Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
TUJUH



"Aku bisa melihat dunia lain"


pada diri kamu. Aku menyukainya


"Hai Arumi." sapa Jason sambil tersenyum.


"Kamu ko bisa ada disini?" tanya Arumi keheranan.


"Karena kita berjodoh." ucap Jason mengedipkan matanya papa Arumi


"Kalau orang nanya yah dijawab, jangan jawab yang lain." ucap Arumi memutar matanya malas.


"Aku yang bakalan temani kamu nanti saat terjun payung." jelas Jason melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Ka..mu?" tanya Arumi memasy.


"Ia nona cantik."


"Emang bisa?" tanya Arumi ragu.


"Nanti kamu lihat saja sendiri, gimana rasanya terjun payung bersama orang ganteng."


"Please deh jadi orang jangan narsis." ucap Arumi jengah jika ada orang yang terlalu membanggakan diri sendiri, walaupun pada kenyataannya Jason ganteng.


"Nyatanya gitu Arumi."


"Ia deh, percaya." ucap Arumi kembali menatap keluar jendela. Kali ini pemandangan diluar jendela mulai berbeda saat masih di kota Buenos Aires. Terlihat jelas hamparan rumput dan beberapa pohon terbentang luas serta beberapa kumpulan sapi yang sedang menikmati makanannya.


Untuk pergi ke pusat terjun payung mereka membutuhkan waktu dua jam dengan jarak sekitar 130 Km jika naik mobil dari Kota Buenos Aires.


"Pengalaman pertama kamu yah?" tanya Jason melirik kearah Arumi.


"Ia." jawab Arumi melirik sekilas kearah Jason.


"Gugup?"


"Sedikit."


"Nanti kamu ga akan gugup lagi kalau udah diatas. Kamu akan rasakan bagaimana terbang di udara seperti layaknya burung." jelas Jason menenangkan Arumi yang terlihat jelas perempuan itu sangat gugup.


"Aku harap seperti itu." ucap Arumi sambil tersenyum kearah Jason berterima kasih pria itu berusaha menenangkan dirinya.


"Kita hampir sampai." ucap sang sopir memperlambat lajunya mobil.


"Itu landasannya." tunjuk Jason kepada Arumi saat mereka turun dari mobil. Ia mengikuti arah yang ditunjuk pria itu, ia bisa melihat sebuah lapangan terbang tepat dihadapan.


"Sebaiknya kamu pergi ke bagian resepsionis untuk mengisi formulir, nanti kita bertemu lagi." jelas Jason sebelum beranjak mempersiapkan alat yang akan dipakai oleh peserta.


Arumi menuju resepsionis sesuai arahan Jason untuk mengisi formulir persetujuan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris.


Betapa gugupnya dirinya setelah menandatangani lembar persetujuan. Salah satu keinginannya akan tercapai hari ini, dan jujur ia tidak akan pernah memberitahukan kedua orang tuanya jika ia sudah melakukan hal yang paling gila selama hidupnya.


"Are you ready?" tanya seorang petugas wanita kepadanya.


"ready madam." jawab Arumi.


"Nanti akan ada empat orang yang akan melakukan terjun payung, dua peserta dan duanya lagi agensi dar kita yang akan menemani kalian." jelas sang petugas. Arumi mengangguk mengerti.


Arumi diarahkan untuk memakai peralatan keselamatan sebelum naik pesawat. Betapa gugupnya dirinya, melihat petugas bersiap untuk berangkat.


"Sudah siap?" tanya Jason membawa perasut bersama dengan tali kekang sambil tersenyum kearah kedatangan Arumi.


"Yeah." jawab Arumi tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.


"Aku punya resep biar rasa gugup kamu hilang."


"Emang apa resepnya?"


"Pertama kamu tutup mata kamu, kedua tarik nafas dalam-dalam, kemudian buang pelan-pelan. Lakukan itu selama tiga kali."


Arumi pun mengikuti apa yang dikatakan oleh pria itu, sedangkan Jason sibuk memasang alat keselamatan di badan Arumi.


"Tolong diikat dengan kencang dan jangan ada sampai yang terlewatkan." pinta Arumi.


"Percaya sama aku. Kamu akan melihat dunia lain yang tak pernah kamu duga." ucap Jason membawa Arumi ke hadapannya dan memegang lengan Arumi dengan erat.


Betapa terkejutnya dirinya mendapati posisinya yang sangat dekat dengan pria itu.


"Aku akan selalu menjaga kamu." ucap Jason mengacak rambut Arumi.


Seketika pipinya terasa panas dan merah merona. Saat Jason mengacak rambutnya sekaligus menggandeng tangannya menuju pesawat yang akan membawa mereka.


Sementara mesin pesawat menyala, Jason mengajarkan gaya terbang kepada Arumi bersama penerjun lainnya. Setelah itu akhirnya mereka masuk kedalam pesawat, pintu ditutup dan pesawat pun lepas landas.


Pesawat mengelilingi lapangan terbang dan perlahan-lahan terbang lebih tinggi. Mereka harus mencapai ketinggian 3.000 meter, dan mereka akan melakukan terjun payung di udara selama 45 detik saja.


"Kamu siap Arumi?" tanya Jason tepat dibelakang Arumi yang mulai mengaitkan tali kekang dirinya dengan Arumi.


"Siap." ucap Arumi bersemangat saat mulai detik-detik untuk melompat.


"Rum, kamu coba sedikit bangun dan duduk di atas pangkuannya aku." pinta Jason.


"Ah. Harus ya?" tanya Arumi ragu.


"Ia Arumi." tegas Jason yang membuat Arumi terpaksa melakukannya.


Pintu pesawat pun terbuka. Ia Peserta pertama yang melompat. Mereka bergerak maju sedikit demi sedikit hingga kedua kaki Arumi di udara.


Arumi menutup kedua matanya dengan erat saat angin menerpa wajahnya dengan kasar.


Kakak, lihat aku disana yah. Akhirnya aku bisa mewujudkan impian kita.


Aaaarrrgggggghhhhh.


Teriak Arumi, Merasakan badannya terasa ringan terbang di udara.


"Buka mata kamu, Arumi. Dan coba lentangkan kedua tangan." teriak Jason tepat dibelakang Arumi.


Arumi pun mengikuti instruksi Jason


"Wooooaaahhh." teriak Arumi merasa takjub apa yang dilihatnya.


Mereka pun melakukan teknik penurunan spiral dengan putaran 360 derajat, dan akhirnya perasut dibuka setelah mengembang di udara selama 45 detik telah berakhir.


"Lihat Arumi, kamu bisa melihat dunia tanpa ujung". teriak Jason.


"Ia Jason." ucap Arumi mengangumi keindahan dari bawah.


"Kita akan turun." instruksi Jason kepada Arumi. Mereka berdua perlahan turun sambil menikmati angin, dan akhirnya mereka mendarat dititik pendaratan dengan selamat.


"Bagaimana?"tanya Jason setelah melepas tali kekang yang dikenakan oleh dirinya dan Arumi.


"Luar biasa sangat menyenangkan Jas. Pengalaman ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, aku tidak akan pernah melupakannya." ucap Arumi bersemangat sambil memegang kedua tangan Jason.


"Termasuk aku juga." goda Jason mengelus pergelangan tangan Arumi yang masih berada digenggaman nya.


"Kecuali kamu." ucap Arumi menjulurkan lidahnya kearah Jason. Lalu berlari menjauh dari pria itu.


Jason pun hanya tersenyum geli melihat tingkah perempuan itu, dan berlari mengejarnya.


Hari semakin sore menunjukkan jam 4 sore, setelah terjun payung mobil yang mereka naik mengantar mereka pulang ke kota. Beberapa penerjun lainnya memilih tidur disisa perjalanan mereka termasuk Arumi.


Sedangkan Jason sibuk diam-diam memperhatikan Arumi yang terlelap disampingnya. Jason dengan perlahan menarik kepala Arumi agar perempuan itu bisa bersandar di bahunya.


KLIK


Arumi terhenyak bangun, dan langsung mengangkat kepalanya yang bersandar di bahunya.


"Sorry." Ucap Arumi sangat malu bisa-bisanya ia tidur nyenyak di bahu orang.


"It is okay." Ucap Jason Mengelus rambut Arumi.


Sentuhan singkat itu cukup membuat desiran dalam diri Arumi merasa aneh.


"Rum. Kamu mau makan malam dengan ku?"


"Mmm" Pikir Arumi bingung mengiyakan atau tidak.


"Ayolah." pinta Jason menampilkan wajahnya yang imut.


"Ia deh."jawab Arumi merasa gemas melihat tingkah pria itu.


Pengen dibawah pulang saja. Gumam Arumi berusaha menyembunyikan senyumnya.