My All Is In You

My All Is In You
Kejutan Untuk Istri



Kekayaan,


...ketampanan,


jabatan,


dan kekuasaan.


Semuanya telah Aiden miliki. Termasuk seorang istri nan cantik dan anak laki-laki berumur lima tahun yang tidak kalah tampan darinya.


Kehidupan rumah tangganya juga bahagia. Dengan dikelilingi oleh orang-orang berhati tulus yang mencintai dan menyayangi mereka sepenuh hati.


Aiden tidak pernah sedikit pun digosipkan dekat dengan wanita lain. Atau bermain api di belakang istrinya. Sebab, semua orang bahkan seluruh dunia sangat tahu jika pria itu hanya mencintai satu orang saja,


dan itu adalah Isabel.


Wanita berparas cantik bak dewi itu merupakan cinta terbesar di dalam hidup Aiden. Juga menjadi dunianya. Apa pun akan pria itu lakukan demi menyenangkan hati istrinya. Termasuk hal gila sekalipun.


Tak jarang, ia akan mendapatkan omelan atau ceramah singkat dari Isabel karena perbuatannya.


Tapi Aiden tidak peduli. Demi melihat istri dan anaknya tersenyum bahagia, ia siap melakukan dan mengorbankan segalanya. Termasuk uang.


Alasannya hanya satu, ia tak ingin Isabel berpaling pada pria lain dan meninggalkan dirinya.


“Sweetheart, bagaimana? Kamu suka?” Aiden bertanya dengan ekspresi wajah bahagia pada Isabel. Berbanding terbalik dengan wanita itu yang terdiam dengan mulut sedikit terbuka.


“Bunda, rumah kita jadi taman bunga.” Celetuk seorang anak laki-laki di samping Isabel.


Isabel masih terdiam. Ia sudah sering meminta pada Aiden agar tidak melakukan hal gila demi dirinya, tapi pria itu tak pernah mau mendengar.


Sebagai bentuk ekspresi cinta, katanya.


“Kenapa? Bunganya kurang banyak?” Aiden menatap lekat hamparan bunga mawar merah di hadapannya sembari menggeleng tak percaya. Padahal ia sudah menyuruh Gavin—tangan kanannya untuk membeli banyak.


“Kurang banyak apanya? Dari depan kamar sampai lantai bawah semuanya penuh.” Kesal Isabel. Ia hanya kasihan memikirkan nasib para pelayan yang harus bekerja ekstra membersihkan semuanya.


“Kenzo, apa menurutmu ini terlalu banyak?” Tanya Aiden pada anak laki-lakinya.


Kenzo menggeleng pelan sebagai jawaban.


“Tambah lagi, Ayah. Biar robot-robotan Kenzo bisa ikut main.” Anak laki-laki berumur lima tahun itu berujar senang. Kapan lagi ia bisa bermain bunga kalau bukan sekarang.


Isabel menggeleng tak percaya.


Ayah dan anak itu sama saja.


Sama-sama gilanya.


“Sayang, berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk membeli ini semua?” Tanya Isabel. Wanita itu memang bertanya dengan nada lembut, tapi bibirnya mengukir senyum pertanda bahaya.


Oh, tidak.


Batin Aiden takut.


Isabel pasti akan mengamuk sebentar lagi.


“Bukan aku tapi Gavin yang membelinya.” Jawab Aiden. Ia harus memutar otak untuk mencari alasan logis. Kalau tidak, nasibnya akan berakhir tragis di tangan istrinya.


“Gavin membelinya atas perintah dari siapa? Kamu kan.” Kesal Isabel. Suaminya pasti sedang mencari cara untuk melarikan diri dengan cara menjual nama Gavin.


Kebiasaan.


“Aku memang menyuruhnya, tapi bukan sebanyak ini.” Bohong Aiden. Ia jelas-jelas menyuruh Gavin membeli banyak bunga mawar merah untuk ditata secantik mungkin di seluruh penjuru rumahnya.


“Mana Gavin? Biar aku sendiri yang bertanya padanya.” Isabel segera menatap ke sekelilingnya. Biasanya, Gavin sudah tiba di rumah mereka sebelum pukul delapan. Bahkan dengan santainya menikmati sarapan seorang diri.


“Aku sudah menyuruhnya ke kantor.” Jawab Aiden sembari tersenyum lebar.


Isabel lagi-lagi hanya mampu menghela napas dalam mendengar jawaban suaminya.


Mereka berdua pasti bersekongkol agar tak dimarahi olehnya.


“Boleh.” Jawab Isabel lembut. Ia tersenyum simpul melihat raut wajah bahagia anaknya.


“Umm... kalau aku kasi ke seseorang, boleh nggak?” Kenzo menatap Ayah dan Bundanya lekat penuh harap. Lalu menunduk malu dengan wajah tersipu.


“Siapa?” Goda Isabel.


“Nggak. Bunga itu buat Bunda, Nak.” Protes Aiden.


“Tapi Kenzo juga pengen ngasih bunga ini ke Bunda. Jadi bukan cuma Ayah yang bisa, aku juga.” Balas Kenzo tak mau kalah.


Anak laki-laki itu dengan cepat berjalan menghampiri Bundanya, lalu menyodorkan setangkai bunga yang dipegangnya. Yang langsung dibalas Isabel dengan kecupan sayang di keningnya.


“Untukku?” Ucap Aiden tak terima. Seharusnya ia yang lebih dulu mendapatkan kecupan dari istrinya karena telah menyiapkan semuanya.


“Nanti malam.” Goda Isabel seraya tertawa kecil melihat raut wajah memelas suaminya.


“Sayang.”


“Aku hanya bercanda. I love you.” Isabel dengan cepat mengecup bibir Aiden dan mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu.


Sekalipun sering melakukan hal gila, Isabel tetap merasa bahagia dan berterima kasih pada suaminya.


Aiden melakukan itu semua untuk dirinya. Dan Isabel tak punya alasan untuk tidak bersyukur sama sekali.


***


“Ini semua salahmu.” Protes Aiden. Ia menatap tajam Gavin yang sedang sibuk mencari sesuatu pada rak buku di depannya.


“Aku melakukannya atas perintah darimu.” Balas Gavin datar. Selalu saja seperti ini. Setiap kali Isabel memarahi Aiden, pria itu pasti akan menyalahkan dirinya.


Padahal ia hanya menjalankan tugasnya sebagai bawahan.


“Tapi kenapa hanya tiga mobil? Seharusnya kamu memesan lima.” Aiden mendelik jengkel pada Gavin yang balas menatapnya malas.


Pria berusia enam tahun lebih muda darinya itu memang kerap kali bersikap kurang ajar padanya. Bukan hanya karena statusnya yang merupakan sepupu Isabel dari pihak ibu, tapi juga karena Gavin selalu menjadi orang pertama yang Aiden mintai tolong setiap kali ingin melakukan hal gila untuk istrinya.


“Sekalian saja jadikan rumahmu taman bunga.” Ledek Gavin. Dari pada meladeni ketidakwarasan Aiden yang tak pernah ada habisnya, ia lebih baik kembali fokus bekerja.


Pekerjaannya masih menumpuk.


“Boleh juga.” Gumam Aiden. Asalkan bisa membuat istrinya bahagia, pasti akan dilakukannya.


“Dan Isabel akan langsung mendiamimu.” Cibir Gavin.


Heran melihat Aiden yang tidak pernah ada kapoknya.


Aiden mendengus jengkel mendengar perkataan tajam Gavin barusan. Pria itu memang benar. Isabel pasti akan marah saat tahu ia menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak begitu penting.


“Sok tahu sekali.” Sindir Aiden.


Gavin yang mendengarnya justru tertawa kecil. Tak lama berselang, salah satu sudut bibirnya mencetak senyuman penuh arti.


“Bukan sok tahu, tapi aku memang mengenal baik Isabel. Kami berdua tumbuh dan besar bersama layaknya saudara kandung. Bahkan mandi—”


“Stop!” Sela Aiden cepat. Ia tak ingin terbakar api cemburu karena ucapan sesat Gavin.


“Kenapa? Padahal aku bersedia menceritakan masa kecil Isabel padamu.” Gavin tergelak puas melihat wajah memberengut Aiden karena ucapannya. Pria itu pasti sedang cemburu.


“Ck! Cepat selesaikan pekerjaanmu dan kita makan siang bersama.” Aiden dengan cepat menatap layar laptopnya dan mengabaikan tawa mengejek Gavin.


Rasa cintanya pada Isabel memang terlampau besar. Sampai membuat Gavin mengejeknya. Pria itu juga mengatakan jika semua perlakuannya pada Isabel merupakan perwujudan dari,


Bucin tingkat tinggi level max....


Aiden hanya terlampau mencintai Isabel. Sampai pada titik di mana ia mendahulukan wanita itu di atas segalanya. Begitu pun dengan Kenzo.


Mereka berdua adalah harta paling berharga yang ia miliki. Yang harus dijaganya sebaik mungkin.