My All Is In You

My All Is In You
Mantan



Kei menghela napas dalam sekali lagi sebelum ia memasuki aula super besar yang dijadikan teman angkatan semasa kuliahnya dulu sebagai tempat reuni. Ia sebenarnya sangat berat meninggalkan Gavin seorang diri atau pun bertemu dengan teman-teman lamanya. Bukan karena tidak suka, hanya saja, di antara mereka semua, tidak ada yang betul-betul akrab dengannya kecuali satu orang. Ditambah pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya juga ikut hadir. Lengkap sudah ketidaknyamanannya.


“Hanya sebentar Kei.” Gumamnya.


Setelah memastikan kalau hatinya sudah benar-benar siap, Kei akhirnya berjalan memasuki aula tersebut dan hal yang pertama kali menyambutnya adalah tatapan kaget dari setiap mata yang telah lebih dulu datang. Seingatnya, baju dan make up nya wajar-wajar saja.


“Kenapa?” tanya Kei bingung. Kedua keningnya berkerut samar hingga membuat beberapa wajah yang masih dikenalnya menyunggingkan senyum canggung.


“Kei!” panggilan seseorang membuat Kei dengan sigap menatapnya. Ia terdiam sebentar, memikirkan nama sang pemilik suara lantas bergegas menghampirinya dengan ekspresi senang.


“Dinda!” pekik Kei senang. Satu-satunya teman yang akrab dengannya semasa dibangku kuliah. Awalnya ia mengira kalau wanita itu tidak akan datang karena telah pindah dan tinggal di Singapura, mengikuti suaminya yang bertugas di sana.


“Kamu apa kabar?” Dinda memeluk Kei sekilas dan balas menatapnya senang. Setelah sekian lama tidak pernah mendengar kabarnya, mereka berdua akhirnya bertemu di sini.


“Baik. Kamu masih tinggal di Singapura?” Kei bersorak gembira dalam hati karena ia tidak akan berdiri sendiri seperti orang bodoh. Walau ada beberapa yang dikenalnya, ia tetap saja merasa malas untuk menyapa, apalagi mengajaknya berbicara. Saling melempar senyum sudah lebih dari cukup baginya.


“Iya, suamiku masih tugas di sana. Pekerjaan kamu gimana? Masih sama?” Dinda mengajak Kei untuk melangkah menghampiri sebuah meja kosong yang tidak terlalu berada di sudut ruangan. Di hadapan mereka berdua sudah sama-sama tersaji segelas minuman dan sebuah piring putih yang berisikan beberapa potong kue coklat.


“Masih sama. Jalana-jalan gratis.” Jawab Kei seraya tertawa kecil. Jika tidak salah, ia pernah bertemu dengan Dinda dua tahun yang lalu, itupun di dalam pesawat. Jika bukan karena wanita itu yang pertama kali menyapanya, maka ia tidak akan tahu sama sekali. Beruntung Dinda tidak langsung menilai dan menganggapnya sombong.


Dipikir berapa kali pun Kei masih tetap menganggap kalau sikapnya waktu itu tidak salah sama sekali. Dinda yang dulu mendapatkan julukan sebagai gadis kacamata kini telah berubah drastis. Celana jeans longgar dan baju kaos lengan panjang yang dulu sering dipakainya ke kampus kini telah berganti menjadi gaun indah nan seksi. Pun sikap anggun yang ditunjukkannya sukses membuat orang-orang yang pernah menghinanya memalingkan wajah karena malu.


“Seperti biasa, manusia selalu menilai dari luarnya saja.” Batin Kei malas. Itulah alasannya ia tidak ingin memiliki banyak teman. Mereka bisa saja sewaktu-waktu berubah menjadi anak panah dan menusuknya.


“Kei, aku keluar dulu sebentar. Suamiku nelfon.” Dinda menunjukkan layar ponselnya yang menyala pada Kei seraya bangkit dari duduknya. Ia berjalan cepat ke arah luar, menghindari suara ribut sebelum mengangkat panggilan suaminya.


“Gavin.” Gumam Kei. Sepuluh menit telah berlalu sejak tadi dan ia merasa tidak enak kalau harus pergi sekarang. Ponselnya masih belum bergetar, tandanya Gavin masih belum menelfonnya.


Melalui sudut matanya, Kei bisa melihat dengan sangat jelas satu sosok pria yang sedari tadi mencuri pandang padanya dan mulai berani mendekat setelah Dinda pergi. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa orangnya,


Bagas


Mantan kekasihnya.


“Hai.” Sapa pria itu. Lengkap dengan senyum malaikatnya. Senyuman yang juga pernah menipu Kei hingga mau menerimanya sebagai kekasih.


“Hmm.” Kei bergumam pelan sebagai jawaban dan lebih memilih menyibukkan diri dengan menikmati kue coklat di depannya. Mengisi perutnya jauh lebih baik.


Respon dingin yang Kei berikan membuat Bagas belum mau menyerah. Tanpa meminta persetujuan darinya, pria itu dengan lancang duduk di hadapannya dan menatapnya lekat.


“Kamu apa kabar?” tanya Bagas. Masih berusaha mencuri perhatian dari Kei.


Kei menghela napas kasar dan balas menatap Bagas malas. Pria itu tidak pernah berubah. Selalu menganggap dirinya tampan dan menjadi pujaan para wanita.


Gavinku bahkan berkali-kali lipat lebih tampan darimu, pikir Kei.


“Baik.” Jawab Kei singkat. Ia malas menanggapi pria itu lebih jauh.


“Kamu datang sendiri?” Bagas masih mencari celah. Ia tidak boleh kehilangan kesempatan setelah bertemu lagi dengan Kei.


Kei mengangguk singkat sebagai jawaban. Dirinya benar-benar muak.


“Mau aku antar pulang?”


Pertanyaan bagas sukses membuat raut wajah Kei berubah masam. Pria di depannya ini benar-benar tidak tahu diri. Tanggapan dingin darinya seharusnya sudah cukup membuat pria itu sadar dan menjauh darinya.


“Sorry, aku—” Kei yang merasakan ponselnya bergetar dengan cepat bangkit dari duduknya. Menghampiri Dinda yang berniat mendekatinya.


“Din, aku pulang duluan yah. Pacar aku udah nelfon.” Kei memeluk Dinda sekilas dan kembali berjalan cepat. Ia sudah membayangkan wajah kesal Gavin karena membuatnya menunggu lebih dari waktu yang telah diberikannya.


“Oke, hati-hati.” Ucap dinda sedikit berteriak.


Kei yang melambai singkat pada Dinda tidak menyadari sama sekali kehadiran Bagas di belakangnya. Pria itu mengikutinya dalam diam. Mengamati setiap gerakannya tanpa kedip.


“Ya Tuhan, Kei!” Gavin berucap kesal dan mencoba menghubungi wanita itu lagi. Ia bisa saja masuk ke dalam, mencari dan menariknya pulang.


Sepuluh menit sudah lama berlalu dan Kei masih belum juga kembali. Wanita itu bahkan dengan sengaja mengabaikann panggilannya dan membuatnya khawatir setengah mati di parkiran.


Awas saja.


Samar-samar, Gavin bisa mendengar suara Kei yang tengah berbicara dengan seseorang. Dengan sigap, ia segera keluar dari dalam mobil dan mencari sumber suara. Tak jauh darinya, ia bisa melihat jelas Kei yang terlihat seperti sedang mengusir orang di depannya.


“Kei!” teriak Gavin. Ia bergegas menghampiri kekasihnya. Menggenggam tangannya lantas menatap tajam pria di depannya.


Kei yang melihat kedatangan Gavin tentu saja terkejut. Ia tak ingin kalau perkelahian sampai terjadi. Apalagi jika sampai merusak wajah tampan kekasihnya.


“Vin, kita ke mobil sekarang.” Perintah Kei. Ia menarik tangan pria itu namun berhasil dihentikannya.


“Dia ngapain ngikutin kamu?” Gavin masih senantiasa menatap tajam Bagas yang juga menatapnya tak suka.


Ia ingat betul kalau pria itulah yang menjadi penyebab Kei sampai memutuskan dirinya.


“Nggak ada apa-apa. Kita pulang sekarang, oke?” Kei masih berusaha membujuk Gavin agar mau mendengarnya. Pria itu memang terbilang susah untuk dibujuk ketika sedang marah. Tapi karena tahu Gavin tidak akan mungkin menyakitinya, maka ia tetap memaksa pria itu. Menarik tangannya sekuat yang ia bisa.


“Kei, kamu pacaran sama dia sekarang?” tanya Bagas tak percaya. Ekspresi wajahnya berubah meremehkan.


Gavin bisa merasakan jelas nada penghinaan dari pertanyaan Bagas barusan. Pria itu dengan berani merendahkan dirinya tanpa tahu yang sebenarnya.


“Kalau iya kenapa? Kamu keberatan?” Kei menatap tajam Bagas yang dengan berani menghina Gavin di depannya. Ia tak terima pria yang dicintainya diperlakukan seperti sampah.


“Kamu nggak bisa nyari yang lebih? Setidaknya di atas aku.”


Ucapan percaya diri Bagas sukses membuat Gavin dan Kei menatapnya tak percaya.


“Apa? Haha.” Tawa Gavin pecah saat mendengar ucapan penuh percaya diri yang Bagas lontarkan. Lebih di atasnya? Yang benar saja.


“Vin, kita pulang, oke?” bujuk Kei seklai lagi dan berhasil membuat Gavin menatapnya.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Gavin segera mengajak Kei menuju mobilnya yang masih terparkir rapi. Membuka pintu belakang dan masuk lebih dulu. Lalu menarik pelan tangan Kei dan membuat wanita itu jatuh di atas pangkuannya.


Gavin menatap Bagas sekilas sembari menyeringai kecil. Lantas menutup kencang pintu mobilnya.


“Aku nggak suka ngeliat kamu sama dia.” Gavin menatap intens Kei yang berada di atas pangkuannya. Kedua tangannya telah menempel di pinggang wanita itu.


Bukannya menjawab, Kei justru tersenyum senang. Ia mengelus pelan rambut dan pipi Gavin lantas mengecup singkat keningnya.


“Ini yang pertama dan yang terakhir. Oke?”


“Iyaaa.” Jawab Kei. Kedua tangannya ia letakkan pada pundak Gavin.


“Aku sudah bilang sama Bunda kalau kita berdua pulang agak telat.”


Kei mengangguk pelan sebagai jawaban dan membiarkan Gavin mengikis celah di antara mereka. Dalam waktu singkat, ia bisa merasakan bibirnya yang bertemu dengan bibir pria itu.


Gavin menciumnnya dengan penuh kelembutan. Pun menyapa bibir atas dan bawahnya secara bergantian hingga meninggalkan jejak.


Ditengah suasana parkiran yang cukup sepi, Kei dan Gavin mulai memperdalam ciuman merekan berdua. Seolah tahu Bagas masih belum beranjak dari tempatnya, Kei dengan cepat mengalungkan kedua tangannya pada leher Gavin. Entah melihatnya atau tidak, yang pasti, Bagas jelastahu kalau mereka berdua sedang melakukan sesuatu di kursi belakang.


Sebelah tangan Gavin yang tadi menempel posesif pada pinggang Kei kini telah berpindah pada tengkuknya. Ia mendorong pelan kepala wanita itu untuk memperdalam ciuman mereka. Sesekali, suara decakan terdengar.


Kei memberi akses pada Gavin untuk mengeksplor setiap sisi di dalam mulutnya. Meninggalkan jejak kepemilikan yang bercampur satu dengan miliknya.


“Kei.” Bisik Gavin. Ia menyeka bibir bawah wanita itu yang basah dan sedikit memerah.


Gavin kembali membungkam bibir Kei. Ia masih belum ingin menyudahinya. Kelembutan yang dirasakannya setiap kali menyentuh bibir wanita itu membuat hati dan pikirannya mendorongnya untuk melakukannya lagi dan lagi. Hingga tak mengenal kata berhenti.