
Dihari minggu seperti sekarang ini, Aiden pasti akan bangun pagi-pagi buta guna membuatkan sarapan untuk istri dan anaknya. Selain ahli dalam urusan pekerjaan, ia juga terbilang handal memasak pun membersihkan rumah. Tak jarang pula dirinya yang membantu Isabel di dapur ketika asisten rumah tangga mereka sedang libur.
“Sayang, bangun.” Bisik Aiden lembut di telinga istrinya. Lengkap dengan apron hitam yang masih melekat di tubuh tingginya.
“Pagi.” Sapa Isabel dengan mata tertutup. Masih enggan untuk beranjak dari atas tempat tidur.
Aiden tersenyum simpul seraya mengelus lembut rambut istrinya. Sadar jika wanita itu sedang kelelahan. Semalam, ia dan Isabel harus menemani Kenzo bermain sampai larut. Anak itu bahkan menangis sejadi-jadinya ketika menyuruhnya masuk ke kamar untuk tidur.
“Morning kiss.” Aiden mendaratkan ciuman ringan pada bibir Isabel dan mendudukkan dirinya di samping wanita itu. Mengelus rambut dan pipinya secara bergantian. Lantas kembali mengecup bibirnya dengan cukup lama.
“Kenzo?” tanya Isabel. Wanita itu telah berubah posisi menghadap Aiden dan memeluk pinggangnya. Menghirup aroma wangi yang sangat disukainya.
“Masih tidur.” Sudah lebih dari lima kali Aiden membangunkan anak itu. Menggoyang-goyangkan kedua pipinya atau menyebutkan nama makanan kesukaannya. Tapi hasilnya nihil. Yang ia dapati justru dengkurannya yang semakin bertambah jelas.
Sama seperti bundanya, anak laki-lakinya itu akan menjadi sangat sulit untuk dibangunkan ketika sudah kelelahan. Maka dari itu, Aiden sebisa mungkin mengontrol dirinya agar tidak kelepasan dan membuat Isabel tertidur seharian penuh karena serangan darinya.
Sehari saja tidak mendengar suara wanita itu sudah hampir membuatnya gila.
“Nggak kamu bangunin?” kali ini Isabel mendongak menatap suaminya. Kedua matanya telah terbuka sempurna.
Aiden menggeleng tak berdaya sebagai jawaban.
“Kamu pawangnya, bukan aku. Ayo.” Goda Aiden. Sebelah tangannya dengan sigap menggenggam tangan Isabel dan mengajaknya bangkit dari atas tempat tidur menuju kamar mandi. Menemaninya mencuci muka dan menggosok gigi sebelum melangkah menuju kamar Kenzo yang berada tepat di depan kamar mereka.
Namun belum sempat Aiden dan Isabel berjalan keluar, anak laki-lakinya sudah berdiri di depan pintu kamar mereka yang terbuka. Lengkap dengan wajah menahan tangis.
“Kenzo, sayang, kamu kenapa?” Isabel segera menghapiri putra kecilnya dengan raut wajah khawatir. Takut kalau anak itu terjatuh dari tempat tidurnya.
“Bunda mau ninggalin aku sama Daddy kan?” tangis Kenzo pecah setelah menatap wajah Isabel yang berada di depannya.
“Bunda nggak akan mungkin ninggalin kamu sama Daddy sayang.” Isabel berucap lembut penuh kasih sayang seraya memeluk tubuh bergetar Kenzo. Putranya pasti baru saja bermimpi buruk.
Setelah merasa tangisan anaknya mereda, Isabel segera memberi isyarat pada suaminya yang sedari tadi fokus memperhatikan mereka berdua sambil tersenyum geli. Jarang-jarang ia mendapati putranya terbangun bahkan sampai menangis karena mimpi buruk.
“Whoaaa.” Teriak Kenzo kaget ketika Aiden secara tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
“Ayo, Daddy sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu.”
“Daddy nggak bohong?” raut wajah Kenzo perlahan berubah senang. Kedua mata polosnya bahkan berbinar indah.
“Tentu saja. Daddy mana pernah berbohong padamu.” Aiden mendaratkan kecupan singkat pada kening anaknya lalu menggenggam tangan istrinya. Mereka bertiga menuruni tangga sembari berbincang kecil. Membahas hal apa pun yang membuat anaknya merasa tenang kembali.
Isabel bersyukur karena Aidenlah yang menjadi suaminya. Pria itu bukan hanya menyanyanginya dan Kenzo dengan sangat, tapi juga menyayangi setiap orang terdekatnya. Ia berharap jika kebahagiaan mereka bertiga saat ini tidak akan pernah terusik.
***
“Di mana anak itu?” Sudah lebih dari lima belas menit Gavin menggerutu tidak jelas di depan bandara. Sosok yang sedari tadi ditunggunya belum muncul-muncul juga.
“Awas saja kalau dia sampai mengerjaiku.” Gavin kembali membuka layar ponselnya untuk menghubungi Kei yang menjadi tersangka akan kekesalannya saat ini. Wanita itu pasti sengaja mengabikan telfonnya.
“Gavin!” Teriakan nyaring seorang wanita bukan hanya sukses membuat Gavin menoleh, tapi juga beberapa pengunjung bandara yang berada di dekatnya.
Anak itu, batin Gavin tak percaya.
Kei yang melihat Gavin sudah menunggunya segera berlari kecil menghampiri pria itu. Juga menyeret paksa koper berukuran besar miliknya yang sempat menabrak koper milik orang lain.
“Hati-hati. Bukannya itu baru kamu beli?” protes Gavin. Koper berwarna lilac yang Kei bawa baru saja dibeliya sebulan yang lalu. Setelah koper yang sebelumnya rusak. Padahal wanita itu membelinya dengan harga yang tidak bisa dibilang murah.
“Nggak masalah. Kan ada kamu.” Kei berujar santai seraya menatap Gavin yang sedang memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil putih miliknya. Juga menunggu pria itu membukakan pintu untuknya. Layaknya seorang putri.
Gavin menggeleng tak percaya. Kei memang benar. Setiap kali melihat barang miliknya rusak, ia pasti akan langsung menggantinya dengan yang baru. Dengan atau tanpa persetujuan dari wanita itu.
“Kamu nggak mau ke mana-mana lagi kan? Mami dan yang lainnya udah nungguin.” Gavin segera menyalakan mesin mobilnya agar bisa secepat mungkin sampai di rumah. Sudah sejak tadinya maminya menelfon. Menanyakan perihal keberadaan dirinya yang belum juga pulang bersama Kei.
“Nggak.” Kei menatap Gavin sekilas dan kembali sibuk dengan ponselnya. Mengetik sesuatu yang entah apa.
“Siapa?” tanya Gavin penasaran.
“Adnan.” Jawaban Kei sukses membuat raut wajah Gavin berubah gelap. Jauh lebih baik ia jujur daripada berbohong. Lagipula, Adnan cuma menanyakan masalah pekerjaan.
“Aku nggak nyangka kalau kalian ternyata sudah sedekat itu. Sampai chattingan malahan.” Ucapan bernada dingin Gavin hanya ditanggapi Kei dengan sikap diam. Ia sedang malas berdebat. Tubuhnya lelah.
Padahal Kei berharap bisa melepas rindu setelah mereka berdua akhirnya bertemu..
“Hanya membahas masalah pekerjaan, Pak Gavin.” Balas Kei tak kalah dinginnya. Heran akan sikap pria itu yang selalu curiga padanya.
“Tapi aku yakin kalau si Adnan itu justru berharap lebih.”
Kei bisa merasakan nada bicara Gavin yang berubah marah. Ia tak merasa sedang melakukan hal aneh. Jadi untuk apa pria itu marah padanya?
“Nggak masalah. Toh aku juga lagi sendiri. Nggak deket atau menjalin hubungan dengan siapa-siapa.” Kei berujar tak acuh tanpa menatap Gavin. Hatinya ikut kesal.
“Kei!”
“Apa? Emang bener kan?”
“Tapi aku nggak suka!”
“Kenapa? Kenapa kamu nggak suka?” teriak Kei jengkel.
Gavin mendadak terdiam. Ia bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Ada banyak hal yang ingin dikatakannya pada Kei tapi ia menahannya sebisa mungkin.
“Kamu nggak mau ngejawab pertanyaan aku?” Kali ini Kei memposisikan tubuhnya menghadap Gavin. Menatap tajam pria itu yang sudah lebih dulu menepikan mobilnya.
Gavin masih terdiam. Sadar kalau dirinya sudah dikendalikan oleh amarahnya sendiri.
“Kei, aku nggak bermaksu—”
“Bermaksud apa? Emang bener kan. Sama kamu sekalipun aku juga nggak punya hubungan spesial apa-apa. Chattingan dengan Adnan atau sama seribu pria lain juga nggak masalah. Kamu nggak punya hak sedikit pun buat ngelarang aku.” Kei sebisa mungkin menahan tangisnya. Gavin kerap kali menunjukkan sikap yang membuatnya salah paham.
Jika memang sejak awal Gavin tidak punya niat untuk menjalin hubungan serius dengannya, seharusnya sejak awal pula pria itu memperlakukannya seperti orang asing. Bukannya malah menunjukkan perhatian atau rasa cemburu ketika ia membahas pria lain.
“Maaf.” Gavin berucap penuh penyesalan. Sadar kalau perbuatannya barusan sudah keterlaluan.
“Aku bener-bener nggak ngerti mau kamu apa, Vin.” Kei menggeleng putus asa menghadapi pria di dekatnya itu. Ia bingung harus berbuat apa lagi.
Semua sinyal pun isyarat akan rasa sukanya pada Gavin sudah Kei tampakkan secara jelas. Tapi sekali lagi, pria itu yang berpura-pura menutup mata dan tak melihatnya. Pikiran untuk menyerah sudah sering menghampirinya. Tapi Kei masih belum mau berhenti berjuang.
Tidak sebelum Gavin sendiri yang menyuruhnya untuk berhenti.
‘Cinta memang harus diperjuangkan, tapi ketika yang diperjuangkan tidak menghargai sama sekali, disitulah kamu harus rela melepaskan.’
Itulah yang Naura katakan padanya.
Apa ia harus benar-benar menyerah dan berhenti berjuang? Atau mungkin kesempatannya yang sejak awal memang tidak pernah ada.
Kei menghela napas kasar. Terserah Gavin saja. Ia akan mengikuti apa pun keinginan pria itu. Marahan juga tak masalah.