
Seakan benar-benar sedang dimabuk asmara, Gavin terus saja menatap Kei yang tengah sibuk mengunyah makanannya. Pandangannya tak pernah luput dari wanita itu. Sejak ia menjemputnya pun sampai ke hotel bintang lima tersebut. Selain karena wajah mempesonanya, ia juga menyukai gaya berpakaian Kei yang terbilang santai. Alih-alih memakai gaun, wanita itu justru terlihat jauh lebih menarik dalam balutan long sleeve t-shirt berwarna putih yang dipadukan dengan check skirt di bawah lutut berbelahan sedikit di bagian depan berwarna biru pastel. Dan sendal tali tanpa hak sebagai penutupnya.
Gavin memang sudah memberitahu Kei agar wanita itu berpakaian senyaman mungkin. Mengabaikan aturan tak tertulis restoran tersebut yang seolah mewajibkan setiap pungunjungnya berpakaian formal atau mewah.
“Kamu nggak makan?” Kei menatap Gavin dengan kening berkerut saat mendapati steak sapi yang pria itu pesan masih cukup banyak. Berbanding terbalik dengan miliknya yang baru saja tandas.
“Kamu mau?” Bukannya menjawab, Gavin justru semakin melebarkan senyumannya. Kei meminta seluruh makanan di restoran tersebut pun ia tak keberatan sama sekali.
“Dengan senang hati.” Kei mengangguk antusias dengan mata berbinar lucu. Ia tak perlu bersikap malu di depan Gavin. Pria itu sudah sangat mengenal dirinya. Mereka berdua bahkan kerap kali makan dalam satu piring.
Setelah mendengar jawaban Kei, Gavin segera memotong-motong kecil steak sapi tersebut lalu meletakkan piringnya di hadapan Kei. Wanita itu tentu saja dengan senang hati menerimanya. Mengabaikan pengunjung wanita di sekitarnya yang hanya makan sedikit, Kei justru sebaliknya. Ia tidak pernah peduli akan omongan orang lain. Setidaknya, ia datang makan dan pulang setelah membayar. Bukannya mengutang.
“Mau aku pesankan es krim?” tanya Gavin. Ibu jarinya dengan sigap menghapus jejak saus barbeque yang menempel di dagu wanita itu.
Kei menggeleng cepat.
“Jadi? Kamu mau kita langsung pulang?”
“Nggak. Kita singgah beli di tempat biasa dulu.”
Gavin mengangguk pelan pertanda mengerti. Ia sudah hafal betul akan tempat yang Kei maksud. Salah satu franchise makanan cepat saji terlaris berawalan huruf M. Tempat wajib yang harus mereka datangi ketika pergi bersama. Terkadang, Kei memesan dua hanya untuk dirinya sendiri. Walau sering berakhir dengan Gavin yang harus menghabiskannya.
Diwaktu yang bersamaan, Gavin dan Kei tidak menyadari sama sekali jika sudah sejak tadi sepasang mata yang dihiasi kontak lens berwarna biru terang menatap mereka intens. Tak lama berselang, pemilik sepasang mata tersebut yang merupakan seorang wanita yang tingginya kira-kira seratus enam puluh lima senti berjalan mendekati mereka.
“Gavin? Kamu Gavin kan?” tanya wanita itu. Senyum merekahnya tercetak sempurna kala berada di hadapan Gavin.
Kening Gavin sontak mengerut. Ia tidak mengenal sama sekali wanita asing di depannya saat ini. Bukan hanya pakaiannya yang kekurangan bahan, tapi juga dandanannya yang terlampau melebihi batas.
“Siapa?” tanya Gavin dingin. Ia melirik sekilas pada Kei yang masih saja sibuk menikmati daging di depannya.
“Saras. Temen kuliah kamu dulu.” Wanita bernama Saras itu menjawab penuh kegirangan. Bahagia karena bisa bertemu dan mendengar suara Gavin lagi.
“Saras? Ah, siwanita penggoda itu?”
“Ppffttt….” Ucapan santai Gavin barusan sukses membuat Kei menyeburkan air putih yang baru saja masuk ke mulutnya. Hingga membasahi bagian belakan gaun merah yang Saras kenakan.
Saras yang tak terima akan perlakuan Kei segera berbalik dan menatapnya tajam. Bersiap meluncurkan kalimat sumpah serapa.
“Bodoh! Kamu pikir harga gaunku ini berapa?!” Saras berteriak marah hingga sukses menarik perhatian pengunjung yang lain. Di depannya, Kei masih duduk santai dengan wajah tenang.
“Maaf, aku bener-bener nggak sengaja.” Ucap Kei penuh rasa bersalah. Jika saja bukan karena ucapan Gavin tadi, ini semua pasti tidak akan terjadi.
“Maaf? Enak banget kamu bilang maaf. Harga gaunku bahkan berkali-kali lipat dari harga baju pasar yang kamu pakai.”
Perkataan Saras barusan berhasil membuat raut wajah Kei berubah. Tapi bukannya marah, wanita itu justru lebih terlihat kaget.
“Wow. Kamu tahu dari mana kalau bajuku ini beli di pasar?” tanya Kei sumringah. Ia tidak malu sama sekali mengakui kalau pakaian miliknya memang ada sebagian yang dibelinya di pasar. Bukan karena tak punya uang, ia hanya merasa nyaman saat memakainya.
“Cih! Memalukan. Pakaian pasarmu itu nggak cocok sama sekali buat dipakai di sini.” Sinis Saras. Ia sengaja membuat ekspresi wajah menjijikkan.
Seperti biasa, uangnya sangat berguna disaat-saat genting.
“Gavin, jangan bilang kalau dia ini pacar kamu?” Saras menatap Gavin lekat. Berharap pria itu memberikan jawaban yang diinginkannya.
Gavin tetap bungkam. Ia justru menatap Kei dalam penuh cinta.
Saras yang melihatnya kembali membuka mulut. Berniat mempermalukan Kei di hadapan pria itu.
“Kamu yakin? Bajunya bahkan hanya merek pasaran. Jangankan membayar, tas atau dompet pun dia nggak bawa sama sekali.” Saras tersenyum mengejek seraya menatap Kei rendah. Dibadingkan dirinya yang bekerja di salah satu butik terkenal, Kei mungkin hanya wanita kampung yang baru hidup di kota.
Kei yang mendengar ucapan Saras tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia segera bangkit dari duduknya, mendekati wanita itu dan balas menatapnya muak.
“Trus kenapa kalau aku nggak bawa dompet sama tas? Masalah? Toh Gavin yang memang melarangku untuk membawanya.” Kei memang tak berbohong. Gavinlah yang melarangnya. Jangankan tas, pria itu juga memintanya untuk tidak membawa uang sepeser pun.
“Sejak tadi aku bingung, sebenarnya apa masalahmu? Kamu tiba-tiba datang, mengusik oranng lain lalu menghinanya sesuka hati. Atau jangan-jangan, kamu ini salah satu wanita kampus yang dulu suka sama Gavin? Tapi sayangnya nggak terbalaskan.”
Wajah Saras langsung berubah merah padam seusai mendengar penuturan Kei barusan. Ia tak terima karena apa yang Kei ucapkan benar. Semasa kuliah dulu, ia memang pernah suka dan menyimpan rasa pada Gavin. Semua cara telah ditempuhnya, tapi Gavin tidak pernah sedikit pun memberi respon. Pun ketika berusaha untuk menjebaknya, pria itu justru sudah lebih dulu mengetahuinya.
“Jaga ucapanmu!” bentak Saras tak terima.
Kei yang mendengarnya sontak tertawa kecil. Benar-benar tidak tahu diri.
“Kalau tahu akan seperti ini, seharusnya sejak awal aku memakai seragam pramugariku.”
Bak disambar petir, perkataan Kei berhasil membuat Saras diam seribu bahasa. Awalnya ia tak percaya, tapi setelah Kei menyebutkan nama salah satu maskapai terkenal juga potret dirinya di dalam pesawat, ia hanya bisa menganga seperti orang bodoh. Ia tak perlu repot-repot mencari kebenarannya karena Kei tidak mungkin berbohong. Sebab, maskapai tersebut sudah terkenal kalau tidak akan segan-segan melaporkan siapa pun yang mengaku sebagai salah satu pegawainya.
“Kamu pikir aku takut?” Saras masih belum mau menyerah. Ia masih ingin terlihat hebat dari siapa pun di depan Gavin. Setelah cukup lama mencarinya, ia akhirnya bertemu lagi dengan pria itu. Kesempatan yang tidak boleh dilewatkannya.
“Sayangnya aku nggak berniat sama sekali untuk pamer. Vin, ayo.” Ajak Kei. Tanpa menatap Saras, ia berjalan santai melewati wanita itu. Mengabaikan kehadirannya yang tidak diharapkan sama sekali. Es krimnya jauh lebih penting.
“Tapi gaunnya?” Seolah mendapatkan celah, Gavin dengan sengaja ingin membuat Kei cemburu. Berniat memanas-manasi wanita itu sampai melihat tatapan matanya.
“Silahkan. Aku bisa pulang sendiri, bye.” Tak ingin ambil pusing, Kei melongos pergi begitu saja. Melangkah tanpa beban menjauhi Gavin yang tertawa geli melihat tingkahnya.
Pria itu pasti ingin membuatnya cemburu, batin Kei.
Yang benar saja. Ia tahu betul kalau Gavin terbilang susah untuk bersikap ramah pada wanita lain. Jangankan mengganti gaunnya, membayarkan makannya pun pria itu tidak akan mau. Kecuali mereka berdua memang dekat atau merupakan keluarganya.
Bukan karena perhitungan tapi Gavin pernah bilang padanya kalau ia tidak ingin membuat wanita lain salah paham. Jadi sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, pria itu lebih memilih untuk menghindarinya.
“Aku kenal kamu lebih dari siapa pun.” Kei tersenyum simpul ketika melihat siluet tubuh Gavin. Pria itu berlari kecil menghampirinya yang telah lebih dulu berada di parkiran.
Keduanya saling berpandangan dan melempar tawa kecil.
Perasaan hangat perlahan menjalari hati Kei, ia benar-benar mencintai pria itu.