
Setelah memastikan Kenzo sudah benar-benar terlelap, Isabel secara perlahan beranjak dari atas tempat tidur dan melangkah keluar. Menuju kamarnya bersama Aiden yang bersebelahan dengan milik anaknya.
“Jagoan kecilku sudah tidur?” Tanya Aiden begitu melihat Isabel masuk ke dalam kamar. Buku yang sedari tadi dipegangnya telah ia pindahkan ke sisi kiri bantalnya.
“Sudah.” Jawab Isabel. Ia berjalan pelan menghampiri Aiden dan mendapatinya tak lagi fokus membaca buku.
“Sekarang giliranku.” Ucap Aiden sambil tertawa. Pria itu mengulurkan tangannya ke depan dan disambut dengan senang hati oleh istrinya.
Isabel ikut tertawa kecil. Lantas memposisikan tubuhnya di dalam pelukan Aiden yang duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
“Aku hanya punya satu anak.” Isabel balas menggenggam erat tangan Aiden lalu mengecupnya lama. Hal yang juga diikuti oleh pria itu.
Setiap harinya, Isabel punya tugas wajib untuk menemani Kenzo sampai terlelap. Tak jarang, Aiden juga akan ikut membantu. Tapi malam ini, ia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Beruntung anak laki-lakinya itu mau mengerti dengan syarat harus dibelikan mainan baru.
“Kalau aku versi spesialnya.” Bisik Aiden. Kecupan sayang telah ia daratkan pada tengkuk istrinya yang terekspos.
Sebelum memejamkan mata, Aiden dan Isabel memang selalu mengisi waktu mereka dengan cara mengobrol. Hal yang tak bisa keduanya lakukan secara bebas saat siang menjelang malam hari.
Selain karena Aiden bekerja, Isabel juga harus menjaga dan menemani Kenzo.
“Apa aku juga harus menidurkanmu?” Isabel segera menoleh ke belakang dan menatap lekat wajah Aiden. Pria yang sangat dicintainya.
“Tentu saja.” Aiden berujar lirih. Lalu dengan cepat mengecup mesra bibir istrinya.
“Sayang.” Panggil Aiden pelan. Sebelah tangannya telah berada di atas perut Isabel dan mengelusnya pelan.
“Hm?” Balas Isabel. Ia tengah menikmati sentuhan lembut Aiden pada perutnya.
“Aku nggak keberatan punya anak lagi.” Aiden berucap senang seraya mengecup lama pipi istrinya. Lantas kembali memeluk erat tubuhnya.
“Kamu memang nggak, tapi aku yang keberatan.” Celetuk Isabel sembari tertawa. Jujur saja, ia begitu—bahkan sangat menikmati waktunya bersama Aiden seperti sekarang ini.
“Kenzo bilang dia pengen punya adik.” Aiden masih belum menyerah. Apa pun akan dilakukannya sampai Isabel memberikan lampu hijau.
“Kenzo atau kamu?” Tanya Isabel curiga sembari memainkan ibu jarinya di atas lengan kokoh suaminya.
“Dua-duanya. Jadi gimana? Oke?” Melihat Kenzo setiap harinya tumbuh dan beranjak dewasa, Aiden jadi tiba-tiba merindukan suara tangisan bayi di dalam rumahnya. Pun tubuh mungil yang berada di dalam gendongannya.
“Bukannya nggak mau, tapi aku pengen fokus merawat dan menjaga Kenzo dulu.” Sama seperti Aiden, Isabel pun juga sangat ingin memberikan adik untuk Kenzo agar anak laki-lakinya itu tidak lagi merasa kesepian saat berada di rumah. Hanya saja, masih ada begitu banyak hal yang harus dipertimbangkannya.
“Satu tahun lagi?” Bujuk Aiden dan langsung dihadiahi gelengan kepala oleh istrinya.
“Nggak tahu.” Isabel tidak ingin memastikan kapan waktu yang tepat karena ia tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tapi yang pasti, untuk saat ini, ingin seluruh perhatiannya hanya terfokus pada Kenzo sepenuhnya.
Jika waktunya sudah tepat, Tuhan pasti akan kembali mempercayakannya untuk mengandung lagi.
“Oke. Kenzo nggak butuh adik sekarang tapi aku yang butuh....” Aiden dengan sengaja tidak melanjutkan kalimatnya dan beralih mengelus pelan lengan Isabel. Tanda yang selalu ia berikan setiap kali menginginkan sesuatu.
“Aku ngantuk.” Ucap Isabel dengan nada bercanda. Niatnya untuk lepas dari pelukan Aiden langsung digagalkan oleh pria itu.
“Tapi aku nggak.” Aiden berbisik pelan di depan telinga Isabel dan secara tiba-tiba mengubah posisinya menjadi di atas. Dengan kedua tangan yang memenjara setiap sisi tubuh istrinya.
Malam ini akan kembali menjadi malam yang indah dan menggairahkan untuk keduanya. Sentuhan yang mulanya hanya diawali oleh ciuman ringan, akan berakhir dengan kenikmatan tanpa batas.
***
Kei yang semula mengira waktu makan siangnya bersama Gavin akan berakhir menyenangkan, justru harus menelan pil kekecewaan ketika salah satu rekan kerja pria itu—wanita, juga makan di tempat yang sama dengan mereka berdua.
“Jadi ini siapa? Pacar kamu?” Tanya wanita itu seraya menatap Kei penasaran. Yang ditatap justru membuang muka.
“Bukan.” Gavin menjawab jujur dan singkat. Merasa tak perlu memberitahu lebih jauh.
Bukan pacar tapi istri, batin Kei sumringah.
“Aku kirain pacar kamu.”
Kei yang mendengar penuturan centil wanita antah-berantah itu sontak menatapnya tajam. Juga secara sengaja menyeruput kasar es teh miliknya yang masih tersisa sedikit.
“Kei.” Tegur Gavin dengan suara pelan.
“Apa? Dia bisa pindah meja kalau nggak nyaman.” Balas Kei ketus.
Gavin seharusnya tahu kalau Kei hanya ingin menghabiskan waktu berdua. Tapi pria dewasa yang tidak peka sama sekali itu justru bersikap biasa saja. Seolah tak merasa bersalah sama sekali.
“Nggak papa. Anak-anak memang suka kayak gitu.”
Anak-anak? Gila!
Kei membatin tak suka dan melayangkan sumpah serapah pada wanita itu. Ia akui wajahnya memang terlihat muda. Baby face kata Isabel. Tapi umurnya sudah menyentuh angka dua puluh lima. Empat tahun lebih muda dari Gavin.
“Anak-anak? Sori. Umur saya sudah dua puluh lima.” Kei berujar ketus dan melayangkan tatapan tak suka hingga kembali membuat Gavin menegurnya menggunakan isyarat mata.
“Oh.” Wanita itu hanya mampu terdiam dan tersenyum kecut mendengar jawaban Kei. Malu karena bersikap sok tahu di depan Gavin.
“Mbak, saya boleh nanya nggak?”
“Boleh. Apa?”
“Mbak nggak ada niatan buat pindah dan cari tempat lain gitu?” Ucapan bernada dingin, ditambah tatapan tajam yang diarahkan secara langsung pada wanita itu sontak membuatnya terdiam seribu bahasa. Tak menyangka sama sekali jika akan menerima pengusiran secara langsung seperti saat ini.
“Kei! Aku nggak suka kalau kamu kayak gitu.” Ucapan marah Gavin sukses membuat Kei menatapnya lekat lalu dengan cepat bangkit dari duduknya.
Sikap Gavin barusan akhirnya membuat Kei tersadar kalau pria itu selalu memperlakukan semuanya dengan sama rata. Tak jarang, sikap baiknya justru disalah artikan oleh lawan jenisnya.
“Bukannya sejak dulu memang seperti itu? Hanya aku. Dan sampai akhir pun mungkin akan tetap sama.” Tak ingin hatinya semakin tersakiti, Kei akhirnya memutuskan untuk pergi. Pulang seorang diri menggunakan taksi bukanlah hal yang sulit baginya.
Kei hanya ingin hari liburnya dipenuhi dengan kebersamaan bersama Gavin. Namun sayangnya, pria itu seolah menutup mata dan mengabaikan, bahkan berpura-pura tak melihat rasa suka yang sering ia tunjukkan.
Jauh lebih baik Gavin menolaknya secara langsung. Dari pada terus mengabaikan dan membuatnya berada di dalam ketidakpastiaan.
“Kei! Keina!” Teriak Gavin. Berusaha untuk mengejar wanita itu tapi terlambat.
Kei sudah lebih dulu menghentikan taksi yang sedang lewat dan bergegas masuk ke dalamnya.
“Besok-besok, jangan bersikap sok akrab sama saya.” Ucap Gavin dingin sembari menatap tajam rekan kerjanya itu. Jika saja hanya seorang diri, sudah bisa dipastikan kalau ia akan mengusir wanita itu.
Tapi berhubung Kei sedang bersamanya, Gavin jadi merasa kasihan kalau sampai harus mempermalukannya.
“Sial!” Gavin mengumpat jengkel tatkala Kei tak mengangkat panggilannya dan memilih menonaktifkan ponselnya.
Wanita itu pasti marah padanya.