
"Tidak Apa-apa Bersedih"
Semua Memang Butuh Waktu
Untuk Bisa Sembuh
~Pov Arumi
Sinar matahari pagi menyambutnya dengan hangat, ia mengeratkan jaketnya setelah mengunci pintu kamarnya. Pagi ini ia berencana akan berkeliling ke pusat kota, mendatangi beberapa tempat di setiap sudut kota yang belum ia lihat dengan berjalan kaki.
Ia mendapati setiap sudut jalan kota El Calafate ada beberapa anjing peliharaan yang berkeliaran maupun berkumpul di depan cafe.
Ia melewati sebuah jembatan yang pernah dirinya dan Jason lewati saat pertama kali di sini.
Mengenai pria itu, sejak semalam ia menolak untuk bertemu dengan pria itu apa lagi mendengar penjelasannya. Ia membutuhkan waktu untuk memikir apa yang sudah terjadi diantara mereka, terlebih saat ia menemukan bukunya di dalam tas Jason
*Flashback
"Jason, ponsel kamu bunyi." teriak Arumi.
"Tolong kamu bawah ke sini, Rum. Ponselnya di dalam tasnya aku." teriak Jason yang masih sibuk mencuci piring.
Arumi mengeluarkan ponsel Jason dari dalam tas pria itu
Bawel. Gumam Arumi membaca nama yang muncul dilayar ponsel Jason.
Ketika ia meletakkan kembali tas Jason, ada sesuatu yang nampak familiar bagi dirinya. Perhatiannya tertuju pada sesuatu yang nampak tak asing bagi dirinya, dengan sedikit keraguan dan dengan pertimbangan ia mengeluarkan batang tersebut.
Buku saku ku. Gumam Arumi terkejut.
"Ketemu pon....?" ucap Jason terbata ketika ia melihat Arumi terdiam membeku dengan buku kecil di tangannya.
"Arumi, aku bisa jelasin semuanya sama kamu." jelas Jason sangat ketakutan. Ia takut gadis itu tidak ingin menemuinya lagi.
"Terima kasih atas makan malamnya." ucap Arumi beranjak meninggalkan kamar Jason.
"Rum, please dengarin dulu penjelasan aku." ucap Jason berusaha menahan Arumi. Namun gadis itu terus berjalan keluar kamar tanpa sedikitpun menatapnya.
"Arumi, aku mohon. Aku ga ada niat sedikit pun untuk berbohong sama kamu." ucap Jason menahan Arumi yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Aku butuh waktu untuk sendiri, Jason." ucap Arumi melepaskan tangan Jason dan langsung menutup pintu kamarnya.
Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskan nafas dengan pelan. Kepalanya sangat sakit, dadanya sesak pikirannya terus berputar dengan beberapa kejadian bertemu dengan pria itu.
"Maafkan aku, Arumi."
"Aku punya alasan menyimpan buku kamu."ucap Jason dibalik pintu kamar Arumi.
"Baiklah kalau hari ini kamu tidak ingin mendengar penjelasan ku, Rum."
"Kamu cepat istirahat yah, aku pergi dulu." ucap Jason penuh harap gadis itu muncul dihadapannya, namun harapannya pun sia-sia.
"Selamat malam, Arumi. Semoga kamu mimpi indah." ucap Jason lirih dan kembali ke kamarnya.
Arumi memejamkan matanya, entah apa yang terjadi pada dirinya. Seharusnya ia senang telah mendapatkan bukunya kembali, tapi kenapa harus cara seperti ini? Kenapa harus pria itu? Sesakit inikah karena di bohongi? Sesakit inikah karena di bodohi*?
****
Ia beranjak ke dapur dan mengambil segelas air putih, lalu di teguk sampai habis.
"Apa Arumi sudah sarapan ga yah." gumam Jason melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 8.42.
Ia akhirnya memutuskan untuk pergi mandi dan nanti berencana mengajak gadis itu sarapan.
Tok
Tok
"Arumi, apa kamu di dalam?" ucap Jason mengetuk pintu kamar Arumi.
"Aduh ko ga dibuka yah? apa dia masih tidur ?" gumam Jason mencari nama kontak Arumi di balik layar ponselnya.
"Ko ga di angkat." ucap Jason menyerah.
Mungkin Arumi masih ingin sendiri. Mungkin dia masih membutuhkan waktu untuk berpikir, sabar Jason kamu jangan terlalu memaksanya. Batin Jason berusaha berpikir positif.
Ia memutuskan untuk pergi sarapan sekaligus akan menunggu Arumi.
"hola, no eres el novio de la señorita Arumi (hai, kamu bukannya pacar nona Arumi)?" tanya perempuan paruh baya yang adalah pemilik penginapan.
"Hola señora (hai juga nyonya)."
"Nona Arumi nya belum balik yah ,Nak Jason?" tanya pemilik penginapan.
"Maksud Nyonya, Arumi pergi? Tapi pergi ke mana?" tanya Jason perasaannya mulai tak enak.
"Aku ga tau, Nak Jason. Tadi pagi aku hanya melihat sekilas saat Nona Arumi keluar dari penginapannya."
"Kalau begitu saya pergi dulu, Nyonya." pamit Jason sambil mencoba menelpon nomor Arumi. Sayangnya semua teleponnya tidak tersambung, nadanya selalu menandakan bahwa sambungannya berada diluar jangkauan.
"Kamu dimana, Arumi." ucap Jason putus asa. Ia sudah mencari gadis itu di sekitar penginapan, namun ia tidak dapat menemukannya. Perasaannya pun sangat kacau, nomor telepon gadis itu tak kunjung tersambung.
Sesungguhnya ia sangat takut jika gadis itu meninggalkannya. Ia tidak masalah jika Arumi mendiamkannya, setidaknya gadis itu masih dalam pandangannya.
****
Arumi yang dicari tidak merasa khawatir, ia malah menikmati waktunya yang sendiri sambil mengelilingi kota. Sudah satu jam ia berjalan-jalan, ia beristirahat di sebuah taman di mana dirinya bisa melihat kota El Calafate yang kecil dari atas.
Dengan tergopoh-gopoh akhirnya ia berada di atas. Ia bisa merasakan angin yang berhembus membuat rambutnya yang tergerai ikut tertiup oleh angin hingga menutupi sebagian wajahnya. Tangannya terangkat lalu menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
Ia terkagum-kagum melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Ia bisa melihat rumah penduduk, danau Argentino, langit biru tanpa ujung, pepohonan yang hijau sekilas. Ia seakan berada di sebuah negara yang damai dan tenang dari hiruk pikuk kendaraan.
Selagi menikmati pemandangan pikirannya terbawa pada sosok Jason. Seandainya kami bisa menikmati ini bersama, pasti akan sangat menyenangkan.
Ia merasa bingung menghadapi pria itu nanti. Ia memang marah dan merasa dibohongi oleh pria itu, tapi setelah dipikirnya apa salahnya untuk mendengar penjelasan dari pria itu.
Dan mengenai buku ia sangat bersyukur mendapatkannya kembali, sebab di dalamnya terdapat beberapa catatan yang berharga ditulis oleh dirinya bersama Romi. Kembarannya.
Selalu ada perasaan sedih dan menyayat hatinya setiap mengingat kembarannya. Ia dan Romi yang berencana untuk mengeksplorasi Kota Bandung, dan memilih transportasi bus dari Malang ke Bandung. Namun naas nya kami mengalami kecelakaan, saat itu dirinya cukup terluka parah sampai mengalami kebutaan sedangkan Romi yang sudah tidak tertolong kan saat dibawah ke rumah sakit.
Saat itu ia merasa sangat terpukul akan kepergian Romi, ia kehilangan kembarannya, sosok Kakak, sekaligus teman. Ia terus menyalahkan dirinya atas kepergian Romi, kenapa tidak dirinya saja yang mati? Kenapa Romi tidak membawa dirinya pergi juga? kenapa Romi mendonorkan kedua matanya kepada dirinya?
Sesungguhnya ia tidak pantas menerima semua itu, kehidupan maupun penglihatan. Namun ketika ia menemukan buku itu, Ia ingin hidup dan ingin mewujudkan semua keinginan yang telah mereka buat bersama.