
"Makasih iya kalian buat suprise nya aku seneng banget bener-bener gak bakalan nyangka kalo kalian bisa kaya gini" ucap dara terharu
"Yaelah ra.. kaya ke siapa aja sih" viola
"Makasih iya kaa.. udah nyiapin ini semua buat aku" dara langsung memeluk vino dengan sangat erat
"Sama sama sayang" vino mengecup kening dara
"Santai kali.. nih jiwa jomblo gue bergetar" uca viola membuat semua para sahabatnya tertawa dengan sangat keras. Mereka menceritakan bagaimana ayu dan vino harus hujan-hujanan membeli semua persiapan, chandra yang susah untuk bangun sampai-sampai mereka harus menyusul kerumahnya, viola yang mendadak tidak boleh pergi dan belum lagi mesin print meika untuk cetak foto rusak. Mereka menceritakan dengan penuh haru dara semakin menyayangi mereka semua, pacar dan para sahabatnya yang setiap hari selalu ada untuknya.
"Daraa.... sayang.. ajak teman-temannya makan dulu nak" panggil silvy dibawah sana
"Yukk..kita turun buat sarapana dulu.. kalian pasti udah pada laper kan.." ajak dara
"Tau aja perut gue udah keroncongan nih" viola berjalan mendahului teman-teman yang lain
"Urusan makanan aja paling depan" timpal meika
"Dari pada lo.. boker paling depan" ejek viola
"Emang sialan tuh anak" kesal meika. Disusul semua nya untuk turun ke bawah.
"Wahhh tante.. banyak banget menu nya.." ucap viola. Matanya terus melotot memperhatikan satu persatu makanan yang ada diatas meja.
"Awas ada syaiton tante.." mela. Silvy menggelengkan kepala nya sambil tertawa.
Satu persatu dari mereka mengambil makanan dan duduk melingkar diruang tengah rumah dara.
"Kamu hari ini mau kemana?" Tanya vino
"Aku sama ibu mau ke puncak.. soalnya kita udah lama gak me time bareng" jawab dara penuh semangat
"Have fun yaa.. kabarin kalo ada apa apa"
"Siap bos" dara melanjutkan makannya. Dia membuka ponselnya ada ucapan selamat ulangtahun dari fandi dan mengatakan bahwa tak bisa pulang dikarenakan banyak kerjaan yang harus segera di selesaikan dan dara pun menjawab tidak apa-apa karena dia mengerti akan kesibukan fandi.
Sayang.. ka fandi udah ngabarin kamu?" Tanya silvy. Sebelum dara menjawab silvy mendapat telepon dari seseorang dan segera menjauhkan diri, dara yang melihatnya langsung mencoba mendekati silvy yang tengah di telepon oleh seseorang.
"Pa saya mohon kali ini saja.. saya sangat faham namum saya minta 1 kali ini saja pa.."
"Pa anak saya sedang berulangtahun dia sangat membutuhkan saya.. saya mohon pa"
"Pa jangan beri saya pilihan seperti itu.. "
"Tapi pa..."
"Baiklah saya akan berbicara baik baik dengan anak saya" silvy menyudahi pembicaraannya dan melihat dara mematung mendengarkan semua pembicaraanya.
"Sayang... kamu denger semua?" Tanya silvy. Dara berdiri menahan air mata nya agar tidak jatuh, sangat sesak dia merasakan dadanya.
"Ibu tau kan ini hari yang sangat dara tunggu-tunggu... ibu tau kan dara kehilangan waktu bersama ibu.." Air mata dara mengalir sangat deras berjatuhan dipipi nya. Suara dara menghentikan aktivitas seluruh yang ada diruangan itu, semua sahabat dan vino mendengarkan perkataan dara.
"Sayang... ibu pun ingin sekali menikmati waktu bersama.. tapi ibu gak bisa ninggalin pekerjaan ibu.."
"Ibu janji.. liburan sekolah tahun ini kita pergi bersama-sama iya sayang bareng fandi da juga epan"
"Gak usah bu.. aku bisa sendiri sama temen-temen aku" dara menepis sentuhan ibu nya.
"Iya bu.. dara baik-baik aja ko.. 16tahun sudah waktu nya dara menjadi dewasa bukan?"
"Dara tau apa yang harus ibu lakukan..dara sudah terbiasa seperti ini... sudah biasa bu.."
"Sayang.. maafin ibu nak.. maaf" silvy menangis memeluk dara. Dara hanya mematung tak bersuara, silvy pun mengendurkan pelukannya dan menatap dara ada kemarahan yang tidak terbendung.
"Ibu harus pergi sekarang.. maafkan ibu nak" dara hanya mengangguk dan berkumpul bersama disana.
"Neng ini minum dulu" tawar bi atun
"Gak usah bi. Makasih" dara tersenyum ke arah nya dan langsung meminum nya
"Ra... pergi sama aku aja yu.. ke tempat waktu itu kita bolos sekolah.." bisik vino sangat pelan
"Ke tempat kakek" tanya dara bersemangat. Vino hanya mengangguk pelan dan tersenyum ke arahnya
"Guys.. siapa yang mau ikut gue ke bukit bintang" tanya dara sambil memperhatikan para sahabatnya
"Gue bisa..." ayu mengangkat tangannya ke atas karena hanya dia yang bisa meluangkan waktu nya untuk dara. Yang lain bukannya tidak bisa tapi viola sudah ada janji sama aduy untuk pergi ke tempat yang lain, mela dan meima susah untuk dapat izin kepada orangtua nya,elysa dan chandar mereka harus segera private class untuk persiapan naik kelasnya.
"Gue ajak dirga iya.. biar tambah seru.. bentar gue telepo dulu" Ayu menelepon seseorang disebrang sana
"Pergi jam berapa? Dirga minta di jemput dirumahnya nih"
"Jam 10an aja biar gak terlalu siang" jawab vino. Yang lain berpamitan kepada dara untuk segera pulang, memeluk satu persatu sahabatnya itu dan mengantarkan di depan gerbang yang telat dijemput oleh deni supir dari meika untuk mengantarkan mereka ke rumah masing-masing.
"Sayang... ibu pergi dulu iya" dara hanya mengangguk pelan tanpa menolehnya
"Ra..." ucap vino memegang tangan dara
"Iya bu.. hati-hati..."
"Jadi pergi nya nak vino? Kalian hati-hati dijalan iya..."
"Jadi bu.. ibu juga hati-hati dijalannya iya" sambil mencium tangan silvy
"Ra.. ibu pergi dulu iya sayang.." silvy mencium keningnya. Dara memandang datar ke arah sembarang dan sangat terlihat kekecewaan itu.
Dara pun bersiap-siap untuk pergi siang itu bersama ayu dan vino, dia memakai kaos berwarna hitam celana skiny jeans dan sepatu kets sangat cocok dan cantik sekali meskipun tanpa polesan make up.
Ayu duduk dibelakang bersama dirga yang telah dijemput tadi oleh mereka bertiga, dara dan vino duduk di depan. Hening didepan karena dara terus memperhatikan jalanan dengan tatapan kosongnya itu.
"Ra.. lo jangam gini dong.. gue bingung harus ngapain" tanya ayu. Dara hanya diam tidak menjawab
"Ra.. ayu nanya jawab dong sayang"
"Gue juga bingung harus ngapain.. gue kecewa banget.. gue selalu jadi pilihan buat nyokap gue.."
"Ra.. udah ah jangan dipikirin ya ..kan kita mau have fun"
" Ra.. lo gak sendirian ko.. ada gue.. ada ka vino.. ada dirga juga.."
"Gue tau.. tapi tetep aja gue rasa.. gue gak pernah ada di mata keluarga gue.."
"Ra.. ibu lo sayang banget sama lo.. gak ada orangtua yang gak sayang sama anaknya"