My All Is In You

My All Is In You
Masa Lalu



Setelah melambai sekilas pada Gavin yang baru saja mengantarnya pulang ke rumah, Kei segera berbalik dan melangkah santai menuju pintu rumahnya yang telah tertutup rapat. Pukul sebelas lewat lima belas menit, kedua orang tuanya pasti sudah tertidur lelap sejak tadi. Tak ingin membangunkan mereka berdua, ia membuka dan mengunci pintu kembali dengan suara sepelan mungkin. Bukan karena takut akan ditanyai banyak hal, Kei hanya tak ingin keduanya melihat wajahnya yang masih semerah tomat.


“Sedikit lagi.” Gumam Kei. Dengan sedikit mengendap-endap, ia melangkah pelan menaiki setiap anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Tempat di mana kamar bercatkan warna lilac miliknya berada. Namun belum sempat Kei menginjak anak tangga ketiga, suara berat dari arah dapur sudah lebih dulu mengagetkannya.


“Kei.”


Panggilan singkat tersebut sukses membuat Kei berteriak kaget dan menjatuhkan tas yang dipegangnya. Tak lama berselang, suasana yang tadinya gelap berubah menjadi terang. Sehingga bisa melihat jelas sosok yang telah berhasil membuat jantungnya bekerja ekstra di dalam sana. Dua kali lipat dari yang biasa Gavin lakukan.


“Papa!” Kei memekik tak percaya seraya menghela napas lega saat mendapati papanya yang tengah berdiri santai seraya memegang sebuh piring putih. Lengkap dengan ekspresi wajah heran.


“Mau makan bareng papa?”


Pertanyaan santai pria paruh baya itu lagi-lagi membuat Kei menatapnya tak percaya. Setelah membuatnya kaget bukan main, papanya justru menawarinya makan bersama. Dijam dimana seharusnya ia sudah beristirahat.


“Papa nggak tidur? Nggak takut gemuk?” tanya Kei. Tapi tetap mengikuti papanya ke dapur.


“Papa justru nggak bisa tidur kalau lapar.” Pria berusia lima puluh tahun itu tersenyum kecil dan kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda karena kehadiran putri sematawayangnya.


Kebiasaan, batin Kei.


Sembari menatap lekat papanya yang tampak serius menikmati sepiring nasi hangat yang ditemani dengan beberapa potong tempe goreng tepung serta sambel tomat, Kei meneguk pelan sebotol air dingin yang baru saja diambilnya dari dalam kulkas.


Ini memang bukan pertama kalinya ia melihat atau mendapati papanya makan dijam seperti ini. Tak jarang, pria itu membangunkannya yang sedang tertidur pulas untuk makan bersama. Bundanya bahkan dengan sengaja menyiapkan beberapa lauk sebelum tidur karena tahu suaminya sering terbangun untuk makan di tengah malam. Beruntung pria yang berstatus sebagai ayahnya itu tidak menderita penyakit parah atau pun berat badannya yang ikut bertambah naik karena tidak pernah bisa menolak tawaran makan bersamanya.


“Kamu nggak ikut makan?” tanya papa Kei.


“Sudah.”


“Sama Gavin?” pertanyaan papanya sukses membuat wajah Kei kembali memerah. Ia lagi-lagi teringat akan ciuman panas yang belum cukup satu jam mereka lakukan tadi. Tanpa sadar, Kei menatap lekat pergelangan tangan kanannya, tempat di mana Gavin meninggalkan sebuah tanda kemerahan.


“Papa makan sendiri yah? Aku ke kamar dulu.” Kei mendaratkan kecupan singkat papa pipi papanya dan bergegas melangkah menuju lantai dua, memasuki kamarnya dan meneggelamkan wajahnya pada bantal. Pekikan tertahannya terdengar samar diiringi dengan kekehan geli.


“Gavin… Ya Tuhan.” Kei berucap bahagia sembari menatap pergelangan tangannya. Tanpa meminta izin lebih dulu padanya, pria itu meninggalkan kissmark pada salah satu anggota tubuhnya. Lebih parahnya lagi, Gavin tidak memikirkan sama sekali bagaimana tanggapan orang lain yang melihatnya nanti. Tidak ada cari lain, ia terpaksa harus memakai plester luka dan membuat alasan senatural mungkin.


“Awas saja.” Kei mengelus pelan tanda kemerahan hasil karya kekasihnya lalu mengecupnya singkat. Lain kali, ia yang akan melakukannya. Gavin juga harus merasakannya. Bukan di pergelangan tangan tapi di leher.


Memikirkannya saja Kei sudah merasakan jantungnya memompa hebat dengan penuh kecepatan. Ia harus mengumpulkan keberanian sebelum benar-benar melakukannya.


***


“Mau yang mana sayang?” tanya Kei lembut. Sebelah tangannya menggenggam tangan Kenzo yang sedang berdiri di sampingnya. Sesuai janjinya dua hari yang lalu, kini ia mengajak anak laki-laki itu juga Isabel untuk makan siang bersama di salah satu restoran cepat saji. Bahkan membiarkan Kenzo bebas memilih.


“Bunda?” Kenzo menatap Kei lekat. Ia masih belum menemukan sosok Isabel.


“Itu.” Kei menatap Isabel yang baru saja masuk dan menghampiri mereka berdua. Hingga sukses membuat anak berusia lima tahun itu tersenyum lebar.


“Sudah pilih mau makan yang mana?” Isabel menatap dan mengelus pelan rambut Kenzo yang juga balas menatapnya senang. Anak laki-laki itu memasang ekspresi wajah penuh harap, dengan kedua mata yang sesekali melirik pada gambar es krim.


Isabel yang melihatnya tentu saja tak kuasa menahan senyum. Setelah mengecup singkat pipi anaknya, ia lantas mengatakan pada Kei untuk memesankan Kenzo satu paket kids meal dan es krim. Sedangkan untuk dirinya, satu porsi burger sudah lebih dari cukup. Jika masih lapar, ia bisa memesan lagi.


“Cuma itu? Kamu nggak lagi dietkan?” goda Kei. Ia heran karena Isabel hanya memesan satu porsi burger plus minuman dingin tanpa nasi dan yang lainnya. Ia tak ingin Aiden sampai mengejeknya karena tidak bisa membayarkan makan istrinya.


“Oke.” Kei mengganggguk singkat dan membiarkan Isabel juga Kenzo melangkah pergi meninggalkannya untuk mencari tempat duduk dan meja yang sedang kosong. Ia tidak mungkin membiarkan anak laki-laki itu ikut mengantri bersamanya. Ditambah masih ada lima orang lagi sebelum gilirannya tiba.


***


Tak peduli berapa banyak uang yang akan dihabiskannya, Kei rela melakukannya hanya untuk Kenzo. Anak tampan itu bukan hanya makan dengan lahap, tapi juga sesekali menyuapkan kentang goreng ke dalam mulutnya. Bahkan rela berbagi es krim dengannya. Seandainya saja Aiden dan Isabel bersedia, ia tak akan sungkan menjadi ibu asuhnya. Tapi karena tak ingin Aiden sampai murka padanya, pemikiran tersebut hanya bisa disimpannya rapat-rapat.


“Mau Aunty pesenin lagi?” Kei menatap Kenzo dengan mata berbinar.


Kenzo menggeleng pelan seraya mengedip lucu. Tahu betul kalau Isabel tidak akan mengizinkannya.


“Anakku bisa masuk rumah sakit.” Ketus Isabel.


“Aku hanya bercanda.” Cibir Kei.


Keduanya lantas berpandangan lalu tertawa bersama. Persis seperti saudara kandung.


“Sayang, tunggu di sini. Bunda cuci tangan dulu.” Setelah memastikan mulut dan kedua tangan Kenzo telah bersih, Isabel segera beranjak dari duduknya. Ia memang tak pernah lupa membawa tisu basah, hanya saja, ia merasa ada yang mengganggu jika tak membasuh tangannya dengan air.


“Kenzo, masih mau es krim lagi?” Tak berselang lama setelah kepergian Isabel, Kei segera melancarkan aksinya. Ia masih ingin anak itu menyuapinya atau menghapuskan jejak es krim yang secara tak sengaja mengenai dagunya.


“Tapi Bunda bilang nggak boleh.” Kenzo menatap Kei dengan mata yang berkedip lucu. Hingga sukses membuat wanita itu menangkup kedua pipinya lalu mencubitnya pelan karena gemas.


Tanpa keduanya sadari, dari arah kejauhan, seorang wanita bertubuh cukup tinggi terus menatap lekat pada Kenzo. Sesekali, bibirnya yang dipoles lipstik berwarna pink mencolok tersenyum kecil. Kedua kakinya melangkah pelan, menghampiri Kei dan juga Kenzo yang sejak tadi asik berbicara.


“Kenzo.”


Kei dan Kenzo kompak terdiam ketika mendengar seseorang menginterupsi percakapan mereka berdua. Raut wajah Kei bahkan berubah tak suka saat mendapati sebuah tangan dengan lancang mengelus pelan rambut anak laki-laki itu.


“Hei, tanganmu—” Kei tak lagi melanjutkan ucapannya dan dengan cepat berdiri dari tempatnya. Menghampiri Kenzo yang sejak awal duduk di depannya seraya menepis kasar tangan wanita itu.


Darahnya mendidih. Bukan hanya karena marah, tapi ia juga sangat membenci wanita itu.


Veronica—mantan tunangan Aiden. Wanita serakah yang hampir saja menghancurkan pernikahan Aiden dan Isabel dulu.


“Oh, Kei, long time no see.” Veronica berujar tak acuh dan kembali menatap Kenzo. Yang wajahnya tak memiliki perbedaan sedikit pun dengan Aiden.


“Cih!” Kei tanpa sadar menggenggam kuat tangan Kenzo yang masih dipegangnya. Hingga membuat anak itu meringis kecil.


“Aunty.” Panggil Kenzo pelan. Raut wajahnya berubah takut.


“Kenzo, maaf. Aunty nggak sengaja sayang.” Kei berucap panik dan beralih mengelus lembut pipi Kenzo. Berusaha untuk membuatnya tenang kembali.


“Kita pulang setelah Bunda kembali, oke?” ucap Kei lembut.


Kenzo mengangguk pelan tanpa berniat sedikit pun untuk menatap Veronica. Bukan hanya merasa asing, ia juga takut menatap penampilan mencolok wanita.


Dalam benaknya, Kei sangat berharap agar Isabel kembali lebih lama. Setidaknya sampai Veronica pergi. Tapi sayang, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Tak jauh darinya, ia bisa melihat jelas Isabel yang melangkah santai menghampirinya dan Kenzo. Tanpa menyadari sama sekali jika wanita yang saat ini sedang memunggunginya adalah sosok dari masa lalu suaminya.


Wanita yang jauh lebih berbahaya dari medusa sekalipun.