My All Is In You

My All Is In You
Jalan Bareng Bunda



Setelah meminta izin lebih dulu pada suaminya, Isabel akhirnya mengajak putra semata wayangnya untuk pergi berbelanja dan bermain bersama. Awalnya,  Aiden tak mengizinkan karena mengkhawatirkannya dan Kenzo. Tapi saat melihat anak laki-laki itu memasang wajah sedih seperti ingin menangis, Aiden akhirnya luluh.


“Bunda, ayo!” Teriak Kenzo senang dan berlari kecil menghampiri mobil yang telah terparkir di halaman depan.


Kenzo menunjuk-nunjuk tak sabaran pintu mobil Bundanya yang masih tertutup rapat. Meminta Isabel untuk segera membukanya.


Isabel yang melihatnya hanya tersenyum geli. Selain antusias, anaknya juga terlihat begitu senang.


Bagaimana tidak, selama tiga hari berturut-turut, Kenzo harus terbaring lemah di atas tempat tidur karena demam dan Aiden melarangnya untuk banyak bergerak. Apalagi bermain. Dan sekarang, setelah dinyatakan sembuh total, anak itu seperti ingin membalas dendam.


“Bilang apa?” Tanya Isabel seusai membukakan pintu mobil untuk Kenzo.


“Terima kasih.” Jawab Kenzo. Ia dengan cepat masuk ke dalam dan duduk manis di atas kursi penumpang. Tepat di samping Isabel yang akan mengemudi.


“Anak pintar.” Puji Isabel tulus. Sebelum menutup pintu, ia mengecup lebih dulu kening anaknya lalu bergegas memposisikan dirinya di depan kemudi.


Sejak dini, Isabel dan Aiden memang sudah mengajarkan dan menanamkan sifat sopan santun di dalam diri anaknya. Tanpa peduli pada siapa dan apa pun jabatannya. Ia hanya ingin Kenzo tumbuh menjadi pribadi yang baik. Sama seperti ayahnya.


“Sebelum pergi, harus pakai apa dulu?” Isabel beralih menatap Kenzo lekat. Menanti jawaban yang akan anaknya berikan.


“Sabuk pengaman.” Kenzo berteriak senang seraya berusaha menarik sabuk pengaman di dekatnya. Yang tentu saja masih cukup sulit untuk anak seusianya.


Isabel lagi-lagi tersenyum melihat tingkah lucu anaknya. Setelah memakaikan sabuk pengaman pada Kenzo dan juga pada dirinya, ia mulai melajukan mobil putihnya meninggalkan rumah.


Hari ini, hanya ada dirinya dan Kenzo. Mereka berdua akan menikmati waktu bersama tanpa gangguan dari Aiden.


***


Isabel yang awalnya mengajak Kenzo berbelanja lebih dulu, kini harus pasrah saat anak laki-laki itu menarik kuat tangannya memasuki salah satu pusat permainan di dalam mall tersebut.


“Sayang, tunggu sebentar.” Ucap Isabel seraya merapikan tas belanjaannya yang berisikan baju, celana juga sepatu baru untuk Kenzo.


“Bunda, ayo....” Ajak Kenzo setengah merajuk. Tak sabar untuk mulai bermain.


“Sebentar. Bunda isi ulang kartu Timezone kamu dulu.” Isabel segera mengajak Kenzo menuju kasir yang terletak tak jauh darinya.


Sesampainya di sana, mereka berdua masih harus mengantri lagi dan membuat wajah anaknya semakin tertekuk.


Menggemaskan.


Di sisi lain, Kenzo yang merasa sudah menunggu terlalu lama akhirnya mulai bersenandung kecil. Menyanyikan salah satu lagu yang diajarkan oleh Paman Gi. Panggilan sayangnya untuk Gavin.


cin cin pon pon cin cin pon pon... la... la la la....


Kenzo bersenandung riang seraya bergerak lucu mengikuti goyangan yang Gavin ajarkan. Tentu saja, aksi anak laki-laki tampan itu berhasil menarik seluruh perhatian pengunjung yang ada. Tak terkecuali Isabel.


“Sayang, ayo.” Isabel kembali menggenggam erat tangan anaknya dan mengikuti ke mana pun Kenzo pergi.


Anak laki-laki itu mencoba hampir seluruh permainan yang ada tanpa rasa lelah atau bosan sedikit pun. Tak jarang, Isabel harus ikut bermain. Atau justru ia yang bermain sesuai dengan arahan dari anaknya.


“Bunda....” Panggil Kenzo lirih. Raut kelelahan sudah tampak di wajahnya.


Tentu saja. Kenzo bermain hampir lebih dari satu jam lamanya.


Isabel yang melihatnya dengan cepat menyodorkan sebotol air mineral yang tak pernah lupa dibawanya. Juga membersihkan kedua telapak dan punggung tangan anaknya menggunakan tisu basah anti bakteri.


Kebersihan tetap nomor satu. Di mana pun mereka berada, .


“Mau makan dulu?” Tanya Isabel seraya menghapus jejak air minum pada sudut bibir atas anaknya.


Kenzo menggeleng pelan sebagai jawaban. Ia memang tak biasa makan di luar. Kecuali membeli camilan yang hanya diperbolehkan oleh Isabel.


“Kita pulang. Oke?”


Isabel yang melihat ekspresi sedih di wajah anaknya dengan segera mengelus lembut pipinya. Ia sadar Kenzo pasti membutuhkan kehadiran Aiden di sisinya. Pasalnya, ini kali pertama mereka pergi berdua tanpa pria itu. Biasanya, Aiden yang akan menemani Kenzo bermain. Ataupun keberadaan Gavin yang semakin membuat anaknya bertambah senang.


“Di kantor. Ayah sedang bekerja bersama Paman Gi.” Isabel menjelaskan dengan lembut agar anaknya mengerti.


“Bekerja?” Tanya Kenzo polos. Kedua bibirnya tak lagi mengerucut sedih.


“Iya. Untuk Bunda dan juga Ken.” Jawab Isabel dengan penuh kesabaran.


Kenzo akhirnya mengangguk dan memeluk erat Isabel yang sedang duduk.


“Kita bisa menelfonnya nanti setelah sampai di rumah.” Bisik Isabel. Lalu mengecup pucuk kepala anaknya gemas.


Kenzo yang mendengarnya sontak menatap Bundanya dengan mata berbinar lucu.


“Bunda, ayo. Kita pulang dan telfon Ayah.” Seru Kenzo senang. Ia kembali menggenggam erat tangan Bundanya dan melangkah pergi bersama.


Tidak ada lagi gurat kesedihan yang menghiasi wajah tampannya.


***


“Bagaimana dengan jalan-jalan kalian berdua hari ini?” Tanya Aiden sambil memeluk mesra tubuh istrinya dari arah belakang.


Ia dan Isabel sedang berdiri di balkon kamarnya setelah menemani Kenzo hingga terlelap. Menikmati suasana malam hari dengan ditemani oleh cahaya bulan.


“Dia merindukanmu.” Jawab Isabel pelan seraya mengelus pelan kedua tangan kokoh Aiden yang melingkar di perutnya.


Sesampainya di rumah, Kenzo langsung meminta makan lebih dulu lalu menghubungi Aiden melalui sambungan video call. Namun baru saja lima menit berlalu, anak laki-laki itu sudah jatuh tertidur di sofa dan baru terbangun saat mendengar Ayahnya pulang.


“Seharusnya aku menemani kalian.” Aiden kembali mendaratkan kecupan singkat pada punggung tangan Isabel yang digenggamnya.


Jujur saja, ia merasa sedikit menyesal tak bisa menemani anaknya bermain. Apalagi saat Kenzo menghubunginya dengan wajah sedih.


“Dan menyerahkan semua pekerjaanmu pada Gavin?” Sindir Isabel. Ia sudah bisa menebak jalan pikiran suaminya.


Aiden tertawa kecil mendengar sindiran istrinya.


“Gavin membuatku cemburu lagi.” Aiden berdecak jengkel setiap kali mengingat cerita Gavin mengenai Isabel kecil. Dan anehnya lagi, ia selalu saja cemburu dan termakan oleh perkataan menyesatkan pria itu.


Padahal ia tahu betul kalau Gavin hanya ingin mempermainkan dan menertawai dirinya.


Benar-benar asisten kurang ajar.


“Dia memang seperti itu. Sejak kecil, hobinya hanya membuat orang lain kesal.” Penuturan Isabel berhasil membuat Aiden terdiam dengan wajah tertekuk. Tak terima karena Gavin tahu lebih banyak tentang istrinya.


Padahal Aiden tahu jelas kalau Isabel dan Gavin bisa tumbuh sedekat itu karena sama-sama merupakan anak tunggal.


“Jangan membahas pria lain, aku cemburu.” Bisik Aiden. Ia dengan lembut menempelkan pipinya pada pipi Isabel, lalu mengecupnya lama.


Aiden tidak pernah membenci Gavin sedikit pun. Ia bahkan menganggap pria itu sebagai adiknya sendiri. Berhubung dirinya merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara.


Ia hanya kesal karena Gavin selalu berhasil memanas-manasinya. Orang lain bahkan mengatai mereka berdua sebagai Tom and Jerry versi dewasa. Walau pada akhirnya, tetap Gavin jugalah yang menjadi tempatnya berlabuh setiap kali membutuhkan pertolongan.


“Tapi aku hanya mencintaimu.” Isabel berujar pelan dan menempelkan telapak tangan kanannya pada pipi Aiden. Yang dibalas pria itu dengan ciuman mesra pada bibirnya.


Isabel membiarkan Aiden memenjara kedua bibirnya. Melakukan apa pun yang diinginkannya sesuka hatinya. Menguasai setiap bagian pada tubuhnya yang telah menjadi milik pria itu.


Seutuhnya.


Kenzo