My All Is In You

My All Is In You
Marah Tapi Rindu



“Nggak peka.” Gumam Kei ketika menatap layar ponselnya yang menyala. Sudah beberapa kali Gavin menghubunginya dan semuanya selalu berakhir dengan penolakan.


Jujur saja, ia masih merasa kesal. Pria itu lebih memilih menegur dan memarahi dirinya karena wanita pengganggu tak jelas itu.


Walau tak bisa dipungkiri jika terselip juga perasaan rindu di dalam dirinya pada Gavin.


“Siapa? Kok nggak diangkat?” Tanya teman Kei—Naura. Merasa heran karena tak biasa melihat Kei mengabaikan panggilan masuk di ponselnya.


“Nggak penting.” Kei menjawab tak acuh dan dengan cepat memasukkan benda persegi panjang tersebut ke dalam tas. Setelah mengubah modenya menjadi silent.


Biar tahu rasa, batin Kei puas.


“Yakin? Jangan-jangan itu dari si ‘Abang-nggak-peka-tapi-tetap-kusayang,’ lagi.” Goda Naura dan tergelak puas melihat Kei mendelik jengkel padanya.


Sebagai sesama pramugari, mereka berdua memang terkenal dekat. Bahkan seperti saudara. Dan setelah hampir dua tahun bekerja di tempat yang sama, Kei kerap kali menceritakan berbagai hal pada Naura. Pun sebaliknya. Jadi wajar saja kalau ia juga mengetahui sosok pria yang Kei sukai.


“Terserah. Aku lagi nggak pengen diganggu.” Kei yang malas membahas lebih jauh perihal telfon masuk tersebut, kembali memusatkan perhatiannya pada layar televisi. Ia sedang berada di kosan Naura dan tengah menikmati waktu liburnya dengan menonton film.


Mendadak, pikiran Kei menjadi tidak fokus. Bagaimana kalau Gavin masih menghubunginya? Bagaimana kalau pria itu ternyata ingin meminta maaf? Atau mengajaknya jalan—ARGH!


Kei yang merasa kesal karena terus saja membatin tak jelas secara tiba-tiba memukul kuat bantal di dekatnya. Sampai membuat Naura yang sedang fokus menonton berjengit kaget.


“Apaan sih?” Ketus Naura. Sepotong roti coklat telah berpindah ke dalam perutnya.


Kei tak menjawab dan langsung menyambar sebungkus keripik kentang di depannya. Memakannya tanpa perasaan hingga membuat Naura menggeleng tak percaya.


“Kalau sebentar ada yang datang trus nyariin aku, bilang aja nggak ada.” Setelah puas menandaskan sebungkus besar keripik kentang seorang diri, Kei beralih menyambar sebotol air mineral dingin dan meneguknya tak sabaran. Lalu memposisikan dirinya sebaik mungkin di atas tempat tidur sembari memejamkan mata.


“Hmm.” Naura bergumam pelan sebagai jawaban. Bersyukur karena Kei akhirnya memilih untuk tidur. Jika tidak, wanita itu pasti akan terus mengganggunya.


Naura tak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi satu hal yang diyakininya, penyebab memburuknya suasa hati Kei pasti ada hubungannya dengan Gavin; pria yang telah cukup lama menjadi cinta pertama wanita itu.


***


Gavin yang sejak awal sudah mengetahui keberadaan Kei, segera menyusulnya ketika jam kerja telah berakhir dan meninggalkan Aiden. Pria itu membawa mobil sendiri jadi ia tak perlu mengantarnya.


Dan di sinilah ia sekarang, berdiri di dekat pintu kosan Naura seraya bersandar pada tembok.


“Na, aku pulang yah.” Ucap Kei setelah membuka pintu dan ditanggapi dengan lambaian tangan oleh temannya itu karena masih mengantuk.


Begitu berada di luar, Kei kembali menatap layar ponselnya dan lagi-lagi menemukan nama Gavin tertera pada layarnya.


Pria itu masih belum menyerah rupanya.


“Nggak akan aku angkat.” Ketus Kei. Masih belum menyadari keberadaan Gavin di dekatnya.


“Masih marah?”


“Aa! Gavin!” Kei berteriak kaget seraya mengangkat tasnya. Hendak memukul sang pemilik suara sampai akhirnya wajah khawatir pria itu menghentikannya.


“Ayo. Aku antar kamu pulang.” Tanpa rasa ragu, Gavin segera menggenggam erat tangan Kei. Mengajak wanita itu melangkah menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh.


Kei bergeming. Bibirnya mengerucut kecil. Ditambah wajah yang tertekuk menggemaskan.


“Ngapain kamu di sini?” Tanya Kei tak bersahabat.


Gavin tersenyum. Gemas melihat tingkah teman masa kecilnya itu.


“Jemput kamu. Apalagi? Telfonku nggak diangkat-angkat. Aku khawatir, makanya langsung datang ke sini.” Gavin berujar lembut.


Merasa bersalah karena sudah menyakiti hati wanita itu.


Setelah menatapnya secara seksama, Kei baru tersadar kalau Gavin masih memakai setelan kerja lengkap. Demi dirinya, pria itu rela datang jauh-jauh karena kosan Naura berada di arah yang berlawanan dengan rumahnya.


“Sengaja nggak aku angkat. Takut dimarahin lagi.” Ucap Kei pelan. Kedua matanya balas menatap Gavin sedih.


Perasaan bersalah semakin menyusupi hati Gavin. Ia benar-benar tak bermaksud menyakiti Kei. Pria itu hanya tak ingin ucapan Kei di kafe waktu itu membuat teman kerjanya tersinggung dan akhirnya balas melayangkan kata-kata kasar.


“Maaf.” Gavin berujar tulus dengan ibu jari yang mengelus lembut pipi Kei.


“Nggak!” Tolak Kei tegas. Ia tak mungkin semudah itu memaafkan Gavin.


Pria itu masih harus membujuknya.


“Aku traktir makan malam gimana?” Tanya Gavin tanpa melepaskan genggaman tangannya.


“Di mana?” Kei balas melakukan hal yang sama. Sesekali, kedua bibirnya tersenyum kecil saat merasakan kehangatan pada tangannya.


Sejak kecil, genggaman tangan Gavin selalu membuatnya merasa nyaman. Sampai beranjak dewasa pun mereka tetap melakukannya.


Tapi ketika Gavin memiliki seorang kekasih, Kei akhirnya memilih mundur. Menjaga jarak agar tak dicap sebagai pengganggu. Walau tentu saja, hatinya di dalam sana berdenyut sakit.


“Terserah kamu.” Jawab Gavin. Keduanya telah sampai di depan mobil pria itu.


Kei terdiam dan berpikir sejenak. Jika disuruh memilih, ia jauh lebih ingin menghabiskan waktu bersama Gavin tanpa gangguan dari siapa pun. Di rumah misalnya.


“Oke, kita pulang.”


“Pulang? Kamu yakin?”


“Yakin. Tapi beliin aku es krim dulu.” Kei menatap Gavin sumringah sembari mengedip-ngedipkan kedua matanya. Hingga membuat pria itu tertawa kecil.


“Siaap.” Gavin berucap gemas sambil mengacak pelan rambut Kei. Hatinya menjadi lebih tenang setelah melihat wanita itu kembali ceria.


“Sama coklat. Keripik kentang juga boleh,” lanjut Kei ketika telah berada di dalam mobil.


“Iyaaaa.” Gavin kembali mencubit gemas pipi Kei dan tertawa lepas ketika wanita itu balas mencubit pelan tangannya.


Apa pun yang Kei mau pasti selalu Gavin berikan. Ia tak akan pernah sanggup menolak permintaan wanita itu.


Sama halnya ketika Kei mengatakan pulang. Pulang yang wanita itu maksud adalah ke rumahnya. Berhubung ia masih tinggal bersama orang tuanya. Pun dengan Kei.


Rumah mereka bertiga—Isabel, Kei dan juga dirinya berada di satu kompleks yang sama. Hanya terpisahkan oleh dua sampai tiga rumah.


Maka dari itulah mereka tumbuh besar bersama layaknya saudara. Ditambah kedua orang tua mereka yang juga sudah sangat dekat.


Tak jarang, ibunya mengatakan kalau ia menginginkan Kei sebagai menantunya.


“Tapi kamu nggak boleh nginap.” Ucap Gavin tanpa menatap Kei dan mulai melajukan mobilnya.


“Iya.” Kei menjawab singkat dan beralih menatap keluar jendela.


Sesering dan selama apa pun ia datang ke rumah Gavin, pria itu selalu melarangnya untuk menginap. Dengan alasan, ia tak ingin para tetangga mengatakan hal yang buruk tentangnya.


Gavin melindungi dirinya dengan caranya sendiri. Dan Kei merasa sangat bahagia akan hal itu.


Karena hal itu jugalah Kei merasa bingung. Siapa pun yang melihat pasti langsung tahu jika Gavin memperlakukannya dengan sangat istimewa. Tak jarang, ia justru salah mengartikannya.


Tak peduli sebanyak apa pun Kei meyakinkan dirinya sendiri, nyatanya, ia tetap memandang Gavin sebagai lawan jenis. Sebagai pria yang telah berhasil memikat hatinya.


Kei hanya bisa berdoa dan berharap agar suatu saat nanti, hubungannya dan Gavin berubah menjadi sesuatu yang lebih.


Dengan Gavin yang menatapnya sebagai seorang wanita dewasa, bukan lagi adik kecilnya.