
"Setiap Takdir Memilih Caranya"
Sendiri Untuk Selalu Hadir
~Pov Jason
Jason menyalakan keran dan air hangat mulai membasahi wajahnya perlahan kemudian menjalar ke sekujur tubuhnya. Perlahan rasa ngantuk nya hilang dan ia merasa kembali segar setelah mandi.
Setelah berganti baju, ia langsung menuju ke dapur membuat segelas kopi di pagi hari. Ia memandangi kearah jendela melihat ayahnya yang sibuk merawat tanamannya
"Kopi, Pi?" tawar Jason kepada ayahnya.
"No, thanks. Kamu hari ini jadi ke Dantravel?"
"Ia Pi, semalam agen Dantravel udah hubungi Jason. Katanya salah satu karyawannya ga bisa hadir, makanya mereka minta Jason datang." Jelas Jason sambil menikmati kopinya.
"Ya udah, kamu hati-hati ajha."
"Siap pak bos." Hormat Jason mengangkat tangannya kearah pria paruh baya itu. "Kalau gitu Jason tinggal dulu ya Yah, mau siap-siap dulu." pamit Jason yang beranjak ke kamarnya.
Ia sibuk memasukkan beberapa benda ke dalam tasnya, termasuk buku kecil milik Arumi. Ia duduk di samping ranjangnya sambil membaca beberapa tulisan Arumi.
"Rapi." itulah yang dipikirkan olehnya menyadari tulisan gadis itu sangat rapi dan semua tersusun dengan sempurna.
"Arumi Nasha Razeta dan Romi Ardiansyah. Apa pacarnya yah?" ucap Jason membaca sebuah nama di lembar berikutnya.
"Arumi&Romi Dreams." ucap Jason semakin penasaran dan membaca satu persatu setiap list yang tertulis di dalam buku itu sampai habis.
"Kayanya mereka berdua cukup sangat dekat." ucap Jason merasa cemburu membaca setiap impian Arumi bersama pria yang bernama Romi.
Hingga ia menemukan rencana perjalanan Arumi ke Argentina, walaupun kemarin ia sempat membacanya sekilas.
"Sepertinya kita akan bertemu kembali, gadis manis." ucap Jason sambil tersenyum misterius. Setelah puas mengetahui apa yang direncanakan oleh gadis itu, ia memasukkan buku kecil itu kedalam tasnya dan keluar dari kamarnya.
"Pi, Jason pergi dulu yah." teriak Jason melihat ayahnya masih setia merawat tanamannya.
"Ok." balas teriak Nick.
****
Jason dengan semangat memasuki sebuah gedung yang bernama Dantravel.
"Hola. Buenos días, Jessica (Halo. Selamat pagi, Jessica)." sapa Jason pada seorang staf perempuan.
"Hola. Buenos días también, Jason (Halo. Selamat pagi juga, Jason)." sapa Jessica tersenyum mengembang melihat kedatangan Jason.
"Hari ini berapa orang yang mau terjun payung?"
"Lima orang aja sih, ga lama lagi mereka udah mau datang kesini."
"Bisa lihat nama-nama pesertanya ga, Jes?"
"Ini." ucap Jessica menyerahkan beberapa lembar peserta yang akan melakukan terjun payung pada Jason.
Ia langsung membuka satu persatu lembar peserta itu.
"Sepertinya Tuhan mentakdirkan kita bertemu." ucap Jason pelan sambil tersenyum misterius.
Dua puluh menit telah berlalu, Jason mendapati mobil yang akan mengantarkan mereka sudah datang. Tak lama kemudian ia melihat sosok yang ditunggunya pun datang.
Cukup lama ia memperhatikan gadis itu dari jendela lantai dua secara diam-diam. Ia bisa melihat gadis itu duduk di bangku yang telah disediakan sambil memainkan ponselnya.
"Jas, udah mau berangkat nih." ucap Jessica dari balik pintu.
"Oh Oke." jawab Jason mulai menuruni tangga. Setelah Jessica mengabsen semua peserta, ia pun segera menyusul para peserta yang sudah berada di dalam mobil.
"Ayo." ucap Jason pada tukang sopir sambil menutup pintu mobil.
"Jason." panggil Arumi cukup terkejut.
"Hai Arumi." ucap Jason sambil tersenyum.
"Kamu ko bisa ada disini?" tanya Arumi merasa keheranan.
"Karena kita berjodoh" ucap Jason mengedipkan matanya pada Arumi.
Selama perjalanan ia senang menggoda gadis itu. Ia bisa melihat gadis itu sangat kesal, Karena setiap kali dia bertanya dijawab olehku dengan asal.
""Pengalaman pertama kamu yah?" tanya Jason melirik kearah Arumi.
"Ia." jawab Arumi melirik sekilas kearahnya sebelum kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela
"Gugup?"
"Sedikit."
"Nanti kamu ga akan gugup lagi. Kamu akan merasakan bagaimana terbang di udara seperti layaknya burung."
"Aku harap seperti itu." ucap Arumi sambil tersenyum kearah Jason berterima kasih pria itu berusaha menenangkan dirinya.
****
"Yeah." jawab Arumi tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Aku punya resep biar rasa gugup kamu hilang."
"Emang apa resepnya?"
"Pertama kamu tutup mata kamu, kedua tarik nafas dalam-dalam, kemudian buang pelan-pelan. Lakukan itu selama tiga kali." ucap Jason tersenyum diam-diam gadis itu mengikuti instruksinya.
"Tolong diikat dengan kencang dan jangan ada sampai yang terlewatkan." pinta Arumi pada Jason.
"Percaya sama aku. Kamu akan melihat dunia lain yang tak pernah kamu duga." ucap Jason membawa Arumi ke hadapannya dan memegang lengan Arumi dengan erat.
Mereka berdua saling menatap cukup lama. Seperti mencari sesuatu didalam sana.
"Aku akan selalu menjaga kamu." ucap Jason mengacak rambut Arumi saat pipi gadis itu terlihat merona sekaligus mengontrol degup jantungnya yang semakin tak karuan.
Ia lalu mengandeng tangan Arumi menuju pesawat yang akan membawa mereka.
Akan ku wujudkan mimpi kamu bersama aku, bukan bersama orang lain. Batin Jason melirik gadis itu dibelakangnya.
****
"Bagaimana?"tanya Jason setelah melepas tali kekang yang dikenakan oleh dirinya dan Arumi.
"Luar biasa sangat menyenangkan Jas. Pengalaman ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, aku tidak akan pernah melupakannya." ucap Arumi bersemangat sambil memegang kedua tangan Jason.
"Termasuk aku juga." goda Jason mengelus pergelangan tangan Arumi yang masih berada digenggaman nya.
"Kecuali kamu." ucap Arumi menjulurkan lidahnya kearahnya dan berlari menjauh darinya.
Jason pun hanya tersenyum geli melihat tingkah gadis itu, lalu berlari mengejarnya.
Cantik. Gumam Jason pertama kali melihat gadis itu tersenyum bahagia.
"Apakah sekarang waktunya pas buat balikin bukunya ga yah." pikir Jason bingung akhirnya ia mengurungkan niatnya tersebut.
Hari semakin sore menunjukkan jam 4 sore, setelah terjun payung mobil yang mereka naik mengantar mereka pulang ke kota. Beberapa penerjun lainnya memilih tidur disisa perjalanan mereka termasuk Arumi.
Sedangkan Jason sibuk diam-diam memperhatikan Arumi yang terlelap disampingnya. Jason dengan perlahan menarik kepala Arumi agar perempuan itu bisa bersandar di bahunya.
Seketika terlintas sesuatu dipikirannya, ia segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkannya.
KLIK
Potret Jason secara diam-diam, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Ia cukup lama termenung, memikirkan cara agar ia bisa sedikit lama bersama gadis disampingnya itu.
"Apakah aku harus mengajak Arumi makan malam yah?" pikirannya cara satu-satu agar lebih lama dengan gadis itu.
Arumi terhenyak bangun, dan langsung mengangkat kepalanya yang bersandar di bahunya.
"Sorry." ucap Arumi sangat malu.
"It is okay." ucap Jason Mengelus rambut Arumi.
"Rum. Kamu mau makan malam dengan ku?"tanya Jason dengan berani. Terlihat gadis itu memikirkan ajakannya.
"Ayolah." pinta Jason menampilkan wajahnya yang imut.
"Ia deh."jawab Arumi.
****
Setelah seharian menghabiskan waktu bersama Arumi. Terlebih ia merasa senang bisa menghabiskan makan malam bersama dan mengantar gadis itu pulang, ia pun memutuskan untuk pulang. Namun pikirannya sangat terganggu oleh rencana gadis itu yang akan melanjutkan perjalanannya ke kota berikutnya.
Ia masuk ke dalam kamarnya meletakkan ponselnya diatas meja di samping tempat tidurnya dan segera bersiap untuk naik keatas tempat tidur untuk beristirahat. Namun matanya tak kunjung tertutup, ia menatap kosong atap kamarnya sambil mengingat waktu yang telah ia habiskan bersama Arumi.
Ia menghela nafas dan terdiam sejenak memikirkan sesuatu. Ia Langsung mengambil headphone nya, mencari sebuah nama di daftar kontak lalu menekan tombol telepon saat muncul nama, Natalia.
"Ada apa sih telpon jam begini?" tanya Natalia kesal terdengar suara diseberang sana.
"Sorry kalau Jason udah ganggu, kak. Jason cuman mau minta tolong." ucap Jason sedikit ragu apakah kakaknya akan setuju.
"Apa?"
"Jason mau ke sana, kira-kira kakak bisa pesan tiket pesawat besok pagi?."
"Serius kamu mau kesini? Udah ga apa-apa naik pesawatnya?"
"Yah nanti Jason minum obat sebelum berangkat."
"Ya udah nanti aku siapin deh."
"Thank you sister." ucap Jason mematikan teleponnya.
Akhirnya ia bisa tertidur dengan tenang. Walaupun ada perasaan aneh, ia akan bertemu kembali dengan kakaknya setelah empat tahun lamanya tak pernah bertemu.
Sebab ia lah yang sering menghindar.