
Sesampainya di rumah, Aiden langsung mengurung diri di dalam ruang kerjanya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Ada perasaan khawatir yang menghantuinya sejak tadi. Beruntung Isabel tidak menanyainya banyak hal. Wanita itu seakan meyakini jika pekerjaannya di kantor benar-benar sedang menumpuk hingga ia harus membawanya pulang. Tidak salah memang. Karena sepulangnya dari makan siang, ia tidak bisa lagi fokus sehingga ada beberapa berkas yang harus diselesaikannya sekarang juga.
Dalam benaknya, Aiden terus menerka-nerka hal apa sebenarnya yang Veronica inginkan sehingga kembali muncul dan mengganggu kehidupannya. Kalau memang sejak awal wanita itu memutuskan untuk pergi, seharusnya dia tidak pernah datang lagi. Jika memang tujuannya hanyalah uang, maka sampai mati pun Veronica tidak akan pernah mendapatkannya. Wanita itu hanyalah bagian dari masa lalunya yang telah ia kubur rapat-rapat dan sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.
“Hah.” Helaan napas berat meluncur begitu saja dari mulut Aiden. Punggungnya ia sandarkan pada kursi, dengan kedua mata terpejam. Ia harus menangkan pikirian, sebelum Isabel mulai curiga padanya.
Tak lama berselang, Aiden mendengar pintu ruang kerjanya diketuk dua kali lalu terbuka lebar dan menampilkan sosok istrinya. Wanita itu menatapnya lembut dengan kedua tangan membawa sebuah nampan kecil.
“Aku membuatkan teh hangat untukmu.” Isabel secara perlahan meletakkan secangkir teh hangat di atas meja kerja Aiden dan menatapnya lekat. Rasa lelah tergambar jelas pada wajah suaminya.
Aiden tersenyum kecil sebagai ucapan terima kasih lantas mengulurkan tangannya di depan Isabel. Memintanya untuk mendekat agar bisa memeluknya erat. Perasaannya sedikit membaik setelah melihat wanita itu.
Isabel segera mendudukkan dirinya di atas pangkuan Aiden agar bisa memeluk dirinya. Jari jemarinya secara perlahan mengelus rambut pria itu lalu mengecupnya sekilas. Aiden balas melakukan hal yang sama. Ia memainkan rambut panjang istrinya lantas membenamkan wajahnya pada ceruk leher wanita itu. Menghirup aroma tubuh yang selalu membuatnya merasa tenang.
“Mau aku pijit?” Isabel menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa memandang wajah suaminya. Aiden menatapnya dalam, lantas mendaratkan satu kecupan singkat di bibirnya.
“Di mana? Di sini atau di kamar?” goda Aiden. Kedua tangannya telah melingkar sempurna pada pinggang Isabel.
Isabel yang melihat tatapan penuh arti suaminya langsung mendaratkan cubitan kecil pada pipi kirinya. Otak nakalnya bahkan masih berfungsi baik sekalipun sedang lelah.
“Bukan pijit yang itu.” Isabel berpura-pura memutar bola mata malas yang ditanggapi Aiden dengan tawa kecil. Pria itu kembali mendekapnya erat setelah sebelumnya mengecup lama lehernya.
Dalam diamnya, Aiden kembali mengingat obrolannya dengan Veronica tadi. Ia tidak ingin apa yang ditakutkannya terjadi. Wanita serakah itu bisa saja tiba-tiba datang ke rumahnya dan mengatakan berbagai omong kosong. Walau ia tahu betul kalau Isabel tidak akan pernah mempercayainya.
“Sayang.” panggil Aiden
“Hmm.” Isabel masih terus mengelus dan memainkan rambut Aiden. Ia menanti dengan sabar hal yang akan suaminya katakan.
“Kamu percaya sama aku kan?”
Isabel mengernyitkan dahi kala mendengar pertanyaan yang Aiden berikan. Percaya? Tentu saja. Ia mempercayai pria itu lebih dari siapa pun.
“Selalu.” jawab Isabel penuh keyakinan.
Isabel dengan lembut menangkup kedua pipi Aiden dan menatapnya dalam. Seakan ingin memberitahu pria itu kalau ucapannya sungguh-sungguh. Tidak ada lagi yang perlu Aiden ragukan atau pertanyakan darinya. Ia mencintai pria itu dengan sangat.
Aiden yang sejak tadi seperti tidak lagi memiliki tenaga, kini perlahan mulai menemukan semangatnya kembali. Pulang ke rumah, menatap wajah istri dan juga anaknya merupakan self healing terbaik baginya. Ia tidak perlu bersusah payah mencari di keluar dan menghabiskan banyak uang untuk hal yang tidak berguna sama sekali.
“Jadi, aku juga boleh minta apa pun?” Aiden secara tiba-tiba menarik tubuh Isabel agar semakin rapat padanya. Tatapannya berubah menuntut.
Isabel tersenyum kecil. Ia tahu betul apa yang suaminya butuhkan.
“Apa pun.” bisik Isabel.
Jujur saya, ia justru sangat menyukainya. Isabel yang berubah menjadi dominant lebih membuatnya tertantang.
***
“Gavin, tunggu!” Kei kembali menutupi wajahnya ketika menyadari Gavin yang semakin mendekat padanya. Posisinya yang berada di dalam mobil membuatnya tidak bisa banyak bergerak. Apalagi dengan pintu dan jendela yang telah dikunci. Belum lagi kursi yang didudukinya sengaja sedikit diturunkan oleh pria itu.
Gavin menatap Kei intens dalam diam. Wanita itu sendiri yang memintanya lewat telepon tadi dan sekarang, ia hanya berniat untuk mewujudkannya.
“Bukannya kamu yang minta tadi?”
Kei sadar kalau dia sendirilah yang menyebabkan ini semua terjadi. Ia bukannya tidak suka Gavin menciumnya, hanya saja, hatinya belum siap.
“Dua menit lagi.” ucap Kei.
“Ini sudah yang kelima kalinya.” sindir Gavin.
“Vin….”
“Oke, dua menit lagi.” Gavin akhirnya menyerah setelah Kei memberinya tatapan memohon. Ia bukannya berniat memaksa tapi salah wanita itu sendiri yang dengan berani menggodanya.
“Aku siap!” Kei berucap mantap dengan kedua mata tertutup. Hal yang justru terlihat lucu di mata kekasihnya.
“Kamu nggak mau lihat aku?” bisik Gavin.
Kei dengan cepat membuka matanya dan menatap lekat Gavin. Ia mencintai pria itu dan tidak ada yang salah jika mereka berdua berciuman. Karena nyatanya, mereka berdua sama-sama mau.
Setelah saling pandang cukup lama, Gavin secara perlahan mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Kei, lalu berpindah pada kedua mata, kedua pipi, hidung dan dagunya. Terakhir, ia mendaratkan ciuman lembut pada kedua bibir wanita itu. Tanpa pergerakan sama sekali.
Gavin dan Kei sama-sama menikmati sensasi yang tercipta sejak kulit mereka bersentuhan secara langsung. Mereka berdua bahkan bisa saling mendengar degup jantung masing-masing.
“Vin.” Kei memanggil nama kekasihnya lirih setelah tautan bibir mereka terlepas.
Gavin yang mendengarnya kembali memenjara kedua bibir Kei. Kali ini, diiringi dengan sedikit pergerakan. Setelah melingkarkan kedua tangannya pada leher pria itu, Kei mulai membalas setiap permainan yang kekasihnya berikan. Tidak ada tanda-tanda mereka berdua akan berhenti, yang ada justru sebaliknya. Baik Kei maupun Gavin semakin memperdalam ciuman mereka.
Suara deru napas memburu terdengar jelas di telinga keduanya. Pun dada yang naik turun dan dengan rakus menghirup oksigen. Gavin kembali menatap lekat wajah kekasihnya seraya menyeka sudut bibirnya yang sedikit basah. Lantas mendaratkan sekali lagi kecupan singkat.
Jika saja mereka tidak sedang berada di garasi mobil rumahnya, ia mungkin masih belum mau mengakhirinya. Beruntung mami dan papinya sedang berada di luar untuk menghadiri undangan pesta pernikahan.
“Aku antar kamu pulang.”
Kei mengangguk singkat dan menatap tanpa kedip Gavin yang mengecup beberapakali punggung tangannya. Lalu beralih pada kedua bibirnya. Sama seperti pria itu, ia pun masih menginginkannya. Tapi memikirkan keadaan yang tidak sepenuhnya berpihak pada mereka berdua, ia harus bisa menahan diri.