mulai turun pun Erin tetap tidak mau berhenti. Erin hanya mencemaskan Han. Tidak peduli dia kehujanan, tidak peduli Vicky mungkin akan mencarinya. Belum pernah dia mendengar Han berteriak seperti itu. Belum pernah dia mendengar Henry secemas itu. Pikirannya kalut. Jalanan mulai licin.


Tiba tiba ada seekor ****** melintas di depan motor yang ditumpangi Erin. Bapak ojol kesulitan mengendalikan motornya karena kecepatan yang cukup tinggi dan jalanan yang licin. Motornya menabrak pohon di pinggir jalan dengan kencang. Bapak ojol terjatuh dan mengerang kesakitan. Erin terlempar dari motor. Helm yang kebesaran itu lepas dari kepala Erin. Kepala Erin membentur aspal. Dia tak sadarkan diri terbaring di jalanan. Orang orang mulai berkerumun dan memanggil ambulans.


Vicky tiba di rumah. Dia bingung Erin tidak ada disana. Dia menelpon Erin tidak ada jawaban. Vicky berlari ke resto tapi tidak seorang karyawan pun tau kemana Erin. Vicky panik. Dia menelpon Paul. Paul pun tidak tau dimana Erin. Paul segera meluncur ke rumah Vicky. Vicky sangat cemas. Tidak biasanya Erin seperti ini. Dia teringat Henry. Tapi telponnya tidak diangkat.


Vicky mondar mandir cemas. Lalu Paul pun datang. Mereka berniat mencari Erin bersama. Tapi tiba tiba ponsel Vicky berbunyi. Dari Erin. Tapi bukan Erin yang bicara. Vicky mendengarkan apa yang dikatakan si penelpon dengan seksama. Tak lama Vicky terkulai melemas. Ponselnya jatuh dari tangannya. Paul kaget. Dia memegangi Vicky yang tampak lemas dan mengambil ponsel Vicky dan berbicara dengan yang menggunakan ponsel Erin. Mata Paul membelalak. Dia tertegun. Air membasahi pelupuk matanya. Dia menarik Vicky ke dalam mobilnya, Paul mengendarainya seperti orang kesetanan.


Tatapan mata Vicky kosong. Dia berusaha mencerna apa yang terjadi. Paul yang kesal menggampar Vicky. "Bangun t*l"l!! Dia perlu elu. Elu yang selalu ada buat dia kan? Lu harus gitu juga sekarang.