My All Is In You

My All Is In You
Jatuh Cinta



Terkadang, orang yang baru saja merasakan yang namanya jatuh cinta, pasti akan selalu merasa bahagia, berbunga-bunga dan berbagai hal menyenangkan lainnya. Itu juga yang dirasakan Gavin saat ini. Jika biasanya ia akan bersikap dingin ketika berada di kantor, hal yang terjadi justru sebaliknya. Ia secara spontan membalas sapaan pegawai lainnya atau melepaskan begitu saja siapa pun yang membuat kesalahan.


Wajah dingin tak bersahabatnya akan menjadi pemandangan pertama yang orang lain lihat ketika ia menginjakkan kaki di dalam kantor berlantai tiga tersebut. Jangankan ucapan selamat pagi, kedua matanya pasti akan langsung menatap tajam pada setiap wanita yang berniat mendekatinya. Tapi setelah berstatus resmi sebagai kekasih Kei, tembok es yang selama ini menjadi perisainya perlahan mulai mencair. Wanita itu telah menghadirkan warna baru di dalam hidupnya. Membuatnya semakin yakin kalau dialah wanita yang tepat dan pantas untuk berada di sisinya.


“Kamu mau aku jemput sekarang?” Gavin masih setia berbicara dengan kekasihnya melalui sambungan telepon. Begitu jam makan siang tiba, ia dengan sigap menghubungi Kei dan menolak ajakan yang Aiden tawarkan.


“Dan membiarkanmu makan gaji buta?” Kei berdecak pelan seusai mendengar ucapan Gavin. Pria itu pasti ingin mencari kesempatan agar bisa pulang lebih awal dan menjadikan dirinya sebagai alasan.


“Jadi kamu pulang sama siapa? Sama Naura?” Entah apa yang sedang terjadi, Kei yang seharusnya kembali mendapat jadwal terbang hari ini mendadak dibatalkan. Wanita itu menolak berbicara lebih jauh melalui sambungan telepon karena khawatir ada yang menguping pembicaraan mereka.


Gavin tentu saja paham. Masalah internal perusahaan seharusnya menjadi rahasia ditangan para pegawai. Itu kalau mereka memang benar-benar loyal, kalau tidak, maka masalahnya akan lain lagi. Ia tahu betul jika Kei sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang pramugari. Walau masih sebatas pekerja kontrak, wanita itu tetap melakukannya dengan penuh ketulusan.


“Sama siapa lagi kalau bukan sama Naura? Memang kamu mau aku pulang sama yang lain?” goda Kei. Ia selalu merasa senang setiap kali kekasihnya melontarkan ucapan bernada cemburu. Kekasih? Memikirkannya saja sudah membuat wajahnya terasa panas.


Gavin memang bukan tipikal seorang pacar yang siap selama dua puluh empat jam penuh untuk menemani dan menuruti semua kemauannya. Tapi setiap kali ia membutuhkannya, pria itu pasti akan berada di sisinya. Seolah tahu apa yang diinginkannya. Tanpa meminta pun, Gavin kerap memberikan apa yang ia mau. Pria itu selalu punya cara sendiri untuk membahagiakannya.


“Tunggu. Biar aku yang jemput.” Gavin berucap penuh penekanan sekaligus memperingatkan Kei agar tidak pulang bersama pria lain. Sekalipun tahu kalau wanita itu hanya bercanda, rasa cemburunya tetap saja mendominasi. Ia hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanitanya.


“Iyaa, aku pulang sama Naura. Puas sayang?” balas Kei. Kedua bibirnya kembali mengukir senyum indah. Berbicara melalui sambungan telepon justru membuatnya gugup dan terus mengoceh. Sementara saat bertemu, ia lebih banyak diam dan menatap wajah Gavin.


“Nanti aku jemput di kosan Naura. Kita pulang sama-sama.”


“Iya.” Kei mengangguk sekilas walau tahu Gavin tidak bisa melihatnya. Bukannya merasa tertekan, ia justru bahagia akan sikap posesif yang pria itu tunjukkan. Lagi pula, semuanya masih dalam tahap kewajaran. Menguncinya selama berhari-hari di dalam kamar pun juga tak masalah, asalkan berdua.


Kei tanpa sadar terkekeh geli dan membuat Gavin yang masih terhubung dengannya mengernyitkan dahi. Kekasihnya pasti sedang memikirkan hal aneh.


“Aiden sebentar lagi kembali. Tunggu aku di tempat Naura, jangan ke mana-mana.” Titah Gavin. Bibirnya mengulum senyum kecil ketika membayangkan wajah Kei.


“Siap bos.” balas Kei.


“Oke, bye.”


“Bye—Eh, tunggu. Gavin sayang, kamu nggak berniat ngasih aku ciuman perpisahan?” goda Kei. Ia ingin tahu seperti apa reaksi pria itu.


Gavin yang mendengarnya tak mampu menutupi keterkejutannya. Disaat-saat seperti ini Kei malah dengan berani menggodanya. Tak bisa dibiarkan.


“Nanti. Kalau kita ketemu.” ucap Gavin lalu memutuskan sambungan teleponnya. Dadanya bergemuruh karena terus saja membayangkan wajah Kei. Pun bibir ranum wanita itu ketika bersentuhan dengan miliknya.


Di tempatnya, Kei hanya terdiam dengan raut wajah bingung. Lantas berteriak tertahan saat mencerna maksud dari ucapan Gavin barusan.


“Mati aku.”  batin Kei. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ia harus menyiapkan diri. Bisa gawat jadinya kalau Gavin secara tiba-tiba menyerangnya.


***


“Apa sebenarnya maumu?!” Aiden menggeram marah dengan tangan terkepal kuat sembari menunggu balasan dari lawan bicaranya. Mobilnya sudah sejak lima belas menit yang lalu terparkir di sisi jalan yang tidak terlalu ramai. Waktu jam makan siangnya pun sudah selesai. Gavin pasti menunggunya di kantor.


“Kita berdua bertemu dan bicara empat mata.” Suara lembut seorang wanita menyapa indra pendengaran Aiden. Sayangnya, ia justru merasa muak.


“Untuk apa? Bukankah semuanya sudah lama berakhir?!” Aiden lagi-lagi berujar dingin. Sungguh, ia sudah sangat ingin mengakhiri pembicaraannya bersama wanita itu.


Mantan tunangannya—juga pemilik dari nomor tidak dikenal yang sering menghubunginya. Tak peduli sedang berada di rumah atau di kantor, wanita itu terus saja mengusiknya tanpa henti. Hingga membuatnya harus menonaktifkan ponsel ketika sedang bersama Isabel dan Kenzo.


“Aiden.” Panggil wanita itu.


Kemarahan Aiden semakin memuncak. Ia tak sudi mendengar wanita itu memanggil lembut namanya. Satu-satunya yang ia perbolehkan hanyalah Isabel.


“Aku sudah sangat bahagia dengan kehidupanku sekarang. Dengan kehadiran istri dan juga anakku. Dan jujur, aku nggak butuh yang lainnya lagi. Termasuk dirimu.” Aiden berucap sinis. Ia tidak peduli jika telah menyakiti hati wanita itu. Hal yang dilakukannya jauh lebih parah lagi.


Veronica—mantan tunangannya dengan tega meninggalkann dirinya ketika pria lain menawarkan uang dalam jumlah yang lebih banyak. Bahkan ketika ia sedang terpuruk karena bisnis keluarganya berada diambang kebangkrutan, wanita itu justru membawa lari seluruh tabungannya.


“Tapi aku masih cinta sama kamu.” ucap Veronica manja.


“Bukannya kamu lebih cinta sama uang-uang sialan itu? Di mana kamu saat aku susah? Saat aku terpuruk?!”


“Aiden, dengar, aku—”


“Nggak! Nggak ada lagi yang perlu aku dengar darimu! Semuanya sudah lama berakhir. Bukan kamu yang menemaniku ketika susah tapi istriku dan sekarang, yang berhak menikmati semua kesuksesan juga limpahan kekayaanku hanya dia dan anakku!” Aiden berucap tegas agar Veronica sadar kalau dirinya tak lagi berarti apa-apa. Ia tidak bodoh untuk melupakan semua perlakuan menyakitkan wanita itu.


Veronica meninggalkan dirinya karena uang dan wanita itu kembali mengganggunya pasti karena hal yang sama pula.


Keluarganya jauh lebih berharga dari apa pun dan ia punya kewajiban untuk melindunginya.