My Ceo Is My Perface Husband

My Ceo Is My Perface Husband
kepedulian ,



Cici dan Ardianpun sampai di depan toilet , Cici memberikan jaket Ardian yang sedari tadi ia pakai untuk menutupi kebo****n nya si Cici , dengan cepat Cici meminta Ardian untuk sebentar menunggunya didepan toilet , Cici mengambil soft** dan si daleman Cici , lalu ia memakai celana basketnya itu , dengan cepat ia pun keluar karna khawatir Ardian masih menunggunya di depan toilet ,


" loh , Ci liet belakang celana basketkamu, "


kata Ardian sambil melihat ke arah sekitar dan menunjuk ke arah kebo****nnya Cici ,


" Whattt Ardiaaaaannnnn , kok ini masih adaaaa !!!!!!" jawab Cici sambil melihat roknya yang tadinya ada noda merah namun tadi masih mendingan ,namun ini tambah banyak ...,


"ya ampun aku lupa ambil rok ganti , mana di UKS ga ada lagi ,terus ini gimana dian ,"


jawab Cici sambil memaku dan menahan tangisnya agar tidak malu maluin ,apa kebetulan di toilet cuma ada mereka berdua,


" Ci , aku izinin kamu ke pak iyan supaya kamu bisa pulang lebih awal," kata Ardian sambil memeluk Cici yang ketakutan dan gemetar ,


Ardian sengaja memeluk Cici karna tadi didepan toilet perempuan ada anak basket yang lewat ,kebetulan anaknya agak jaim , yaudah tanpa basa basi Ardian memeluk Cici agar menutupi bagian yang celana yang basah karna darahnya ,


"oke,hiks ,hiks "


jawab Cici sambil sesegukan ,akhirnya Cici ga jadi latian basket karna tamu bulananya , dan Ardian juga ikut ga latian basket karna nganter Cici kerumahnya ,saat di perjalanan Cici hanya menatap kosong ke arah pemandangan kota yang terlihat saat itu , Ardian yang melihat Cici seperti itu dengan segera menghentikan mobil dan memeluknya dari sambil serta mengecup Cici dengan mesra,


" cup..."


Ardian mengangkat lagi jaketnya kemudian ia pakaikan ke tubuh Cici yang terlihat lemah ,ia tak tega untuk melihat ke arah Cici dan berkata ,


" kamu baik-baik saja?"


tanya Ardian dengan nada agak berat didengar oleh Cici ,Cici hanya mengangguk dan kemudian bersandar ke samping cendela ,dan kemudian terlelap sampai ke rumahnya .


Ardian tak tega bila harus membangunkan Cici , ia pun menggendong tubuh Cici dengan hati hati agar tak mengganggu Cici yang tertidur lelap ,Ardianpun mengetuk pintu Cici dengan ketukan rendah,


"tok,tok,tok assalamualaikum ,"


dengan cepat pembantu Cici membuka pintu ,dan dihadapkan oleh lelaki berbadan tinggi ,dan agak berotot serta tampan sedang berdiri membawa nonanya (anak majikannya)


"mohon maaf mas , mba Cici kenapa ?"


dengan nada agak pelan agar tak membangunkan Cici,


"bu , ini cicinya lagi tidur tadi habis **** di sekoalah saat extra ,dan sekarang ketiduran ,"


" bu, boleh saya merebahkan Cici di kasurnya ,kasian kalok dia saya bangunin ,"


kata Ardian dengan lembut yang langsung membuat pembantu Cici , terenyuh dan segera mengantar Ardian ke Kamar Cici ,


" ini mas ,kamarnya ,"


"iya ,buk terima kasih " jawab Ardian sambil tersenyum ke arah pembantu Cici , setelah itu Ardian ke arah kasur Cici , dan merebahkan tubuh Cici yang terlihat lemah, tanpa sadar Cici menggerakkan tangan ke arah dadanya dan menarik kaosnya ke arah bawah , sehingga menunjukkan atasan dadanya , Ardianpun tertegun melihat dada Cici , kemudian Ardian segera.keluar dari kamar Cici ,agar ia tidak terbawa oleh nafsunya itu , pembantu Cicipun bertrimakasih kepada Ardian , dan Ardian pamit kepada ibu Cici yang kebetulan pulang dari kerjannya ,"bu saya pamit ,assalamualaikum"


kata Ardian dengan nada sopan,


"waalaikumsalam , terimakasi ya nak , udah bantuin Cici masuk ke rumah "


"sama sama bu" jawab Ardian lalu pergi meninggalkan rumah Cici , saat diperjalanan Ardian memikirkan Cici , bukan wajah Cici saja yang dipikirkan tapi sampai bentuk tubuhnya juga , kebetulan tadi kelihatan bodynya Cici yang ga pernah sama sekali ditunjukin kepublik, baru kali ini Ardian tau dan mukanya langsung merah padam karna mengingat kejadian tadi , dengan segera Ardian membuyarkan lamunan kotornya dan fokus menyetir ,


sesampainya dirumah Ardian membuka pintu dan disambut hawa dingin yang terasa menyejukkan kulit, Ardian merasa bahwa ada sesuatu yang mengganjal Ardianpun melihat ke itunya dan alangkah terkejutnya Ardian bahwa anak 1 nya(tanpa ibu,) itu bangun dari tidurnya ,


" asttagaaaa ,!!!!"


Ardianpun cepat cepat mandi dan menenangkann anaknya itu agar gak keluar dari sangkar(burunggg)


setelah mandi Ardian menuju keruang tv , dan menonton tv sebentar dan saking lelahnya ia langsung tidur tanpa menghiraukan keadaan Tvnya itu .


Pagipun tiba suara burung bernyanyi dari luar jendela ,Cici bangun dari tidur dan bergegas berangkat menuju ke sekolah yang jaraknya 3km dari rumahnya , ia dijemput oleh Lina ,jadi ia dan lina berangkat bersama naik mobil yang dikemudi oleh pak supir , selama diperjalanan Cici sesekali melihat handphonenya ,dan melihat pemandangan kota pagi itu , sedangkan Lina tidur dengan beralaskan bantal paha Cici yang empuk itu ,setelah sampai di sekolah Cici kearah cendela dan memberitau pak supir bahwa nanti pulangnya jam 3 sore , karna ga ada extra,


" dah ,pak "


"hati hati non"kata pak supir sambil menyalakan mobil dan mengegasnya ke arah sebaliknya, Cici menuju ke kelas dan melewati lorong lorong kelas sedangkan Lina sudah kekelaskannya dulua kebetulan ada Hendra yang lewat dan menyapa Cici dengan senyuman hangat ,


"hai ,Ci"


"hai ndra "


" Ci kemarin pas extra aku ngga tau kamu , emangnya kamu kemana aja ?"


tanya hendra dengan menepuk pundak Cici,


" ooo,ituu ,emmm...."


" dia pulang kemarin , "


sahut Ardian dari belakang dengan nada cuek ,


" kenapa Ci ,badan kamu sakit?"


tanya Hendra lagi,


"engga ko ndra aku ngga sakit ,cuma kemaren aku kedatangan tamu itu ..."


kata cici dengan memotong bulanannya berharap hhendra paham ,dengan kata kata Cici,


" oo,tamu bulanan ya?"


"iya" jawab Cici lagi , tanpa basa basi Ardian menggengam tangan Cici dan berlari kearah kelas Cici , Hendra nampak terkekeh seoal dia mau merebut hati Cici dari Ardian ,


"huh ..huh ...huh...."


bunyi nafas Cici yang tersenggal karena berlari , Ardian berhenti dan melihat Cici yang ngos ngosan ,


" jangan liet aku dian , aku sedang jelek !, "kata Cici agak membentak namun dikit ,


" puft .. oke oke "


hampir saja Ardian tertawa sejadi jadinya tapi ,Ardian memilih untuk menahan tawanya yang tersendat itu ,Ardian mengantar Cici kedepan pintu kelas dan nelambaikan tangan kanannya ke arah cici ,


"makasi ya Dian"


kata Cici sanbil tersenyum sangatt manis ke Ardian , sehingga Ardian ingin sekali menciumnya , tapi ia tak bisa dan memilih segera pergi atau ia tak bisa mengendalikan dirinya ,


Dukung author dengan membaca novel ini setiap hari , btw kalian mau upload novel ini berapa hari sekali ?


plis koment , share yaaa ,


Nantikan eps selanjutnya :")