My All Is In You

My All Is In You
Gengsi



Bak sepasang kekasih yang sedang bertengkar hebat, Kei dan Gavin justru saling mendiami satu sama lagi. Jangankan melakukan panggilan telfon, bahkan hanya untuk sekadar mengirim pesan singkat pun mereka sama-sama gengsi. Entah siapa yang salah atau benar, keduanya enggan untuk mengakuinya. Yang pasti baik Kei maupun Gavin, keduanya masih setia menunggu sampai salah satu dari mereka mau mengalah dan mengaku salah.


“Menyebalkan.” Kei mendengus pelan dan menjatuhkan poselnya ke atas tempat tidur. Sudah lebih dari dua puluh menit ia menunggu nama Gavin—pria yang menjadi objek perusak moodnya, terpampang di layar ponselnya. Sejak kemarin, pria itu masih belum menghubunginya sama sekali.


Terlalu gengsian, pikir Kei.


Padahal, jika pria itu mau—atau sedikiiiit saja mengakui kesalahannya dan meminta maaf, maka Kei akan dengan tulus memaafkannya. Tapi seperti biasa, Gavin terlalu keras kepala. Sama sepertinya.


“Siapa? Pangeran pemberi harapan palsumu?” sindir Naura. Setiap kali Kei dan Gavin bertengkar, wanita itu pasti akan lari ke kosannya. Ia juga harus siap menampung semua curahan hati sahabatnya itu. Beruntung dirinya adalah orang baik, jika tidak, ia pasti akan dengan senang hati mengusir Kei agar bisa menikmati waktu liburnya dengan tenang.


Kei mendelik jengkel mendengar ucapan Naura. Tidak terima akan nama julukan yang disematkannya pada Gavin. Seharusnya wanita itu memberikan nama panggilan yang jauh lebih bagus lagi.


“Bukan. Tapi ‘Si Tuan tidak peka’ jauh lebih cocok untuknya.”  Kei lagi-lagi berdecak sebal. Merasa heran kenapa ia bisa jatuh cinta pada pria seperti Gavin. Kadang ia juga merasa jika sinyal yang diberikannya mungkin belum maksimal sehingga Gavin masih belum paham. Walau pada akhirnya, Naura selalu mematahkan setiap kesimpulannya.


“Kalau begitu lupakan. Masih ada Adnan yang setia menunggu.” Naura berujar tak acuh sambil menatap Kei serius. Sahabatnya itu sudah terlalu lama menunggu dan terombang-ambing akan sesuatu hal yang tidak pasti. Bagus kalau Gavin ternyata menyukainya juga, kalau tidak? Kei pasi akan jauh lebih menderita.


“Aku tidak akan seperti ini kalau bisa semudah itu.”


Naura memutar bola mata malas saat lagi-lagi mendengar alasan yang Kei berikan. Ia memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sahabatnya. Kei tidak bisa mengendalikan dan mengatur perasaannya sesuka yang ia mau. Tapi wanita itu masih bisa memilih untuk tetap berjuang atau berhenti.


“Terserah.” balas Naura malas. Menonton film horor yang sedang terputar di dalam televisi datar miliknya jauh lebih baik daripada meladeni Kei yang tidak akan pernah ada habisnya. Ia hanya bisa berharap agar wanita itu cepat tersadar. Walau tak bisa dipungkiri, wajah tampan Gavin memang sulit untuk diabaikan begitu saja.


***


Sudah lebih dari sepuluh kali Gavin secara bergantian menatap layar ponsel dan laptopnya. Tiga puluh menit lagi ia, Aiden dan beberapa karyawan lainnya akan mengadakan rapat penting sementara pikirannya sedang berkelana entah ke mana.


“Apa?” tanya Gavin heran. Ia mendapati Aiden menatapnya aneh dengan raut wajah prihatin.


“Cepat ke toilet sebelum celanamu basah di sini.” Aiden kembali menatap layar ponselnya guna membalas pesan singkat yang baru saja Isabel kirimkan. Wanita yang menjadi pujaan hatinya itu meminta dirinya membeli keripik kentang dan satu kotak es krim coklat sebelum pulang ke rumah.


‘Apa pun untukmu.’ Balas Aiden mesra. Isabel meminta bulan dan bintang pun akan ia berikan.


“Menjijikkan.” Desis Gavin. Perutnya mendadak terasa mual ketika menatap senyum yang terukir di bibir Aiden. Pria itu benar-benar cinta mati pada sepupunya.


“Cemburu? Tentu saja. Mengingat dirimu yang masih saja melajang.” Aiden sengaja menyindir Gavin secara terang-terangan karena sudah lama tahu kalau Kei menyukai pria itu. Bahkan Isabel—istrinya yang tak suka mencampuri urusan orang lain pun telah menyadarinya.


“Sayangnya tidak.” bantah Gavin. Cemburu? Untuk apa? Toh ia lebih nyaman sendiri.


“Aku kasihan sama Kei. Kalau jadi dia, aku lebih memilih mencari pria lain.”


Gavin mendadak terdiam setelah mendengar ucapan Aiden. Ia tidak bodoh untuk memahami maksud dari ucapan pria itu. Sinyal-sinyal yang Kei berikana, gerak-gerik pun bahasa tubuh wanita itu sudah menunjukkan secara jelas akan apa yang dirasakannya. Tapi karena tidak ingin membuat kesalahan, Gavin selalu berpura-pura dan menutup mata. Lebih baik menyakiti wnaita itu daripada harus kehilangannya, itulah yang selama ini dipikirkannya.


Tanpa Gavin sadari, ia mungkin bisa saja melakukan keduanya secara bersamaan dan membuatnya kehilangan sosok Kei yang selama ini dikenalnya.


“Kamu yakin nggak ada rasa apa-apa sama Kei?” kali ini Aiden menatap Gavin tajam dan penuh arti. Ia harus membuat pria itu cepat sadar sebelum semuanya terlambat.


Gavin tak menjawab dan memilih bungkam. Ia bingung jawaban apa yang harus diberikannya pada Aiden.


“Vin!”


“Aku nggak tahu.” Jawab Gavin sedikit putus asa.


“Kamu yakin?” Aiden masih berusaha membuat Gavin berkata jujur. Tidak ada salahnya jika pria itu mengungkapakan apa yang dirasakannya. Ia justru merasa senang kalau Gavin mau bercerita.


“Kei… aku sayang sama dia, tapi….”


“Tapi kamu nggak berani ngambil langkah maju? Memangnya kamu pikir sampai kapan Kei bisa bertahan?”


Ucapan Aiden kali ini sukses membuat Gavin terkejut. Ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Yang Gavin yakini hanyalah Kei yang akan terus berada di sisinya. Membutuhkan dirinya dan menghabiskan waktu bersama.


“Sampai selamanya, mungkin.” jawab Gavin tak yakin. Ia benar-benar buntu saat ini. Baginya, pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi Aiden lontarkan terlalu sulit untuk ia jawab. Jauh lebih baik kalau pria itu membahas masalah pekerjaan.


“Bullshit! Kamu pikir Kei orang bodoh? Akan ada saatnya dimana dia merasa capek. Merasa nggak dihargai sampai akhirnya memilih menyerah dan pergi. Dan ketika kamu menyesal, semuanya sudah terlambat.”


Rasa takut perlahan masuk dan menggerogoti hati Gavin. Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya disaat wanita itu benar-benar pergi dan meninggalkan dirinya. Memikirkannya saja sudah separah ini, apalagi kalau sampai benar-benar terjadi.


“Coba pikir baik-baik. Laki-laki di dunia ini nggak cuma kamu doang, Vin. Kei bukan hanya cantik, tapi juga pintar. Aku yakin, ada banyak laki-laki diluar sana yang siap menjadi kekasihnya. Rela melakukan apa pun demi mendapatkan hatinya.” Aiden masih tak habis pikir akan jalan pikiran temannya itu. Gavin sudah sangat jelas menyukai Kei. Terbukti dari sikap dan perlakuan istimewanya pada wanita itu. Jadi tunggu apa lagi?


“Atau kamu mau nunggu sampai dia jadi milik pria lain?” ucapan Aiden barusan dihadiahi tatapan tajam oleh Gavin. Ia merasa jengkel karena terus saja mendengarnya membahas pria lain.


“Jangan sampai aku memukulmu.” ancam Gavin.


“Oh, silahkan. Isabel akan dengan senang hati membalasanya.” balas Aiden tak mau kalah.


Gavin refleks bergidik ngeri ketika mendengar nama sepupunya disebut. Sekalipun terlihat lemah lembut dan sangat menyayangi suami serta anaknya, Isabel justru terlihat menyeramkan di matanya. Ia tidak akan pernah lupa ketika wanita itu mendiami dan menganggapnya tak ada hanya karena merusak payung yang baru dibelinya.


“Aku juga bisa mengadukanmu karena memuji wanita lain.” Gavin memicingkan matanya dengan ekspresi serius. Berharap Aiden merasa takut.


“Siapa? Kei? Tentu saja istriku jauh lebih cantik.” Aiden tertawa puas mendapati Gavin mendengus pelan. Pria itu sudah kalah telak.


Dalam hati, Gavin bersyukur karena ucapan-ucapan Aiden tadi sudah membuatnya sadar. Tidak ada yang perlu ditakuti. Yang ia perlukan hanyalah bersikap jujur pada hatinya sendiri.


Kei….


Gavin membatin memanggil nama wanita itu. Jujur, ia sangat merindukannya.