
Bagian 2 - Masalalu Dara
Lo selingkuh sama sahabat gue sendiri. Gimana gue bisa baik-baik aja!
*****
Lelaki itu adalah Mauza Rafeyfa Firaz, mantan kekasih Dara sewaktu SMP. Mauza kakak kelas Dara sewaktu di SMP, mereka pertama kali bertemu ketika Dara hendak mempersiapkan diri untuk olimpiade matematika se-kota dan Mauza menjadi tutor Dara.
Mauza merasa nyaman ketika berada di dekat Dara dan menyadari bahwa dirinya menyukai Dara akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya ke Dara dan mereka pun menjadi sepasang kekasih.
Seperti sepasang kekasih lainnya, hubungan Dara dan Mauza dipenuhi dengan bumbu-bumbu cinta yang tak semuanya manis. Ketika sedang marahan dan Dara tidak mau diajak bicara, biasanya Mauza bercerita dan meminta bantuan Renata, sahabat Dara. Bahkan ketika Mauza dan Dara jarang bertemu dikarenakan Mauza melanjutkan sekolahnya di SMA dan Dara harus mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional, Renata yang menjadi jembatan penghubung antara Dara dan Mauza. Renata selalu mendengarkan curhatan-curhatan Dara ketika hubungannya dengan Mauza sedang tidak berjalan lancar, Renata juga sering menemani Mauza mencari hadiah untuk Dara.
Saat perpisahan SMP, Dara yang sudah bosan dengan pidato-pidato perpisahan dari para guru memutuskan untuk berkeliling sekolah untuk mengenang kembali masa-masa sekolahnya di sana. Di taman belakang, dia melihat Renata sedang berbicara dengan seorang lelaki. Ketika hendak menyapa, Dara mengurungkan niatnya karna lelaki tersebut memeluk Renata.
“Gue sayang sama lo, Renata.” Ucap lelaki tersebut. Mendengar itu, air mata Renata tak kuasa untuk jatuh dipipinya yang mulus.
Dara yang masih memperhatikan Renata ikut tersenyum melihat adegan tersebut. Namun betapa terkejutnya Dara ketika mendengar apa yang diucapkan Renata selanjutnya.
“Gue juga sayang, tapi lo udah punya Dara, Za. Gue tau selama ini gue yang selalu ada buat elo, tapi itu karna elo selalu jadiin gue pelampiasan disaat elo lagi ada masalah sama Dara, dan gue ngga sanggup kalau harus kaya gini terus. Lo harus pilih salah satu dari kita Za, lo mesti pilih antara gue atau Dara.” Ucap Renata sambil melepaskan pelukannya.
Dara yang melihat hal tersebut hanya bisa menatap mereka dengan perasaan campur aduk, marah, kecewa, sedih menjadi satu. Hatinya sakit seperti tertusuk-tusuk oleh jarum yang tak terlihat. Dia mengepalkan kedua tangannya untuk menahan agar emosinya tidak lepas.
Merasa ada yang memperhatikan, Renata melihat kearah orang tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Dara sedang menatapnya dengan tajam.
“Dara!” seru Renata. Mauza pun refleks membalikkan badannya dan melihat Dara sedang berjalan kearahnya.
"Gue udah denger semuanya dan gue bisa nyimpulin sendiri apa yang udah kalian lakuin dibelakang gue" kata Dara dengan penuh penekanan dan rasa kecewa. “Gue cuma mau bilang makasih buat kebaikan kalian selama ini dan makasih juga kalian udah ngasih tau gue gimana rasanya dikhianati” setelah berkata seperti itu Dara langsung pergi meninggalkan Renata dan Mauza yang masih terpaku ditempatnya.
Begitulah, hubungan satu setengah tahun yang dijalani oleh Dara dan Mauza berakhir. Sejak saat itu Dara tidak pernah bertemu atau berhubungan lagi baik dengan Renata dan Mauza. Meskipun Mauza dan Renata sering menghubungi Dara, dan datang ke rumahnya namun Dara selalu menghindar karna bertemu dengan mereka hanya akan mengingatkannya akan kenangan pahit yang ingin ia lupakan.
*****
Mauza mengantarkan Dara sampai tepat didepan rumahnya, kebiasaan yang selalu dia lakukan sewaktu masih menjadi kekasih Dara. Keadaan menjadi canggung antara Mauza dengan Dara, tidak ada satu katapun keluar dari mulut mereka yang ada hanyalah keheningan.
“Emm makasih.” Ucap Dara setelah turun dari motor Mauza dan hendak mengembalikan helm.
“Iya.” Jawab Mauza menerima helm dari Dara.
"Jadi?" Tanya Dara. Sebenarnya ia ingin segera masuk ke rumah, tapi ngga enak ke Mauza yang sudah jauh-jauh mengantarkannya pulang.
"Jadi maksud gue, gue gak mau lo marah lagi sama gue Ra. Gue pengen kita masih baik-baik aja kaya dulu" jawab Mauza yang tidak ingin hubungannya berakhir dengan Dara.
"Za, lo selingkuh dan sama sahabat gue sendiri Za! Gimana bisa gue baik-baik aja sama lo setelah lo kecewain gue.” Ucap Dara teringat kembali akan kenangan pahit itu.
"Gue tau gue salah Ra, tapi gue gak mau kita putus kaya gini." pinta Mauza
"Gue yang pengen Za. Lo gak bisa egois kaya gitu, cuman mikirin perasaan lo sendiri. Pikirin gimana jadi gue" ucap Dara penuh penekanan. Ia berusaha menahan emosinya dengan mengigit bibir bawahnya. Melihat Mauza yang masih menatapnya dengan penuh harap, Darapun jadi tidak tega.
"Okey! Untuk menjadi temen gue mau, tapi untuk balikan gue gak bisa. Dan gue masih butuh waktu untuk itu" jelas Dara. Ia sadar semakin menjauh dan menghindar dari Mauza rasanya sangat tidak mungkin, ia sangat mengetahui sifat Mauza yang tidak akan menyerah begitu saja untuk mencapai sesuatu.
Mendengar hal itu, Mauza tersenyum. Mauza kemudian menundukkan wajahnya, seperti orang yang sedang memikirkan suatu hal. Sebenarnya Mauza sangat menyesal telah melakukan itu kepada Dara, tetapi semua nya telah terjadi dan tidak bisa kembali lagi.
“Ra, gue mau ngejelasin kejadian waktu itu ke elo, boleh?” tanya Mauza ragu. Ia tau membahas kejadian masa lalu hanya akan mengingatkan Dara akan hal yang ingin dilupannya tapi cepat atau lambat hal tersebut harus diselesaikan.
“Hemm.” Jawab Dara sekenanya.
"Gue ngelakuin itu karna lo selalu sibuk sama dunia lo sendiri Ra. Lo terlalu naif, lo selalu menghindar dari masalah. Setiap ada masalah lo selalu lari dari gue. Apa pernah lo ngabarin ? Apa pernah lo tau hal yang gue suka? Engga kan. Apa lo pernah denger cerita gue?. Bahkan waktu kita putus lo malah ngehindar gak pernah mau dengerin penjelasan gue terlebih dahulu " jelas Mauza.
"Gue sadar sikap gue salah dengan ngejadiin Renata sebagai pelampiasan karna lo selalu gak ada. Gue terima disaat lo mau putus, karena gue ngekhianatin lo. Tapi gue gak terima saat lo gak pernah bilang apa-apa gue setelah itu. Lo lari dan gak pernah bisa gue hubungi lagi. Gue minta maaf buat semua nya meskipun susah buat gue maafin diri sendiri. Gue cuman sayang sama lo, sampai gue nyesel udah lakuin itu. Gue yang salah gak pernah minta lo buat dengerin gue" sesal Mauza.
"Za, gue cuman gak mau ganggu kehidupan pribadi lo, lo punya privasi dan gue pun sama. Gue gak bisa selalu ingin tahu apa yang dilakuin sama lo, kita masih remaja belum cukup untuk sedalam itu Za. Kalau lo butuh pengertian, lo bisa cari cewek lain tapi bukan gue, belum waktu nya bagi gue untuk tau semua nya. Gue memang egois gue memang naif tapi gue gak bisa jadi apa yang lo mau Za, keputusan kemarin gue rasa udah cukup mewakilkan hati gue. Bahwa gue memang gak pantes buat lo" ucap Dara dengan penuh penekanan.
“Dan gue rasa kita masih perlu waktu masing-masing Za, lo jalanin hidup lo seperti biasa dan gue pun begitu. Kita masih bisa jadi teman tanpa libatin perasaan lo atau gue dan masa lalu kita. Jangan bikin gue ngerasa bersalah atas kejadian kemarin, apa yang terjadi kemarin udah gue kubur dalam-dalam." Lanjut Dara.
"Tapi gue gak bisa semudah itu buat lepas dari lo, Ra" ucap mauza
"Itu terserah lo, gue gak pernah minta. Semua ada di hati lo, gue gak bisa ngelarang apapun Za. Tapi gue kasih saran lo ngga bisa egois karna ingin Bahagia sendiri Za, lo harus mikirin perasaan gue juga Renata. Bagi gue ini udah cukup jelas, semua yang terjadi gue minta maaf. Lo hati-hati gue mau masuk dulu" pamit Dara. Dia membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk kedalam rumah tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"Lo jaga diri baik-baik, Ra. Lo harus bahagia biar gue gak ngerasa bersalah" ucap Mauza dalam hatinya.
Terdengar suara motor Mauza yang meninggalkan rumah Dara.
"Eehh Neng Dara udah pulang, mau makan atau mandi dulu Neng? Bibi udah masak makanan kesukaan Neng Dara loh" Tanya Bi Atun.
"Mmm Dara mandi dulu deh ya Bi baru makan" ucap Dara lemas dan berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Dara keluar dari kamarnya menuju ruang makan setelah selesai membersihkan dirinya. Seperti biasa, Dara makan hanya ditemani oleh Bi Atun, pembantunya yang sudah ia anggap seperti Bibi nya sendiri. Bi Atun sudah menemani Dara sejak kecil dan sudah hapal kelakuan Dara dan Kakaknya.
Dara anak bungsu dari 2 bersaudara Kakak nya bernama Ananda Denial Xavier atau biasa dipanggil Deni hanya terpaut 3 tahun. Deni baru saja menjadi mahasiswa baru dan memutuskan untuk mengambil jurusan music mengikuti jejak Ayahnya yang meninggal 3 tahun lalu karna penyakit jantung. Silvi, Bundanya Dara bekerja sebagai konsultan dan sejak suaminya meninggal membuat Silvi harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan Dara dan Deni sehingga beliau jarang di rumah. Bi Atun tau Dara pasti merasa kesepian sejak Ayahnya meninggal karna sejak itu suasana rumah berubah tidak seperti dulu yang penuh dengan canda tawa dan keceriaan para penghuninya, sekarang rumah ini lebih dominan diisi oleh kesunyian makanya Bi Atun berusaha untuk selalu ada menemani Dara.
Melihat Dara yang lelah, Bi Atun tidak berani menanyakan siapa gerangan pria yang tadi mengantar Dara pulang. Padahal biasanya Dara selalu menceritakan kejadian yang ia alami seharian kepada Bi Atun.
Selesai makan, Dara memilih untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Tiba-tiba ia teringat akan ponselnya yang dari tadi tidak ia sentuh. Betapa kagetnya Dara melihat banyaknya pesan yang ia terima dari Ayu. Baru saja mau membalas pesannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Yup, telepon dari Ayu. Dasar, posesif sekali emang sahabatnya satu ini, pikir Dara dan segera menjawab telepon tersebut.
"Ngapain aja tadi si jaja?" Belum sempat mengucapkan salam ayu langsung nyerocos.
“Hah Jaja?” tanya Dara heran.
“Ia Jaja alias si Mauza.” Jawab Ayu.
“Hmffh hahahahah” untuk pertama kalinya setelah bertemu dengan Mauza tadi Dara tertawa. Sahabatnya ini emang paling bisa balikin moodnya yang lelah jadi semangat lagi.
“Iiihh ko malah ketawa cepet ceritaa tadi si Jaja ngapain!” pinta Ayu gemas.
“Hahaha ia iaa” Dara pun menceritakan pembicaraannya dengan Mauza tadi siang dan Ayu mendengarkannya dengan baik tanpa memotong pembicaraan Dara.
"Seriusan dia minta balikan Ra? Setelah apa yang dia lakuin ke lo? Gila gila gila.” Ucap Ayu tak percaya. “Tapi keputusan lo bagus banget. Lo emang harus tegas sama dia, keputusan yang lo ambil udah tepat banget Ra. Lo sekarang harus Bahagia pokoknya Ra" ucap ayu menasehati sahabatnya itu. Ayu tau dari awal permasalahan Dara dengan mantannnya tersebut. Ya gimana ngga tau kalau Ayu, Dara, dan Renata dulunya adalah tiga serangkai yang tidak terpisahnya.
"Ia Ay, Gue cuman butuh waktu aja buat semuanya menjadi biasa aja, Sumpah tadi gue canggung banget sama dia, gak tau harus bersikap kek gimana. Emang sih itu kan cinta monyet tapi perasaan gue tetep aja sakit banget pas tau dia selingkuh apalagi sama sahabat gue sendiri" jelas Dara jadi teringat kembali kejadian dulu.
"Gue juga bingung, engga cowok nya engga ceweknya sama aja. Bisa-bisa nya iya ngelakuin itu. Heran gue!" Teriak ayu disebrang sana.
"Gak usah pake teriak-teriak juga kali, telinga gue pengang nih" ucap Dara sambil menjauhkan diri ponselnya.
"Sorry sorry gue terbawa suasana abisnya hehehe" elak Ayu. “Yaudah sekarang ngga usah sedih lagi Ra, anggap aja ini jalan yang dikasih ke elo untuk nunjukin sifat aslinya si Jaja. “ lanjut Ayu.
“Iya kali ya.” gumam Dara. “Tapi ko gue jadi kepikiran sama Retana yah Ay? Dia gimana sekarang kabarnya ya?” Dara jadi merasa kasian dengan mantan sahabatnya itu.
“Ia yah ko gue jadi ngerasa kasian ke Renata. Tapi terakhir sih setau gue dia masuk SMA yang sama kaya si Jaja. Tapi kalau Jaja kaya gitu ke elo berarti hubungan dia sama Renata udahan kali ya. Yaudah lah ngga usah dipikirin Ra, kita kan punya jalan hidup masing-masing” ujar Ayu sok bijak.
"Hemm ia sih bener juga, yaudah gue mau istirahat dulu, capek. Dah Ayuu" pamit Dara.
"Yaudah deh gih sana istirahat lo pasti cape kan setelah ngadepin kejadian yang penuh emosi ini. Met istirahat Beb, see you tomorrow at school!” Ayu pun mematikan hubungan mereka tanpa Dara sempat membalasnya.
Dasar kebiasaan! Siapa yang nelepon siapa yang nutup coba? Heran Dara menatap ponselnya yang sudah mati.
*****
Seperti biasa, pagi-pagi Dara terbangun dan pergi menuju kamar Bunda. Rutinitas yang selalu Dara lakukan setiap pagi sebelum siap-siap untuk sekolah ia akan menghampiri kamar Bunda dan melanjutkan tidurnya sejenak diatas pelukan Bunda untuk melepas rindu. Rutinitas ini ia jalankan sejak Bundanya makin sibuk dan selalu pulang malam.
"Dara sayang, ayo bangun. Mandi gih siap-siap ke sekolah, nanti telat loh.” Ujar Bunda.
"Bentar Buunn. Lima menit lagiii aja yah Bun yaahh" pinta Dara mempererat pelukannya. Melihat tingkah anak bungsunya yang selalu manja dan mengemaskan itu Bunda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh ia, Gimana di sekolah baru nya? Seru ngga? Pasti banyak cowok yang suka sama kamu ya? Anak Bunda satu ini kan cantiknya bukan main" goda Bunda.
"Apaan sih Bun, aku tuh ke sekolah buat belajar bukan buat nyari pacar" jawab Dara.
"Tapi nanti juga pasti bakalan nyari pacar deh, bunda yakin banget" ucap Bunda.
"Engga Buunnn. Apaan sih ahh" ucap Dara sambil menutup mukanya dengan selimut.
"Hahahaha ciee anak Bunda malu-malu.” goda Bunda sambil mengusap rambut Dara. “Bunda ngga masalah ko kalau kamu mau pacarana selama itu bisa bikin kamu bahagia . Tapi inget ya jangan lupa bagi waktu buat belajar supaya nilai sekolah kamu tetep bagus. Dan satu lagi, asal kamu jangan macem-macem pacarannya yah!" nasihat Bunda.
“Heemm macem-macem itu kaya gimana maksudnya Bunda?” tanya Dara polos sambil menurunkan selimutnya hingga matanya bisa melihat Bunda.
"Hahaha pura-pura polos kamu Nak. Udah gih sana mandi, Mas Deni pasti udah nungguin tuh dimeja makan. “ ujar Bunda.
"Ia deh ia, aku mandi dulu ya Bun, bilangin ke Mas Deni jangan ditinggalin" pamit Dara tak lupa mencium pipi Bunda dan segera berlari menuju kamarnya.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Dara segera berlari menuju ruang makan. Benar saja disana Bunda dan Mas Deni sudah selesai sarapan dan sedang menunggunya. Dara memang biasa sarapan di mobil, karna Mas Deni akan mengantar Bunda dulu sebelum ke sekolah Dara dan akhirnya pergi kuliah. Mas Deni dan Dara dulu sangat dekat, bahkan Dara menceritakan hubungannya dengan Mauza ke Mas Deni. Tapi dengan kesibukan kuliahnya, Dara jadi jarang bercerita dengan Mas Deni dan hanya bertemu ketika pagi seperti ini saja.