My All Is In You

My All Is In You
Berdua



Banyak yang bilang kalau cinta itu buta. Apa memang benar seperti itu? Nyatanya, ya. Setidaknya bagi sebagian orang, termasuk Kei. Jika disuruh untuk memilih antara pergi liburan gratis atau menghabiskan waktu bersama Gavin, maka pilihannya jatuh pada pilihan kedua. Alasannya? Liburan gratis ke seluruh penjuru dunia pun akan hambar rasanya kalau hanya seorang diri tapi jika memilih menghabiskan waktu bersama pria itu, maka otomatis mereka berdua bisa pergi ke mana pun. Memikirkan hal tersebut, Kei lagi-lagi tersenyum lebar seperti orang bodoh.


Di dekatnya, Naura yang sejak tadi mendapati tingkah aneh sahabatnya itu hanya menatapnya aneh bercampur iba. Mungkin saja tingkat kewarasan Kei sudah mulai sedikit goyah karena terlalu lama berharap. Sayang rasanya kalau wanita secantik dirinya gila karena cinta sepihak.


“Apa?” tanya Kei. Keningnya berkerut samar kala mendapati Naura terus menatapnya lekat dengan ekspresi wajah kasihan.


“Kei, kamu nggak gila kan?” Naura sontak memegang kedua bahu Kei yang sedang duduk di atas kasurnya. Wanita itu lagi-lagi menjadikan kosannya sebagai rumah singgah. Berhubung hari ini merupakan hari terakhir mereka libur, sahabatnya itu tiba-tiba saja datang dan mengatakan akan menginap sebelum kembali sibuk mencari uang.


“Gila apanya?” Kei menatap Naura tak mengerti.


“Trus kamu senyum-senyum sendiri karena apa?”


Senyum lebar Kei kembali terukir saat mendengar pertanyaan yang Naura lontarkan. Ingatannya kembali melayang pada pernyataan cinta secara tidak langsung Gavin, juga perlakuan tak terduga pria itu. Tanpa sadar, Kei langsung memegangi keningnya, tempat di mana pria itu menempelkan kedua bibirnya dengan penuh kelembutan.


“Kei!” teriak Naura. Mau tidak mau ia harus menyadarkan temannya sebelum terlambat. Masa depannya masih panjang.


Suara cempreng Naura berhasil membuat Kei kembali ke dunia nyata. Ia menatap wanita itu kesal lalu menyodorkan ponsel putihnya. Memamerkan fotonya bersama Gavin saat pergi ke pantai. Bahkan menjadikannya sebagai wallpaper.


Naura yang melihatnya langsung membulatkan mata tak percaya. Mungkinkah mereka berdua telah,


“Ini nyata?” Naura menatap Kei khawatir. Ia berharap gambar tersebut bukan merupakan hasil editannya.


“Menurutmu?” Kei mendelik tak terima dan mencebikkan bibirnya kesal. Ia tidak segila itu sampai harus mengedit fotonya bersama Gavin agar terlihat mesra. Sebelum pulang ke rumah, mereka berdua memang sempat mengambil gambar beberapa kali di dalam mobil. Itupun atas permintaan dari Gavin.


“Jadi kalian?” Naura lagi-lagi menatap Kei namun kali ini penuh haru. Temannya akhirnya berhasil. Perjuangan panjangnya akhirnya bertemu dengan tanda titik walau belum mencapai garis akhir a.k.a pernikahan.


“Iya. Puas?” Kei secara tiba-tiba menutupi wajahnya menggunakan bantal berbentuk love yang berada di dekatnya. Berniat menyembunyikan pipinya yang merona malu juga teriakan kecilnya. Perasaan bahagianya benar-benar sedang berada dilevel paling atas.


“Kalau begitu ayo.” Ajak Naura. Ia tidak lagi berada di atas tempat tidur. Pakaiannya sudah berganti dari yang sebelumnya memakai piyama tidur, kini berubah menjadi baju terusan lengan pendek sebatas betis berwarna navi.


“Ke mana?” Kei menatap temannya bingung. Ia bahkan tidak menyadari sama sekali pergerakan wanita itu.


“Shopping. Berhubung kalian berdua sudah resmi, berarti saatnya beliin aku tas.” Naura menarik tidak sabaran Kei yang masih enggan beranjak dari atas kasur bersprei biru miliknya.


“Apa hubungannya?” Kei menatap Naura tidak mengerti tapi tetap mengikuti kemauan wanita itu.


“Hubungannya? Itu karena selama ini aku telah berbaik hati menjadi buku diarimu.” Naura dengan cepat mengunci pintu kosannya dan kembali menarik tangan Kei menuju parkiran. Tempat di mana mobil merahnya berada. Ia sudah tak sabar. Hari ini, Kei harus menuruti setiap permintaannya. Wanita itu harus memuaskan hasrat berbelanjanya.


“Tapi aku nggak janji banyak.” Tolak Kei. Ia berpura-pura menatap isi dompetnya prihatin. Berharap Naura berubah pikiran dan hanya meminta ditraktir makan.


Naura yang melihatnya sontak tertawa sumbang. Ia jelas-jelas tahu uang Kei lebih banyak darinya. Isi di dompetnya memang tidak banyak, tapi ia bisa melihat jelas deretan kartu yang tersusun rapi di dalamnya. Beberapa diantaranya bahkan ada yang berwarna hitam. Kalau tidak salah, Kei pernah bilang itu pemberian dari orang tuanya.


“Haha, aku nggak bisa dibohongin.” Naura menggeleng pelan dan menatap Kei sekilas. Yang dibalas wanita itu dengan tawa kecil.


***


“Bukan urusanmu.” Ketus Gavin. Ia dengan cepat membalik ponselnya agar Aiden tidak lagi menanyainya banyak hal.


“Dingin sekali.” Sindir Aiden. Tak lama berselang tawa puasnya terdengar. Ucapannya waktu itu ternyata berhasil menyadarkan Gavin.


Gavin membalas Aiden dengan tatapan tajam penuh kejengkelan. Tidak bisakah pria itu tidak menggodanya dalam sehari? Seandainya bisa, ia mungkin akan sangat berterima kasih. Kedua telinganya selalu terasa panas setiap kali mendengar Aiden menertawainya.


“Sudah sampai mana? Biar kutebak, kalian pasti belum berciuman.” Ucapan Aiden sukses membuat Gavin hampir menyemburkan air putih yang baru saja diminumnya. Pria itu!


“Bagaimana denganmu? Isabel bilang kalian berdua tidur terpisah.” Balas Gavin jengkel. Bisa-bisanya pria itu menanyakan perihal ciuman padanya. Menatap kedua bibir Kei saja sudah membuatnya hampir lepas kendali.


“Semuanya sudah berakhir. Malam ini aku bisa—”


“Stop! Aku nggak berniat sama sekali mendengar ucapan mesummu.”


Aiden lagi-lagi tertawa puas melihat raut wajah kesal Gavin. Malam ini ia akhirnya bisa tidur lelap. Penantian panjangnya akan terbayarkan.


***


“Kamu nggak mau makan?”


Aiden menggeleng pelan dan semakin mengeratkan pelukannya pada Isabel. Sesampainya di rumah, ia segera melesat masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan menunggu Isabel di kamar yang sedang mengantar Kenzo pergi bermain ke rumah Lala. Selagi putranya sedang tidak berada di rumah, ia harus menggunakan kesempatan yang ada sebaik mungkin.


“Kangen.” Bisik Aiden. Ia mendaratkan gigitan-gigitan kecil pada leher Isabel. Pintu kamar telah dikuncinya, jadi semuanya aman. Kalaupun Kenzo tiba-tiba pulang, anak laki-laki itu tidak bisa menerobos masuk begitu saja.


“Tapi Kenzo—” Isabel menatap khawatir pintu kamarnya yang tertutup.


“Sayang, fokus sama aku.” Aiden tidak lagi memberi celah pada Isabel untuk berbicara karena telah lebih dulu memenjara kedua bibirnya. Membungkamnya dengan ciuman panas penuh hasrat.


Keduanya sibuk saling mengecap bibir satu sama lain. Dengan posisi yang masih sama-sama berdiri, Isabel menjadikan tubuh Aiden sebagai tumpuannya. Kedua kakinya sudah mulai terasa lemas. Ciuman Aiden semakin menuntut dan Isabel merasa sulit untuk mengimbanginya.


Disela-sela permainan lidahnya bersama Isabel, Aiden mengarahkan tangannya pada paha wanita itu dan mengelusnya secara perlahan. Dengan sengaja membuat gerakan menggoda agar istrinya semakin terbuai.


Isabel menyerah. Ia sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dalam satu kali gerakan, Aiden berhasil menggendong dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lantas kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.


“Boleh?” Aiden menatap Isabel penuh harap. Meminta izin terlebih dahulu pada wanita itu sebelum berbuat lebih.


Isabel mengangguk pelan dan membiarkan Aiden menanggalkan seluruh helaian kain yang masih dipakainya. Pun menciumi seluruh bagian tubuhnya. Hingga pria itu berhenti pada satu titik.


******* pelan serta ucapan lirih yang memanggil nama suaminya terdengar dari mulut Isabel kala Aiden menenggelamkan wajahnya pada kedua pahanya yang terbuka lebar. Isabel menikmati setiap sentuhan yang pria itu berikan. Juga lonjakan kenikmatan yang menyengat seluruh tubuhnya.