
Dua puluh menit telah berlalu dan Kei masih saja menatap tanpa henti seluruh isi lemari pakaian tiga pintu miliknya. Ia masih bingung harus mengenakan apa sementara pesta reuni yang diadakan teman semasa kuliahnya dulu akan dimulai tiga puluh menit lagi. Seandainya bisa, ingin rasanya ia memakai piyama tidur, berpenampilan santai tanpa harus repot-repot memikirkan ini dan itu. Tapi membayangkan seperti apa tanggapan Gavin ketika melihatnya nanti, pun teman-temannya, keinginan indahnya tersebut harus ia kubur dalam-dalam. Jujur saja, Kei sebenarnya sangat malas untuk pergi, tapi karena menghargai perjuangan teman-temannya, ia jadi tak punya pilihan lain kecuali datang. Dengan satu syarat, Gavin harus menemaninya.
“Dress selutut atau jeans?” Kei bergumam pelan. Berbicara pada dirinya sendiri sembari menimang pakaian yang akan dipilihnya. Bukan karena kekurangan baju, isi di dalam lemari pakaiannya bahkan lebih dari kata cukup untuk membuatnya bebas memilih apa pun yang disukainya. Tapi karena sejak awal ia memang tidak berniat sama sekali, maka satu-satunya hal yang menarik perhatiannya hanyalah piyama tidur bergambar angry bird yang baru dibelinya kemarin.
Sembari menghela napas berat, Kei akhirnya menjatuhkan pilihan pada mini dress berwarna putih, outter warna pastel yang lengannya akan ia gulung sampai sebatas siku, sepatu hak setinggi lima senti yang juga berwarna senada. Seperti biasa, ia hanya akan membawa ponsel tanpa tas. Terlalu merepotkan menurutnya.
“Kei, Gavin udah datang ini.”
Kei tersentak kaget mendengar teriakan bundanya dari arah bawah dan bergegas mengganti bajunya. Wajahnya hanya akan ia poles dengan riasan senatural mungkin. Selain karena Gavin yang sudah lebih dulu memintanya agar tidak menarik banyak perhatian dari lawan jenis, ia juga hanya akan datang sebentar dan pergi. Menghabiskan waktu bersama kekasihnya jauh lebih menyenangkan.
“Kei.” Teriak bundanya sekali lagi. Kali ini dengan nada yang sedikit tidak sabaran.
“Iya, Bunda. Kei turun sekarang.” Setelah menatap dirinya sekali lagi di depan cermin, Kei berjalan pelan menuruni tangga lalu menuju ruang tamu. Menghampiri Gavin yang sejak tadi menunggunya sebelum kembali mendengar teriakan dari wanita yang telah melahirkannya itu.
“Vin.” Panggil Kei pelan. Di hadapannya, Gavin justru terdiam dengan kedua mata yang menatapnya lekat.
“Gavin sayang.” Panggil Kei sekali lagi.
Gavin yang sedari tadi terdiam akhrinya kembali mengedipkan mata seraya bangkit dari duduknya. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Hingga membuat Kei berpikir kalau pria itu mungkin saja tidak menyukai baju yang dipakainya.
“Nggak bagus yah?” tanya Kei. Ekspresi wajahnya berubah sedih.
“Apanya?” Gavin balas menatap Kei bingung. Sejak tadi, ia hanya terdiam dan tidak menunjukkan ekspresi apa pun karena terlalu sibuk mengagumi kecantikan kekasihnya. Sekaligus membuatnya sedikit khawatir.
“Baju sama make up aku.” Kei menatap Gavin penuh harap karena menginginkan pujian dari pria itu. Sebab, selama memilih pakaian tadi, yang terus berputar dipikirannya hanyalah reaksi yang akan Gavin berikan.
“Cantik. Kamunya.” Ucap Gavin jujur. Ia kembali menatap Kei intens sembari mendekatkan wajahnya. Berniat mengecup bibirnya yang telah dipoles lipstik tipis berwarna soft pink.
“Stop. Ada bunda di dalam.” Kei segera menghentikan pergerakan Gavin dengan cara menempelkan telapak tangannya pada bibir pria itu yang justru menjadi sasaran ciumannya. Tanpa melepaskan pandangan darinya, Gavin beralih menggenggam tangannya dan mendaratkan ciuman sekali lagi pada punggung tangannya.
Kei membulatkan mata tak percaya. Ia tak menyangka sama sekali kalau Gavin benar-benar berani sekalipun masih berada di dalam rumahnya. Walau tak bisa dipungkiri, ia pun juga merasa senang. Satu-satunya alasan ia tidak membiarkan pria itu mengecup bibirnya karena takut menginginkannya lagi dan lagi.
“Kalau nggak ada bunda?” goda Gavin. Sudut bibirnya mengukir senyum penuh arti.
“Nggak boleh juga. Ayo.” Kei dengan cepat menarik tangan Gavin menuju mobil pria itu yang terparkir rapi di depan pagar rumahnya. Satu-satunya cara yang bisa ia gunakan untuk mengalihkan kekasihnya itu sebelum menggodanya habis-habisan dan membuat wajahnya menjadi semerah udang rebus.
“Hm?” Belum sempat Kei menatap Gavin, pria itu sudah lebih dulu menyambar kedua bibirnya. Mengecup dan menyesapnya sebentar lalu menjauhkan diri lagi.
Kei hanya bisa terdiam. Tak menduga sama sekali akan serangan mendadak yang Gavin berikan. Ia bahkan yang baru saja tersadar jika masih berada di depan rumahnya segera menatap ke sekelilingnya lantas menghela napas lega. Beruntung jalanan sedang sepi.
“Gavin!”
Belum sempat Kei melayangkan protes, pria itu sudah kembali membungkam kedua bibirnya. Ia bisa merasakan secara jelas godaan Gavin pada permukaan bibirnya, memintanya untuk membuka mulut.
Kei menurut dengan patuh. Ia memberi akses pada Gavin untuk bertemu dan menyapa indra pengecapnya. Meninggalkan jejak basah yang telah bercampur menjadi satu dengan miliknya. Keduanya masih larut dalam ciuman panas tersebut, hingga suara deringan ponsel Kei menyadarkan mereka.
***
“Vin, stop!” Kei berucap tegas dan segera berbalik saat tahu Gavin terus mengikutinya. Padahal ia sudah meminta pria itu untuk menunggu di dalam mobil saja.
“Tapi aku nggak tenang.” jawab Gavin. Ekspresi wajahnya berubah kesal.
“Alasannya?”
“Karena mantan pacar sialanmu itu juga ada di dalam.” Ketus Gavin. Hatinya berubah uring-uringan saat tahu Kei akan bertemu dengan sosok dari masa lalunya. Walau mantan, mereka berdua tetap saja pernah bersama.
Selama diperjalanan tadi, Kei memang sempat memberitahunya kalau salah satu teman kuliah sekaligus mantan pacarnya dulu juga akan datang. Gavin tahu betul siapa yang wanita itu maksud setelah mendengar namanya. Sebab, dirinyalah yang menjadi saksi dari kandasnya hubungan mereka. Pun yang memergoki pria sialan itu berselingkuh.
“Aku hanya akan masuk ke dalam, nyetor muka terus pulang. Oke?” Kei berusaha meyakinkan Gavin agar tetap menunggunya di parkiran. Bukan karena tak suka pria itu menemaninya, ia hanya tak ingin kekasihnya menjadi pusat perhatian wanita lain di dalam sana. Jangan sampai!
“Sepuluh menit.” putus Gavin. Ia tak mau lagi melakukan tawar-menawar dengan Kei. Ia sangat berharap wanita itu tidak tinggal terlalu lama di dalam dan membuatnya menatap wajah pria yang telah menyakitinya.
“Oke!” seru Kei girang dan mengecup pipi kiri Gavin. Lalu melangkah santai meninggalkan pria itu.
Aman, batin Kei puas.
Gavin hanya bisa menatap cemas punggung Kei yang semakin menjauh lantas menghilang dari pandangannya. Ia tidak pernah punya niat sedikit pun untuk mengekang apalagi mengatur wanita itu. Semua hal yang dilakukannya tak pernah luput dari memikirkan kebahagiaannya. Walau sadar sempat membuat Kei terluka karena perlakuannya dulu, saat ini, yang dipikirkannya hanyalah cara untuk membuatnya tetap tersenyum.
Ia tak ingin menyakiti Kei. Apalagi sampai membuatnya meneteskan air mata. Hidupnya akan benar-benar hancur kalau wanita itu sampai pergi meninggalkannya. Belum lagi mami dan papinya yang akan mencekiknya hidup-hidup kalau ia sampai berani melakukannya.