
"Karena Hanya Kita
Itu Sudah Cukup Membuat hidup Bahagia"
Jam menunjukkan pukul 8.30 pagi dan kami berencana hari ini akan pergi ke Fitz Roy sebelum meninggalkan Kota El Calafate esok hari. Kami membutuhkan waktu 3.5 jam dari El Calafate menuju Gunung Fitz Roy.
Ia yang sempat membaca mimpi Arumi yang ingin melihat matahari terbit di Fitz Roy. Jason berinisiatif menyusun rencananya yang akan mendirikan tenda di tengah Patagonia, menghabiskan waktu di tempat yang romantis penuh bintang, dan melihat menikmati panorama paling mengesankan dari pantulan sinar matahari di Fitz Roy.
Fitz Roy terletak di perbatasan Argentina dan Cile di lapangan es Patagonia selatan. Keindahan dari gunung Fitz Roy ini adalah puncaknya tertutup oleh awan, sehingga disebut Smoking Mountain. Selain itu Gunung Fitz Roy banyak digemari oleh pendaki karena jalurnya yang relatif mudah didaki.
"Ayo berangkat." seru Arumi bersemangat yang mendapati Jason berdiri di samping mobil hitam.
"WOAH. Sejak kapan kamu siapin semuanya?" tanya Arumi terpengangah melihat 2 tas besar backpacker didalam mobil.
"Kemarin." jawab Jason memasukan barang Arumi yang hanya sedikit disalah satu tas yang sudah ia packing.
"Ko ga ngajak aku sih? Ini lebih terkesan merepotkan kamu." ucap Arumi memajukan kedua bibirnya dan meletakkan kedua tangannya di samping pinggang.
Jason merasa gemas tingkah lucu Arumi langsung mengacak rambut gadis itu. "Ga ada yang merepotkan, Arumi. Aku senang melakukannya karena aku memang berencana ngasih kejutan sama kamu." jelas Jason membuka pintu mobil untuk Arumi.
"Silahkan masuk Tuan putri." ucap Jason tersenyum manis.
"Terimakasih." ucap Arumi menutupi kegugupannya hanya karena hal-hal kecil dilakukan oleh pria itu.
"Let's go." teriak Arumi bersemangat saat mobil mulai melaju.
"Ga papa kalau aku buka jendelanya?" tanya Jason meminta izin.
"it's okey, anginnya juga sejuk."
Setelah beberapa menit mobil kami keluar dari kota El Calafate dan melewati danau Argentino yang berwarna zamrud. Jalan ini akan akan melintasi sebelas provinsi, 20 taman Nasional serta cagar alam, dan hutan kaktus disepanjang jalan. Hanya berjalan di jalan raya kami bisa melihat pemandangan yang sangat luar biasa.
"Kamu tau ga lagu ini?" tanya Arumi memutar musik melalui ponselnya.
"Aku tau, itu salah satu lagu kesukaannya aku."
"Mau nyanyi bareng?" ajak Arumi yang masih melekat dipikirannya pria itu memiliki suara yang sangat bagus.
"Oke."
"you are the first." ucap Arumi mempersilahkan Jason terlebih dahulu.
"Do you hear me? I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying - Jason
Jason bernyanyi dengan suara merdu dan love able. Membuat Arumi tersenyum diam-diam mengagumi suara Jason.
"Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard - Arumi.
Arumi menyambungnya dengan suara lembut dan manis. Sehingga menjadi perpaduan duet yang sangat kuat dan harmonis.
" I'm lucky, I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooh ooh ooh - Arumi Jason.
Keduanya menyanyikan lirik ini bersamaan dengan merdu. Arumi tersenyum ke arah Jason yang dibalas senyum penuh arti oleh Jason.
"They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you I promise you, I will -Arumi
Arumi menyanyi dengan perlahan lirik tersebut, sebelum mereka kembali bernyanyi bersama dibagian selanjutnya.
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday
And so I'm sailing through the sea
To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair. Arumi Jason.
Keduanya kembali kompak menyanyikan bagian tengah lagu itu bersama.
"Though the breezes through trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning 'round
You hold me right here, right now. -Jason
Perlahan tangan Jason meraih tangan Arumi dan mencium tangannya. Ia pun menyelesaikan part-nya dengan sempurna sambil menatap Arumi dengan intens, berharap lagu ini menyampaikan seluruh perasaannya.
Arumi yang terdiam membeku seakan mengalami Dejavu, saat pertama kali ia menyadari Jason memiliki suara yang indah dan pertama kali Jason mencium tangannya.
****
Setelah menempuh separuh perjalanan, kami berhenti dipemberhentian pertama di La Leona. Tempat ini merupakan tempat beristirahat dan menghilangkan rasa lelah bagi para para wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
Tempat ini cukup terkenal karena dijadikan tempat pembuatan film yang diangkat dari kisah nyata tentang dua orang perampok yang bernama Butch Cassidy dan The Sundance Kid. Tempat ini pun masih menyimpan jejaknya dari beberapa foto jadul yang tergantung didalam ruangan.
Setelah puas melihat-lihat serta berfoto di dekat tanda Ruta 40, dan membeli beberapa souvernir Ruta 40 kami memutuskan untuk melanjutkan sisa perjalanan.
"Biar aku aja yang nyetir, Jas." minta Arumi menahan Jason membuka pintu mobil.
"Emang kamu bisa nyetir? tanya Jason ragu.
"Percaya sama aku." ucap Arumi langsung mengambil kunci mobil dari tangan Jason.
"Ta..p."
"Aduh kamu masuk aja deh, ga usah banyak tapi-nya." hardik Arumi kesal pria itu meragukan kemampuannya.
Arumi mulai menyalakan mesin mobil dan secara perlahan melajukan mobil.
"WOAH. Hebat nih bisa bawa mobil kopling." ucap Jason kagum Arumi menjalankan mobil dengan mulus.
"Ya iyalah, Arumi gitu." lontar Arumi membanggakan diri sendiri.
"Sombongnya." ucap Jason. Dan mereka tertawa bersama, entah bagian mana yang lucu.
"Semoga aja kita bisa lihat matahari di Fitz Roy." ungkap Arumi sangat berharap, sebab hanya orang yang beruntung bisa melihat Fitz Roy berwarna merah saat matahari terbit.
"Jangan pesimis gitu, Rum. Berdoa aja semoga besok cuacanya seperti sekarang."
"Ih siapa yang pesimis juga sih, orang cuman bilang semoga aja." bantah Arumi.
"Kamu mau coklat?" tawar Jason mengalihkan kekesalan gadis itu.
"Mau."
Jason terkekeh kecil melihat mood gadis itu cepat berubah.
"Aaa." suap Jason mengarahkan coklat didepan mulut Arumi.
"Aku bisa sendiri,Jason." ucap Arumi menolak.
Namun Jason tetap tidak menyerah hingga Arumi membuka mulutnya, Jason tersenyum kemenangan.
"Dasar tukang maksa."
"Biarin, tapi kamu juga kan suka." jail Jason
"Siapa yang suka? Jangan ke PD an deh."
"Ga suka, tapi pipinya merah." goda Jason tidak bisa menahan tawanya.
Dasar, awas aja tunggu pembalasan ku. Nanti ku buat kamu ga bisa berkutik. Batin Arumi kesal selalu dijadiin bahan godaan bagi pria itu.