Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
SEPULUH



"Mencintai Manusia Memang "


Tidak Pernah Sederhana Itu


 


Hari ini kami bersemangat akan pergi melihat air terjun Iquaza. Salah satu dari tiga air terjun terbaik di dunia. Iquaza berarti air terjun raksasa, yang mempunyai rata-rata tinggi 70 meter, dan air terjun ini menjadi perbatasan antara Argentina dan Brazil.


"Ayo turun." ajak Jason saat mereka sampai di taman Nasional Iquaza.


"Kamu tunggu disini biar aku yang beli tiketnya." ucap Jason yang pergi mengantri membeli tiket masuk. Sedangkan dirinya duduk manis menunggu pria itu kembali.


Setelah mengantri 15 menit akhirnya kami memasuki taman Nasional Iquaza.


"Ini pintu masuknya, kita harus pergi ke jalur hijau dari sini kalau mau ke air terjunnya." jelas Jason pada Arumi saat mereka melihat peta taman Nasional Iquaza.


Arumi mengangguk mengerti.


"Kita langsung ke Devils Throat aja yah, nanti di sana kita bisa melihat air terjun jarak dekat." jelas Jason layaknya seperti pemandu wisata bagi Arumi.


Arumi mengangguk mengerti sambil berjalan mengikuti Jason, ia mengikuti punggung pria itu lagi sama yang seperti ia lakukan kemarin. Rasanya ia sudah terbiasa dengan punggung pria berbaju hitam oblong didepannya.


KLIK


Senyum kecil tergambar disudut bibirnya. Setelah memotret Jason secara diam-diam.


Arumi menikmati setiap langkahnya. Sesekali ia menatap langit dari balik rimbunnya pepohonan disekitarnya, mengagumi kombinasi warna hijau, biru, dan putih.


"Uwaak. Uwaak." ucap Jason membuat suara aneh saat mereka melewati jalur hijau yang terdapat rimbunan pepohonan yang lebat.


"Ngapain kamu bersuara aneh seperti itu?" tanya Arumi ke heranan sekaligus lucu.


"Aku lagi coba panggil teman-teman kamu."


"Teman? Siapa? Aku ga punya teman di sini." jawab Arumi bingung.


"Uwaak.Uwaak. Itu dia, coba lihat di balik pohon itu." tunjuk Jason.


"Dasar, kalau monyet itu teman-teman aku berarti itu satu spesies sama monyet." ucap Arumi memukul lengan Jason.


"Hahah. Berarti kamu doyan berteman dengan monyet dong." ucap Jason tidak bisa berhenti tertawa.


"Ih. Ogah aku." ucap Arumi kesal


"Uwaak. Uwaak." ucap Jason meniru suara monyet.


"Hahah. Awas kepala suku monyet mau lewat." Arumi tertawa keras dihadapan pria itu. Yang akhirnya ia mendapatkan tatapan tajam dari Jason. Kenapa pria itu sangat menggemaskan.


"Argggh." teriak Arumi berlari mendekati Jason.


"Ada apa?" tanya Jason terkejut.


"Itu." tunjuk Arumi pada salah satu hewan liar yang sedang mengendus ke tanah entah mencari apa.


"Astaga Arumi itu hanya seekor coati, dia tidak akan berbahaya kalau kita tidak berusaha memegangnya."


"Yah namanya orang kaget. Aku kan ga tau selain ada sesama spesiesnya kamu, ada juga hewan liar lainnya." ucap Arumi memajukan bibirnya kesal.


"Makanya jalan itu jangan dibelakang aku aja, kalau gini kan enak." ucap Jason menggenggam tangan Arumi.


"Ga mau." ucap Arumi menjulurkan lidah kearah Jason dan berjalan mendahului Jason.


Jason terkekeh kecil melihat tingkah Arumi yang menggemaskan. Ia berlari menyusul Arumi dan menggenggam erat tangan gadis itu.


"Eh?" kaget Arumi tangannya sudah berada digenggaman Jason.


"Biar kamu ga hilang." ucap Jason sambil tersenyum kearah Arumi.


"WHOAH." ucap Arumi takjub bisa melihat air terjun Iquaza terbentang luas didepannya.


"Indah bukan?"


Arumi mengangguk dengan semangat.


Apa yang ia lihat sekarang lebih dari indah. Ia sangat senang dan bahagia akhirnya impiannya untuk datang kesini akhirnya tercapai.


Dan yang tak terlupakan Arumi mengabadikan momen ini melalui frame dalam kamera mirrorless nya, sesekali ia merekam agar nanti bisa ia tunjukkan kepada kedua orang tuanya dan teman-temannya.


"Mau lihat yang lebih dekat?"


Selama perjalanan kami terus merasa kagum dengan pemandangan yang ada dihadapan mereka, air yang terus berjatuhan, percikan air yang terus menghantam batu, langit yang cerah, dan ribuan pepohonan yang tumbuh disekitar air terjun.


"WHOAH GILA." ucap Arumi terpaku melihat air terjun tepat berada didepan matanya.


Arumi melentangkan kedua tangannya, memejamkan matanya dan menghirup atmosfir yang luar biasa. Ia bisa merasakan hembusan angin yang menerbangkan rambutnya sekaligus percikan air yang jatuh diwajahnya.


Arumi tertegun. Jason memeluknya dari belakang, dan meletakkan dagunya di puncak kepalanya. Ia ingin menolak dan protes tapi untuk bergerak pun ia tidak bisa. Kakinya merasa lemas, jantungnya terus berdetak tak karuan.


Hening antara aku dan Jason hanya suara gemuruh air yang bersahutan yang terdengar.


"Mau berfoto bersama?" tanya Jason berbisik tepat ditelinga nya.


Astaga, tenang Arumi. Gumam Arumi dalam hati


"Apa?" Tanya Arumi kebingungan.


Jason membalikkan badan ku, menarik ku lebih dekat tepat disampingnya menatap kebingungan.


KLIK


Potret Jason merasa puas dengan hasil jepretannya.


"Jason aku belum siap." ucap Arumi kesal.


"Mau ulang lagi? ayo." ajak Jason mengangkat ponselnya kembali.


"Aku ga mau! Aku mau foto yang tadi dihapus."


"Aku juga ga mau. Kamu disini cantik ko." ucap Jason memandangi foto kami yang berada dibalik layar ponselnya.


Sialnya ia bisa merasakan wajahnya yang memanas dan pipinya yang memerah hanya karena ucapan pria itu.


"Ayo masih ada satu tempat lagi yang perlu kita lihat." ajak Jason kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


Kali ini kami melanjutkan perjalanan kami dengan menaiki kereta kecil agar sampai di Devils Throat.


"Aku mau Pai dan air mineral." ucap Arumi saat mereka singgah untuk membeli makanan dan minum.


Setelah kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Kereta pun tiba yang akan membawa mereka ke Devils Throat. Setelah 20 menit, akhirnya kami sampai dengan disambut hujan.


"Yah hujan aku ga punya payung maupun Jas hujan lagi." keluh Arumi sedih melihat hujan semakin deras.


"Kamu ga perlu khawatir, aku sudah menyiapkannya." ucap Jason mengeluarkan Jas hujan untuk mereka.


"Wah kamu emang yang terbaik." ucap Arumi memberikan dua jempol kepada Jason.


Walaupun hujan semakin deras, tak membuat semangat kami surut untuk melanjutkan perjalanan. Hingga mereka sampai di Devils Throat.


"Astaga ini sangat mengagumkan." ucap Arumi tidak percaya apa yang ia lihat sekarang.


"Cubit pipi aku kalau ini nyata."


"Serius?" tanya Jason memastikan kembali. Yang mendapatkan anggukan dari gadis itu.


"Aww. Sakit tau, ga bisa apa cubitannya pelan-pelan." keluh Arumi menahan sakit.


"Kamu kan yang suruh, malah aku yang dimarahin. Mana aku lihat." ucap Jason mengelus lembut bekas cubitannya di pipi gadis itu


"Udah ga sakit." ucap Arumi memalingkan wajahnya dari Jason.


"Kamu bahagia akhirnya salah satu mimpi kamu terwujud."


"Ko kamu bisa tau kalau datang kesini adalah salah satu mimpi aku?" tanya Arumi keheranan.


"Terlihat jelas wajah kamu."


"Ia, ini adalah salah satu mimpi aku bisa datang kesini dan seandainya bisa berbagi momen bahagia ini dengan orang kita sayang." ucap Arumi sedikit berbisik namun cukup membuat Jason bisa mendengarkannya.


"Semoga kamu bisa kembali kesini bersama orang yang kamu sayang."


"Sayangnya itu tidak mungkin lagi." ucap Arumi menampilkan wajah sedihnya.


"Pulang sekarang?" tanya Jason.


Arumi mengangguk. Kemudian Jason membawa tangannya kedalam genggamannya, dan kami berjalan bergandengan.


Entah mengapa ia baru sadar genggaman tangan Jason terasa hangat seperti sehangat milik Dia.