Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
SATU



 "Memiliki Keinginan Saja Tidak Cukup"


 Harus Ada Usaha, Tekad Yang Kuat Dan Kemauan Yang Keras Untuk Mewujudkannya


~Arumi~


 


"Kak, lusa pergi nya jam berapa?" wanita paruh baya itu mendekati anak bungsunya yang sibuk mengemasi barang-barangnya.


" Jam 7 Ma." ujar Arumi yang masih sibuk memasuki barang yang diperlukan nanti.


"Kakak yakin ke Argentina sendiri saja? Kakak perempuan loh apalagi disana ga ada kenalan, kalau terjadi sesuatu kan Mama khawatir Kak." keluh Perempuan paruh baya bernama Anita yang memperhatikan anaknya perempuannya itu.


"Ma, kita kemarin udah ngobrol ini panjang lebar. Mama percaya sama Arumi ga bakalan terjadi sesuatu dan Papa juga udah ngasih izin." jawab Arumi menghentikan kegiatan nya dan langsung mendekati Anita.


"Mama tau kamu suka Travelling. Kalau selama ini Mama izinin kamu Travelling karena masih di dalam Indonesia saja Kak, dan itu masih bisa Mama jangkau". keluh Anita berharap anaknya mengerti kekhawatiran ibunya.


"Mama tau kan impian Arumi bisa ke Argentina dari dulu dan sekarang Arumi dikasih kesempatan bisa ke sana. Arumi di sana hanya seminggu, jadi ga usah terlalu khawatir kaya ga bakalan ketemu anaknya lagi." balas Arumi capek hadepin Mama nya yang ga ngerti kalau ini adalah impiannya.


"husst. Kamu tuh yah kalau ngomong dipikir dulu jangan ngasal kaya gitu Kak." ucap Anita memukul lengan anak bungsunya.


"Ih sakit Ma, ko Arumi dipukuli sih." rengek Arumi mengelus lengannya yang sakit.


" Ada apa sih ini ribut-ribut?" tanya seorang Pria paruh baya muncul dari balik pintu kamar Arumi.


"Ini salah kamu Mas, udah tau anak perempuan hanya satu tetap diizinin pergi." keluh Anita meninggalkan anak dan suami yang keheranan.


"Mama kamu kenapa tuh." tanya Pria paruh baya bernama Andrian duduk di samping anaknya.


"Ga tau tuh. Lagi PMS mungkin." balas Arumi yang melanjutkan kegiatan packing nya.


"Lusa papa mama yang nganterin kamu ke bandara ." ucap Andrian sambil mengelus rambut panjang putrinya.


"Siap Pak bos." balas Arumi mengangkat tangannya seperti hormat kepada ayahnya.


"Ya udah kamu packing saja dulu dan langsung istirahat. Papa mau ngerayu Nyonya besar biar ga ngambek lagi." ucap Andrian beranjak dari kamar putrinya.


"Ia pa, nanti ribet ngambek- ngambek kan nanti ga dikasih makan." ujar Arumi sambil tertawa membayangkan Andrian pasti pusing hadepin Anita.


*****


"Arrum!" teriak seorang perempuan yang berusaha mengejar Arumi yang keluar dari toko baju.


"Eh Ra." sapa Arumi yang keheranan mendapati temannya seperti habis dikejar orang.


"Gila Lo ya. Gue dari tadi manggil Lo tau, punya telinga itu dipakai ARUMI ." ujar kesal Rara kepada Arumi.


"Sorry Ra, gue pakai headset nih." senyum Arumi manis menampilkan gigi putihnya yang rapi.


"Loe udah bilang Gilang kalau Lo jadi ke Argentina?" tanya Rara mengikuti langkah Arumi ke salah satu restoran Jepang.


"belum."


"What? Gue bingung sama kalian berdua, status nya apa sih sebenarnya? udah 2 tahun loh Rum". ucap Rara tak habis pikir dari kedua temannya itu. Rara merasa bertanggung jawab atas mereka berdua, sebab awal yang mempertemukan Arumi dan Gilang adalah dirinya.


“Ga usah bingung Ra. Gue yang ga bingung malah Lo yang bingung sendiri.” Ucap Arumi santai.


“Yah ga gitu juga kali Ra.”


Sebuah pop-up WhatsApp muncul dibalik layar ponselnya.


~Gilang~


Kamu lagi dimana? Dinner yuk.


~Arumi~


Lagi di Restoran Jepang. Lagi makan bareng sama Rara.


~Gilang~


Ko ga bilang aku sih Rum.


~Arumi~


~Gilang~


Ya udah aku kesana yah. Ditempat biasanya kan.


“Chattingan sama Gilang ya?” tanya Rara melihat Arumi menyudahi kesibukannya mengotak-atik ponselnya.


“Mm. Katanya dia mau kesini” jawab Arumi malas.


“Kesini? Gue ga nganggu kalian berdua kan? Atau Gue pergi ajha biar Lo berdua punya waktu sendiri.” ucap Rara merasa tak enak hati.


“Biasa ajha deh Ra, biasanya kan kita jalan bertiga ngapain Lo ga enakan sekarang”. ucap Arumi sedikit kesal terhadap sikap Rara yang tidak jelas.


Keheningan pun terjadi diantara mereka berdua. Baik Arumi dan Rara enggan untuk memulai pembicaraan dan lebih memilih menikmati makanan mereka .


“ Hai. Ko pada diam ajha kalian berdua.” sapa Gilang mengambil tempat duduk tepat dihadapan Arumi.


“Lo nyampenya lama bangat sih Lang. Padahal rumah Lo ga jauh-jauh amat dari sini.”


“Sorry Ra. Lo sendiri tau kalau malam Minggu yah otomatis macet lah.” jawab Gilang menyesal atas keterlambatannya.


“Alasan bangat.” jawab Rara ketus.


“Kamu mau makan apa Lang?” tanya Arumi menyodorkan daftar menu makanan kepada Gilang. Dan memanggil salah satu pelayan tak jauh dari mereka mereka.


“Aku sushi.” Ucap Gilang memberikan daftar menunya pada pelayan.


“Liburan rencananya mau ngapain?” tanya Gilang sambil mengicip makanan Arumi.


“ Gue mau ke Jogjakarta bareng teman-teman paguyuban.” jawab Rara.


“Senang dong Ra, Gue mah dapat tugas harus praktek di rumah sakit.” keluh Gilang.


“Yang sabar ajha Lang, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian.” ucap Rara menasehati.


“Terima kasih atas nasehatnya, terus kalau kamu gimana, Rum?”


“Aku mau ke Argentina, Lang.” jawab Arumi.


“Bareng keluarga atau sendiri lagi Rum? Aku harap aku ga dengar yang ga kepengen aku dengar yah Rum, aku bukan melarang atas hobby kamu itu hanya saja aku ga suka kamu selalu berpergian selalu sendiri. Kamu diluar sana sama siapa Arumi? Ga ada yang kamu kenal disana, dan kalau terjadi sesuatu sama kamu yang khawatir orang terdekat kamu.”


“Kamu ga perlu khawatir Lang, aku pasti bisa jaga diri di sana. Aku udah dapat izin Mama dan Papa ko dan Argentina adalah mimpi aku.” jawab Arumi melihat pria dihadapannya membuang nafas dengan kasar sedangkan Rara hanya bisa terduduk lesu tidak berani untuk bicara.


“kapan kamu berangkat?” tanya Gilang pasrah atas pilihan gadis itu.


“besok pagi Lang.” Jawab Arumi


“kamu udah mau berangkat besok dan baru bilang sekarang sama aku. Dan Lo Ra, Arumi mau ke Argentina Lo gak cerita sama gue?” ucap Gilang kesal kepada kedua gadis dihadapannya itu.


“sorry Lang gue udah janji sama Arumi nggak cerita sama lo.” jawab Rara merasa bersalah.


"Apa gue sebegitu ga penting buat kalian?" tanya Gilang sedih.


" Lang maksud aku ga gitu." Ucap Arumi semakin pusing.


"Kita pulang aja." ajak Gilang beranjak dari kursinya dan di ikuti kedua gadis itu hanya bisa mengekor dibelakang pria itu dengan perasaan campur aduk.




***Sampai disini dulu yah.


Maaf banyak typo-nya atau kalau ada beberapa kata yang tidak sesuai.


Kalau ada kesalahan, mohon saran dan kritikan nya yah.


Sabar yah lanjutan berikut nya***