
Terlihat seorang wanita sedang berdiri didepan gerbang rumahnya sendiri dan masih memakai pakaian sekolah nya lengkap. Dara sangat tahu siapa yang ada didepan rumahnya sore itu, kepala yang menunduk rambut hitam panjang di ikat kebelakang kulitnya putih siapa lagi kalo bukan cahya. Teman yang dulu sangat dekat dengan dara. Namun, menjadi berjauhan karena cahya mengkhianati dara dengan berciuman bersama mauza didepan dara saat itu. Iyaa.. mauza bertujuan hanya untuk membuat dara cemburu, tapi ternyata dara tidak merasa tersakiti dengan kenyataan mereka berdua.
"Itu bukannya cahya?" tanya vino
"Iya ka, tadi kita bertemu di depan rumah sakit. Ada yang mau dia sampaikan katanya"
"Oh.. tentang mauza?" Selidik vino, dia sebenarnya sangat ingin tahu apa yang terjadi. Namun, dia tidak mau terlalu ikut campur sebelum dara bercerita. Karena vino sangat yakin dara selalu menceritakan semua yang terjadi pada dirinya.
"Mungkin.. sebelumnya dia belum bales pesan aku yang tadi aku tunjukin ke kakak"
"Iyaudah kalo gitu.. aku langsung pulang, jangan lupa minta izin sama ibu buat hari sabtu ke acara ulangtahun"
"Siap bos" tangan dara sambil hormat
Cup
Vino mengecup kening dara dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan dara.
"Ya.. udah lama?"
"Belum ra, baru ko.. Maaf iya aku ganggu kamu"
"Santai aja kali.. yuk masuk dulu" dara mempersilahkan cahya masuk, dan mereka duduk diruang tamu. Seperti biasa rumah sepi hanya ada bi atun di dalamnya.
"Mau minum apa ya?"
"Apa aja ra.."
"Gue tinggal dulu ganti baju iyaa, lengket banget soalnya.." cahya mengangguk sambil tersenyum, tidak lama bi atun datang membawakan minum dan duduk di samping cahya.
"Di minum dulu neng, kenapa udah jarang kesini.."
"Makasih bi.. Sekarang sekolah nya beda bi sama dara"
"Oh pantesan.. yaudah atuh bibi tinggal dulu iya ke dapur mau nyiapin makan malem.."
"Di minum dulu ya.." cahya mengangguk dan meminum minumannya
"Jadi ada apa? Semalem lo sms gue tapi gak dibales lagi.."
"Gini ra.. Semalem mauza minta gue nemuin dia di cafe coffe sekitar jam 10 malem, gue dateng kesana sendiri karena mauza yang minta. Disana waktu gue dateng dia langsung masang muka yang gak suka sama gue, gue di teriakin sama dia kalo gue yang udah ngehancurin hidup nya. Ra.. gue tau gue salah, gue bener-bener nyesel apa yang udah gue lakuin ke lo berdua. Mauza ngamuk di depan cafe itu ngelempar barang yang ada didepan dia ke arah gue ra, dia bilang kalo lo jadi gak mau sama mauza lagi karena sifat kotor gue.. gue bingung ra, gue harus kaya gimana lagi buat minta maaf sama mauza. Satu-satu nya jalan gue minta sama lo buat bujukin mauza terimain kenyataan yang sekarang ra.. gue gak mau di ancam lagi sama dia, gue gak mau senjata yang dia punya buat ngehancurin gue ra.." ucap cahya sambil menangis. Dara tidak mengerti kata terakhir yang cahya bilang.
"Emang senjata apa yang mauza punya buat ngehancurin lo? gue gak ngerti yaa.." cahya kembali menangis dan tidak menjawab pertanyaan dara
"Gue gak tau harus bantu kaya gimana kalo lo gak ceritain sama gue"
"Gue malu ra.. maluu banget ra.." sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan
"Kenapa? Lo gak sendirian.. ada gue disini" dara memeluk cahya dan menenangkan nya.
"Mauza punya video gue tanpa busana ra..." cahya kembali menangis di pelukan dara.
"Hah.. ko bisa? lo sama mauza?... " dara kaget mendengar penjelasan cahya.
"Bukan ra.. mauza gak pernah ngelakuin hal itu, justru gue lakuin sama andro. Andro yang rekam gue waktu gue lagi gak sadar dikasih obat sama dia, dia rekam gue lagi tidur tanpa apa-apa. Lalu dia kirim video itu ke mauza, karena andro tau gue suka sama mauza bukan sama andro. Dan Andro ngancam gue buat nyebar lebih banyak lagi, kalo gue gak mau sama dia ra..." cahya kembali menangis. Dara hanya memeluk cahya dan mengumpati kelakuan andro, Andro yanf dia kenal adalah seorang anak yang baik pintar juga bertutur kata baik. Dara tidak menyangka andro akan melakukan hal itu kepada cahya.
"Yang lo tau andro kirim ke siapa aja?"
"Cuman ke mauza, dan mauza masih simpen ra.."
"Lo harus lapor polisi ya.. Lo gak bisa terus-terusan kaya gini"
"Gue bingung andro dan mauza terus ancam gue, Mauza ancam gue kalo lo gak mau maafin dia. Video gue mau dia sebar, dan andro ancam gue kalo gue gak mau ngelayanin mafsu bejat dia. Dia bakalan nyebar video gue lebih banyak ra.."
"Ya.. gue bantu lo buat lapor polisi, biar lo bebas dari jeratan setan andro.. Buat masalah mauza biar gue yang hadapi, kita beresin bareng-bareng buat hadapi andro"
"Gue yakin orangtua lo mau maafin, asal lo minta maaf dan lepas dari bayangan andro.."
"Gue takut raa.. Gue takut salah.. takut raaa..." tangis cahya pecah kembali mengingat kejadian itu
"Ada gue.. kita bareng-bareng hadapi semua nya.."
"Makasih ra.. gue gak tau lagi harus bilang apa sama lo.." cahya memelul dara sangat erat sambil menangis
"Jangan bilang siapa-siapa ra.. gue malu"
"Engga.. gak bakalan gue cerita sama siapa-siapa ko"
Mereka tersentak kaget karena ponsel cahya berdering
ANDRO CALL
"Andro... " ucap cahya langsung mengangkat teleponnya.
~Keluar gue udah di gerbang
Sambungan terputus
"Ra muka gue keliatan banget udah nangis iya? Gue takut ra.."
"Lo bersikap biasa aja, bilang aja lo udah minta maaf sama gue dengan kejadian dulu. Dan bilang kangen sama gue" Cahya mengangguk dan langsung membersihkan air mata dipipinya.
Dara pun mengantarkan cahya menemui andro disana, dengan bersikap biasa saja seakan-akan cahya tidak menceritakan apapun kepadanya. Berjalan sambil tersenyum hangat ke arah andro.
"Masuk dulu dro bentar.."
"Gue langsung ra.. udah malem juga gak enak" Andro melihat ke arah mata cahya yang sembab terlihat sehabis menangis
"Ra.. gue harap lo mau main lagi sama gue iyaa, liat gue makin nangis saking kangennya sama lo.." cahya memeluk dara
"Ntar sering-sering kesini iyaa.. Lo juga dro maen dong kesini.."
"Ehhh bentar kalian pacaran?" tanya dara bersandiwara
"Emh biasa aja ra temenan.." andro tersenyum ke arah dara
"Laki-laki sialan" dara mengumpat dalam hati
"Kita cabut dulu iya ra.." ucap andro
"Duluan ya ra.."
"Iya hati-hati jangan ngebut-ngebut udah malem, ntar main kesini lagi iya" dara melambaikan tangannya ke arah mereka berdua yang langsung melajukan kendaraan meninggalkan dara.
Dara akan mengatur strategi untuk membantu cahya keluar dalam perangkap andro dengan menggunakan mauza. Dara akan datang menemui mauza sendirian kerumah sakit, dara sangat kesal kepada andro yang bersikap seperti itu untuk memiliki cahya dan berbuat keji seperti binatang.
*Kita tidak pernah tau hati kita harus di simpan kepada siapa?
Namun kita hanya tau hati kita untuk siapa
Terkadang rasa ingin memiliki lebih tinggi dari rasa mencintai
Mencintai orang yang salah hanya mendapatkan luka
dan mencintai orang yang tepat akan membuat hati kita nyaman
Kita akan di pertemukan dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat*.