My All Is In You

My All Is In You
Siapa?



Ddrrtt… drrttt… drrttt….


Aiden yang mendapati ponselnya kembali bergetar lagi-lagi mengacuhkannya dan terus saja sibuk menemani Kenzo bermain. Berhubung hari ini hari minggu, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah bersama istri dan anak. Hal yang jauh lebih bermanfaat baginya daripada keluar dan mendapati pria lain menatap wanitanya mesum.


“Siapa?” tanya Isabel penasaran. Biasanya, Aiden pasti akan meminta izin untuk mengangkat telfon ketika mereka bertiga sedang menikmati waktu santai bersama. Tapi kali ini, pria itu terlihat jelas dengan sengaja mengabaikan panggilan yang masuk pada ponselnya.


“Nomor asing.” Aiden mengangkat kedua bahunya tak peduli. Ia paling malas menerima nomor tak dikenal. Selain karena sering ditawari asuransi, ia juga kerap mendapatkan tawaran pinjaman online. Buang-buang waktu, katanya.


“Mungkin dari salah satu rekan kerjamu.” Isabel beralih menatap penuh sayang anaknya yang sejak tadi memanggil-manggil namanya. Berniat untuk menunjukkan sesuatu.


“Bunda, coba lihat ini. Ayah yang mengajarinya.” Kenzo berucap penuh semangat sembari menunjukkan gambar ikan yang telah diberinya warna biru dan kuning. Anak laki-laki itu tampak sibuk menjelaskan. Memberitahu Isabel akan hal apa saja yang didapatinya dari Aiden.


“Benarkah? Tapi Bunda rasa gambarmu jauh lebih baik dari gambar Ayah.” Isabel kembali tersenyum senang dan mengelus sayang kepala anaknya. Kebahagiaan terbesar yang diberikan Tuhan setelah Aiden.


Senyuman di wajah Kenzo semakin bertambah lebar. Pujian yang senantiasa bundanya berikan selalu membuatnya bahagia dan semakin menyayanginya.


“Ayah, Bunda bilang gambarku jauh lebih ba—”


Aiden dengan cepat mengangkat tangannya ke atas ketika ponselnya kembali bergetar dan langsung mengangkatnya. Ia meminta Kenzo untuk diam sejenak. Tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya, pria itu secara perlahan membuka mulut. Menanyai sang pemilik nomor tak dikenal yang sedari tadi terus mengganggunya.


“Siapa?” ucap Aiden dingin. Hatinya mendadak kesal. Kalau tahu akan seperti ini, ia jauh lebih baik mematikan ponselnya.


“Hai….” Sapaan lembut nan manja sorang wanita dari seberang sana sukses membuat Aiden bungkam. Keningnya berkerut pertanda tak suka. Dengan sigap, ia segera beranjak pergi ke arah belakang. Menjauh dari istri serta anaknya.


“Ayah.” Kenzo menatap sedih kepergian ayahnya. Belum sempat ia membanggakan pujian yang Isabel berikan, pria itu sudah lebih dulu melangkah pergi. Bahkan terkesan mengabaikannya.


“Sebentar, sayang. Ayahmu sedang berbicara dengan temannya.” Isabel berucap lembut dann berusaha membuat anaknya mengerti. Walau jauh dari dalam lubuk hatinya ia juga merasa penasaran. Aiden bahkan beranjak pergi tanpa menatapnya.


Di waktu yang bersamaan tapi di tempat yang berbeda, tepatnya di dapur, Aiden masih tampak sibuk dengan lawan bicaranya. Anehnya, wajah pria itu terlihat merah padam dengan kedua rahang yang terkatup kuat.


“Aku sudah bahagia bersama istri dan anakku!” Aiden secara sepihak mematikan sambungan telfon tersebut sembari berusaha menormalkan ekspresi wajahnya. Isabel bisa curiga dan menanyainya banyak hal kalau sampai melihatnya seperti ini.


Setelah merasa cukup, Aiden perlahan beranjak menghapiri istri dan anaknya yang sejak tadi menunggu. Tak lupa dengan memasang senyum semanis mungkin. Ia tidak boleh merusak waktu kebersamaan mereka hanya karena hal tidak penting yang tadi sempat mengusiknya.


“Kenzo, Ayah datang.”  Aiden segera menghampiri anaknya dengan kedua tangan terbuka lebar. Memeluk lalu menggendongnya ke atas. Membuat gerakan memutar sekali lantas mengecup kedua pipinya gemas dan beralih mengecup sekilas bibir Isabel yang dibalas wanita itu dengan cubitan kecil di perutnya.


***


Sudah sejak tadi Kei menyuruh Gavin pulang namun pria itu masih tetap bergeming. Sehabis menikmati makan malam bersama di salah satu kafe langganannya, mereka berdua akhirnya memutuskan kembali ke rumah setelah sebelumnya singgah membeli beberapa es krim.


“Nggak.” Gavin berujar santai dengan tetap menggenggam erat tangan Kei. Mereka berdua bahkan masih berada di dalam mobil.


Kei bukannya dengan sengaja tetap tinggal. Tadi, ketika ia berniat untuk melangkah keluar, Gavin secara tiba-tiba menahannya. Memintanya tetap berada di mobil sampai es krim yang dimakannya habis.


“Tapi aku mau pulang. Capek.” Kei berucap manja dengan harapan Gavin mau melepaskannya. Sayangnya, pria itu justru semakin menguatkan genggaman tangannya. Bahkan menatapnya lebih dalam dari sebelumnya.


Tanpa Kei sadari, kedua pipinya bersemu merah mendapati tingkah tak biasa pria itu. Apalagi saat Gavin mengelus lembut sebelah pipinya. Hal yang sudah pasti sukses membuat jantungnya di dalam sana bekerja ekstra.


“Lima menit lagi.” Balas Gavin. Tatapan matanya semakin bertambah intens. Apalagi ketika ia secara tak sengaja menatap kedua bibir Kei yang sejak tadi masih saja sibuk mengulum es krim miliknya yang tinggal sedikit lagi.


Dengan kesadaran penuh, Gavin menelan ludahnya sendiri. Bibir ranum Kei seolah memanggilnya. Mengajaknya untuk mengecap jejak dingin serta manis yang tertinggal di sana. Dadanya bergemuruh. Baru kali ini Gavin merasakan dirinya dikuasai oleh hasrat tak tertahankan.


“Vin!” Kei yang sedari tadi sibuk menikmati es krimnya hingga gigitan terakhir, tersentak kaget ketika mendapati wajah Gavin yang berjarak sangat dekat darinya. Tatapan pria itu telah berhasil menguncinya. Membuatnya kesulitan bernapas hingga tanpa sadar memejamkan kedua mata.


Gavin yang mendapati sikap refleks nan lucu Kei sontak menyunggingkan seringaian kecil. Dengan mata yang juga ikut terpejam, ia menempelkan sebelah tangannya pada pipi Kei lalu mengecup lama keningnya. Membiarkan wanita itu merasakan sengatan panas yang baru saja diberikannya.


Kedua tangan Kei terkepal kuat. Napasnya tak menentu. Tindakan tak terduga Gavin sukses membuatnya kehilangan tenaga. Pria itu mungkin berniat membunuhnya dengan cara membuat jantungnya melonjak kegirangan lalu berhenti berdetak.


“Cepat masuk. Aku pergi kalau kamu sudah ada di dalam.” Bisik Gavin. Wajahnya sudah menjauh dari Kei.


Kei mengangguk patuh tanpa menatap Gavin dan bergerak secepat kilat keluar. Lantas berlari kecil menghampiri pagar rumahnya dengan membuka dan menutupnya sedikit kasar. Wanita itu menyandarkan punggungnya seraya menatap ke bawah. Menormalkan detak jantungnya yang masih memompa hebat di dalam sana.


Tepat setelah Kei mendengar deru mesin mobil Gavin perlahan menjauh, teriakan yang sejak tadi ditahannya akhirnya terdengar. Ia melompat kegirangan diiringi dengan teriakan tak percaya. Kedua pipinya bahkan sudah memerah karena menjadi sasaran cubitannya.


Aku nggak mimpi


Keningku!


Gavin benar-benar mengecupnya!


“Ya Tuhan! Aaaaa!” Kei sekali lagi berteriak guna melampiaskan kebahagiaannya. Ia harus mencatatnya! Hari ini harus memasuk ke dalam daftar penting dalam hidupnya agar tidak melupakannya.


Sembari tersenyum sumringah, Kei berlari-lari kecil memasuki rumahnya dengan sesekali bersenandung. Musim seminya telah tiba. Taman bunganya yang sejak dulu kosong, kini mulai ditumbuhi tunas.


Kei lagi-lagi tertawa senang seorang diri. Malam ini, ia mungkin tidak bisa tertidur lelap karena Tuhan sudah lebih dulu memberinya mimpi indah. Bahkan sebelum ia sempat memejamkan mata.