
“Aku menang!”
Setelah berdebat cukup lama, Aiden dan Gavin akhirnya memutuskan untuk melakukan suit sebanyak tiga kali dan hasilnya, Aiden keluar sebagai pemenang. Jadi, mau tak mau, Gavin harus mengikuti semua permintaan pria bucin itu.
“Jadi, mau ke mana kita?” Ucap Gavin seraya membuka pintu mobil. Di sebelahnya, Aiden justru duduk manis dengan senyuman lebar.
Pria itu menolak menempati kursi penumpang di bagian belakang dengan alasan, mereka berdua berstatus sebagai atasan dan bawahan hanya saat jam kerja saja.
“Butik.” Jawab Aiden santai.
“Untuk apa?” Gavin yang berada di depan kemudi mobil dengan cepat menoleh ke samping dan menatap Aiden penuh tanya. Menuntut penjelasan yang sejelas-jelasnya sebelum ia lepas kendali.
“Membelikan Isabel gaun baru.” Jawab Aiden sembari tersenyum tak jelas. Membayangkan raut wajah bahagia istrinya sudah berhasil membuat hatinya di dalam sana bergejolak.
“Bukannya kalian bisa pergi berdua nanti? Kenapa harus sama aku?” Kesal Gavin. Ia sebenarnya tak masalah jika harus menemani Aiden. Hanya saja, pria itu menghabiskan waktu lebih lama dibanding para wanita pada umumnya.
Waktunya yang berharga bisa terbuang sia-sia.
“No. No. Kalau pergi berdua bukan kejutan lagi namanya.” Tolak Aiden tegas. Kalau pergi berdua, Isabel sudah pasti akan menolak permintaannya.
“Tsk! Ini akibatnya kalau kebucinanmu terlalu tinggi.” Sindir Gavin. Pandangannya telah mengarah ke depan. Menatap jalan raya yang cukup padat.
“Bucin? Bukti cinta, kan? Berarti aku nggak salah sama sekali.” Kilah Aiden sembari tertawa puas mendengar Gavin menggerutu tak jelas.
Mau dibilang seperti apa pun, Aiden tidak pernah peduli. Yang ia tahu, ia mencintai Isabel dan Kenzo melebihi apa pun. Itu saja.
Jadi, menempatkan kebahagiaan mereka berdua adalah prioritas utamanya. Sebab, selama istri dan anaknya bahagia, maka secara otomatis ia pun juga merasakan hal yang sama.
“Terserah. Umurku rasanya selalu berkurang setiap kali meladenimu.”
“Haha.”
***
“Bagaimana dengan yang ini?” Tanya Aiden antusias.
“Mana kutahu. Bukankah kau suaminya?!” Geram Gavin.
Sudah lebih dari lima gaun yang Aiden tunjuk dan sebanyak itu pula pria itu menanyakan pada Gavin ukuran baju Isabel. Juga model serta warna apa yang cocok untuk wanita itu.
“Aku mengajakmu agar bisa berguna.” Cibir Aiden lalu kembali melihat seluruh gaun yang terpajang di dalam butik tersebut.
Tanpa memedulikan keadaan sekitarnya, Aiden dan Gavin terus saja sibuk mencari. Memilih yang terbaik agar Isabel senang. Walau tak jarang, keduanya diselingi oleh perdebatan kecil yang semuanya selalu dimulai oleh Aiden.
Dua pria tampan sedang berbelanja bersama.
Itulah yang memenuhi isi kepala para kaum hawa yang sejak tadi memerhatikan gerak-gerik Gavin dan Aiden. Keduanya tak merasa canggung sama sekali. Seolah sudah terbiasa. Dan anehnya, para wanita-wanita itu semakin dibuat meleleh tak berdaya.
“Yang ini saja. Abel lebih suka dress yang simpel tapi elegan.” Gavin menunjuk sebuah gaun polos pendek sebatas lutut berwarna navy. Ia tahu Isabel tidak menyukai hiasan-hiasan yang terlalu berlebihan. Jadi pilihannya mungkin tepat.
“Oke. Kita ambil yang itu. Sama yang ini.” Ucap Aiden dan mengambil gaun yang Gavin tunjukkan. Juga yang berada di dekatnya.
“Sekarang kita pulang.”
“Yang ini juga. Itu juga cantik. Yang di sana juga—”
“Ambil satu, kita ke kasir terus pulang. Atau aku tidak akan mau menolongmu saat Abel marah.” Gavin menatap tajam Aiden sambil berucap mengancam. Juga menunjuk tumpukan gaun yang pria itu pegang agar meletakkannya kembali ke tempat semula.
Jika tidak segera dihentikan, Aiden bisa kebablasan dan malah membeli banyak.
“Cih! Aku tahu.” Aiden berdecih jengkal dan segera mengembalikan gaun-gaun yang telah diambilnya. Hingga menyisakan satu—yang tadi ditunjuk oleh Gavin.
“Bagus. Sekarang kita ke kasir.” Gavin tersenyum puas dan mengabaikan wajah kesal Aiden. Lalu berjalan bersama menuju tempat pembayaran.
Setiap kali bersama, Gavin harus dengan ekstra mengawasi Aiden. Apalagi ketika menemaninya pergi berbelanja. Lengah sedikit saja, maka mereka akan membawa pulang puluhan tas belanjaan.
***
Setibanya di rumah, Aiden bergegas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam. Meninggalkan Gavin yang menyusul di belakang.
“Sayang, aku pulang.” Ucap Aiden sedikit berteriak.
“Ayah!” Kenzo yang sedang bermain bersama Isabel di ruang tengah, dengan cepat berlari menghampiri Aiden. Memeluknya erat dan juga mengecup kedua pipinya.
Isabel yang melihatnya sontak tersenyum senang. Sedetik kemudian, Aiden telah berdiri di hadapannya.
“Untukmu.” Aiden segera menyodorkan sebuket bunga berwarna pink pada Isabel lalu mengecup sekilas bibirnya. Disusul dengan paper bag putih berisikan gaun yang tadi dibelinya bersama Gavin.
“Makasih.” Isabel berujar senang seraya menerima buket bunga tersebut.
Setiap kali pulang bekerja, Aiden tidak pernah lupa membawakan sesuatu untuknya dan juga Kenzo. Hal yang tentu saja membuat mereka berdua merasa sangat bahagia.
“Kamu suka?” Tanya Aiden. Pelukan penuh cinta telah diberikannya pada Isabel.
“Tentu saja.” Balas Isabel senang. Lalu balas mengecup bibir Aiden lama.
“Ayah, hadiah untukku mana?” Kenzo yang sedari tadi menunggu, akhirnya membuka suara saat Aiden masih belum juga memberikan apa-apa padanya.
“Ken, yang ini untukmu.” Gavin yang baru saja tiba di ruang tengah, dengan cepat mengangkat satu tas belanjaan berisikan mainan baru untuk anak laki-laki itu yang dibeli olehnya. Bukan Aiden.
“Paman.”
“Gavin!”
Belum sempat Gavin membuka suara, seseorang sudah lebih dulu menubruk dan memeluk erat tubuhnya. Hingga membuatnya terhuyung sedikit ke belakang karena kaget.
“Aku kangen.” Ucap sosok itu.
Di depannya, Gavin mendapati seorang wanita berparas Asia—perpaduan Indonesia dan Jepang menatapnya lekat penuh rindu. Tak lupa dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.
“Kamu kapan pulang?” Tanya Gavin. Balas memeluk wanita itu.
“Paman, mainankuuuu.” Sela Kenzo sambil menarik-narik pelan tas mainannya.
“Oh, ini. Paman yang membelikanmu. Bukan ayah.”
“Okey. Terima kasih.” Kenzo mengangguk mengerti dan menyunggingkan senyum lebar saat menatap Gavin. Hingga membuat Aiden menatapnya tak terima.
“Tadi siang. Kamu nggak kangen sama aku?”
Bukannya menjawab, Gavin justru menatap wanita itu dalam tanpa ekspresi. Hal yang sontak saja membuatnya gugup bukan main.
“Nggak.” Goda Gavin. Tawa kecilnya terdengar kala wanita itu memukul pelan lengannya.
Keina Haley.
Teman semasa kecilnya bersama Isabel yang kini masih menjalin hubungan baik dengannya.
“Padahal tiga hari lagi aku harus berangkat.” Kei dengan sengaja memasang wajah sedih hingga membuat Gavin mencubit gemas hidungnya. Lantas mengajaknya bermain bersama Kenzo.
“Ke mana?” Kali ini Isabel yang membuka suara. Setelah beranjak sebentar ke kamar bersama Aiden, ia kembali lagi ke ruang tengah dengan membawa beberapa camilan sebelum jam makan malam tiba.
“Sydney.” Tanpa sepengetahuan Gavin, Kei kembali menatapnya lekat. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap pria yang dicintainya itu memperhatikan dirinya. Mengingat hampir satu minggu lamanya mereka tak bertemu.
“Berapa lama?” Gavin bertanya tanpa menatap Kei karena tengah sibuk bermain bersama Kenzo. Tapi ia tahu jika wanita itu sudah sejak tadi menatapnya dalam diam.
“Nggak tahu.” Jawab Kei sedikit kesal.
Pekerjaannya sebagai pramugari membuatnya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Ditambah Gavin yang seperti tak merindukannya sama sekali.
Isabel yang melihat wajah sedih Kei segera mendekati Gavin dan mencubit kecil pinggang pria itu. Sekaligus memberi isyarat agar menemaninya di sofa.
“Apa?” Gavin meringis sakit dan menatap Isabel tak mengerti. Cubitan wanita itu selalu berhasil membuatnya menyerah.
“Kei jauh-jauh datang ke sini cuma buat nemuin kamu.” Isabel memberikan tatapan mengancam dan membuat Gavin bergegas menghampiri Kei yang duduk di sofa seorang diri.
“Kamu ke sini sama siapa?” Tanya Gavin. Mencoba menarik perhatian Kei yang sedang bermain ponsel.
“Papa.” Kei menjawab tak acuh. Masih kesal karena Gavin mengabaikannya.
Harapannya mungkin terlalu tinggi karena mengharapkan pria itu merindukannya juga. Padahal sudah jelas kalau Gavin hanya menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih.
“Pulang nanti aku yang antar. Oke?”
Raut wajah Kei langsung berubah sumringah setelah mendengar penuturan Gavin.
Sesederhana itu.
Hanya dengan mengantarnya pulang, ia sudah merasa luar biasa bahagia.
“Serius?” Tanya Kei antusias.
“Iyaaaa. Bawel.” Gavin tertawa kecil sembari mengacak pelan rambut Kei. Hal yang justru membuat wanita itu merasakan desiran aneh di dalam dirinya semakin menggebu.
Ia mencintai Gavin dan berharap pria itu juga merasakan hal yang sama.
“Aku nggak bawel.” Teriak Kei tak terima dan ikut menyusul Isabel dan Aiden yang sudah lebih dulu melangkah menuju ruang makan bersama Kenzo. Sambil berusaha membalas Gavin dengan cara mencubitnya.