
" Kamu Percaya Takdir?"
Aku Percaya, Takdir Yang Mempertemukan Kita. Kecuali Ada Konspirasi Dari Setiap
Pertemuan Kita"
Sekitar 20 menit Arumi berjalan akhirnya ia sampai di penginapan. Ia yang merasa kelelahan langsung saja melompat ke kasur empuk dan wangi yang ada dikamar ini. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengecek beberapa pesan di WhatsApp yang sudah beberapa hari ia biarkan.
~Ibu Besar~
Kak, baik-baik ajha kan disana? Kabarin Mama sama Papa ya kalau ada apa-apa
Aduh kak dibalas dong. Kamu boleh senang-senang di sana tapi jangan lupa kabarin.
~Arumi~
Hehe. Maafin anakmu ini Ma. Arumi ga sempat buka pesan, alhamdulillah Arumi disini baik-baik saja. Salam buat Papa ya. Love you.
Arumi kembali menscroll beberapa pesan WhatsApp yang masuk ada dari grup kampusnya, dari Rara, dan ah ia lupa membalas pesan WhatsApp dari Gilang.
~Gilang~
Kamu lagi ngapain Rum?
Rum??
Arumi, ko ga dibalas chatnya aku dari kemarin sih.
Arumi,udah dibuka ga ?
Arumi?
Arumi kangen
~Arumi~
Astaga maaf Lang aku baru bisa ngasih kabar. Beberapa hari ini aku ga buka WhatsApp, jangan ngambek ya nanti hilang gantengnya. Pisss
Arumi beranjak dari kasurnya dan mulai membongkar tasnya mencari sebuah kotak kecil berwarna biru yang ia lupa untuk membukanya. Setelah ketemu, Arumi membuka kotak kecil itu dan betapa terkejut isinya sebuah gelang yang berbentuk smile yang sudah lama ingin dibelinya. Di balik gelang tersebut terdapat sebuah kertas berwarna biru.
To
Arumi
*Maaf kalau dengan cara ini aku harus mengungkapkan perasaan aku,Rum. Sebenarnya aku berencana untuk mengajak kamu ke suatu tempat, tapi karena kamu sudah berencana ke Argentina membuat ku tidak bisa menahan perasaan ini lagi.
Aku sayang kamu,Arumi. Lebih dari teman tetapi seperti seorang pria ke wanitanya, aku mencintaimu. Entah kamu peka atau tidak selama ini aku berusaha selalu ada disamping kamu, berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu, apapun akan kulakukan untuk kamu.
Gelang ini sengaja aku beli di hari spesial ini dan sengaja aku beli karena waktu itu kamu melihatnya sangat lama, aku tau kamu menyukainya maka dari itu aku membelikan untuk kamu Arumi. Semoga dengan memakai gelang ini, aku berharap kamu menerima aku ,Arumi*.
From
Gilang
Arumi menyandarkan tubuhnya ke sofa, memijat pelipisnya yang sebenarnya tidak sakit hanya saja ia sedikit bingung pada dirinya sendiri lebih tepatnya pada perasaannya.
Ia dan Gilang cukup berteman dekat selama satu setengah tahun ini, pri itu selalu ada walaupun sesibuk apapun. Ia merasa nyaman berada di samping Gilang, dan sebenarnya ia tahu atas setiap kode-kode sinyal dari pria itu yang dikasih kepadanya. Tetapi, ia takut terlalu berharap karena Gilang tipe pria yang selalu baik kepada semua orang dan ia tidak mau mengartikan lebih dari itu.
Arumi kembali teringat kejadian 3 bulan yang lalu, ia mendapati sebuah foto yang membuatnya cukup terluka harga dirinya, dan merasa dibohongi. Namun selama ini ia memilih untuk diam dan membiarkannya. Saat itu ia sadar bagaimana perasaannya kepada cowok itu. Bukankah jalan terbaik melepas luka adalah pergi?
****
Arumi menggeliat di atas kasur. Merenggangkan otot-ototnya yang terasa nyeri. Serbekas sinar matahari masuk melalui celah ventilasi, ia mencoba menggerjap beberapa kali membiasakan matanya dengan silaun itu. Ia meraih ponselnya di atas meja dan mengecek jam, sudah pukul setengah tujuh ia memutuskan untuk segera mandi.
Selesai mandi ia memesan secangkir kopi dan roti pada pelayan agar bisa diantar ke kamarnya. Arumi memilih mengenakan sweater panjang berwarna coklat dipadukan dengan legging hitam, kali ini ia mengikat rambutnya agar tidak diterpa oleh angin yang membuat dirinya kesulitan, dan tak lupa sepatu sneakers putih.
Ia mengoleskan wajahnya cukup dengan BB coushin, Maskara, Eyeliner, Blush-on, dan liptint agar ia terlihat fresh.
Tok. Tok
“Wait." teriak Arumi mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya.
“Your breakfast miss. " ucap seorang pelayan perempuan menyerah mapan yang berisi kan sarapannya.
“Thank you very much madam. " ucap Arumi memberikan beberapa lembar uang dan menerima mapannya.
Setelah menyelesaikan kunyahan terakhirnya ia meneguk minumannya. Arumi langsung masuk ke kamar mengambil tasnya dan mengecek apa semua yang dibutuhkan nanti sudah dimasukkan dalam tasnya.
“Ko ga ada ya? Perasaan selama ini ia tidak pernah ngeluarinnya dari dalam tas.” ucap Arumi mencoba mengingat dimana ia meletakkan buku sakunya itu. Ia membongkar tasnya namun hasilnya tetap sama, ia tidak menemukan bukunya.
Ia menyerah daripada harus menghabiskan waktunya untuk mencari, Arumi memilih melanjutkan perjalanannya setidaknya ia juga sudah menyimpan rencana perjalanannya di ponselnya.
****
Hari ini ia berencana akan melakukan terjun payung dan ia sudah memeriksa cuaca hari ini sangat bagus untuk melakukan terjun payung. Salah satu list terekstrem yang ingin ia lakukan di negara Argentina, ia sangat gugup namun sangat penasaran ini akan menjadi pengalaman terbesarnya.
Arumi harus membuat reservasi terlebih dahulu sebelum ia harus melakukan terjun payung. Akhirnya ia sampai di salah satu agensi yang mengadakan terjun payung yang dibantu lagi oleh google maps,Dantravel.
"Hola (Halo)." sapa Arumi melihat ke sekeliling.
"Hola. Mau buat reservasi ya." sapa ramah salah satu petugas wanita.
"Ia, kira-kira saya bisa terjun payungnya hari ini?". tanya Arumi kepada petugas agensi.
"Hari ini bisa sekitar jam 1 siang dan besok jam 9 pagi, akan ada titik pertemuan disini." jelas petugas agensi.
"Kalau begitu saya ambil yang jam 1 siang."
"Kalau begitu tolong isi data diri anda terlebih dahulu." ucap petugas agensi menyerahkan selembar kertas.
"Nanti saat anda akan melakukan terjun payung akan bersama dengan orang profesional dari agensi kita."
"Apa keselamatan terjamin?" tanya Arumi sedikit gugup.
"Pasti." jawab petugas agensi sambil tersenyum. Setelah mengisi data diri dan menunggu keberangkatannya, Arumi mengisi waktunya untuk berkeliling di Kota Argentina sekaligus mengisi perutnya.
****
Sekarang sudah menunjukkan jam pukul 10 siang. Arumi menikmati berkeliling di Jalan 9 Juli sambil memotret alam maupun beberapa gedung, terlihat juga beberapa orang yang sedang duduk santai disekitar taman 9 Juli.
"Astaga aku ingat terakhir aku ngeluarin buku saku saat di tur bus tingkat dua kemarin." Spontan Arumi teringat ketika ia melihat tur bus yang lewat dihadapannya.
Arumi langsung mengganti tujuannya yang hendak pergi mencari makan, dan memilih untuk pergi ke agen tur bus wisatawan yang kemarin ia membeli tiket. Walaupun ia tidak terlalu berharap bukunya bisa kembali, sebab banyak orang yang sering bergantian naik turun dari tur bus.
Tidak lebih dari 15 menit Arumi akhirnya sampai di tempat pembelian tiket Tur Bus Wisatawan. Ia langsung menuju ruang informasi atas arahan petugas loket.
"Permisi pak, saya mau melapor." ucap Arumi kepada paruh baya yang ada dihadapannya.
"Ia, mau melaporkan apa nona?"
"2 hari yang lalu saya kehilangan barang di dalam bus, Apakah ada orang yang menemukannya dan dititipkan disini?" tanya Arumi penuh harap.
"Maaf nona tidak orang yang menitipkan barang hilang di sini. Itu Kemungkinan sudah di ambil orang lain nona."
" Oh kalau begitu terimakasih banyak." ucap Arumi meninggalkan gedung itu dengan lemas.
Semoga ada orang yang berbaik hati mengembalikannya.
****
Arumi datang lebih awal dari dari jam yang ditentukan. Ia mendapati mobil yang terdapat gambar terjun payung sudah terparkir didepan gedung Dantravel.
Sambil menunggu keberangkatan Arumi duduk di bangku yang sudah disediakan sambil memainkan ponselnya, berjelajah di media sosial dan membalas satu persatu DM dari teman-temannya.
Hingga seorang pria paruh baya menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil dengan beberapa orang lainnya yang akan melakukan terjun payung hari ini.
"Hola." sapa seorang perempuan yang duduk dibelakang Arumi
"Hola." balas Arumi sambil tersenyum ramah.
"Ayo." seru pemilik suara bass kepada sopir.
"Jason?" ucap Arumi terkejut, kesekian kalinya ia bertemu dengan pria itu lagi.
"Hai Arumi." ucap Jason sambil tersenyum.
⏬
⏬
Bagaimana perasaanmu jika bertemu dengan orang asing berkali-kali???