My All Is In You

My All Is In You
Khawatir



“Sayang.”


“Bunda.”


Isabel segera menatap dua pria yang dicintainya dan mendapati Aiden juga Kenzo telah rapi dengan pakaian santainya. Ketiganya memutuskan untuk piknik di taman dekat rumah yang bisa ditempuh selama sepuluh menit dengan berjalan kaki. Setelah sebelumnya membatalkan rencana mereka ke wahana bermain.


Aiden menginginkan waktu liburnya digunakan sebaik mungkin dan taman adalah pilihan terbaik menurutnya.


“Sudah siap?” Tanya Isabel. Di dekatnya telah tersedia sebuah keranjang piknik berukuran sedang yang berisikan beberapa potong roti isi, buah-buahan, susu dan juga camilan.


“Sudah!” Jawab Aiden dan Kenzo kompak. Terlihat jelas jika keduanya sangat bersemangat.


“Ayo.” Ajak Isabel. Keranjang piknik yang disipakannya telah berpindah ke tangan Aiden.


“Bunda, aku di tengah.” Ucap Kenzo dan bergegas memposisikan tubuhnya di antara Aiden  dan Isabel. Tak lupa dengan menggenggam tangan mereka berdua.


Di punggungnya, telah tersampir ransel kecil berwarna biru yang berisikan mainan dan bola.


Isabel dengan sengaja memilih sore hari untuk melakukan piknik. Sebab, di hari libur seperti ini, Aiden baru akan terbangun ketika jarum jam menunjukkan angka sebelas. Sedangkan siang harinya, gantian Kenzo yang tertidur.


“Kenzo!” Lala—gadis kecil berusia tujuh tahun yang tinggal tepat di sebelah rumah Aiden berteriak senang kala menatap anak laki-laki berparas tampan itu. Bahkan tanpa ragu menghampirinya.


“Lala.” Sapa Isabel lembut. Hingga membuat gadis kecil itu tersenyum lebar.


“Ayah sama Bunda mau piknik juga?” Lala bertanya antusias dengan mata berbinar lucu.


“Iya. Mama kamu mana?” Isabel menatap sekitarnya dan tak menemukan siapa pun. Ia khawatir gadis kecil itu berniat pergi seorang diri.


“Mama di—”


“Sayang! Lala! Kamu di mana?” Seorang wanita tiba-tiba saja berlari keluar dari arah rumah Lala dan berteriak panik. Lalu menghela napas lega saat melihat anak perempuannya belum pergi jauh.


“Mama, aku boleh pergi bareng Kenzo?” Lala menatap ibunya penuh harap. Wanita itu pasti akan mengizinkannya.


“Oke. Tapi Mama juga ikut—”


“Kenzo, ayo!” Tanpa mendengar ucapan ibunya sampai selesai, Lala sudah lebih dulu memegang dan menarik tangan Kenzo agar jalan bersamanya.


Sesekali, bibir mungilnya bersenandung kecil. Atau mengajak Kenzo berbicara.


“Bunda.” Kenzo berujar pelan seraya menoleh ke belakang. Raut wajahnya terlihat pasrah.


“Maafkan anakku.” Ucap Lyra—mama Lala sedikit putus asa. Setiap kali anaknya itu melihat Kenzo, ia pasti akan langsung memperlakukannya seperti mainan. Bahkan sampai membuatnya menangis.


“Tapi aku senang melihatnya.” Isabel justru tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan kedua anak itu. Saat bersama Lala, Kenzo pasti akan menunjukkan berbagai macam ekspresi.


“Aku nggak akan heran.” Lyra hanya mampu menggeleng tak percaya mendengar penuturan Isabel.


Saat pertama kali Lala membuat Kenzo menangis karena terus mengikutinya, Isabel justru tertawa. Bahkan sampai mengajak anaknya untuk sering datang dan bermain ke rumahnya.


“Di mana Aiden?” Tanya Lyra. Sosok pria tampan itu tak lagi dilihatnya.


“Itu....” Isabel menunjuk ke arah depan. Pada punggung suaminya yang berjalan lebih dulu sembari mengawasi Lala dan Kenzo.


“Kenzo, kamu nggak boleh jauh-jauh dari aku, okey?” Lala menatap Kenzo lekat dan membuat anak laki-laki itu mengangguk setengah hati.


Sampai membuat Aiden yang melihatnya tersenyum geli.


***


“Perasaanku nggak enak.” Ucap Gavin untuk yang kesekian kalinya. Ia sedang berada di bandara, mengantar Kei yang sebentar lagi akan melakukan perjalanan jauh.


“Vin, kamu nggak ke kantor?” Kei tahu betul kekhawatiran yang Gavin rasakan. Sama seperti dirinya, kedua orang tuanya juga yang lainnya.


“Nggak. Aku sudah bilang ke Aiden kalau hari ini datang terlambat.” Gavin yang semula menatap cemas ke arah luar, beralih memandang Kei yang duduk di sebelahnya.


Tak terhitung lagi sudah berapa banyak negara yang Kei datangi. Juga lama perjalanan yang wanita itu tempuh. Tapi baru kali Gavin merasa hatinya benar-benar tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi.


“Biasanya kamu cuma nganter aku sampai depan trus langsung pulang.” Sindir Kei. Berusaha mencairkan suasana agar Gavin bisa sedikit lebih tenang.


“Kan kamu sendiri yang bilang.” Balas Gavin sambil mendelik jengkel.


Setiap kali ia berniat mengatar Kei masuk sampai ke dalam, wanita itu pasti akan langsung menolak dengan alasan yang tidak jelas sama sekali.


Gavin bahkan sempat curiga kalau Kei menjalin hubungan dengan seorang pilot atau pramugara.


“Hehe.” Kei terkekeh geli melihat ekspresi wajah lucu Gavin.


Ia tak mungkin memberitahu pria itu kalau alasan yang sebenarnya karena tidak ingin Naura menggoda dirinya.


“Kamu langsung terbang ke Sydney kan? Nggak transit dulu?”


“Iyaa.” Kei mengangguk pelan dan tersenyum lega melihat hujan yang mulai reda. Harapannya hanya satu: sampai dan pulang kembali dengan selamat.


“Kei....” Seorang pria berpakaian pramugara memanggil Kei pelan. Melambai padanya agar segera mendekat.


“Aku harus pergi sekarang.” Ucap Kei seraya bangkit dari duduknya.


Gavin mendadak terdiam. Perasaannya campur aduk. Tapi ia harus tetap tersenyum.


“Kei, jangan lupa kabarin aku kalau sudah sampai.”


Tanpa Kei duga, Gavin secara tiba-tiba memeluknya erat dan mengelus pelan punggungnya. Hal yang sebelumnya sangat jarang pria itu lakukan.


“Siap bos.” Balas Kei sembari membuat gerakan hormat. Tak lama berselang, tawa gelinya terdengar saat Gavin mencubit gemas hidungnya.


Pria itu selalu tahu cara membuatnya bahagia.


“Aku pergi dulu.” Pamit Kei. Setelah melambai sebentar, ia bergegas menghampiri Adnan—pria yang tadi memanggilnya.


“Siapa?” Tanya Adnan penasaran. Wajar saja, ia sudah lama menyimpan rasa pada Kei.


“Rahasia.” Kei menatap Adnan sembari tersenyum misterius. Selain Naura, tidak ada lagi teman kerjanya yang tahu perihal rasa sukanya pada Gavin.


Jangan lupa kabarin aku.


Ucapan Gavin tadi terus menari indah di dalam kepala Kei. Tanpa disuruh pun ia pasti akan dengan senang hati melakukannya. Setelah mama dan papanya, Gavin adalah orang kedua yang dikabarinya.


Masih di tempat yang sama, Gavin tetap setia menatap lekat punggung Kei yang terus bergerak menjauh. Lalu beralih menatap tajam pria yang jalan di samping wanita itu.


Dalam sekali lihat pun Gavin sudah tahu kalau pria itu menaruh hati pada Kei. Terbukti dari tatapan matanya.


“Tsk!” Gavin berdecak pelan dan dengan cepat merogoh ponselnya yang bergetar di dalam saku celananya.


“Halo—”


“Help meeeee....” Teriak Aiden di seberang sana.


“Aku ke sana sekarang.” Gavin mendengus pelan dan melangkah pergi. Satu jam lagi ia dan Aiden harus menghadiri rapat penting.


Namun nyatanya, pria yang berstatus sebagai bos sekaligus suami dari sepupunya—Isabel, lebih sering melimpahkan pekerjaan padanya. Dan anehnya, ia tak pernah menolak atau keberatan.


Kei, hati-hati di sana,


... batin Gavin.