
Embusan angin serta deburan ombak kecil menjadi pemandangan di tempat yang saat ini Kei dan Gavin singgahi setelah sebelumnya membeli es krim. Keduanya masih betah berada di dalam mobil, menikmati suasana malam pantai yang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasangan yang duduk sambil berpelukan di atas motor juga pedagang yang melayani pembeli. Di sebelahnya, Kei masih menikmati es krim vanila miliknya. Sesekali, kedua matanya menatap lurus ke depan, pada hamparan air laut yang terbentang luas.
“Vin.” Kei menyodorkan es krimnya pada Gavin yang masih tersisa setengah dan diterima dengan senang hati olehnya. Pria itu mendaratkan satu gigitan kecil tepat pada bekas gigitannya tanpa rasa jijik sama sekali.
Semburat merah perlahan menghiasi kedua pipi Kei. Ia merasakan wajahnya tiba-tiba memanas. Ini bahkan bukan kali pertama Gavin melakukannya. Tapi jantungnya justru berdebar kencang di dalam sana.
“Kei.” Panggil Gavin lembut. Ia menatap lekat kedua mata wanita itu.
Kei tanpa sadar memasukkan gigitan terakhir es krim tersebut ke dalam mulutnya, mengunyah dan menelannya cepat. Lantas balas menatap Gavin. Tubuhnya panas-dingin. Padahal pria itu sama sekali tidak melakukan apa pun padanya.
Tampan.
Satu kata yang selalu terlintas di dalam hati dan benaknya. Kei tidak ingin bersikap munafik dengan mengatakan ia tertarik pada Gavin bukan karena fisiknya. Dilihat dari sisi dan sudut mana pun ia tidak menemukan satu celah pun pada wajah sempurna yang dimilikinya. Tubuh tinggi dan sedikit atletis, kulit kuning langsat, hidung mancung yang dipahat rapi tanpa cacat serta sepasang mata elang yang selalu menatapnya lembut.
Tuhan mungkin terlalu menyayangi pria itu hingga memberikan semua keindahan padanya. Walau tetap saja, yang namanya manusia pasti punya kekurangan dan bagi Kei, kekurangan Gavin hanya satu; tidak peka. Atau mungkin saja pria itu dengan sengaja mengabaikan semua sinyal cintanya hingga membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
“Kamu mau apa?!” Kei berucap panik saat mendapati Gavin menutup rapat kaca mobilnya yang sedari tadi terbuka. Hanya ada mereka dan satu pasangan kekasih lagi. Itu pun posisinya berada cukup jauh.
“Memangnya kamu pikir aku mau apa?” goda Gavin. Seringaian kecil tercetak pada sudut bibirnya.
Kei yang melihatnya sontak memelototkan matanya, berniat menakuti Gavin namun justru ditanggapi dengan tawa kecil.
“Gavin!” ucap Kei kesal. Ia merasa malu karena sempat berpikiran aneh. Setelah dipikir-pikir lagi, Gavin tidak akan mungkin menyakitinya, apalagi sampai melakukan sesuatu yang buruk padanya.
“Iyaa.” balas Gavin lembut. Sebelah tangan Kei yang sedari tadi digenggamnya telah menempel sempurna pada kedua bibirnya. Ia mengecup punggung tangan wanita itu lama dan dalam.
Kedua mata Gavin yang semula tertutup, kini perlahan terbuka dan mengunci tatapan Kei. Wanita itu harus tahu kalau ia melakukannya dengan sepenuh hati. Bukan karena dorongan sesaat.
Kei tidak bisa melarikan diri lagi. Ia jatuh sejatuh-jatuhnya di dalam pesona pria itu. Gavin memang terlampau hebat mengobrak-abrik perasaannya. Setelah sebelumnya hampir membuatnya ingin menyerah, sekarang, pria itu justru memperlakukannya seperti putri.
“Aku sayang sama kamu.” Gavin berucap penuh kesungguhan tanpa melepaskan tatapannya. Kei harus tahu kalau ucapannya barusan tidak main-main. Ia benar-benar menyayanginya sebagai wanita.
Kei terdiam. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat tersebut terlontar dari mulut Gavin. Selama ini ia hanya bisa berharap tanpa pasti dan mengira akan selamanya mencintai secara sepihak. Namun nyatanya, pria itu-benar-benar menyatakan perasaannya. Dengan caranya sendiri, tanpa bunga, coklat atau kejutan lainnya.
“Jadi?” Pertanyaan polos Kei barusan berhasil membuat Gavin tergelak. Pria itu menggeleng tak percaya disela-sela tawanya. Bagaimana mungkin Kei menanggapi pernyataan cintanya hanya dengan pertanyaan polos tersebut. Disaat dirinya sedang serius dan mengharapkan jawaban darinya, wanita itu justru bersikap sebaliknya.
“Gavin! Aku serius. Jadi ini gimana?” Kei menatap Gavin kesal ketika pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti tertawa. Ia memang bingung. Terlebih sikap Gavin yang terlihat biasa-biasa saja.
“Yah nggak gimana-gimana. Pokoknya aku sayang sama kamu.” Gavin mengelus pelan pipi kanan Kei seraya tersenyum kecil. Wanita itu tidak bodoh untuk mengerti maksud dari ucapannya barusan.
“Jadi kita… jadi?” Kei kembali memastikan ucapan Gavin tadi agar tidak salah sangka. Bukannya menjawab, pria itu justru mendekat dan mengecup keningnya penuh sayang.
Hening sesaat.
“Kei…. Babe… hellooo.” Panggil Gavin ketika mendapati Kei hanya terdiam seraya menatapnya seperti orang linglung.
Kei yang akhirnya kembali tersadar sontak menunduk dengan wajah merah melebihi tomat. Dan apa tadi kata Gavin? Babe? Oh Tuhan, ini semua nyata. Pria itu benar-benar….
“Vin, kita pulang sekarang.” Perintah Kei. Ia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia membutuhkan kamarnya agar bisa berteriak sepuasnya. Melampiaskan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.
“Ke mana? Rumah bunda atau rumah mami?” Gavin lagi-lagi melontarkan pertanyaan menggoda sembari menyalakan mesin mobilnya. Dan tawanya kembali terdengar kala melihat wajah tersipu malu wanita yang dicintainya itu.
Kei berdecak kesal dan menatap Gavin tajam. Ingin rasanya ia menjawab ‘rumah kita,’ tapi memikirkan pria itu yang akan kembali menggodanya habis-habisan, maka diam adalah jawaban yang paling tepat.
***
“Biar aku yang menggendongnya.”
Kenzo kembali memeluk erat leher Aiden ketika mendengar ucapan pelan Isabel. Ia menolak berpisah dari ayahnya.
Isabel yang melihat sikap manja anaknya hanya tersenyum simpul dan mengelus lembut punggungnya. Setelah insiden pembentakan Aiden waktu itu, Kenzo menolak untuk bertemu dengannya, menatapnya saja enggan. Setiap kali mendengar suara ayahnya, anak laki-lakinya itu pasti akan berlari masuk ke kamarnya, menutup pintu dan berpura-pura tidur.
Aiden yang melihat sikap Kenzo tentu saja merasa sedih dan menyesal. Atas bujukan dari Isabel, putranya itu akhirnya mau memeluknya lagi seusai menerima es krim coklat pemberiannya sebagai permintaan maaf.
“Dia pasti merindukanmu.” Bisik Isabel. Ia mengecup singkat kedua pipi Kenzo yang baru saja tertidur.
“Aku juga merindukanmu.” Balas Aiden. Sebelah matanya mengedip penuh arti.
Isabel yang melihatnya sontak tertawa kecil. Ia paham betul akan maksud ucapan suaminya. Aiden harus rela tidur seorang diri karena Kenzo meminta ditemani olehnya.
“Jadi malam ini?” Aiden menatap Isabel penuh harap. Penantian panjangnya berakhir sudah. Malam ini, mereka berdua bisa menghabiskan waktu bersama.
“Ayah….” Ucap Kenzo disela-sela tidur lelapnya.
Aiden dan Isabel yang mendengarnya saling melemparkan pandangan. Tak lama berselang, raut wajah Aiden berubah lesu. Malam ini, gilirannya yang harus menemani Kenzo tidur.
“Belum saatnya.” Isabel tertawa kecil melihat ekspresi wajah suaminya. Setidaknya, pria itu masih harus menahan diri lagi.
Aiden yang tidak terima akan perbuatan istrinya secara perlahan mendekatkan diri dan sedikit menunduk,
“Kita masih bisa melakukannya. Di lantai, misalnya.” Bisik Aiden.
“Aiden!” Isabel berucap tertahan dengan wajah memerah. Namun belum sempat ia mengajukan protes, Aiden sudah lebih dulu mengunci bibirnya. Memenjara dan memainkannya penuh kelembutan.