Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
DELAPAN BELAS



" Aku Pernah Sangat Amat Bahagia"


Tanpa Menyadari Sedih Bisa Hadir


Kapan Saja.


Namun Kebahagiaan Selalu Hadir


Setelah Kesedihan Itu Berlalu.


 


~Pov Jason


Hari ini ia bangun lebih pagi dari hari biasanya. Ada beberapa hal yang perlu ia siapkan sebelum ia berangkat ke Puerto Iquaza, dan beberapa pekerjaan yang perlu ia selesaikan sebelum ia pergi.


Setelah semua barang-barangnya masuk kedalam tasnya, ia langsung beranjak ke ruang tamu.


"Jason, kamu kah itu?" panggil Nick keluar dari balik kamar sambil setengah mata tertutup.


"Ia Pi." jawab Jason merasa tidak enak membangunkan Nick.


"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Nick melihat putranya menggendong tas ransel.


"Jason mau ke Puerto Iquaza."


"Kamu mau bertemu kakakmu?"


"Ia Pi."


"Kamu udah minum obat? Jangan sampai kamu lupa membawa obatnya." ucap Nick mengingatkan.


"Papi tenang ajha ko. Jason tau apa yang perlu Jason lakukan."


"Kalau begitu biar papi yang ngantar kamu ke bandara." ucap Nick yang hendak balik ke kamarnya.


"Ga usah, pi. Gabriel yang bakalan ngantar Jason ke bandara."


"Panjang umur itu anak. Ya udah kamu kabarin Papi kalau udah nyampe, salam sama Kakak mu." ucap Nick menepuk pundak putranya


"Siap Pi. Jason pergi dulu yah." pamit Jason memeluk ayahnya.


"Ayo berangkat." ucap Jason pada Gabriel


****


Suara pengumuman memenuhi ruang tunggu, sudah saatnya ia masuk kedalam pesawat. Namun ia memilih masih duduk di kursinya, menunggu penumpang lainnya untuk masuk terlebih dahulu. Ia memilih menjadi penumpang terakhir yang masuk kedalam pesawat.


"Hola, baby." ucap Jason tersenyum lebar melihat gadis itu kembali.


"Astaga Jason. Kamu ngikutin aku?" tanya Arumi terkejut.


"Yeah anggap saja seperti itu." Ucap Jason menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gila yah kamu." Ucap Arumi tidak percaya.


"Iyah. Gila karena kamu." Ucap Jason diiringi tawa, yang terdengar garing bagi dirinya.


Ia kembali duduk pada kursinya, sesekali ia melirik gadis itu. Hingga terlintas sebuah ide dipikirannya berharap rencana ini akan berhasil.


"Disculpe señor, puedo pedirle un favor? (permisi tuan, bisakah saya meminta tolong?)" tanya Jason pada seorang pria paruh baya yang duduk disebelah Arumi.


"Que joven (Apa anak muda)?" Tanya pria paruh baya itu.


"Estás dispuesto a intercambiar asientos conmigo? Porque no puedo soportar dejar que mi esposa se siente sin mí a su lado (apakah anda bersedia menukar kursi dengan saya? Sebab saya tidak tega membiarkan istri saya duduk tanpa saya disampingnya)." ucap Jason berharap pria itu mau bertukar kursi dengannya.


"por favor joven. No quiero ser una barrera entre ustedes dos. Cuida bien de tu esposa (silahkan anak muda. Aku tidak mau menjadi penghalang antara kalian. Jaga baik-baik istri kamu)." ucap pria paruh baya itu berdiri dari kursinya.


"Gracia." ucap Jason tersenyum senang.


"Ngapain kamu duduk disini?" Tanya Arumi memicingkan matanya saat Jason bertukar tempat duduk dengan Bapak tua yang disampaikannya tadi.


"Galak amat sih neng, yah suka-suka aku dong." ucap Jason mencolek pipi Arumi.


Ia beberapa kali menghirup nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan. Dan disinilah ia sekarang, duduk bersebelahan dengan Arumi dalam kabin pesawat yang sudah lepas landas beberapa menit yang lalu.


Ia menatap Gadis itu terlihat begitu tenang saat tertidur dengan bersandar pada jendela pesawat. Dengan perlahan ia meraih kepala Arumi, meletakkan tepat diatas bahunya. Kemudian samar-samar ia bisa mencium aroma coklat dari parfum gadis itu.


****


"Sampai bertemu kembali, Arumi." ucap Jason melambaikan tangan ke arah Arumi yang hanya mendapatkan tatapan datar dari gadis itu.


Bus yang dinaikinya mulai melaju berpindah dari satu hotel ke hotel berikut nya, hingga dirinya menjadi penumpang terakhir yang diantar oleh bus tersebut.


Setelah menyelesaikan proses reservasi dan registrasi, Jason naik ke lantai tiga menggunakan lift. Ia meletakkan tas ranselnya diatas sofa, dan menjatuhkan dirinya diatas kasur.


Ia teringat harus memberikan kabar pada Nick. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menyalakan ponselnya yang sedari tadi telah ia matikan saat didalam pesawat.


~Jason~


Anakmu sampai dengan selamat.


Have fun disana yah


Selang beberapa detik panggilan masuk muncul dilayar ponselnya. Natalia.


"Kamu udah nyampe dimana sih Jason?" terdengar suara kakaknya yang begitu khawatir.


Jason menghembuskan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Kakaknya.


"Jason udah nyampe dari tadi ko kak."


"Terus kamu dimana sekarang?"


"Aku nginap di hotel."


"Lebih baik sekarang kamu ke rumah, Kakak tunggu." ucap Natalia tegas.


"Ia." ucap Jason mematikan teleponnya.


Ia menghembuskan nafasnya dengan pelan. Natalia, satu-satunya kakak perempuannya yang hampir beberapa tahun ini jarang ia temui. Terakhir kami bertemu saat di pemakaman mami, setelah itu kakaknya harus meninggalkan Indonesia demi meraih cita-citanya.


Ia sangat menyayangi dan menghormati kakaknya, namun rasa itu hilang ketika kakaknya tidak pernah ada di saat Mami menghadapi penyakitnya, tidak pernah ada disaat dirinya membutuhkan seseorang kakak, dan tidak pernah ada saat ia dan Nick berusaha bangkit dari kesedihan atas kehilangan orang yang kami cintai.


Dan itu cukup membuatnya kecewa.


****


Jason sudah sampai didepan gerbang rumah besar dan mewah, ia bisa melihat halaman depan rumah Natalia ada tanaman yang terawat. Ia tersenyum kecut saat menyadari baik kedua orang tuanya dan Natalia sangat menyukai tanaman.


Pintu gerbang terbuka setelah ia menekan tombol bel beberapa kali.


"Jason." sambut seorang perempuan dewasa yang begitu cantik. "Kamu apa kabar ?" ucap Natalia memeluk adiknya.


Jason membeku saat dirinya dipeluk." Baik kak." jawab Jason menetralkan perasaan nya.


"Syukurlah, perkenalkan ini suami kakak, Davic."


"Hai, senang akhirnya bisa bertemu dengan kamu. Natalia sering bercerita tentang kamu." sapa Davic mengulurkan tangannya.


"Ia kak." ucap Jason menerima uluran tangan pria itu. Ini pertama kali ia bertemu dengan kakak iparnya, ketika Natalia menikah saat itu ia tidak bisa menghadirinya kecuali Nick.


"Ayo masuk, ga enak ngomong diluar." ajak Natalia menggandeng lengan Jason.


"Kakak udah siapin makanan kesukaan kamu." ucap Natalia mengajak mereka langsung ke meja makan.


"Kamu duduk disini sebentar."


Jason mengangguk, dan mengambil tempat duduk di samping Davic.


"Kakak kamu begitu senang, saat kamu telepon mau datang kesini. Berapa lama kamu di Puerto Iquaza?" tanya Davic.


"Aku kurang tau, kak. Tapi kayaknya ga lama."


"Ini Kakak buatin ayam goreng pedas khusus buat kamu." ucap Natalia meletakkan makanannya diatas meja.


"Terima kasih, Kak."


"Gimana enak?'" tanya Natalia penasaran melihat Jason mulai memakan masakannya.


"Enak." jawab Jason jujur.


"Jason, kenapa kamu ga nginap disini saja dari pada kamu harus tinggal di hotel?"tanya Natalia.


"Jason punya janji sama orang yang ga jauh dari sekitar hotel." ucap Jason beralasan.


"Besok malam kamu tidur disini yah? Udah lama bangat kita ga ketemu, masa sekali ketemu ga bisa lama-lama." ucap Natalia dengan manja.


Sifat yang tak pernah berubah, kalau lagi ada maunya. Batin Jason melihat tingkah Natalia berbanding dengan umurnya yang mulai masuk kepala tiga. "Ia Kak."


"Kak, Jason pamit dulu yah." Ucap Jason melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 6.17.


"Yah ko udah mau pulang sih, Jas?" keluh Natalia sedikit kecewa.


"Besok kan Jason balik lagi."


"Ya udah. Ini kunci mobil kakak kamu pakai, biar kamu punya alasan bisa balik kesini lagi." ucap Natalia memberikan kunci mobil pada Jason.


"Ta..p."


"Kakak ga mau dengar penolakan."


Natalia mendekat kearah Jason, lalu memeluk pria itu dengan erat. "Kakak senang kamu kesini, Jas. Kamu tau kan kakak sangat rindu sama kamu, adik kecil Kakak." ucap Natalia melepaskan pelukannya dan dengan gemasnya mengacak rambut Jason.


"Jangan di berantakin kak. Jason juga udah bukan anak kecil lagi." ucap Jason kesal diperlakukan seperti anak kecil.


Namun setidaknya hatinya mulai menghangat.


Aku juga rindu kak. Batin Jason yang tak berani katakan langsung.