
Dua jam telah berlalu namun Gavin masih setia menatapi layar persegi panjang di tangannya. Hujan di luar sana semakin bertambah deras dan ia tidak tahu sama sekali bagaimana keadaan Kei saat ini. Perjalanan yang ditempuh wanita itu masih sangat panjang sampai ia benar-benar mendarat di Bandara Kingsford Smith. Dan selama itu pula ia harus bersabar.
“Tsk!” Decak Gavin jengkel. Seandainya bisa, ingin rasanya ia memutar cepat jarum panjang yang ada pada jam tangannya agar bisa segera mendengar suara Kei.
“Kau kenapa?” Aiden yang sejak tadi fokus pada berkas di atas mejanya, beralih menatap heran pada Gavin. Tidak biasanya pria itu bergerak gelisah ketika sedang bekerja.
Gavin tak menjawab. Ia justru mengangkat kedua bahunya malas. Jawaban yang justru membuat Aiden mendelik kesal. Setelah merusak konsentrasinya, pria berwajah tanpa dosa itu malah bersikap tak acuh.
“Kamu kebelet? Ke kamar mandi sana.” Kesal Aiden. Menatap lembaran-lembaran kertas di hadapannya jauh lebih baik daripada menghadapi Gavin yang hanya akan membuat emosinya naik-turun.
“Cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku mau keluar.” Gavin dengan santainya memerintah Aiden tanpa menatapnya. Bahkan memainkan ponselnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Kedua mata Aiden membulat tak percaya. Bisa-bisanya bocah itu memerintahnya. Ia kadang heran dan bertanya-tanya, siapa sebenarnya bos dan bawahan di antara mereka berdua. Karena seringnya, Gavinlah yang memberinya perintah.
“Bocah.” Gumam Aiden. Bisa panjang ceritanya kalau pria sensitif itu sampai mendengarnya. Tanpa Aiden sangka, tatapan tajam Gavin sudah mengarah padanya.
Aiden tergelak. Tawanya memenuhi seluruh sudut ruangan kerjanya. Menggoda Gavin menjadi salah satu hiburannya di kantor. Hari-harinya bisa suram kalau pria itu sampai mengundurkan diri.
***
Setelah perjalan panjang mendebarkan nan melelahkan, Kei akhirnya bisa menghela napas lega. Pesawatnya telah mendarat dengan sempurna di Kingsford Smith. Ingin rasanya ia cepat-cepat ke hotel dan membaringkan tubuhnya. Tapi sayang, keinginannya tersebut harus ia kubur dalam-dalam karena masih ada beberapa hal yang harus dikerjakannya terlebih dulu.
Gavin,
Pria itu pasti sudah sejak tadi menunggu kabar darinya.
“Kei.” Sapa Adnan. Pria berkulit sawo matang itu berjalan pelan mendekatinya.
“Di mana Naura?” tanya Kei seraya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok wanita yang selama ini menjadi buku diarinya.
“Di belakang.” Jawab Adnan singkat. Ia memang sempat berpapasan dengan Naura sebentar di belakang tapi setelahnya ia tak tahu lagi ke mana wanita itu pergi. Fokus utamanya cuma Kei, tidak lebih.
Kei mengangguk sekali pertanda mengerti lalu kembali sibuk memeriksa setiap kursi penumpang. Melakukan cek ulang keamanan untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Kalaupun ada yang tertinggal, ia bisa memberikan laporan kepada petugas security bagian Lost and Foud agar mudah ditemukan oleh sang pemilik.
Lebih cepat lebih baik. Kerinduannya pada Gavin sudah membuncah dan ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu walau hanya sedetik.
“Hmm, Kei, apa kamu sibuk?” Adnan bertanya dengan nada gugup. Sekalipun hampir setahun bekerja bersama, ia masih belum berani mendekati wanita itu secara langsung. Terlebih Kei yang memang selalu menjaga jarak dengan lawan jenisnya.
“Kamu lihat sendiri kan?” jawab Kei datar. Jauh lebih baik kalau Adnan membantunya daripada terus mengikutinya seperti seekor anak ayam yang minta diberi makan.
“Itu… maksudku setelah ini. Jalan-jalan, mungkin.” Adnan tertawa kecil sembari menggaruk bagian belakang kepalanya. Kapan lagi kalau bukan sekarang, batinnya.
“Makasih tapi maaf aku nggak bisa. Capek.” Tolak Kei halus. Ia bukannya tidak senang berada di Sydney tapi hal wajib pertama yang harus dilakukannya adalah mengabari kedua orangtuanya dan Gavin. Tidak ada aturan atau perjanjian awal memang. Tapi setiap kali keluar negeri, saling memberi kabar sudah menjadi ritual tak tertulis antara dirinya dan Gavin.
“Oh, oke.” Adnan dengan cepat menyusul temannya yang hendak keluar dari pesawat. Ini bukan kali kedua, ketiga atau bahkan keempat Kei menolak ajakannya. Wanita itu benar-benar sulit untuk didekati.
Selepas kepergian Adnan, Kei dengan cepat menghela napas lega. Ia sebenarnya merasa tidak enak karena selalu menolak ajakan pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya sudah lama terisi oleh satu sosok pria dari masa kecilnya.
***
“Hai….” Sapa Kei senang. Belum sempat ia menghubungi Gavin, nama pria itu sudah lebih dulu muncul di layar ponselnya.
Kangen, batin Kei sumringah.
“Kenapa nggak langsung ngasih kabar?” kesal Gavin di seberang sana. Jika saja Kei melihat wajah memberengutnya saat ini, wanita itu pasti akan tertawa puas.
“Aku baru selesai mandi.” Kei kembali menggosok pelan rambut basahnya menggunakan handuk kecil yang dibawanya dari rumah. Ia lebih senang memakai barangnya sendiri daripada yang disediakan oleh hotel.
“Makan?” Seolah tahu kebiasaan Kei yang gemar melewatkan waktu makannya, Gavin kembali memastikan jika wanita itu sudah benar-benar mengisi perutnya.
“Sudah.” Jawab Kei setengah jujur. Ia memang sudah mengisi perutnya walau hanya dengan sebungkus roti. Beruntung pria itu tidak menanyainya lebih jauh lagi. Nafsu makannya sudah terserap habis oleh rasa lelah di tubuhnya.
Hening sesaat. Keduanya tengah sibuk memutar otak untuk menanyakan hal lain lagi. Persis seperti dua anak remaja yang baru saja mengenal cinta.
“Cepat pulang.”
Tawa Kei pecah kala mendengar jawaban tidak nyambung yang Gavin berikan. Selalu seperti itu.
Disaat mereka berdua berjauhan atau berdekatan sekalipun, Kei kerap dibuat bingung akan sikap pria itu. Terkadang, Gavin memperlakukannya dengan sangat manis. Bersikap posesif layaknya pasangan kekasih. Tapi di sisi lain, pria itu juga seperti menjaga jarak. Seakan mengatakan secara tidak langsung padanya kalau mereka tidak memiliki hubungan spesial apa pun kecuali teman masa kecil.
“Mau aku bawakan oleh-oleh?” Ucap Kei menawarkan. Tak peduli sebanyak apa pun Gavin menolak dan memperingatkannya, ia akan tetap membawa hadiah untuk pria itu.
“Cukup pulang dengan selamat.” Tolak Gavin penuh penekanan. Sadar jika ucapannya barusan hanyalah angin lalu di telinga wanita itu.
“Ah, seharusnya aku menerima ajakan temanku tadi.” Kei berucap dengan sedikit nada menyesal. Sengaja ingin mendengar seperti apa reaksi Gavin.
“Siapa?” tanya Gavin penuh curiga. Kedua matanya memicing tak suka.
“Adnan.” Jawab Kei santai. Kedua bibirnya tersenyum lebar.
“Pramugara itu?” Gavin berdecak tak suka kala mendengar nama pria lain. Salah satu hal yang membuatnya gelisah setiap kali mereka berjauhan karena tidak bisa menjaga wanita itu. Selain mami dan papinya, kedua orang tua Kei juga sudah percaya dan memintanya untuk menjaga wanita itu.
Padahal mereka berdua sama-sama anak tunggal.
Kei berusaha mati-matian menahan gelak tawanya mendengar nada bicara Gavin saat ini. Kalau boleh jujur, ia merasa senang setiap kali tahu pria itu sedang cemburu. Entah ditunjukkan secara langsung atau tidak, Kei sudah bisa tahu hanya dengan melihat dari tatapan matanya.
“Mami bisa membunuhku kalau sesuatu sampai terjadi padamu.” Kilah Gavin. Ia bisa saja melarang Kei tapi sadar akan statusnya yang bukan siapa-apa, pria itu jadi mengurungkan niatnya.
Kei punya hak untuk pergi dengan siapa pun. Ke mana pun wanita itu mau, pikir Gavin.
Tapi memikirkan hal selanjutnya yang akan terjadi, hatinya menjadi tidak rela.
“Aku kira kamu yang cemburu.” Ujar Kei dengan nada bercanda. Walau jauh di dalam lubuk hatinya ia mengharapkan Gavin mengakuinya secara terang-terangan.
Kei tidak meminta banyak hal. Ia hanya ingin kepastian dari Gavin. Bukan hanya membuatnya bingung setengah mati, pria itu juga gemar menarik ulur hatinya. Membuatnya berharap lebih tapi diwaktu yang bersamaan Gavin membuat garis batas secara jelas tepat di depan kedua matanya.
Gavin terdiam. Lebih memilih untuk tidak menjawab karena takut menyakiti perasaan Kei.
“Kamu nggak boleh ke mana-mana kecuali sama Naura. Biar nanti aku yang telfon dia.” Gavin dengan sengaja mengalihkan arah pembicaraan mereka sekarang. Ia tiak ingin Kei membahasnya lebih lanjut karena tidak bisa memberikan jawaban yang wanita itu inginkan.
“Siap bos. Tapi aku nggak janji nggak ngelirik cowok bule.” Goda Kei. Sengaja memanas-manasi Gavin.
“Kei.” Ucap Gavin memperingatkan.
“iya, iya. Aku tahu.” Kei menjawab cepat seraya mengerucutkan bibir. Pria itu selalu berhasil memainkan perasaannya. Dan bodohnya, ia mau-mau saja mengikuti setiap perkataan Gavin.
Cinta memang mengerikan
“Mami titip salam buat kamu. Katanya jangan lupa telfon kalau kamu nggak capek.”
“Iya.”
“Istirahat yang cukup. Jangan lupa minum vitamin. Nanti aku telfon lagi.”
“Oke. Bye.” Sedikit tidak rela Kei membiarkan Gavin memutuskan sambungan telfon mereka. Pria itu pasti masih sibuk bekerja. Mengingat di Jakarta saat ini masih menunjukkan pukul empat siang.
Seandainya saja ia dan Gavin merupakan sepasang kekasih, pembahasan mereka mungkin akan jauh lebih menarik dan menyenangkan. Tapi Kei tidak bisa berbuat apa-apa. Perjalannya masih panjang. Ia bahkan tak tahu sampai kapan akan terus berada di zona seperti sekarang ini bersama Gavin.
Kei hanya bisa berdoa dan berharap kalau dirinyalah yang akan berada di sisi pria itu. Walau pada kenyataannya, ia tak pernah tahu seperti apa rencana Tuhan di atas sana.
I miss you… bisik Kei.
Berharap Gavin bisa mendengarnya.