
"Berdamai dengan diri sendiri "
dan mengikhlaskan apa yang terjadi
cara terbaik untuk memaafkan
~Pov Jason
Jason mengendarai mobilnya menuju ke kediaman kakaknya, setelah mengantar Arumi ke hotelnya.
Ia sesekali bersenandung kecil. Jika mengingat kembali waktu yang telah ia habiskan bersama Arumi, ia sangat senang dan nyaman berada di samping gadis itu. Mungkin ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, pikirnya saat pertama kali melihat Arumi. Dan Arumi berhasil membuatnya merasakan apa itu cinta untuk pertama kali.
Selama ini, ia tidak pernah membuka hati untuk siapapun. Lebih tepatnya ia tidak mempunyai waktu mengenai soal itu, karena tidak ada gadis yang berhasil membuat hatinya berdebar. Terlebih masa remajanya ia habiskan untuk belajar, merawat maminya yang sakit, dan menemani Nick setelah kepergian mami.
Berkat gadis itu hidupnya lebih berwarna sekaligus berhasil membuatnya terlihat orang bodoh seakan baru pertama kali menyukai seseorang.
Memang baru pertama kali.
Namun ada sesuatu yang membuatnya resah dan was-was. Sejak kemarin dan hari ini gadis itu mulai curiga padanya, membuat ia tidak ingin berbohong lagi. Ia sadar bahwa apa yang dilakukannya dari awal sangatlah salah, walaupun awalnya ia ingin mengembalikan buku itu. Tapi ia juga tahu, jika ia mengembalikan buku itu dirinya tidak akan bertemu lagi dengan Arumi. Takdir? ia percaya takdir akan mempertemukan kami, namun dirinya hanya memudahkan takdir itu. Apa dirinya salah?
Ia akan cari waktu yang tepat untuk mengembalikan buku tersebut, dan akan meminta maaf.
****
Jason menghembuskan nafas pelan ketika memberhentikan mobilnya didepan kediaman kakaknya.
"Kakak pikir kamu bakalan ga datang." ucap Natalia menghampiri Jason yang keluar dari mobil. Ia sudah menunggu adik kesayangannya itu dengan perasaan cemas, ia takut Jason tidak ingin mendengar penjelasan. Namun perasaan itu sirna saat mendengar deru mobil yang berhenti didepan rumahnya.
"Sekali janji harus tetap ditepati." ucap Jason membuat Natalia cukup terdiam lama mendengar perkataan Jason. Seolah ia pernah mendengar kalimat itu.
"Kamu mau makan apa? Nanti kakak masakin." tanya Natalia membawa Jason masuk kedalam rumah.
"Ga usah kak, tadi diluar Jason udah makan bareng teman-teman. Jason pergi mandi dulu yah kak." ucap Jason meninggalkan Natalia yang masih terdiam dibawah tangga.
Jason memasuki sebuah kamar yang cukup besar bernuansa abu-abu putih, ia meletakkan tasnya diatas ranjang dan berlalu ke kamar mandi. Setelah 25 menit menyegarkan tubuhnya, matanya tertuju pada sebuah balkon dibalik kaca besar di kamarnya.
Ia membuka kaca besar itu dan menghirup udara segar di malam hari. Ia merentangkan tangannya dan menatap langit yang gelap berhamburan bintang-bintang.
"Arumi lagi ngapain yah? Apa dia sudah tidur?" Gumam Jason tiba-tiba teringat gadis itu.
Tok. Tok
"Jason kakak masuk yah." ucap Natalia membuka pintu kamar Jason. Namun ia tidak mendapati sosok Jason di ruangan tersebut.
"Apa dia masih mandi yah." gumam Natalia melihat pintu kaca itu sedikit terbuka.
" Ternyata kamu disini." seru Natalia mendapati Jason sedang asyik bermain dengan ponselnya.
"Kak."
"Ini kakak buatin kamu coklat panas."
"Makasih."
"Jas, bisa minta waktu sebentar ga? Kakak mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Kakak mau ngomong apa?" Tanya Jason menyimpan ponselnya lalu menatap Natalia. Sebenarnya ia sudah bisa menebak apa yang akan mereka bicarakan malam ini.
"Gimana kabar kamu selama ini?"
"I think, kakak udah tau itu. But, sekarang aku baik-baik saja." jawab Jason.
"Kakak minta maaf tidak menepati janji yang selalu ada buat kamu. Kakak sangat menyesal dan sadar kakak dulu sangat egois ninggalin kamu dan papi sendirian." ucap Natalia susah payah agar suaranya tidak bergetar saat menahan air matanya.
"Semua sudah berlalu, menyesali sekarang pun tidak ada gunanya. Kami juga sudah bisa mengikhlaskan kepergian mami, dan masalah kakak ga bisa menemani kami itu pilihan kakak."
Arumi yang mendengar ucapan Jason memegang dadanya yang sesak. Ia tahu Jason berusaha menutup lukanya, dan membutuhkan dirinya disaat itu maupun sekarang.
Kami yang harus kehilangan orang yang sangat kami cintai dan kehilangan sosok yang kami nantikan kehadirannya, adalah pukulan besar baik dirinya, Nick, dan Jason. Terlebih setelah kepergian mami, Nick sering mengurung diri di dalam kamar, berdiam diri dalam kegelapan tanpa sedikitpun menyentuh makanan yang telah dibuat oleh si Mbo Ci.
Dirinya pun tak sanggup melihat Nick menangis tersedu-sedu dan tertawa seperti orang gila, hati seorang anak mana yang mampu melihat kondisi orang tuanya seperti itu.
"Kakak sangat menyesal, Jas. Sebagai kakak dan anak, kakak merasa gagal. Hanya karena sebuah cita-cita kakak meninggalkan kalian, dan andaikan waktu bisa diputar kembali kakak ingin memperbaiki semuanya. Kakak juga sangat sedih, hancur, dan dilema Jason, kakak ga tau lagi harus berbuat apa." ucap Natalia akhirnya tak bisa lagi menahan air matanya yang jatuh di pipinya.
"Tidak ada yang gagal kak, gagal hanya untuk seseorang yang tidak ingin memperbaiki keadaan menjadi lebih baik. Mami dan Adik bayi pergi itu sudah takdir Tuhan, sebab Tuhan lebih sayang sama mereka. Jason pun tidak bisa berbohong, Jason sangat kecewa. Namun Jason sadar, kita bisa ikhlas akan kepergian mami tapi kenapa kita tidak mencoba berdamai dengan diri sendiri." Sudah waktunya ia memaafkan Natalia, melupakan kesedihannya, dan berdamai dengan dirinya, pikir Jason.
"Hiks. hiks. Sekarang kamu sudah besar sekarang. Cara bicara kamu pun mirip dengan papi. Hiks. hiks, rindu versi Jason yang masih bau kencur." ucap Natalia menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Jason.
"Itu tandanya kak Natalia udah mulai tua."
"Umur boleh tua, tapi jangan salah kakak mu ini awet muda."
"Operasi plastik kali."
"Mulut kamu tuh yang perlu di jahit." ucap Natalia tidak terima. Akhirnya Kami pun tertawa dengan kekonyolan yang tidak jelas. Hening, itulah yang terjadi beberapa saat.
"Kamu mau memaafkan kakak?" tanya Natalia menatap Jason.
"Bukankah sesama saudara harus saling memaafkan sebesar apapun ke salahannya?"
"Makasih banyak, Jas. Kakak sayang bangat sama kamu." ucap Natalia memeluk Jason dengan erat.
****
"Good morning, adik ku. Time to wake up." teriak Natalia membuka tirai jendela.
"Jason bangun!" kali ini menarik selimut yang menutupi seluruh badan Jason.
Jason menggeliat diatas kasurnya yang terganggu akan cahaya matahari menerangi kamarnya. Ia lalu mencari selimut yang entah lari kemana.
"Jason wake up." teriak Natalia tepat ditelinga Jason.
"Aish. Ada apa sih kak ." ucap Jason kesal tidurnya terganggu.
"Kamu harus bangun sekarang."
" Ga tau apa orang lagi ngantuk." ucap Jason menutupi wajahnya dengan bantal.
"Pokoknya kamu harus bangun, Davic udah nunggu kamu sarapan bersama." ucap Natalia meninggalkan kamar adiknya.
Dengan perasaan kesal dan terpaksa Jason bangkit dari kasurnya lalu menuju ke kamar mandi dengan mata tertutup.
Dreet. Dreet
Langkahnya terhenti saat bunyi ponselnya bergetar. Dahinya berkerut melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
Arumi? Ada apa gadis itu menelponnya jam begini.
"Halo Arumi. Ada apa?" jawab Jason.
"Jason, kamu bisa bisa kesini ga?" tanya Arumi terdengar lemah.
"Kamu kenapa Rum? Kenapa suara kamu seperti itu, kamu sakit?" tanya Jason khawatir.
"Aku butuh kamu Jas."
"Aku segera ke sana." ucap Jason memutuskan telepon.
Ia langsung berlari menyambar kunci mobilnya dan keluar rumah. Untuk mengganti pakaiannya saja ia tidak terpikirkan apa lagi untuk mandi.
"Jason kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu?" teriak Natalia.
"Jason." teriak Natali kesal melihat mobil itu melaju dengan cepat.
Ia tahu bangat Natalia akan mengomelinya habis-habisan atas kepergiannya yang mendadak. Namun ada hal yang lebih penting jika itu harus menyangkut Arumi, gadisnya. Ia tak ingin terjadi sesuatu sama gadis itu, itulah yang ia rasakan.