Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
DUA PULUH SATU



"Kehilanganmu Akan Menjadi Kehancuran


Untuk ku. Maka Tolong, Jangan pergi.


Tetaplah Disisi Ku"


Ia memutuskan untuk pulang setelah puas mengelilingi Kota El Calafate. Sampai di depan penginapan ia melihat Jason, pria itu mengamatinya saat Jason menyadari kedatangannya.


Kenapa pria itu sangat kacau. Batin Arumi melihat kondisi Jason yang berantakan.


Cukup lama mereka berpandangan tanpa melakukan gerakan apapun, ia yang hendak melangkah namun diurungkan niatnya itu karena ia melihat Jason berlari kearahnya begitu cepat dan langsung merangkulnya.


"Jason?"


"Diam." bentak Jason.


Pelukan Jason semakin lama semakin erat.


"Jas, sesak." protes Arumi. Lalu ia merasakan Jason merenggangkan pelukannya.


"Jangan pergi seperti ini lagi. Aku mengkhawatirkanmu." ungkapJason menangkup kedua pipi Arumi.


Maksudnya siapa yang pergi sih? .


"Aku hanya jalan-jalan sebentar."


"Aku tau, tapi setidaknya kamu beritahu aku jika mau keluar. Setidaknya aku tidak seperti orang gila mencari kamu, Arumi." ucap Jason tegas.


Dia nyariin aku? Sebegitu khawatir kah? Ia memang keluar sebentar untuk jalan-jalan, namun dua hal yang membuat dirinya enggan untuk berpamitan. Pertama, mereka masih mode jaga jarak. Kedua, karena cowok itu masih tidur.


"Jawab Arumi, jangan hanya diam saja." tambah Jason kesal melihat Arumi yang hanya diam saja.


"Ia." ucap Arumi pelan.


"Bagus." Jason tersenyum lega lalu memeluk Arumi.


Ia bisa merasakan hembusan nafas Jason di lehernya. Pelukan pria itu pun menenangkan, dan menghangatkan dirinya.


Andaikan ia terus begini. Berada di samping pria itu, dan dipeluk setiap ia merasa tidak baik-baik saja. Batin Arumi mengingat aroma parfum pria itu.


"Jas, malu dilihat orang." lirih Arumi sangat malu dipeluk didepan umum.


"Satu menit saja kita kaya begini."


Jason tidak akan pernah melepaskan gadis ini. Tidak akan, dia tidak akan kehilangan lagi.


****


Jason mengajak Arumi melihat danau Argentino, duduk bersisian di tepian danau sambil menikmati angin sepoi-sepoi.


"Rum." panggil Jason.


"Apa?" tanya Arumi tak lepas memandangi keindahan Danau Argentino.


"Umm..."


Jason menggaruk tengkuknya dan menghela nafas beberapa kali. Sejujurnya ia bingung memulai dari mana, ia terus saja merangkai kata-kata di kepalanya.


Aduh ko deg-degan kaya gini sih. Pada hal cuman mau minta maaf, bukan mau ngatain perasaan. Batin Jason gugup.


"Kalau ga jadi ngomong kita balik aja deh." pancing Arumi kesal Jason tetap diam saja.


"Aku mau ngomong ko, Rum." sergah Jason semakin gugup.


"Ya udah mau bicara apa? To the point aja deh, Jas." ucap Arumi tak ingin berbelit-belit.


"Aku minta maaf tidak langsung membalikkan buku berharga kamu, Rum. Dari awal aku udah niat mau balikin buku itu, saat aku nyusul kamu di La Boca..."


Oh ternyata Jason saat itu mau balikin bukunya aku. Batin Arumi


"Terus kenapa kamu ga balikin saat itu?" tanya Arumi memotong penjelasan Jason.


Berarti pertemuan-pertemuan berikutnya udah direncanain sama Jason dong. Batin Arumi sulit percaya pria itu sangat luar biasa aktingnya.


"Esoknya aku udah rencana mau balikin bukunya, tapi aku sering lupa kalau udah didekat kamu." jawab Jason terkekeh kecil.


Dasar tukang gombal. Umpat Arumi dalam hati.


"Kita ketemunya bukan hanya satu atau dua hari saja, Jason. Masa kamu lupa? Masih muda bawaannya udah pikun aja. Terus jangan bilang setiap pertemuan kita adalah takdir, tapi selama ini kamu sengaja biar berpapasan dengan aku kan?" ucap Arumi mengeluarkan semua isi pikirannya.


"Ia aku memang sengaja, tapi untuk pertemuan kita di Restoran Asado dan disaat terjun payung itu memang real tanpa aku sengaja- in." jawab Jason jujur.


Jason menarik nafas dalam-dalam, dan membuang secara perlahan.


"Karena aku tertarik sama kamu, Rum." ungkap Jason menatap Arumi.


DEG


Untuk beberapa saat Arumi merasa jantungnya berhenti berdetak, lalu kemudian kembali berdetak lagi namun dengan ritme yang tak biasa.


Jason meraih bahu Arumi membawa ke hadapannya."Aku tidak hanya sekedar tertarik, tapi aku sayang kamu." tambah Jason.


Arumi tidak mampu merangkai kata, kegugupan ini membuat lidahnya kelu. Jemari Jason menuju ke kepalanya, memainkan rambut-rambutnya. Jason juga diam, tidak bicara bicara apapun lagi. Hanya suara deru ombak, kicauan burung yang mengisi kesunyian yang canggung diantara kami.


Arumi tidak menghitung dengan pasti, namun jika dipikir sekitar 5 menit kami saling diam begitu.


Sampai akhirnya Jason membuka percakapan lagi. "Kamu tenang aja Rum, jangan merasa terbebani dengan perasaan aku sendiri. Aku hanya ingin ungkapin perasaan aku agar kamu tahu, dan itu alasannya mengapa aku tidak membalikkan buku kamu." Jelas Jason.


"Namun aku harap kelak kamu bisa memberikan jawaban atas perasaan aku, Rum." tambah Jason tersenyum manis, sangat manis.


Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Urusan sama Gilang aja belum pasti, ditambah dengan Jason. Mama, anakmu harus bagaimana. Batin Arumi bingung.


****


Saat ia terbangun dari kasur empuk dan hangat, ia langsung teringat bermimpi tentang Jason mengucapkan sayang kepadanya.


"Mungkin itu hanya mimpi, Arumi." Gumam Arumi menyakinkan lalu dirinya mencubit lengannya.


AAUU


lirih Arumi menahan sakit.


"Morning Arumi." sapa Jason bersandar di tembok yang sudah menunggu gadis itu sejak pagi.


"Mor...ning." sapa Arumi terkejut dan gugup melihat Jason yang sudah berada didepan penginapannya.


Shit. Ko jadi terbata-bata sih Arumi. Umpat Arumi dalam hati.


"Bagaimana tidur nya, nyenyak?" tanya Jason tersenyum manis.


Nyenyak darimana. Semalaman ga bisa tidur gara-gara kamu. Batin Arumi.


"Yah seperti itu." jawab Arumi sekenanya mencoba menutupi kegugupannya.


"Ayuk pergi sarapan. Aku udah lapar bangat." ajak Jason menarik tangan Arumi dalam genggamannya.


Arumi yang berada dibelakang Jason, kembali terkejut saat pria itu menarik tangannya tanpa permisi.


Arumi menghela nafasnya. kenapa pria itu sering membuat ritme jantungnya semakin takaruan sih.


Jason ko kaya biasa aja yah. Sedangkan aku, kaya mati kutu disampingnya. Batin Arumi sangat kesal.


"Rum, aku boleh nanya sesuatu?" tanya Jason meletakkan sendok dan garpu nya diatas piring lalu menatap Arumi.


"Apa?"


"Mmm... Romi siapanya kamu? tanya Jason pelan.


"Saudara kembar aku." jawab Arumi dingin


Jason mengangguk mengerti. Ternyata selama ini apa yang dipikirkannya tidaklah benar.


Come Jason, ko jadi canggung kaya gini sih. Pikir-pikir mau ngomong apa. Batin Jason mengumpat.


"Rum, bukannya kamu berencana mau pergi ke Fitz Roy? tanya Jason teringat salah satu rencana yang tertulis di buku Arumi.


"Astaga aku lupa. Terus gimana dong? aku berencana mau berkemah dan nanti mau lihat sunrise." ucap Arumi kebingungan. Ia sangat kecewa pada dirinya sendiri dua hari belakangan ini ia tidak fokus pada rencananya.


Jason tersenyum misterius, membuat Arumi bingung. "Kamu tenang aja kita tetap pergi ke Fitz Roy hari ini. Aku udah sewa mobil untuk kita pergi ke sana, dan kamu siap-siap berkemas 10 menit aku tunggu di mobil." jelas Jason tersenyum kemenangan. Ia geli melihat ekspresi gadis itu yang melongo.


"Beneran nih?" tanya Arumi tidak percaya.


"Udah sana siapin barang-barang kamu aja, ga usah banyak-banyak yang dibawah." ucap Jason menarik Arumi berdiri dari kursinya.


"Thanks Jason, kamu memang yang paling terbaik deh." ungkap Arumi tersenyum luar biasa manis lalu berlari menuju kamarnya.


Jason mengangkat kedua bibirnya, yang terpana akan senyum manis Arumi.


Aku janji, aku akan selalu membuat mu bahagia di dunia ini Arumi.