
"Belajarlah Dari Rasa Sakit Mu"
Itu Akan Membuat Mu Menjadi Orang Lebih Baik.
Hari ini ia bangun pagi sekali dan berencana akan membuat sarapan pagi untuk dirinya dan Jason.
Atas bantuan pemilik penginapan yang memberikan ia sedikit nasi dan telur, ia tidak perlu repot-repot untuk mencari bahan yang ia perlukan kecuali bumbu untuk membuat nasi goreng terpaksa harus ia pergi ke pasar swalayan.
Ia mengirimkan pesan pada Jason setelah meletakkan belanjaannya diatas meja.
~Arumi~
Jas, kamu udah bangun? Nanti datang ke kamar aku, kita sarapan bareng.
Beberapa menit belum ada jawaban. Ia memutuskan untuk memasak terlebih dahulu, agar ketika Jason datang sarapannya sudah siap.
Beberapa menit berlalu, nasi goreng ala Arumi pun jadi. Bertepatan dengan ketukan pintu di depan kamarnya.
"Sebentar." teriak ku dari dalam.
"Selamat pagi. Hmm.. Baunya enak nih." ucapannya langsung masuk ketika mencium aroma masakan nya.
"Pas bangat kamu datang. Aku baru selesai memasak, kamu duduk saja nanti aku yang siapin nya". ucap Arumi kembali masuk kedalam dapur.
"Masak apa sih Rum? Pasti enak bangat."
"Nasi goreng telur dadar." ucap Arumi meletakkan sepiring nasi goreng dihadapan mereka berdua.
"Wah makanan kesukaan aku nih." ucap Jason penuh kegirangan sambil tersenyum luar biasa bisa melelehkan hati setiap wanita.
Ia akan selalu mengingat senyuman itu. Gumam Arumi ikut tersenyum.
"Bisa aku makan sekarang?" tanya Jason antusias.
"Silakan."
"Ini enak bangat, Rum." ucap Jason tidak bisa berkata-kata. Ingatannya membawanya pada seseorang yang tidak bisa ia lupakan sampai sekarang ini.
"Kenapa Jas? Kalau ga enak ga usah dimakan." tanya Arumi gelisah melihat sikap Jason yang berubah membuatnya khawatir. Seakan pria didepannya menyimpan sebuah luka.
"Aku ga apa-apa, Rum. Hanya saja masakan kamu mirip sekali dengan masakan mami." ucap Jason yang berusaha tersenyum.
"Wah pasti mami kamu jago masak. lain waktu ajak aku ketemu mami kamu dong, barang kali aku bisa icip masakan mami kamu."
"Mami aku udah ga ada, Rum." jawab Jason setenang mungkin.
"Maaf. Aku turut berduka." ucap Arumi merasa tak enak.
"Tidak perlu minta maaf, bukan salahmu." ucap Jason mengambil nafas dalam dan kembali melanjutkan acara makannya.
Kami diam beberapa sesaat.
"Waktu dulu mami sering membuat sarapan nasi goreng buat aku. Terkadang aku sering membawanya ke sekolah, dan lucunya bekal ku sering dihabisi oleh teman-teman ku." Jelas Jason memecah keheningan sambil terkekeh kecil kala mengingat masa sekolahnya.
"Tapi ternyata Tuhan memanggil mami lebih dulu. Kala itu mami lagi berjuang dengan penyakit kanker payudaranya yang sudah stadium 4 sekaligus bayi di dalam perutnya. Kabar kehamilan mami membuat keluarga kami sangat bahagia, namun kebahagiaan itu sirna tergantikan kabar penyakit mami."
Jason kembali menarik nafas sangat dalam lalu menghembuskannya dengan keras, sebelum ia akan bercerita semua tentang masa-masa bersama ibunya.
Jason menatap Arumi, menunggu gadis itu bertanya padanya. Namun Arumi diam saja, seakan memberikannya kesempatan untuk meluapkan kesedihannya. Bibirnya tidak berkata-kata namun seolah matanya mengatakan, aku akan selalu ada disini untuk mendengarkannya.
"Papi sangat sedih dan kacau, mami ngotot untuk mempertahankan bayi di dalam perutnya. Namun bayi itu akhirnya tidak terselamatkan, karena kondisi mami yang tidak memungkinkan. Semakin hari mami tidak ingin berobat, untuk operasi maupun terapi semua ditolak oleh mami. Hingga akhi....." Putus Jason yang tak sanggup lagi untuk bercerita.
Tiba-tiba Jason merasakan dirinya dipeluk. Ia diam, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima kehangatan yang diberikan gadis itu padanya.
"Kamu tidak perlu melanjutkannya. Aku ngerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi." ucap Arumi lirih.
"Dari pada kita menghabiskan waktu dengan bersedih. Mending kita berangkat sekarang." ucap Arumi melepaskan pelukannya.
"Maaf gara-gara aku kita jadi terlambat berangkat." ucap Jason menyesal atas sikapnya yang terlalu melankolis hari ini.
"It's okey." ucap Arumi yang tersenyum manis.
****
Disinilah kami menaiki bus yang akan mengantarkan kami pada perjalanan berikutnya ke Gletser Perito Moreno yang terletak di taman Nasional Los Glaciares, yang akan memakan waktu 1,5 jam dari pusat El Calafate.
"Kenapa berhenti?" Tanya Arumi merasakan bus tiba-tiba mulai melambat. Ia pun mendapati beberapa wisatawan berhenti saat lewat.
"Kamu mau berfoto disana?" tunjuk Jason pada sebuah pemandangan danau Argentina dan Andes yang menjadi latar belakangnya.
Arumi mengangguk antusias.
"Bukankah warna danau itu sangat indah." tunjuk Arumi merasa kagum melihat keindahan danau yang berwarna biru tidak pernah ia lihat selama ini.
"excuse me, can you take a picture of us?" tanya Jason pada pria berbadan gemuk.
"Of course."
"Thank you." ucap Jason menyerahkan ponselnya pada pria dihadapannya.
"Ayo kita foto bareng." rangkul Jason meletakkan tangannya di pundak Arumi.
Ia mendengus kesal kearah Jason saat dirinya belum siap untuk berpose, tapi pria gendut itu sudah memotret kami.
"Can you take a photo again?" pinta Arumi pada pria gendut itu.
"Okey."
Arumi mengangkat dua jarinya sambil tersenyum lebar menampilkan senyum close up. Sedangkan Jason masih dengan gayanya yang cool sambil meletakkan tangannya diatas pundaknya.
"Thank you very much." ucap Jason pada pria gendut itu sebelum beranjak pergi.
"Lihat dong fotonya, bagus ga?" ucap Arumi penasaran dengan hasil foto mereka.
"bagus." jawab Ason memperlihatkan hasil foto mereka.
"Nanti kirimin ke aku yah."
Setelah puas menikmati pemandangan, bus kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju
Gletser Perito Moreno.
Tiba-tiba Arumi terusik oleh bunyi ponselnya. Suara telepon masuk dan nama Gilang tertera pada layar ponselnya.
Arumi memandangi layar ponselnya, dan seketika ia merasa dirinya sebagai cenayang yang dapat menebak apa yang akan dikatakan oleh Gilang. Ia menghela napas sebelum menerima telepon itu.
"Halo."
"Kamu apa kabar, Rum?"
"Aku baik-baik saja."
"Rum. Kamu tidak berusaha menjauhi aku kan?" tanya Gilang lirih di seberang sana.
"Ga Gilang, hanya saja aku belakangan ini sibuk dan tidak sempat untuk menghubungi kamu." ucap Arumi berharap apa yang dikatakanya tidak terdengar seperti alasan yang konyol.
"Syukurlah kalau ga seperti yang aku pikir".
"Kamu gimana kabarnya?" tanya Arumi mengalihkan pembicaraan.
"Secara fisik aku sehat, tapi untuk hati aku tidak baik-baik saja."
"Kamu butuh libur, Lang. Sesekali kamu harus mengistirahatkan tubuh kamu." ucap Arumi menggigit ujung bibirnya. Sesungguhnya ia tidak bermaksud seperti begitu, tetapi ia bingung harus seperti apa menghadapi pria itu.
"Mungkin. Kayanya aku harus pergi berlibur." ucap Gilang diseberang sambil tertawa getir.
"Ya udah nanti kita lanjut teleponan lagi yah, Lang. Salam buat Tante sama om."
"Nanti aku sampaikan. Kamu hati-hati disana yah."
"Ia Lang. Bye." ucap Arumi mengakhiri sambungan telepon.
"Tadi siapa?" tanya Jason dingin.
"Teman."
"Oh, teman." cap Jason datar.
Pria ini kenapa sih. Kesal Arumi yang tiba-tiba Jason menjadi dingin.