
Gavin tidak lagi ingat kapan terakhir kali ia pergi berkencan. Enam bulan yang lalu? Satu tahun? Atau mungkin dua tahun yang lalu? Ia benar-benar sudah lupa. Hal yang terakhir kali diingatnya adalah mantan pacarnya yang merupakan salah satu pegawai bank swasta. Itupun hanya dilalui dalam kurun waktu tiga minggu. Hebat bukan? Tentu saja. Ia memilih mengakhiri semuanya karena wanita yang berstatus sebagai pacarnya dulu terlalu banyak menuntut hal tak masuk akal padanya. Seperti; ia harus memberikannya hadiah seminggu sekali, atau mengucapkan kalimat cinta sebanyak mungkin. Lebih parahanya lagi, wanita itu memintanya untuk mengirim pesan setiap lima menit.
Bukannya semakin cinta, Gavin justru merasa tidak nyaman dan muak. Perasaannya bahkan berubah hambar. Padahal ia berharap jika wanita itulah yang menjadi pacar terakhirnya. Tapi sayang, takdir berkata lain. Tuhan ternyata punya rencana yang jauh lebih baik untuknya.
“Vin, mau sampai kapan kamu berdiri di depan cermin?”
“Gimana, Mi? Apa penampilanku sudah oke?” Gavin menatap wajah maminya melalui pantulan cermin. Kedua alisnya naik turun. Ditambah senyum lebar yang senantiasa menghiasi wajah tampannya.
“Sudah. Kamu mau ke mana? Kerja?” Senyuman yang sejak tadi terukir di bibir Gavin perlahan menghilang. Kerja? Yang benar saja. Maminya mungkin lupa kalau sekarang sudah menunjukkan angka tujuh malam, sedangkan jam kerjanya berakhir pukul setengah lima lebih.
“Makan malam.” Jawab Gavin. Ia memang dengan sengaja membuka pintu kamarnya jadi maminya bisa masuk kalau-kalau sedang butuh sesuatu.
“Sama siapa? Kei?” Gavin kembali tersenyum ketika mendengar ucapan maminya. Dengan siapa lagi kalau bukan dengannya. Maminya pasti sudah hafal betul jika hanya Kei satu-satunya wanita yang dekat dengannya selain keluarganya.
Gavin mengangguk semangat dan kembali merapikan rambutnya. Mengecek sekali lagi untuk memastikan kalau penampilannya sudah benar-benar rapi dan sempurna. Ia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana chino hitam, slip on coklat dan tak lupa juga dengan jam tangan.
Mami yang mendengar jawaban Gavin hanya terdiam. Selama ini ia mengira kalau anaknya tidak punya sedikit pun ketertarikan pada Kei, atau hanya menganggapnya sebagai adik. Namun nyatanya, sikap dan tingkah anaknya seperti orang yang sedang dimabuk cinta.
“Mami kira bukan. Padahal mami berniat buat daftarin Kei kencan buta.” Ucapan wanita paruh baya itu sukses membuat Gavin terkejut. Tubuhnya dengan cepat berputar, menghadap pada sosok yang telah melahirkan dan membesarkannya, lantas menggenggam erat kedua tangannya diiringi ekspresi wajah serius.
“Mami, plis, jangan.” Gavin berucap memohon. Entah sedang bercanda atau tidak, ia harus tetap membatalkan niat gila maminya.
“Lho, bukannya kamu sendiri yang nggak mau sama Kei kan? Dulu-dulu setiap kali mami tanya kamu selalu bilang cuman nganggep saudara.”
“Tapi kali ini beda. Gavin bener-bener sayang sama Kei.” Gavin berujar semangat dengan penuh kesungguhan. Hatinya sudah mantap. Selama ini, ia peduli dan menyanyangi Kei lebih dari teman atau saudara.
Mami tersenyum simpul dan mengangguk mengerti. Anaknya ternyata sudah besar. Sebelah tangannya terangkat dan mengelus lembut pipi putra semata wayangnya. Bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti Gavin akan pergi meninggalkannya ketika sudah menikah dan menjadi seorang suami.
“Cepat pergi. Kei mungkin sudah menunggu sejak tadi.”
“Iya. Mi, aku pergi dulu.” Gavin memeluk sekilas maminya lantas melangkah pergi. Tapi tak lama berselang, ia berbalik lagi dan mengecup singkat pipi wanita itu.
“Besok aku beliin tas.” Lanjutnya.
“Anak itu.” Mami menggeleng pelan melihat tingkah putranya. Seandainya saja Gavin tahu kalau sejak dulu ia dan bunda Kei memang berniat untuk menjodohkan mereka berdua ketika dewasa, anak itu mungkin akan langsung meminta untuk dinikahkan.
Tapi kembali lagi, apa pun pilihan mereka berdua, ia akan selalu menghargainya. Selama itu yang terbaik.
***
“Kenzo!”
Isabel yang mendengar teriakan Aiden dari lantai bawah segera melesat menuju kamarnya yang berada di atas. Di hadapannya, ia mendapati Aiden tengah berdiri menghadap Kenzo yang sedang terduduk sembari menangis di lantai.
“Sayang.”
“Bunda….” Kenzo yang melihat sosok Isabel dengan cepat berdiri dan menghampirinya. Memeluknya erat sambil terisak kecil.
Pandangan Isabel segera beralih pada Aiden. Ia menuntut jawaban akan tangisan anaknya. Juga suara teriakan lantangnya tadi.
“Bisa kamu jelasin apa yang sedang terjadi?” Isabel mencoba tenang dan meminta penjelasan dari suaminya. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Itulah yang dipikirkannya. Aiden tidak mungkin membentak Kenzo kalau anak itu tidak melakukan sesuatu.
Aiden masih saja bungkam. Perasaan bersalah sekaligus menyesal masih menguasainya. Ditambah ia juga merasa bingung harus menjelaskan seperti apa pada Isabel.
“Kenzo, maafkan ayah.”
Isakan kecil Kenzo kembali terdengar. Ia masih merasa takut. Jangankan untuk menatap Isabel, mendengar suara ayahnya saja tubuhnya langsung tersentak kaget.
Isabel kembali menghela napas dalam. Ia tidak tahan melihat anaknya ketakutan seperti sekarang ini. Dengan lembut, ia mengelus punggung kecil anak laki-laki itu.
“Aku meminta penjelasan padamu.” Perkataan Isabel kembali menghentakkan Aiden. Ia tidak punya pilihan selain jujur. Resikonya pun harus ia tanggung sendiri.
Aiden mengela napas panjang sebelum membuka mulutnya,
“Kenzo memegang ponselku.” jawab Aiden.
“Dan kamu membentaknya hanya karena memegang ponselmu?” Isabel menatap suaminya tak percaya. Hanya karena benda tersebut Aiden sampai tega menyakiti anak mereka.
“Itu karena Kenzo juga mengangkat panggilan yang masuk.” tambah Aiden.
“Hanya karena itu? Memang siapa yang menghubungimu? Wanita lain? Itu sebabnya kamu takut karena Kenzo secara tidak sengaja mengangkatnya?” Isabel tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak marah. Hanya karena hal sepele Aiden dengan tega meneriaki putra mereka layaknya seorang pencuri.
“Sayang.”
“Aiden!”
Aiden yang ingin menghampiri Isabel dan Kenzo segera menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan wanita itu.
“Bagaimana rasanya dibentak? Diteriaki? Nggak enak kan? Lalu bagaimana dengan Kenzo? Ayah yang selama ini ia anggap sangat menyayanginya justru tega memarahinya hanya karena benda murahan!”
“Isabel, aku benar-benar nggak bermaksud melakukannya.” Rasa penyesalan dan bersalah tergambar jelas pada wajah Aiden. Apalagi saat ia melihat Isabel meneteskan air mata.
“Bundaa.”
“Sshh, nggak sayang. Bunda nggak marah sama kamu.” Isabel kembali mengelus pelan punggung Kenzo yang terdengar seperti ingin menangis lagi. Hatinya sakit. Perbuatan Aiden sudah benar-benar kelewatan.
“Aku nggak masalah kalau kamu nasehatin Kenzo, atau ngasih tahu dia kalau salah. Tapi ngebantak bukan cara yang pantas.” Isabel tidak ingin apa yang dilakukan Aiden membekas selamanya di hati putranya itu, pun membuat Kenzo menganggap ayahnya sebagai orang jahat yang telah menyakitinya.
“Aku benar-benar salah.” Aiden mengusap kasar wajahnya setelah menatap punggung kecil anaknya. Ia benar-benar tak habis pikir kenapa sampai tega melakukannya. Seharusnya ponsel sialan itu yang dilemparnya, bukannya Kenzo yang justru menjadi sasaran kemarahannya.
Ini mungkin tidak akan terjadi kalau saja bukan nomor tak dikenal itu yang Kenzo angkat.
“Malam ini aku tidur sama Kenzo.” Ucap Isabel pelan. Rasa jengkelnya telah mereda. Ia tak ingin suasana semakin tegang dan memanas karena tidak bisa menahan diri.
“Maafkan ayah, Nak.” Aiden berbisik pelan lalu mengecup lama pucuk kepala anaknya. Lantas beralih mencium kening Isabel.
Isabel menatap suaminya sejenak dan mulai melangkah keluar, menghampiri kamar Kenzo yang berada di depan kamar mereka berdua. Anaknya telah terlelap sejak tadi, dengan kedua mata yang sedikit memerah dan sembab.