
Kei masih tetap setia di kamar dan bersikukuh menolak bertemu dengan Gavin. Baginya, pria itu sudah kelewatan. Marah juga mendiaminya hanya karena hal sepele. Bahkan tak penting sama sekali untuk diperdebatkan. Tidak peduli sebanyak apa pun bundanya memanggil dari arah lantai satu, tubuhnya msih enggan bergerak.
“Kei! Sayang, Gavin datang untuk menemui.” Kei lupa sudah berapa kali bundanya memanggil. Yang pasti, jawabannya tetap satu, TIDAK!
“Suruh pulang! Aku capek!” teriak Kei. Sengaja mengencangkan volume suaranya agar Gavin bisa mendengarnya dengan jelas.
Biar tahu rasa, batinnya.
Di sisi lain, Gavin yang sejak tiga puluh menit tadi duduk di sofa ruang tamu hanya bisa menghela napas kasar. Kei akan sangat susah untuk dibujuk, menurut sebagian orang. Tapi tidak baginya. Ia selalu punya cara untuk meluluhkan hati wanita itu.
“Vin, kamu denger sendiri kan.” Bunda Kei kembali menatap iba pada Gavin. Tahu betul kalau anaknya dan pria itu pasti sedang bertengkar. Tapi karena tak ingin ikut campur, ia lebih memilih untuk diam dan tak banyak tanya.
“Nggak papa, Bunda. Biar aku yang bujukin.” Gavin berujar pasrah namun tetap pantang menyerah. Kalau bukan sekarang, maka hubangannya dan Kei akan terus renggang seperti sekarang.
“Oke, selamat berjuang.” Sebelum beranjak pergi, bunda Kei memeluk Gavin sekilas sembari memberikan semangat pada pria itu.
“Makasih, bunda. Hati-hati di jalan.”
Bunda Kei mengangguk pelan dan tersenyum kecil mendengar ucapan pria yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Baru kemarin rasanya ia melihat Kei dan Gavin mandi bersama dan sekarang, mereka berdua sudah beranjak dewasa. Bahkan terlihat seperti sepasang keasih.
“Kei….” Panggil Gavin. tepat setelah bunda Kei menghilang dari jarak pandangannya, ia segera memulai aksinya. Membujuk wanita yang menjadi penyebab ketidaktenangan hatinya.
“Pulang sana!” Kei lagi-lagi berteriak kesal. Heran mendapati pria menyebalkan itu masih berada di dalam rumahnya.
“Mau aku yang naik atau kamu yang turun ke sini?” ancam Gavin santai. Tahu betul kalau Kei tidak akan pernah membiarkannya masuk ke dalam kamarnya. Entah apa yang sedang disembunyikannya.
Kei berdecak pelan mendengar ancaman yang Gavin berikan. Pria itu benar-benar keras kepala. Kalau tahu akan jadi seperti ini, lebih baik ia menginap saja di kosan Naura.
Senyuman manis terukir di wajah tampan Gavin kala mendapati Kei dengan setengah tidak rela berjalan menuruni anak tangga. Posisinya yang tadi sedang berada di ruang tamu kini sudah berpindah ke dalam. Ia memang dengan sengaja menunggu Kei di bawah. Berjaga-jaga kalau wanita itu sampai melarikan diri lewat pintu belakang.
“Apa?” ketus Kei. Ia berjalan mendahului Gavin kembali ke ruang tamu. Bisa gawat kalau mereka berdua berada di dalam terlalu lama. Bisa-bisa jantungnya berhenti berfungsi secara normal.
“Masih marah?” Gavin bertanya dengan nada lembut seraya menatap lekat Kei dari arah samping yang masih belum mau menatapnya.
“Nggak.” Ucapan Kei berusan sontak membuat Gavin tersenyum simpul. Dilihat dari arah mana pun wajah memberengut serta kedua bibir mengerucut wanita itu sudah menjadi bukti kalau dirinya masih marah.
“Maafin aku.” Ucap Gavin tulus. Tatapannya masih belum beralih sedikit pun dari wajah Kei.
Kei terdiam. Jantungnya mendadak bergerak liar saat mendengar suara lembut Gavin. Pria itu mungkin sengaja meminta maaf hanya untuk membunuhnya.
Sial!
“Kei.”
Perlahan, Kei menoleh dan langsung disuguhkan oleh wajah mempesona pria itu. Demi apa pun, ingin rasanya ia menyentuhnya. Kedua mata, pipi, hidung, alis dan juga bibirnya. Ya Tuhan!
Kei tanpa sadar menggeleng pelan. Tidak! Ia tidak boleh sampai kelepasan. Gavin mungkin akan langsung menjauhinya ketika ia secara gamblang mengungkapkan perasaannya.
“Kamu… minta maaf?” Kei menatap Gavin tak percaya. Selama ini, setiap kali mereka bertengkar atau marahan, Gavin tidak pernah sekalipun mengucapkan kata maaf. Pria itu hanya akan datang menemui atau menjemputnya di tempat kerja. Mengajaknya makan, berbelanja pun membelikan segala sesuatu yang disukainya dan setelahnya, mereka berdua akan kembali seprti biasa. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
“Bukan itu. Kamu minta maaf karena kamu merasa bersalah kan?” Kei memicingkan kedua matanya pertanda curiga. Ia hanya ingin memastikan kalau Gavin benar-benar tulus. Bukan hanya sekadar ucapan kosong belaka.
“Iya. Aku sadar aku salah. Marah nggak jelas padahal kamu nggak ngelakuin apa-apa.” Gavin menatap Kei dengan wajah memelas. Berharap wanita itu mau memaafkannya. Dunianya benar-benar hancur kalau Kei sampai marah padanya lebih lama dari ini.
Kei menggigit pelan bibir bawahnya seraya menahan teriakannya. Demi apa pun, wajah Gavin saat ini hampir membuatnya terkena serangan jantung.
Tahan Kei, batinnya tak kuat.
Gavin semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tatapannya juga tak goyah sedikitpun.
“Oke. Aku maafin.” Ucap Kei pasrah. Ia tidak akan sanggup melihat wajah memelas Gavin. Apalagi tangannya yang masih digenggam erat olehnya.
Mendengar jawaban Kei barusan membuat Gavin bahagian bukan main. Sebelah tangannya yang bebas terangkat untuk mengelus pelan kepala wanita itu. Pun mengecup punggung tangan Kei yang sedari tadi digenggamnya.
Tanpa Gavin sadari, Kei yang melihat perbuatannya barusan langsung mematung dengan mata membulat tak percaya disertai mulut yang sedikit terbuka. Mungkin ia sedang bermimpi. Tapi ketika merasakan kedua bibir Gavin kembali menyentuh kulitnya, Kei sadar kalau semuanya nyata. Gavin benar-benar melakukannya.
“Vin….” Panggil Kei dengan suara sedikit bergetar. Semoga saja jantungnnya masih baik-baik saja di dalam sana.
“Hm?” balas Gavin lembut. Lengkap dengan senyum manisnya.
Kei menyerah. Mungkin sebentar lagi pasukan demam akan menghampirinya. Membuatnya lemah dan terbaring tak berdaya di atas tempat tidur karena serangan tak terduga dari pria itu.
Gavin yang melihat reaksi Kei hanya terkekeh geli. Ia tak pernah menyangka akan melihat secara langsung wajah semerah tomat wanuta itu. Cantik. Kei benar-benar cantik.
Aiden benar. Ia tidak bisa terus-terusan menutup mata dan berpura-pura tak tahu akan perasaan wanita itu. Sebelum semuanya terlambat, sebelum Kei memilih pergi dan berakhir di dalam pelukan orang lain, ia harus bersikap jujur.
Kei hanya akan dan boleh menjadi miliknya. Bukan yang lain.
***
“Aiden, stop!” Isabel kembali memperingati suaminya agar berhenti mengecupi setiap sisi wajahnya dan membiarkannya tertidur. Jam telah menunjukkan angka dua belas malam dan pria itu masih terlihat semangat. Berbanding terbalik dengannya yang hampir tidak bisa membuka mata lagi.
Aiden tak peduli. Kali ini kedua bibirnya berpindah ke leher Isabel. Mengecup dan meninggalkan jejak basah juga tanda kemerahan di sana. Tepat di bawah helaian rambutnya.
Isabel hanya bisa terdiam sembari memejamkan mata. Ia tak punya pilihan selain membiarkan Aiden melancarkan aksinya. Suaminya sudah terlanjur tidak bisa dihentikan.
Aiden yang semula sibuk bermain pada leher istrinya, kini berpindah ke bagian dada dengan gerakan yang semakin liar. Seluruh kancing baju tidur Isabel telah terbuka dan menampilkan kedua dadanya yang tidak tertutupi oleh sehelai benang pun. Mulut dan tangannya sama-sama berkerja. Menjamah setiap inci tubuh istrinya yang tidak pernah gagal membuatnya hilang kendali.
“Sweetheart.” Bisik Aiden. Gigitan kecil ia daratkan pada daun telinga istrinya.
Isabel kembali memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan yang Aiden berikan. Permainannya belum selesai. Setelah merasa puas pada tubuh bagian atasnya, pria itu mulai meraba-raba tubuh bagian bawahnya. Mencari tempat yang selama ini menjadi pusat ekstasi mereka berdua.
Isabel semakain larut dan terbuai akan permainan memabukkan yang Aiden suguhkan. Pria itu bukan hanya mencintainya, tapi juga menjadikannya ratu.
“Isabel, my sweetheart.” Aiden kembali membungkan bibir istrinya dengan kenikmatan yang masih menjalari seluruh tubuhnya. Pinggulnya terus bergerak, seakan belum mau menyerah. Tanpa peduli jika masih ada hari esok, keduanya tetap larut akan kenikmatan tanpa batas tersebut.