My All Is In You

My All Is In You
Kasmaran



Menurutmu ada berapa musim di Indonesia? Tiga? Lima? Coba ingat-ingat lagi. Dua bukan? Tapi tidak bagi Kei. Musimnya baru saja bertambah satu menjadi tiga; musim semi. Yah. Wanita itu baru saja merasakan bunga-bunganya bermekaran. Pun semilir hawa panas menyapa raganya. Kedekatannya bersama Gavin yang semakin hari semakin bertambah intens membuatnya bahagia bukan main. Pria itu tidak hanya mengantar-jemputnya. Atau membelikan apa pun yang ia mau. Tapi juga tak sungkan sama sekali menunjukkan perhatiannya di depan umum.


Seperti saat ini. Gavin yang sedang mengantarnya ke sebuh kafe untuk bertemu dengan rekan kerjanya, masih tetap setia menggenggam erat tangannya. Bahkan ketika ia hendak beranjak pergi, pria itu justru menatapnya dengan wajah memelas.


“Vin.” Kei menatap Gavin dan sekitarnya secara bergantian dengan wajah tersipu malu. Bukan apanya, pria itu terus saja melengket padanya. Seakan tak mau berpisah.


Diwaktu yang sama, Naura dan beberapa temannya yang lain menatap kedua insan itu dengan wajah menggoda. Tapi beda halnya dengan Adnan. Pria berkulit sawo matang itu hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. Jelas jika ia tak menyukai kedekatan Kei dan Gavin. Terbukti dari tatapan matanya yang mengandung kebencian.


Naura yang melihat hanya menggeleng tak peduli. Sampai dunia kiamat pun Kei tidak akan pernah tertarik padanya.


Menyerah lebih baik, pikir Naura


“Oke. Kamu boleh masuk.” Gavin dengan terpaksa juga sedikit tidak rela melepaskan genggamannya pada Kei. Dari arah luar, ia bisa melihat secara jelas kalau Adnan sudah sedari tadi menatapnya tajam. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Gavin balas menatapnya tajam diiringi seringaian kecil pada sudut bibirnya.


Biar tahu rasa, batinnya.


“Hati-hati di jalan.” Kei tersenyum kecil seraya menatap lekat Gavin yang masih belum juga beranjak dari posisinya. Pria itu masih berdiri mematung tanpa suara. Jika saja yang saat ini berada di hadapannya adalah seorang anak kecil, ia mungkin tak akan segan mencubit kedua pipinya karena gemas.


“Gavin, aku masuk dul—” Tanpa Kei duga, Gavin secara tiba-tiba menarik kuat tangannya hingga membuat dirinya berada di dalam pelukan pria itu. Tepat di depan pintu kafe. Lengkap dengan pengunjung yang masih begitu ramai.


Wajah Kei perlahan berubah memerah ketika merasakan dada bidang Gavin yang tengah memeluknya. Kuat dan nyaman, pikir Kei. Jika saja mereka berdua sedang tidak berada di tempat ramai, ia mungkin tidak akan berpikir dua kali untuk menyentuhnya. Kapan lagi ia punya kesempatan emas seperti sekarang ini.


“Telfon aku kalau kamu mau pulang. Biar aku jemput.” Bisik Gavin seusai melepaskan pelukannya. Senyuman kecilnya merekah kala mendapati wajah malu Kei. Wanita itu bahkan tak berani menatapnya dan hanya menunduk.


“Kei.” Panggil Gavin lembut. Ia merasa diacuhkan karena wanita itu tidak menjawab ucapannya


“Oke.” Balas Kei cepat lantas berjalan memasuki kafe. Meninggalkan Gavin yang terkekeh geli melihat tingkah lucunya.


Masih dari arah luar, Gavin kembali menatap Adnan yang juga tengah menatapnya. Keduanya saling melempar pandangan tajam. Bedanya, Gavin justru tersenyum meremehkan. Seolah mengejek pria itu karena telah kalah telak darinya.


***


“Sayang, itu memang bukan siapa-siapa.” Aiden kembali meyakinkan Isabel perihal nomor asing yang sejak beberapa hari lalu terus menghubunginya. Menjelaskan pada wanita itu kalau dirinya berkata jujur.


“Mana mungkin. Kita berdua nggak pernah mengajirnya untuk berbohong.” Aiden menatap Isabel lekat dengan ekspresi memohon. Meminta wanita itu agar berhenti bertanya dan membiarkannya beristrirahat.


Isabel bergeming. Kepalanya menggeleng pelan pertanda tidak setuju. Suaminya pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


“Tapi nyatanya justru kamu yang berbohong. Aku nggak tuli, Aiden. Jelas-jelas aku tadi mendengar suara seorang wanita ketika Kenzo secara tidak sengaja mengangkatnya.” Isabel memicingkan mata dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia butuh penjalasan. Sekarang! Bukan besok, lusa atau nanti.


Aiden hanya bisa menghela napas panjang mendengar penuturan istrinya. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. Tak peduli jika harus berbohong seklipun, demi keluarga kecilnya ia rela melakukannya.


“Sweetheart.” Panggilan lembut Aiden masih tidak mampu menggoyahkan pertahanan Isabel. Dengan terpaksa, ia harus mengambil cara lain.


“Aiden!” Isabel terperanjat kaget ketika Aiden tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya yang sedari tadi berdiri di dekat tempat tidur. Pria itu menatapnya lekat penuh cinta. Lantas mendaratkan kecupan mesra pada kening, kedua pipi, dagu dan terakhir bibirnya.


“Please, percaya sama aku.” Mohon Aiden. Ia bingung harus melakukan cara apalagi agar Isabel tetap percaya padanya.


Isabel tidak punya pilihan lain. Ia merasa kasihan dan tak tega melihat wajah memelas suaminya. Tidak peduli apa pun yang terjadi, ia harus tetap percaya pada Aiden. Pada pria yang telah membuat janji sakral dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan demi dirinya.


“Aku akan selalu percaya.” Isabel berbisik pelan seraya mengalungkan sebelah tangannya pada leher Aiden, sedangkan yang satunya lagi memegang pipi pria itu. Keduanya bertatapan dalam. Lantas menautkan bibir secara perlahan.


Isabel membiarkan dirinya terbuai akan setiap kenikmatan yang Aiden berikan. Setelah membaringkannya dengan sangat lembut ke atas kasur, pria itu juga masih belum beranjak dari atas tubuhnya. Aiden masih menikmati setiap kecupan pada bibirnya secara bergantian.


Dalam benaknya, Aiden sangat bersyukur karena akhirnya mampu meluluhkan hati istrinya. Tak bisa dipungkiri, ada perasaan bersalah yang menyusupi hatinya karena telah berbohong pada Isabel. Hal yang baru pertama kali dilakukannya bahkan sebelum mereka menikah.


“Pelan-pelan, sayang.” Isabel tersenyum geli ketika Aiden memainkan bagian dalam mulutnya secara tak sabaran. Seolah tak bisa melakukannya lagi. Padahal ia tidak akan ke mana-mana. Ia akan tetap berada di sisi pria itu. Mecintainya sepenuh hati.


Aiden menggeleng singkat sebagai bentuk protes. Aksinya pada tubuh Isabel semakin tak terkendali. Pria itu menyentuh apa pun yang bisa dijangkau oleh tangannya, memainkan apa pun yang bisa masuk ke dalam mulutnya. Pun meninggalkan bekas kemerahan pada tempat yang hanya bisa dilihat olehnya. Ia yang akan melakukan semuanya. Isabel hanya perlu menikmati setiap sentuhannya.


Dalam benaknya, Aiden berharap Isabel melupakan semua hal yang berhubungan dengan nomor tak dikenal tersebut. Wanita itu hanya perlu mengingat kenikmatan yang mereka lakukan saat ini, pun kebahagiaan ketika menghabiskan waktu bersama Kenzo.


Sampai kapan pun, Isabel tidak boleh tahu kalau yang beberapa hari ini menghubunginya merupakan wanita yang berasal dari masala lalunya. Mantan tunangannya yang dulu lebih memilih pergi bersama pria lain dan meninggalkannya.


Jika bukan karena kehadiran Isabel, ia mungkin sudah lama hancur. Wanita itu membawa pelangi di dalam kehidupannya setelah sebelumnya hanya ditutupi oleh awan hitam.