
Sembari sesekali bernyanyi kecil, sebelah tangan Kenzo yang sedang memegang sebuah pensil masih saja sibuk membuat sesuatu pada buku gambar bersampulkan kartun doraemon miliknya yang merupakan pemberian dari Aiden. Di depannya, satu kotak krayon dengan berbagai macam pilihan warna juga tampak berserakan. Entah apa yang sedang digambarnya, yang pasti, anak laki-laki itu terlihat begitu fokus pada apa yang dikerjakannya. Ia bahkan tidak menyadari sama sekali kedatangan Isabel dari arah dapur yang membawa segelas susu untuknya.
“Kenzo.” panggil Isabel.
Kenzo bergeming. Tangan kecilnya yang memegang krayon berwarna merah bergerak pelan di atas buku gambar miliknya.
Isabel yang melihat sikap putranya tak kuasa menahan senyum. Dibandingkan meminta bermain di luar atau pun jalan-jalan ke mall, Kenzo lebih senang berada di rumah. Menghabiskan waktu bersamanya dan menanyakan berbagai hal yang membuatnya penasaran.
“Sayang.” Panggil Isabel sekali lagi dan kali ini berhasil. Kenzo segera menoleh dan memasang ekspresi wajah terkejut saat tahu Isabel telah berada di dekatnya. Dengan sigap, anak laki-laki itu langsung menutupi gambarnya dan mencegah sang bunda agar tidak melihatnya.
Tawa kecil Isabel terdengar kala mendapati tingkah lucu putranya. Kenzo yang biasanya selalu menunjukkan hasil gambarnya agar mendapatkan pujian darinya kini justru bersikap sebaliknya. Anak laki-lakinya itu berusaha keras menutupi gambarnya yang belum selesai diwarnai menggunakan tangan kecilnya.
“Bunda.” Kenzo menatap Isabel memohon. Memintanya agar tidak berusaha mencari tahu apa yang sedang dibuatnya. Tidak sebelum hasil karyanya telah selesai dengan sempurna hingga mendapatkan pujian dari wanita yang disayanginya itu.
“Kamu nggak mau nunjukin ke Bunda?” Isabel dengan sengaja memasang wajah sedih. Ia tahu betul kalau putra kesanyangannya itu paling tidak bisa melihatnya terluka apalagi menangis. Ia bahkan ingat betul ketika Kenzo memohon pada Aiden untuk memanggil dokter ke rumah hanya kerena melihat goresan kecil pada ibu jarinya.
“Tapi gambar Kenzo belum selesai, Bunda.” Kenzo menarik sebelah tangannya yang sedari tadi digunakannya untuk menutupi gambarnya dan memegang pipi Isabel. Ia menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh kasih sayang.
“Bunda boleh lihat kalau sudah selesai?” tanya Isabel penuh kelembutan. Ia balas menatap Kenzo lekat saat merasakan tangannya yang kecil mengelus pelan pipinya.
“Boleh.” Kenzo berujar senang dan mendaratkan satu kecupan singkat pada pipi Isabel lalu kembali fokus pada kegiatannya yang sempat tertunda. Menggambar merupakan salah satu kegiatan yang sangat disukainya selain berenang. Namun menghabiskan waktu bersama ayah dan bundanya menjadi kebahagiaan terbesarnya. Bukan hanya perhatian yang mereka berdua tunjukkan, tapi juga senyuman indah yang selalu terukir di wajah Isabel menjadi hal yang selalu ingin dilihatnya.
***
“Kenzo.” Panggil Aiden. Ia menatap putra kecilnya dengan kening berkerut ketika mendapatinya menatap Isabel juga dirinya secara bergantian. Seperti ingin mengatakan sesuatu.
Kenzo yang mendengar panggilan Aiden tersentak kaget dan dengan cepat menyambar buku gambarnya yang berada di atas meja makan, tepat di sebelahnya. Lalu secara perlahan turun dari atas kursi dan menghampiri ayah juga bundanya.
“Bunda.” Kenzo memanggil pelan Isabel seraya menyodorkan buku gambar miliknya. Kedua mata polosnya mengerjap lucu dan digantikan dengan binar bahagia setelah Isabel menerimanya. Ia sudah tak sabar ingin mendengar pujian dari wanita itu.
Tawa kecil Isabel terdengar saat mendapati Kenzo menatapnya lekat. Begitu pun dengan Aiden. Kedua pria yang sangat dicintainya itu memusatkan seluruh perhatian padanya. Hal yang tentu saja membuatnya sedikit malu.
“Kenzo, lihat, pipi bundamu memerah.” goda Aiden.
“Seperti tomat.” sambung Kenzo. Ia yang tadi masih berdiri di hadapan Isabel dan Aiden kini telah berpindah kepangkuan ayahnya.
Isabel yang mendengar godaan suami dan putranya hanya menggeleng singkat sebagai jawaban lantas mulai membuka buku gambar yang Kenzo berikan. Tangannya dengan lembut membalik setiap lembaran kertas putih tersebut, mencari hasil karya anaknya yang belum ditempelinya stiker dan pandangannya terhenti pada sebuah gambar yang ia yakini baru dikerjakan Kenzo tadi.
“Sayang, siapa ini?” tanya Isabel lembut. Ia memperlihatkan gambar tersebut pada Kenzo dan Aiden.
“Ayah, Bunda dan Kenzo.” Kenzo menjawab cepat dengan binar wajah bahagia. Bundanya pasti suka sama hasil gambarannya.
“Baby.” jawab Kenzo polos. Merasa tak ada yang salah pada hasil gambarnya.
“Baby? Baby siapa?” kali ini Aiden yang bertanya. Ia balas menatap Isabel dengan kening berkerut sembari menunggu jawaban dari anaknya.
“Kemarin Lala bilang, kalau di perut mamanya ada baby yang masih kecil. Kalau mau, aku juga bisa menggambarnya.” Jawaban polos yang lagi-lagi Kenzo berikan sukses membuat Aiden tertawa lepas. Ia tahu betul perihal baby yang putranya maksud.
“Lala juga yang menyuruhmu untuk menggambarnya?” Aiden mengelus pelan kepala anaknya namun pandangannya justru fokus pada Isabel yang sejak tadi terdiam dengan ekspresi terkejut.
“Iya.” jawab Kenzo penuh semangat.
“Salah. Bukan Kenzo, tapi bunda sama ayah yang harus menggambarnya.” Aiden masih senantiasa menatap lekat pada Isabel yang sudah lebih dulu menatapnya tajam. Memperingatinya agar tidak mengatakan hal-hal aneh di depan putranya yang masih kecil. Bukannya takut, Aiden justru tersenyum lebar. Ia sangat senang menggoda istrinya.
“Apa Kenzo boleh ikut?”
“Ikut ke mana?” Isabel menatap putranya cemas. Jangan sampai ucapan Aiden tadi disalah artikan olehnya.
“Menggambar baby.”
Jawaban lugas Kenzo sekali lagi membuat tawa Aiden pecah. Bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Tanpa menghiraukan wajah kesal Isabel, ia justru memeluk erat putranya lalu mengecup kedua pipinya secara bergantian. Hingga membuat anak laki-laki berusia lima tahun itu tertawa geli.
“Kenzo, Bunda bisa minta tolong ambilin stiker di ruang tengah?” Isabel dengan cepat mengalihkan perhatian anaknya agar tidak lagi menanyakal hal aneh. Ditambah Aiden yang justru merasa puas melihatnya gelagapan karena bingung harus menjawab seperti apa.
Kenzo mengangguk cepat dan bergegas menuju ruang tengah. Bundanya pasti menyukai gambarnya. Setelah mendapatkan stiker pada gambar barunya, ia akan menunjukkannya pada Lala besok. Juga memberitahunya jika ucapannya tadi salah. Bukan ia yang menggambar baby, tapi harus ayah dan bundanya yang melakukannya.
“Apa?” Aiden menatap Isabel tanpa rasa bersalah sama sekali.
Bukannya menjawab, Isabel justru menghadiahi satu cubitan kecil pada pinggang suaminya. Anehnya, Aiden malah tersenyum lebar dan menyambar cepat kedua bibirnya sebelum Kenzo kembali dari ruang tengah.
“Aiden!”
“Di kamar, Sayang. Kamu bisa nyubit aku sepuasnya.” goda Aiden. Ia kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Isabel cukup lama. Sekalipun mendapatkan penolakan, pria itu tetap melanjutkan aksinya. Seandainya saja Kenzo sudah tidur sejak tadi, bisa dipastikan kalau istrinya akan berakhir di atas sofa. Tanpa sehelai benang.
“Bundaa.” Panggilan Kenzo serta suara langkah kaki kecilnya membuat Isabel dengan cepat menarik diri dari jeratan Aiden. Juga menyeka jejak basah pada kedua bibirnya yang diyakininya sedikit memerah.
“Kita lanjut di kamar.” bisik Aiden.
“Nggak!” tolak Isabel dan kali ini mendaratkan cubitan pada paha suaminya.
Aiden yang mendengar penolakan tegas istrinya hanya tersenyum kecil penuh arti. Isabel tidak akan mungkin sanggup menolaknya, apalagi jika melihat wajah memohonnya. Lagipula, bisa dipastikan kalau hanya dirinyalah satu-satunya suami yang memikirkan kepuasan istrinya. Menatap wajah pun mendengar erangan kecil yang lolos dari bibir wanita itu sudah lebih dari cukup baginya.