Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
TIGA BELAS



 "Adakalanya Diam Cara terbaik "


Untuk Menutupi Luka"


 


Setelah seharian berkeliling di kota El Calafate bersama Jason. Kami memutuskan untuk kembali ke penginapan sebelum matahari terbenam.


"Kamu kalau ada perlu sesuatu kamar aku sebelah sana." tunjuk Jason yang sama persis mengambil penginapan seperti Arumi.


"Oke. Bye." ucap Arumi melangkah pergi ke kamarnya.


Ia segera membersihkan dirinya dan kemudian menunaikan sholat Maghrib.


Ia meraih ponselnya yang terletak diatas meja, dan mendapati beberapa pesan dari keluarganya maupun teman-temannya. Namun matanya terfokus pada satu nama kontak.


~Jason~


20 menit lagi aku jemput kamu, aku mau ngajak kamu lihat sunset sekaligus kita makan malam.


~Arumi~


Oke. Aku siap-siap dulu.


~Jason~


Ga usah dandan cantik, Rum. Kamu udah cantik di mata aku.


~Arumi~


Dasar tukang gombal.


Arumi mendengus membaca rayuan gombal dari pria itu. Tapi entah mengapa ia tidak bisa berhenti tersenyum, sebegitu senangnya dirinya mendapati pujian dari pria itu.


Sadar Arumi. Gumam Arumi menggelengkan kepalanya.


****


Arumi menatap dirinya pada pantulan yang ada pada cermin. Jumpsuit brown sangat pas ditubuhnya. Ia berputar untuk memastikan pakaian ini terpasang sempurna di badannya, tidak ada sisa benang yang tersisa maupun noda kotor.


Arumi memoles sedikit liptint yang berwarna merah di bagian dalam bibir setelah ia melapisi lipcream warna nude yang sebelumnya sudah ia poles pada keseluruhan bibir, untuk menciptakan efek warna ombre.


Untuk wajahnya ia hanya memakai sedikit BB coushin, agar terlihat fresh. Dan rambut kubiarkan terurai rapi.


Tok


Tok


Suara ketukan pintu.


Pasti Jason. Seru Arumi.


Apa aku udah cantik ga yah? Ucap Arumi kembali memastikan penampilannya pada pantulan cermin.


Aduh ko jadi deg-degan kaya gini sih. keluh Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan. Dan segera membukakan pintu untuk pria itu.


"Udah Si..ap?" Tanya Jason terpaku di depan pintu. Jason memperhatikannya dari atas sampai kebawah.


Sama seperti yang ia perhatikan dari atas sampai bahwa yang ada dihadapannya adalah Jason.


Dia tampan sekali, dengan baju putih yang dilapisi jaket kulitnya yang berwarna coklat dan sepatu sneaker putihnya.


"Bukankah aku udah bilang, kamu ga perlu dandan cantik seperti ini. Cukup aku saja yang yang bisa lihat kecantikan kamu." goda Jason.


"Terimakasih atas pujiannya. Tapi maaf aku ga menerima gombalan buaya dari Anda." ucap Arumi mencoba menyembunyikan senyumannya, berharap pria itu tidak melihat pipinya yang memerah


"Ini Blush-on atau pipi kamu yang memerah." goda Jason menyentuh pipi Arumi.


"Ih. Itu Blush-on yah Jas. Ayo kita berangkat sekarang, nanti bakalan ga bisa lihat sunset deh." putusnya dengan cepat sebelum pria itu semakin menggodanya.


Kami pergi ke restoran dengan menggunakan transportasi bus yang disediakan langsung oleh restoran yang kami tuju.


"Apa restorannya di bukit?" tanya Arumi heran melihat bus yang dinaiki mereka menuju bukit.


"Sepertinya." jawab Jason.


Saat kami sampai, kami langsung disambut dengan sangat ramah oleh oleh pelayan restoran. Kami diantarkan ke meja yang tepat di samping jendela, tempat terbaik untuk menikmati pemandangan sekaligus sunset.


"Ko kamu bisa tau kalau aku pengen kesini sih?" tanya Arumi heran. Sebenarnya ia sudah berencana mau ke sini, namun pergi bersama dengan Jason ia merasa senang.


"Kamu percaya aku punya Indra keenam?" tanya Jason mencoba menjaili gadis dihadapannya.


"Aku ga percaya." ucap Arumi menjulurkan lidahnya saat ia tahu pria itu pasti menjailinya.


"Bukankah aku sudah janji, kamu ga akan pernah menyesal pergi bersama aku. Sebab aku akan selalu memperlihatkan dunia baru untuk kamu, Arumi." jelas Jason meraih tangan Arumi sambil tersenyum.


Astaga darimana Jason mendapatkan kata-kata semanis itu. Pria itu selalu berhasil membuat hatinya selalu luluh atas setiap yang dilakukan oleh pria itu.


"Pesan makan sekarang deh, Jas. Pelayannya udah menunggu." ucap Arumi menarik tangannya dari genggaman Jason.


"Pipi kamu merah, Rum." bisik Jason menggoda.


"Jason!" Arumi mendesis kesal sekaligus malu.


Saat aku menatapnya, Jason menunduk pada buku menu sambil menahan tawa.


"Kami pesan Cordero Patagonico dan Asado." Jason berkata pada pelayan sambil membaca tulisan dibuku menu.


"Ya baik. Ada lagi?" tanya si pelayan.


"Cukup itu saja." ucap Jason menyerahkan buku menu itu dengan senyum.


"Tadi kamu pesan apaan barusan?" tanya Arumi penasaran berharap Jason tidak memesan daging ****.


Arumi mengangguk mengerti.


Selagi menunggu makan malam kami datang, Aku dan Jason menikmati pemandangan yang ada dihadapan mereka. Dari atas bukit ini ia juga bisa melihat pemandangan desa yang indah, bukit-bukit yang menjulang tinggi, dan padang rumput yang hijau.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam tapi matahari masih bersinar terang.


Arumi sibuk mengabadikan pemandangan dihadapannya dengan kamera mirrorles nya.


"Jason." panggil Arumi menghadapkan kameranya dihadapan Jason.


Klik


"Aduh ko kamu mau foto ga bilang-bilang dulu, kalau gitu aku kan gaya dulu." ucap Jason tak terima.


"Biarin. Lebih bagus natural." ucap Arumi memperhatikan hasil jepretannya.


"Fotoin aku dong, Jas." minta Arumi menyerahkan kameranya pada Jason.


"Fotonya yang bagus yah Jas."


"Ia. ia."


"Udah belum?" tanya Arumi merasa pegal.


"Ini." ucap Jason mengembalikan kamera Arumi.


"Makasih." ucap Arumi tersenyum puas dengan hasil jepretan Jason.


"Lihat Rum, sunset nya."


"Wahh. Cantik sekali." ucap Arumi kaget seperti melihat lukisan.


"Ia. Cantik seperti kamu." bisik Jason seperti angin musim dingin, membuatnya merinding.


Lagi. Aku terjebak dalam tatapan mata hazel nya yang memukau terlebih terpapar oleh sinar matahari.


"Permisi." ucap sang pelayan membuat kami salang tingkah.


Pelayan itu datang lagi ke meja kami dengan membawa nampan yang berisi makanan. Perutnya meronta-ronta melihat makanan yang nampak lezat, yang ingin ia santap.


"Gracia." ucap Arumi berterima kasih pada pelayan sebelum beranjak pergi.


"Selamat makan."


"Ini demi apa pun, ENAK BANGAT." ucap Arumi mengambil potongan kecil daging lalu memasukkannya dalam sekali suapan ke mulutnya.


Jason yang melihat respon gadis itu yang menikmati makan malamnya, tersenyum bahagia.


Ia sangat menikmati sesi makan malam ini dengan khidmat. Kapan lagi ia bisa makan masakan terenak dengan pemandangan yang indah seperti ini, terlebih ditemani dengan pria ganteng.


"Coba kamu icip ini." ucap Jason menyodorkan sepotong daging kecil ke arah gadis itu.


Ia yang cukup terkejut dan ragu, yang dilakukan oleh pria itu. Akhirnya dengan ragu-ragu ia menerima suapan dari Jason.


"Gimana, enak?" tanya Jason menunggu penilaiannya.


"Hm. Enak." ucap Arumi tidak berbohong.


"Besok kamu rencananya mau kemana?" tanya Jason sambil mengunyah makanannya.


"Aku kepengen lihat Gletser."


"Kalau mau ke sana pakai pakaian hangat, biasanya cuacanya lumayan dingin ditambah anginnya yang kencang."


"Ia pak bos."


Sesi makan sudah selesai. Malam semakin larut bintang-bintang pun mulai terlihat.


Seorang pelayan membawa secangkir greentea latte dan Coffe ke meja kami.


"Kamu yang pesan?" tanya Arumi keheranan sejak awal mereka tidak memesan menu itu.


"Minum ajha deh, Rum. Hari ini kamu terlalu banyak bertanya." ucap Jason menikmati secangkir Coffe nya.


Arumi mendengus kesal. Ia mengambil cangkirnya diatas meja dan mulai meminum minuman kesukaannya itu.


"Enak bangat. Jadi pengen nangis ajha" ucap Arumi berbinar-binar.


"Loh ko pengen nangis?" tanya Jason kebingungan.


"Habisnya aku senang bangat bisa makan makanan seenak ini dan bisa minum minuman kesukaan aku di tempat yang aku impikan." ucap Arumi menyinggung senyum.


"Kamu senang? Akhirnya kamu berada disini sekarang."


"Bukan hanya senang tapi sangat bahagia. Walaupun akhirnya aku menikmati semua ini hanya sendri."


"Kehadiran aku ga dianggap nih." ucap Jason pura-pura kecewa.


"Maaf. Bukan itu, Jason." ucap Arumi menghembuskan nafasnya dengan pelan.


"Lalu?"


Arumi lama terdiam diri. Ia ragu, apakah dirinya sudah siap menceritakan masa lalunya terhadap pria dihadapannya.


"Aku tidak akan memaksa Kalau kamu belum siap untuk bercerita, tidak apa-apa Arumi. Aku akan selalu menunggu sampai kamu siap." ucap Jason merasa khawatir melihat perubahan Arumi yang menjadi murung.


"Terimakasih, Jas." ucap Arumi tersenyum lirih.


Kelak jika waktu itu sudah tiba, aku pasti akan menceritakan kepadamu Jas. Maaf.