
"Kita Harus Pahami Di Balik Sebuah Kebenaran Bisa Saja Terdapat Kebohongan, Dan Bisa Saja Di Balik Sebuah Kebohongan Terdapat Kebenaran. Telitilah!
Kami perlahan-lahan mulai melihat gunung Fitz Roy, Arumi terpesona dengan pemandangan indah di depan matanya. Hingga dirinya terus terkagum-kagum saat mobil mereka masuk di sebuah desa kecil di bawah gunung Fitz Roy, yang bernama El Chalten.
El Chalten tempat persinggahan maupun peristirahatan orang-orang dari seluruh dunia yang ingin ke Fitz Roy, yang suka mendaki dan berkemah.
Kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan menyegarkan diri di sebuah Cafe Pizza, sambil melihat puncak indah yang mendapati julukan Smoking Mountain.
Pizza hangat dan tortila tiba di meja mereka. Arumi tergiur ingin secepatnya melahap Pizza yang dihadapannya.
"Selamat makan." ucap Jason memberikan sepotong Pizza diatas piring Arumi.
"Gracia, selamat makan," seru Arumi yang langsung memasukkan sepotong Pizza ke mulutnya. Ia tidak peduli jika Jason ilfil dengan cara makannya, sebab perutnya sudah meronta-ronta meminta makanan.
"Pelan-pelan makannya, Rum." tutur Jason menggelengkan kepalanya lalu membersihkan sisa saus di sudut bibir Arumi.
Aduh ko Jason manis sekali sih. Batin Arumi ternganga mendapati tindakan Jason semakin hari lebih manis.
"Gracia." ucap Arumi menyembunyikan kegugupannya.
Setelah makanan Pizza kami habis, kami langsung melanjutkan perjalanan. Ada banyak jalan yang mengarah ke Fitz Roy, dan kami mengambil jalan yang dimulai dari El Pilar. Dari sana, butuh sekitar tiga jam untuk sampai ke Poincenot tempat ia dan Jason akan berkemah malam ini.
Selagi Jason menurunkan barang-barang mereka, ia merenggangkan tubuhnya sebelum mulai mendaki.
"Kamu bisa bawah ini?" tanya Jason ragu meletakkan ransel besar dihadapan Arumi.
"Bisa."
"Oke, aku bantu pakaikan." tawar Jason membantu meletakkan ransel besar itu dibelakang punggung Arumi lalu mengaitkan tali di pinggang Arumi.
"Ini sangat ringan." lontar Arumi jujur agar Jason tidak merasa khawatir. Ia sudah sering membawa ransel besar setiap kali melakukan perjalanan ke gunung bersama Romi, jadi punggungnya sudah terlatih.
"Kita akan mendaki selama dua jam, nanti kalau kamu kelelahan bilang sama aku yah nanti kita istirahat sejenak."
"Siap Pak Bos."
Untuk mendaki ke Gunung Fitz Roy tidaklah sembarang naik, mereka akan diarahkan oleh seorang pemandu dan beberapa peraturan yang harus ditaati.
"Let's go." seru seorang pemandu memulai perjalanan mereka.
Perjalanan menuju gunung Fitz Roy diawali dengan medan jalan berpasir, namun datar. Beberapa kali mereka harus melewati jalan yang terjal dan menyebrangi sungai kecil. Sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan dengan pemandangan puncak Gunung Fitz Roy yang masih tertutup oleh awan, pepohonan tu yang tumbuh lebih dari 100 tahun, dan beberapa sungai kecil dan danau besar yang mereka lewati.
"Jas, aku mau minum." seru Arumi yang kehausan setelah berjalan 1.5 jam dibawah teriknya matahari.
"Thanks." ucap Arumi menerima sebotol air mineral dan langsung meneguknya sampai habis. Sebalik pun dengan Jason meminum minumannya.
"Mau istirahat?" tanya Jason yang mendapat anggukan dari Arumi.
"Wah. Jason coba lihat." panggil Arumi memperlihatkan sebuah pemandangan yang sangat luar biasa.
Sebuah danau berwarna biru jernih tepat berada dibawah Gunung Fitz Roy serta bongkahan es putih yang menutupi beberapa gunung terletak jauh di dalam lembah.
Ia mengambil ponselnya dan tidak menyia-nyiakan pemandangan yang ada dihadapannya untuk diabadikan di ponselnya.
"Itu namanya Piedras Blaciar Glaciar satu dari tiga Gletser utama dari bagian Timur yang dimiliki Ritz Roy Range." jelas seorang pemandu yang menghampiri mereka.
Arumi dan Jason mengangguk mengerti, dan kembali menikmati pemandangan yang ada dihadapan mereka.
"Bukankah pemandangan seperti ini yang kita lihat di film animasi Disney." ucap Arumi menyakinkan dirinya.
"Frozen?" jawab Jason Ragu.
"Ah, ya. Kaya film Frozen." seru Arumi
"Simpan kekaguman kamu, akan ada yang lebih indah yang bisa kita lihat dari atas." ucap Jason merangkul bahu Arumi.
Arumi mengangguk. Ia akan menyimpan kekagumannya sampai ia bisa melihat keindahan dari Fitz Roy besok pagi.
****
Setelah mendaki selama 3 jam akhirnya kami sampai di lokasi perkemahan Poincenot, tempat dimana kami akan mendirikan tenda tepat menghadap ke Fitz Roy yang menjulang tinggi.
"Sebelah sana aja, Jas." perintah Arumi menunjuk sebuah titik yang bagus mendirikan tenda.
"Oke." jawab Jason meletakkan ranselnya kemudian membantu Arumi meletakkan ransel itu di bawah.
Tanpa banyak protes, ia mengikuti perintah pria itu. Ia duduk sambil memandangi Jason yang mendirikan tenda.
"Rum, aku hanya bawah satu tenda saja. Kita eemm..."
"Apa? Terus maksud kamu kita tidur bersama di satu tenda, begitu?" bentak Arumi tiba-tiba kepalanya pening.
"Aku ga akan lakuin yang aneh-aneh." ucap Jason memberhentikan kegiatannya lalu menghampiri Arumi.
"Kamu sengaja kan? Udah rencanain ini semua dari awal."
"Sebenarnya aku bawah dua, tapi aku ga tega lihat kamu bawah bawaan yang berat jadi satunya aku tinggalin di mobil." Jelas Jason berharap Arumi percaya dengannya.
Ia menghela nafas berat. Ia benar-benar kesal! Asli, sangat kesal! Jason mengambil keputusan tanpa persetujuannya, dan kini ia berakhir tidur bersama seorang pria asing selain Papa, Romi, dan Sam.
"Cepat dirikan tenda mu." perintah Arumi yang tidak punya pilihan lain.
"Maaf." ucap Jason mengutuk dirinya sendiri yang sudah mengambil keputusan yang salah. Dan kini Arumi sangat marah padanya.
Jason menuruti perintah Arumi. Dia cukup cekatan untuk mendirikan tenda. Tidak sampai sepuluh menit tenda sudah berdiri dengan sempurna, sekarang dirinya mondar-mandir tidak karuan di depan tenda.
"Kamu tunggu disini, aku mau mencari ranting sebentar." ucap Jason menghela nafas beratyang tidak mendapatkan respon dari gadis itu.
Arumi menatap kepergian Jason dengan dingin. Ia bisa melihat Jason berjalan kearah pepohonan yang agak lebat, dan meninggalkan dirinya.
Ia menghembuskan nafasnya, ia bingung harus bagaimana menghadapi Jason. Sesungguhnya ia sangat kesal, namun entah mengapa ia merasa sedih melihat punggung itu berlalu dihadapannya. Terlebih tatapan sendu dan bersalah dari wajah Jason, membuatnya tak semakin tak tega.
Ia sangat mengerti pria itu mengkhawatirkannya, dan ia sangat berterima kasih. Namun keputusan Jason sudah diluar batas, ia sangat menjunjung tinggi apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan terutama tidur bersama dengan seorang pria yang belum menjadi suaminya.
Namun mengingat kondisi sekarang, ia memilih pasrah dan menerima tidur satu tenda dengan Jason. Ia juga tidak ingin menghancurkan liburannya begitu saja, dan ia tak ingin diantara mereka saling diam dan menjaga jarak.
Arumi masuk kedalam tenda sambil membawa ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah selimut dari dalam tasnya, yang akan dijadikan pembatas antara dirinya dan Jason.
Ia mendengar suara langkah kaki dari luar.
"Jason, kamu kah itu?" panggil Arumi. Namun karena panggilannya tidak mendapat respon, ia mengeluarkan kepalanya dari balik tenda.
"Jason? Astaga telinga kamu itu tuli kah? Aku dari tadi panggil kamu." ucap Arumi kesal pria itu mematung didepan tenda sambil membawa banyak ranting dalam pelukannya.
"Kamu panggil aku, Rum? Maaf aku ga dengar. Ada apa?" tanya Jason meletakan ranting-ranting itu di tanah.
"Masuk." perintah Arumi.
"Masuk kemana?" tanya Jason kebingungan.
Astaga ini pria ***** atau bodoh amat sih. Umpat Arumi dalam hati.
"MASUK KEDALAM TENDA JASON!" lontar Arumi penuh penekanan.
"Bukannya kamu ga mau kita satu tenda?" tanya Jason semakin bingung kemauan dari gadis itu.
Arumi menghembuskan nafasnya kasar, "lebih baik ga usah banyak nanya, mending sekarang masuk kedalam. Aku mau ngomong sesuatu." tutur Arumi mencoba menahan amarahnya.
Jason dengan perlahan masuk kedalam tenda, dahinya berkerut melihat sebuah selimut menjadi pemisah diantara mereka berdua.
"Kayanya kamu sudah paham maksud dari ini. Ini batas diantara kita, aku harap kamu tidak melewati batas dan awas kamu punya niat lakuin hal yang aneh-aneh. Dan kalau kamu berbuat macam-macam, akibatnya fatal."
"Aku janji tidak akan melewati batas dan tidak akan lakuin hal yang aneh-aneh."
"Bagus." ucap Arumi melipat kedua tangannya didepan.
"Tapi kalau kamu yang melewati batas, aku yang bakalan ngasih kamu hukuman." ucap Jason menggoda gadis itu.
"Ga bakalan." lontar Arumi penuh penekanan.
"Makasih dan maaf."
"Buat?" tanya Arumi bingung.
"Karena hal yang tadi dan semuanya. Maaf membuat kamu berada diposisi seperti ini dan membuat kamu harus berpikir keras mencari jalan keluarnya." jelas Jason. Sejak pergi meninggalkan Arumi, dirinya terus mencaci dirinya. Ia merasa brengsek dan semaunya mengambil keputusan sendiri tanpa berbicara dengan Arumi, seharusnya ia sadar Arumi perempuan baik-baik walaupun dirinya tidak punya niat untuk melakukan hal yang aneh. Melihat pertama kali Arumi sangat marah, ia tidak bisa berkutik untuk memikirkan jalan keluarnya pun ia merasa buntu. Namun gadis itu, ah sungguh diluar dugaan dirinya.
"Lupakan. Aku ga mau bahas itu lagi." ucap Arumi meninggalkan Jason terdiam membeku.