Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
LIMA BELAS



 "Sesuatu Yang Dimulai Dari Kebohongan"


Akan Berakhir Pahit"


Bus yang kami naikin akhirnya sampai di taman Nasional Los Glaciares. Kami langsung melangkahkan kaki kami menuju Observatorium untuk melihat Gletser dari dekat.


"Jas, sisa berapa jalur lagi sih? Kita udah berjalan jauh tapi belum nyampe-nyempe sih." keluh Arumi tidak sabar melihat Gletser dari jarak dekat.


"Sabar Arumi, tinggal beberapa jalur lagi ko."


Arumi menghela nafas dengan pelan.


"WOAH." ucap Arumi tercengang.


Melihat Gletser adalah pengalaman pertama bagi dirinya. Ia sangat terkagum-kagum dengan pemandangan yang ada didepan matanya, sebuah bongkahan besar es berwarna biru yang berasal dari endapan salju yang telah membatu dalam jangka waktu yang lama. Gletser memiliki tinggi rata-rata 74 meter, lebar 5 kilometer, dan panjang 30 kilometer.


"Bagaimana bisa sampai kebentuk seperti itu?" ucap Arumi keheranan.


"Bongkahan es itu sudah menumpuk lebih dari jutaan tahun. Terbentuknya karena udara lembab dari samudera Pasifik yang mengalir melalui Andes dan berubah menjadi salju yang jatuh ke sungai sehingga terbentuk karena adanya tekanan." jelas Jason.


"Wah kayanya pekerjaan kamu yang menjadi tour guide selama ini ga sia-sia yah." ucap Arumi memberikan dua jempol kearah Jason.


"Ga gitu juga kali, Rum. Aku itu sebelum mau kemana-mana pasti riset dulu, biar kamu terkagum-kagum sama aku biar kelihatan pintar." ucap Jason menjadi kesenangan tersendiri bagi dirinya menggoda gadis itu.


"Bukan tambah pintar, kamu tambah nyebelin." ucap Arumi mendengus kesal.


"Awas nanti kamu rindu." ucap Jason sambil tertawa.


BRUUK


"Apa itu?" tanya Arumi terkejut mendengar suara reruntuhan dari Gletser.


"Pasti ada Gletser yang runtuh." iawab Jason mencari asal bunyi tersebut.


"Ya ampun kedengarannya sangat menakutkan bangat." ucap Arumi merinding membayangkan bongkahan es itu runtuh satu persatu.


"Kamu mau lihat reruntuhan Gletser secara langsung?" tawar Jason.


" Bakalan ada lagi?" tanya Arumi tidak percaya.


"Lebih baik kita duduk disana sambil menunggu." tunjuk Jason pada sebuah bangku kosong.


Tiba-tiba seorang pemandu mendekati kami. "Bagaimana kabar kalian, apa ada pertanyaan tentang Gletser?" tanya sang pemandu wisata kepada kami.


"Berapa kali dalam sehari Gletser pecah?" tanya Arumi mengangkat suaranya.


"Kalian bisa melihat itu beberapa kali dalam sehari, terutama diwaktu siang hari seperti ini. " jelas si pemandu wisata. " Ada lagi?"


"Cukup, terimakasih." ucap Arumi mengangguk mengerti sebelum pemandu wisata itu beranjak pergi.


"Ini buat kamu." ucap Arumi memberikan sebuah roti sandwich pada Jason.


"Kapan kamu buat ini?"


"Ibu pemilik penginapan yang ngasih sama aku tadi pagi." ucap Arumi menguyah rotinya.


Jason mengangguk mengerti.


Ia dan Jason menikmati roti mereka sambil menatap Gletser. Berjaga-jaga sewaktu Gletser akan runtuh.


Namun sampai roti kami pun habis, tidak ada tanda-tanda Gletser akan jatuh. Menunggu seperti ini membuat ia merasa kedinginan.


"Kedinginan?" tanya Jason memperhatikan gadis itu sesekali menggerakkan kakinya.


Sejak kapan pria ini bisa membaca pikirannya. Batin Arumi


Perutnya kembali merasa geli, udara disekitarnya menjadi pengap, tenggorokannya tercekat, dan wajahnya memanas.


Ketika Jason sesekali menggosokkan telapak tangannya lalu menempelkan pada kedua wajahnya. Hangat, itu yang ia rasakan saat tangan besar Jason menyentuh wajahnya.


"Hidung kamu berair tuh." ucap Jason menjaili gadis itu.


"Ah masa?" tanya Arumi mengeceknya. " Ih dasar nyebelin bangat sih." ucap Arumi mencubit perut pria itu.


"Aduh sakit, Rum. Ampun ampun." keluh Jason menahan sakit.


"Makanya jadi orang jangan nyebelin bangat."


BRUK


"Wah. Akhirnya kita melihatnya." ucap Arumi kegirangan melihat salah satu bagian Gletser runtuh setelah menunggu lebih dari sejam.


"Terdengar seperti guntur bukan."


"Ia bunyinya lebih keras daripada yang tadi. Gila, seandainya aku bisa merekamnya." ucap Arumi masih tercengang akan Gletser yang runtuh didepan matanya.


"Kamu harus berterima kasih sama aku, karena aku merekamnya." ucap Jason menggoyang kan ponselnya dihadapan Arumi.


"Kamu emang paling the best deh." ucap Arumi tersenyum lebar.


Kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan setelah puas melihat Gletser yang ber-runtuhan. Ia akan selalu mengingat kejadian yang berharga ini.


****


"Nanti malam kita makan dimana?" tanya Arumi yang duduk di samping Jason.


"Malam ini kita ga perlu makan malam di luar, biar aku yang masak buat makan malam kita."


" Tapi kita ke pasar swalayan dulu belanja bahan pokok". tambah Jason.


"Ok, aku tau tempatnya."


Disinilah ia sekarang, menemani Jason membeli beberapa bahan yang akan dimasak pria itu. Melihat Jason sangat berpengalaman dalam berbelanja bahan pangan, ada kesenangan tersendiri bagi dirinya. Ia menyadari satu hal tentang Jason, pria itu sangat perfeksionis yang mampu melakukan banyak hal.


"Adakah yang bisa aku bantu, chef Jason?" tanya Arumi bosan hanya mengikuti pria itu yang sibuk memilih bahan pangan sambil mendorong keranjang.


"Kamu cukup diam saja." ucap Jason menatap Arumi sejenak sebelum kembali memilih setiap barang dengan hati-hati.


Arumi menghela nafasnya yang akhirnya mengikuti perintah pria itu.


"Astaga Jas, kamu ga sadar apa yang kamu beli itu banyak bangat." ucap Arumi terheran-heran menatap keranjang mereka penuh dengan bahan.


"Sini aku bantu bawah." minta Arumi berniat membawa salah satu kantong belanjaan setelah keluar dari pasar swalayan.


"Ga perlu, Rum. Aku kuat." tolak Jason tersenyum lembut kearah Arumi.


****


"Aku tinggal mandi bentar bisa ga, Jas"? tanya Arumi ketika mereka sudah sampai didepan penginapan Linda Vista.


"Ok. Aku juga mau siap-siap masak, aku tunggu yah." ucap Jason. Saat ia dan Arumi beranjak ke kamar masing-masing.


Jason mulai mengeluarkan satu persatu barang belanjaan. Ia mencuci bahan-bahan secara perlahan dari buah, sayur sampai daging ia bersihkan secara bertahap. Malam ini ia akan memasak sayur, iga bakar, dan akan membuat jus.


Sebenarnya memasak hal yang tidak terpikirkan oleh Jason, namun ia harus mengungkapkan terima kasih kepada Arumi yang telah membuatkan sarapan yang terenak untuk nya.


Hal itu membuatnya ia tahu fakta dari gadis itu, mandiri, menyukai hal-hal yang menantang, pemberani, dan bisa memasak. Entah apalagi kejutan-kejutan yang diberikan oleh gadis itu.


"Adakah yang bisa aku bantu?" tanya Arumi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Jason yang terbuka setengah.


"Kamu cukup duduk manis saja. Ga lama lagi makanannya jadi ko." ucap Jason.


"Ok deh. Kayanya lagi ada yang berusaha balas Budi nih." singgung Arumi duduk didepan meja dapur yang langsung berhadapan dengan kitchen.


"Aku hanya berusaha untuk membalas, Rum." ucap Jason sibuk membakar Iga.


"Kalau gitu masak yang enak"


"Siap Nyonya." ucap Jason mengangkat tangannya seakan memberi hormat pada gadis itu.Arumi terkekeh kecil melihat tingkah lucu Jason.


Ia duduk diam sambil memandangi punggung pria itu. Ia tersenyum kecil, membayangkan Jason menjadi suaminya nanti pasti akan menyenangkan. Jason akan memasak untuk dirinya, membesarkan anak bersama, dan tua bersama.


Astaga Arumi, pikiranmu . Batin Arumi.


"Kamu habis menghayal apa? Aku yah?" goda Jason yang tiba-tiba sudah ada dihadapan Arumi.


"Ke GEER-an kamu."


"Ia juga ga apa-apa ko, Rum." goda Jason gemas melihat tingkah gadis itu.


"Aku udah lapar bangat nih." ucap Arumi mengalihkan pembicaraan.


"Ini, selamat menikmati." ucap Jason meletakkan iga bakar, sayur, dan jus diatas meja.


"Selamat makan." ucap Arumi bersemangat. Ia mengambil sepotong iga lalu dimasukkan kedalam mulutnya, ia menutup matanya meresapi makanannya "Ini sangat enak." ucap Arumi memberikan dua jempol kehadapan Jason.


"Syukurlah kamu menyukainya. Makannya pelan-pelan ajha, Rum." ucap Jason membersihkan noda disudut bibir gadis itu.


Arumi tergelak kaget atas perlakuan Jason, namun ia tidak menolak.


"Terimakasih." ucap Arumi tersenyum. Dan Kami kembali melanjutkan makan malam kami dengan penuh khidmat.


"Aku punya tantangan. Bagi siapa yang kalah ia harus membersihkan dapur dan mencuci piring." seru Arumi bersemangat memecahkan keheningan.


"Ok. Siapa takut. Kamu harus bersiap-siap kalah Arumi." ucap Jason merasa tertantang.


"Kamu tau permainan gunting kertas batu kan? Setiap kita punya dua nyawa, yang nyawanya habis itu berarti kalah." jelas Arumi.


"Ok. Aku paham."


"Gunting kertas batu." ucap Arumi memulai permainan.


"Haha. Bukannya sudah aku bilang, kamu harus siap-siap kalah." ucap Jason diiringi tawa, ketika Arumi memberikan kertas dan dirinya gunting.


Arumi mendengus kesal, pria itu mengolok dirinya.


"Gunting kertas batu." ucap Arumi sampai tiga kali, ia dan Jason selalu melemparkan hal sama.


"Satu seri yah, ini terakhir penentu siapa yang kalah." ucap Arumi bersemangat saat dirinya batu dan Jason gunting.


" Gunting kertas batu."


"Yeay. Kamu yang cuci piring." Ucap Arumi kegirangan, saat dirinya gunting dan Jason kertas.


"Hari ini kamu hanya beruntung saja Arumi." ucap Jason kesal. Ia mulai mengangkat piring-piring ke wastafel.


"Yang bersih yah cuci nya." goda Arumi sebelum beranjak ke sofa.


Ia sangat senang hari ini, setelah memakan masakan enak ia bisa langsung bersantai menikmati jusnya.


Ia mengeluarkan ponselnya, jari-jarinya mulai naik turun dilayar membuka salah satu aplikasi musik dan menekan tombol putar pada lagu kesukaannya.


"I can show you the world


Shining, shimmering, splendid


Tell me, princess, now when did


You last let your heart decide?


I can open your eyes


Take you wonder by wonder


Over, sideways and under


On a magic carpet ride*"


"Jason, ponsel kamu bunyi." teriak Arumi.


"Tolong kamu bawah ke sini, Rum. Ponselnya di dalam tasnya aku." teriak Jason yang masih sibuk mencuci piring.


Arumi mengeluarkan ponsel Jason dari dalam tas pria itu.


Bawel. Gumam Arumi membaca nama yang muncul dilayar ponsel Jason.


Ketika ia meletakkan kembali tas Jason, ada sesuatu yang nampak familiar bagi dirinya. Perhatiannya tertuju pada sesuatu yang nampak tak asing bagi dirinya, dengan sedikit keraguan dan dengan pertimbangan ia mengeluarkan barang tersebut.


Buku saku ku. Gumam Arumi terkejut.