Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
SEMBILAN



"One Of Life's Lessons "


Is Always moving on


 


Hari ini perjalanan berikutnya adalah ke Kota Puerto Iquaza. Arumi sampai di bandara tiga puluh menit sebelum sebelum keberangkatan. Ia duduk diruang tunggu terminal keberangkatan Internasional. Arumi menatap jauh ke landasan pacu dibalik kaca besar di ruangan ini, sampai pengumuman tujuan ke Kota Puerto Iquaza akan segera berangkat.


Disinilah ia sekarang, duduk di samping jendela yang menjadi salah satu tempat terfavorit nya.


Pikirannya terus teringat dengan waktu yang telah ia habiskan bersama Jason. Mengapa saat seperti ini ia merindukan sosok pria itu? Apakah ia tidak akan bertemu kembali dengan pria itu? Gumam Arumi dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya dengan keras.


Ia terganggu saat seseorang menyenggol bahunya, ia tersentak kaget dari lamunannya.


"Hola,baby." sapa Jason sambil tersenyum lebar setelah meletakkan tasnya didalam kabin.


"Astaga Jason. Kamu ngikutin aku?" tanya Arumi memastikan bahwa sosok didepannya itu adalah Jason.


"Yeah anggap saja seperti itu." ucap Jason menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gila yah kamu."


"Iyah, gila karena kamu." ucap Jason diiringi tawa.


"Dasar aneh." ucap Arumi menyembunyikan senyumnya. Entah saat melihat pria itu kembali ia merasa senang.


Arumi bisa mendengar Jason sedang berbicara dengan pria paruh baya tepat disampingnya menggunakan bahasa Spanyol.


"Ngapain kamu duduk disini?" tanya Arumi kaget.


"Galak amat sih neng, yah suka-suka aku dong." ucap Jason mencolek pipi Arumi.


"Relax, Rum." Gumamnya dalam hati yang memilih tidak meladeni pria disampingnya itu.


Kami tiba di bandara Iquaza sekitar jam satu dan kedatangan mereka disambut oleh hujan.


Ia tidur lumayan lama di dalam pesawat. Saat ia bangun ternyata kepalanya bersandar di bahu Jason. Ia mengutuk diri sendiri bisa-bisanya ia bersandar di bahu pria itu. Ia terhenyak bangun saat ia merasa Jason menggeliat dalam tidurnya, dengan pelan dirinya mengangkat kepalanya dari bahu pria itu.


"Apa kita udah sampai?" tanyanya Jason mengucek matanya.


"Ia. Maaf tadi aku tertidur di bahu kamu."


"Tidak apa-apa." ucap Jason berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari pesawat setelah mengambil tasnya.


Setelah keluar dari bandara, kami langsung menaiki bus yang akan mengantarkan kami ke hotel.


"Nanti kamu menginap di hotel mana?" tanya Jason.


"Saint Jorge."


"Nanti rencananya kamu mau kemana saja?"


"Entah." ucap Arumi enggan untuk memberitahukan rencananya pada Jason.


Aduh, Rum. Ko kamu jadi dingin gini sih, kan ga enak sama Jason. Umpat Arumi dalam hati dengan perubahan moodnya yang semakin tidak jelas.


"Kamu kenapa?" tanya Jason keheranan dengan perubahan sikap Arumi.


Setelah sekitar satu setengah jam perjalanan dari bandara, akhirnya Arumi sampai di hotel lebih awal dari Jason.


"Sampai bertemu kembali, Arumi." Ucap Jason melambaikan tangan ke arah Arumi yang hanya mendapatkan tatapan datar dari gadis itu.


****


Cause if you like the way you look that much


Oh baby you should go and love yourself


"Hmm. Halo." Jawab Arumi dengan suara serak mengangkat telepon dengan matanya yang masih terpejam.


"Good morning, Arumi. Waktunya bangun aku sudah menunggu di lobi."terdengar suara Jason diseberang sana.


"Hmm. APA?" ucap Arumi shock bangun dari tidurnya.


"Aku tunggu di bawah. Kita sarapan bareng." ucap Jason mematikan telepon.


Arumi menggerutu dengan kesal pria itu mengganggu tidurnya. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan segera membersihkan dirinya.


Hampir setengah jam untuk bersiap-siap,ia keluar dari kamarnya dan menemui Jason yang sudah menunggunya di cafe hotel.


"Gracia. Ko kamu kesini ga kabarin sih?" Tanya Arumi penuh selidik sambil melipatkan tangannya didepan dada.


"Yah kan namanya suprise, jadi ga aku bilang kalau mau kesini. Kamu lebih baik makan dulu, Ini sandwich dan hot Chocolat khusus aku pesan buat kamu."


Arumi mengambil sepotong roti sandwich dan mengunyahnya dengan kesal.


"Ayo jalan nanti kita kesiangan."ajak Jason berdiri dari kursinya setelah gadis itu menyelesaikan sarapannya.


"Siapa yang bilang kalau aku mau pergi dengan kamu, tujuan kita juga berbeda?"


"Kamu pasti mau lihat air terjun Iquaza kan."


"Ko kamu tau, kamu stalking aku kan dari kemarin."


"Aku tau dari mana itu bukan urusan kamu. Dan aku juga mau ke sana, makanya aku bawah mobil. Tapi kalau kamu ga mau ya udah ga apa-apa, tapi lain kali jangan asal tuduh seperti itu." Ucap Jason dingin.


"Ya udah aku mau." Jawab Arumi menghembuskan nafasnya dengan pelan dan melangkahkan kakinya mengikuti Jason dari belakang.


Jason terlihat sangat diam dalam perjalanan kali ini, dia hanya sesekali menghadap kearahnya dan tersenyum. Sisanya dia fokus mengendarai mobilnya.


Kesunyian ini membuat ia mengantuk, ia berkali-kali menutup mulut untuk menyembunyikan mulutnya yang menguap lebar.


"Ngantuk?" tanya Jason akhirnya setelah lama diam.


"Ia."jawab Arumi.


"Mau aku nyanyi lagu?" tawar Jason pada gadis itu.


"Emang bisa nyanyi?" tanya Arumi menegakkan badannya kearah Jason.


Pria itu hanya tersenyum sambil mengetik sesuatu dilayar ponselnya.


"di ujung cerita ini


di ujung kegelisahanmu


kupandang tajam bola matamu


cantik dengarkanlah aku."


Nyanyi Jason sambil tersenyum kearahnya. Ia akui Jason memiliki suara yang bagus.


"aku tak setampan Don Juan


tak ada yang lebih dari cintaku


tapi saat ini ku tak ragu


ku sungguh memintamu."


Arumi menikmati nyanyian dari pria itu, hingga tanpa ia sadari pria itu memegang tangannya. Entah dari mana keberaniannya ia membalas genggaman dari pria itu, dan aku pun mulai ikut bernyanyi bersama Jason.


"jadilah pasangan hidupku


jadilah Ibu dari anak-anakku


membuka mata dan tertidur disampingku


aku tak main-main seperti lelaki yang lain


satu yang ku tahu ku ingin melamar mu."


Kami pun saling tersenyum saat kami menyelesaikan lagu tersebut.


"Aku ga nyangka kalau kamu bisa nyanyi. Selain bisa nyanyi, udah jago masak, bisa menari, ganteng pula." puji Arumi.


"Aku ga nyangka juga, ternyata kamu punya suara sebagus itu." puji Jason tersenyum kearah Arumi.


Tiba-tiba Jason mencium pergelangan tangannya. Membuat ia bergeming seketika dan kembali merasakan gelitik aneh di perut, seperti ada sayap kupu-kupu yang mengepak dalam perutnya. Rasanya aneh, tapi entah kenapa ia menikmati sensasinya sejak awal bertemu dengan pria itu.


Oh ayolah Rum, kamu harus tenang. Relax, Arumi. Gumamnya dalam hati, mencoba menenangkan jantung nya yang terus berdetak tak karuan karena pria itu. Ia juga merasakan pipinya yang memenas.


"Pipi kamu ko merah begitu?" tanya Jason khawatir melihat kearah Arumi.


Gara-gara kamu, dasar ga peka bangat.


"Panas Jas, aku buka jendelanya yah." ucap Arumi mempunyai kesempatan melepas tangan Jason dari tangannya