
Setelah memastikan Kenzo sudah benar-benar tertidur lelap, Aiden dengan tak sabaran menarik tangan Isabel menuju kamar mereka berdua dan membungkam bibirnya. Melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda ketika harus menahan diri di ruang makan tadi. Isabel tidak bisa lagi menjadikan Kenzo sebagai alasan. Wanita itu hanya boleh fokus pada dirinya, bukan yang lainnya.
“Aiden, stop.” Isabel berusaha kuat menahan tubuh suaminya agar tidak kembali menyerangnya. Ia bukannya keberatan, setidaknya, pria itu harus memberinya kesempatan untuk bernapas.
“Apalagi? Bukannya Kenzo sudah tidur?” protes Aiden. Kamar sudah dikunci, anaknya pun sudah bermimpi indah, lantas apalagi yang istrinya pikirkan?
“Bukan itu. Tapi aku mau membahas hal yang tadi.” Isabel menggenggam dan menarik tangan Aiden menuju tempat tidur. Meminta pria itu untuk duduk di sebelahnya.
“Soal menggambar itu? Aku nggak keberatan sama sekali.”
“Aiden!” Isabel kembali menghentikan Aiden yang sudah berniat menyerangnya. Jika bukan sekarang, maka mereka berdua tidak akan punya kesempatan untuk membahasnya lagi. Sebab ia tahu jika selama seminggu bahkan sebulan kedepan, suaminya akan sibuk mengerjakan proyek penting. Hingga melakukan perjalanan ke luar kota.
“Oke.” Aiden menghela napas pelan melihat tatapan memohon istrinya. Kalau sudah seperti ini, ia tidak akan sanggup menolak lagi. Kalau memang Isabel bersedia, mereka bisa melakukannya sekarang. Menggambar baby seperti yang Kenzo maksud bukan hal sulit baginya, bahkan termasuk hal yang disukainya. Tapi mungkin Isabel punya pemikiran berbeda. Untuk saat ini, ia hanya perlu mendengarkan wanita itu.
“Aiden, apa menurutmu sudah waktunya Kenzo punya adik?” Isabel menatap suaminya lekat. Ia tahu betul kalau Aiden akan menuruti apa saja yang diinginkannya. Termasuk perihal anak kedua.
“Bagaimana denganmu?” Aiden menggenggam erat kedua tangan Isabel dan balas menatapnya dalam. Jika yang wanita itu pertanyakan adalah pendapatnya, maka jawabannya ia kembalikan lagi pada Isabel. Namun jika yang Isabel pertanyakan adalah perihal persetujuannya, maka ia akan menyetujui apa pun itu selama istrinya bahagia.
“Kadang, kalau aku melihat Kenzo main sendiri, muncul pikiran sudah waktunya dia punya adik. Tapi di sisi lain, aku juga merasa kalau anak kita masih sangat membutuhkan perhatian dari kedua orangtuanya.” Isabel kembali teringat akan Kenzo yang kerap kali bermain sendiri. Sekalipun sering menemaninya, putranya pasti tetap membutuhkan teman yang seusia dengannya.
“Jadi?” Aiden sebenarnya bingung harus mengatakan apa karena semua keputusan ada pada istrinya.
“Aku juga butuh masukan darimu.” kesal Isabel. Ia juga membutuhkan pendapat dari Aiden karena bagaimana pun juga, mereka berdualah yang akan menjalaninya.
“Sayang, aku nggak masalah sama sekali kalau kamu mau punya anak kedua, ketiga dan seterusnya. Dilihat dari segi materi pun kita berdua sudah lebih dari cukup. Yang jadi masalahnya, apa kamu yakin bisa tetap seperhatian itu sama Kenzo?” Aiden berucap lembut dan berusaha sebisa mungkin meyakinkan istrinya untuk membuat pilihan yang tepat. Jujur saja, ia juga merindukan suara tangisan bayi di dalam rumahnya. Hanya saja, memikirkan kembali hal yang dilakukannya pada Kenzo waktu itu sudah sangat membuatnya menyesal. Ia tak ingin perhatiannya dan Isabel pada Kenzo teralihkan hingga membuat anak itu merasa tidak dibutuhkan lagi.
“Aku–Tapi apa kamu nggak cemburu lihat ibu-ibu yang lain hamil?” Isabel menatap Aiden cemas. Takut kalau jawaban yang pria itu berikan diluar dari ekspektasinya.
“Cemburu? Haha. Aku lebih cemburu kalau kamu ngobrol sama suami mereka.” Walau tahu apa yang dilakukan istrinya hanya sekadar interaksi antar tetangga, ia tetap saja tidak suka. Bagaimana kalau pria-pria beristri itu ternyata jatuh cinta pada Isabel? Atau mendekati Kenzo karena punya tujuan lain? Semuanya bisa saja terjadi.
“Aiden, please.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Tapi aku tahu apa yang kamu pikirkan.”
Isabel dan Aiden saling melempar pandangan malas lantas tertawa saat menyadari tingkah kekanakan mereka berdua.
Isabel sadar kalau ia sudah cukup bodoh karena sempat mengira Aiden menginginkannya seperti wanita lain di luar sana. Yang pria itu katakan memang benar. Materi yang mereka berdua miliki lebih dari cukup untuk menghidupi satu anak lagi, pun menyewa pengasuh untuknya. Tapi di dalam lubuk hatinya ia takut akan mengabaikan Kenzo dan membuat anak itu berpikir kalau adik yang diinginkannya ternyata merebut ayah dan bunda yang selama ini menyayanginya.
Ia tidak ingin menyakiti Kenzo walau hanya seujung kuku atau sekecil debu sekalipun. Sama seperti kata Aiden, ia pun sudah merasa sangat bahagia akan kehidupan mereka bertiga.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Isabel segera memeluk dan membenamkan wajahnya di dalam dekapan hangat Aiden. Hatinya sudah kembali merasa tenang. Ia tidak perlu memikirkan setiap hal yang dilihat pun didengarnya. Selama Aiden dan Kenzo berada di sisinya, ia tidak membutuhkan apa pun lagi.
Aiden balas memeluk Isabel dan mengecup lama keningnya. Lalu kembali membisikkan kalimat penuh godaan,
“Jadi menggambarnya?”
“Nggak jadi.” Jawab Isabel tapi dengan sengaja mendaratkan gigitan kecil pada dada bidang suaminya. Hingga membuat Aiden balas melakukan hal yang sama pada bahunya. Seolah tak mau kalah, ia lagi-lagi melakukan hal yang sama tapi kali ini pada lengan suaminya.
Aiden yang tak bisa menahan diri lebih lama lagi segera menarik tubuh Isabel dan membungkam bibirnya. Menyesapnya secara bergantian dan mendesaknya membuka mulut untuk menjelajah setiap bagian di dalamnya.
Isabel dengan senang hati melakukannya. Gigitan kecil pada bibir Aiden ia berikan sebagai sambutan hingga pria itu mengambil alih sepenuhnya.
Disela-sela kesibukannya, Aiden meminta Isabel untuk membuka diri padanya dan dijawab wanita itu dengan kedua kaki yang telah melingkar sempurna pada pinggangnya. Membuatnya semakin merasa tersiksa.
“Isabel.” Aiden menatap istrinya sebentar dan kembali mengecup serta meninggalkan tanda kemerahan pada lehernya. Erangan kecil terdengar dari bibir pria itu karena pakaian masih sama-sama membungkus tubuh mereka berdua. Miliknya dibawah sana sudah sedari tadi meminta untuk dibebaskan.
Isabel dengan cepat melepaskan kedua kakinya pada pinggang Aiden untuk memenuhi permintaannya. Pria itu bahkan sudah berhasil menanggalkan seluruh pakaiannya ke lantai.
“Aiden….” Isabel memanggil lirih nama suaminya dengan kedua mata terpejam dan kepala yang sedikit mendongak ke atas kala pria itu menyatukan tubuh mereka.
Hangat dan menggairahkan.
Isabel bisa merasakan dengan jelas milik pria itu yang mengisi penuh miliknya, juga menyentuh titik sensitif di dalam tubuhnya yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh siapa pun. Hanya pria itu satu-satunya yang mampu menaklukkan hatinya dan membuatnya merasakan kenikmatan seperti ini.
“Sayang.” Suara parau Aiden yang memanggilnya namanya membuat Isabel menatapnya dalam. Pria itu dengan lembut menarik tubuhnya agar berada di atas pangkuannya.
Sensasi nikmat bercampur geli yang Isabel rasakan membuat otaknya berhenti berfungsi secara normal. Ia mengecup dan menggigit kuat bibir bawah Aiden hingga membuat pria itu semakin menambah intensitas gerakannya. Juga menyentuh titik sensitifnya tanpa henti.
Pria itu memanjakannya dengan cara yang tidak biasa hingga membuatnya sulit untuk melepaskan diri.