
Terkadang bersikap diam adalah bentuk dari sebuah kekecewaan. Namun, bersikap diam tanpa menjelaskan apa maksud yang kita harapkan adalah sebuah masalah yang tak akan berujung.
Dara dalam perjalannan nya hanya diam menikmati setiap permandangan hijau yang menyisir perjalanan itu. Vino sangat mengetahui kesedihan yang dara alami, dia membiarkan dara untuk menenangkan hatinya melamunkan apa yang dia fikir kan. Tak bisa berbuat banyak, karena itu sama sekali tidak akan merubah apapun disaat seperti ini.
Ayu sangat khawatir dengan sikap dara, tidak biasa nya dara menjadi pendiam. Dia akan selalu mencairkan suasana kalau saja didalam perjalan tidak ada yang berkata seperti saat ini, dia yang paling posesif menanyakan keadaan para sahabatnya itu. Ayu memilih diam sama seperti vino dan menikmati perjalanan nya dengan memeluk lengan kekasihnya itu.
Mereka pun tiba di tempat tujuan, tempat yang sangat sejuk untuk menenangkan pikiran. Ayu dan dirga memilih untuk langsung ke kedai yang terdekat yang ada disana, menemani dirga untuk mengisi perutnya yang sangat lapar itu, awalnya ayu ingin menemani dara. Namun, dia sadar dara membutuhkan waktu untuk sendiri.
Sementara dara memilih berjalan ke pinggir bukit melihat seluruh isi kota yang terlihat sangat kecil di bawah sana, dan vino menyusul untuk menemani dara.
"Udah jangan diem aja, disini kamu bisa bebas teriak atau nangis juga boleh kok. Tapi nangisnya disini" vino menepuk dada nya yang siap untuk dipeluk oleh dara
"Bilang aja pengen di peluk" ucap dara manja sambil mencubit lengan vino
"Aww...."
"Gitu aja manja. Wuuu...."
"Jangan sedih terus ahh.. Cantiknya nanti ilang loh" goda vino. Namun, dara hanya tersenyum mendengar nya.
"Ka.. Wajar gak sih kalo aku minta waktu 1 hari dalam 30 hari dari ibu? Kenapa ibu gak bisa nolak pekerjaan nya demi aku? Padahal hari ini, hari yang sangat aku tunggu tunggu ka.."
"Dulu waktu ayah masih ada, kita selalu merayakan ulangtahun di puncak. Ka fandi ka epan ibu dan juga ayah kita selalu kumpul disana, meskipun harus balik pulang pergi.. Sekarang buat ngumpul ber 4 aja susah, ditambah ibu yang super sibuk"
"Aku egois iya ka..." vino tidak menjawab dan memilih diam untuk dara dapat menyelesaikan ceritanya
"Dulu waktu ayah udah mulai sakit-sakitan dan simpanan keuangan ibu sudah mulai berkurang karena untuk biaya pengobatan ayah, Ibu memilih untuk bekerja mencari tambahan agar ayah bisa sembuh juga aku bisa bersekolah. Ibu sangat sibuk bekerja sampai lupa dia harus merawat ayah dan juga anak-anaknya, untung saja dirumah sudah ada bi atun dan perawat khusus untuk ayah membantu keperluannya. Makin hari keadaan ayah sangat memburuk dan melemah hingga detik-detik terakhirpun ibu tidak ada disamping ayah karena sibuk untuk bekerja, Ayah di nyatakan meninggal oleh dokter didepan ka fandi yang tengah membangunkan ayah. Namun, tetap saja tidak berhasil. Ka epan benar-benar sangat marah atas sikap ibu, menyalahkan semua kejadian yang menimpa ayah adalah kesalah ibu.. Aku masih belum mengerti apa-apa hanya bisa menangis setiap hari melihat kakak dan ibu beradu pendapat didepan aku dan ka fandi, Mereka saling meneriaki satu sama lain dan ka epan memilih untuk tidak berada satu rumah dengan kita semua. Memilih untuk pergi dan bekerja di luar negeri.." air mata dara menetes tidak berhenti.
"Semakin hari semakin tidak ada waktu.. aku selalu sendiri bersama bi atun, ka fandi dan ka epan pun sibuk dengan dunia nya.. " Air mata dara tidak dapat di bendung lagi. Butir bening membasahi kedua pipi nya itu.
"Ra aku gak bakalan biarin kamu sendirian lagi.. Ada aku yang selalu ada buat kamu, kapan pun itu" dara tidak menjawab dan terus memeluk vino semakin erat.
"Ibu lakuin itu buat kamu ra, buat semua nya juga. Engga ada ibu yang gak sayang sama anaknya. Engga ada ibu yang mau dalam posisi seperti itu, dia lakuin semua itu terpaksa demi masa depan anak-anaknya ra.." vino mengangkat wajah dara dan mengusap kedua pipinya.
"Udah iya jangan nangis lagi, ada aku ra" vino mencium pelupuk bagian atas kepala dara. Dan mengajak dara untuk bergabung bersama ayu juga dirga. Mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, vino menghibur dara dengan menggoda nya.
"Ra.. makan mie yuk, nih enak loh" ajak ayu yang berdiri dari tempat duduknya.
"Makasih lo udah selalu ada buat gue" ucap dara yang setengah berlari menghampiri ayu dan langsung memeluknya.
"Ka lo mau gue peluk juga gak biar anget gitu.." goda dirga kepada vino
"Najis..." cibir vino sambil merinding nendengar permintaan dirga
"Lah emang gue B4bi, pake najis segala.."
"Iya.. di tambah lagi lo belum lulus BPOM halal"
"Dipikir gue makanan siap saji apaan"
"Yang ada tudung saji lo"
"Dari pada elo ka.. cocolan timun"
"Wah enak dong dir..."
"Jijik Najis..." dirga membuang muka nya ke sembarang sambil tertawa lepas
"Kalian tuh apaan sih kaya tom and jerry deh kalo lagi bareng gitu.." ucap ayu
"Tuh ay cowok lo tadi bilang pengen meluk gue. Iya, gue tolak lah orang gue punya dara"
"Terus kalo gak punya dara. Berarti mau gitu di peluk dirga?"
"Sorry iya ay.. gue juga punya level standart kali bukan yang kaya dirga.. tapi kaya mirip angga gitu hahaha" semua tertawa
"Kampret emang nih..." dirga tak henti tertawa mendengar jokes dari vino.
"Emang cowok nya suka sama elo ka?" tanya ayu
"Iya kali gak suka sama gue.. gue ganteng, udah pasti jadi idaman bari para cowok cowok disana" jawab vini sambil melentikkan tangan nya yang membuat dara menggelengkan kepala nya sambil tertawa.
Mereka melanjutkan perjalannya. Vino membawanya ke tempat kebun strawberry, pegunungan juga sungai dengan air yang sangat bersih. Suasana nya masih asri, permandangan hijau mengelilingi. Dara sangat senang mengajak ayu dan dirga kesana untuk menikmati kesejukan diatas sana.
Waktu tak terasa semakin gelap awan putih sudah tertutup dengan kabut abu-abu pertanda malam akan segera tiba, mereka pulang dengan perasaan begitu tenang dan damai terutama dara. Disaat pulang perasaan dara semakin membaik, membiarkan semua mengalir begitu saja. Yang terpenting orangtua dan anak-anaknya bahaga menjalankan kehidupannya.